
Kayla keluar dari kamar mandi, ia melihat Antoni sudah berbaring dikasur dengan tenang.
Sepertinya dia sudah tidur. Berjalan mendekat kearah Antoni.
Kayla membenarkan selimut Antoni kemudian dia duduk dilantai dekat kasur. Kayla melihat wajah suaminya yang sedang tertidur itu.
"Jangan seperti ini lagi yah, aku sangat tersiksa melihat dirimu sakit," mengelus wajah Antoni.
Kayla berdiri dan naik juga kekasur, gadis itu masuk kedalam selimut kemudian berbaring disamping suaminya.
Antoni berbalik kemudian memeluk istrinya erat.
***
Pagi harinya Kayla bangun didalam dekapan hangat Antoni, pria itu seperti tidak mau melepaskan pelukannya.
"Jam berapa sekarang," mengambil ponselnya di meja dekat kasur.
Ini sudah jam delapan pagi, jika tidak bangun sekarang maka kami pasti akan terlambat terutama Antoni dia pasti akan terlambat kekantor. Fikirnya.
"Mas bangun ini sudah pagi," menggoyangkan tubuh Antoni pelan.
"Hemm sebentar lagi," mengeratkan pelukannya.
"Mas bangunlah kita harus pergi bekerja, sekertaris Kim pasti sudah menunggumu," masih berusaha membangunkan suaminya.
"Hanya lima menit lagi," masih tidak mau bangun.
"Baiklah tapi lepaskan pelukanmu ini aku harus bangun sekarang," berusaha melepaskan tangan Antoni dari pinggangnya.
"Tidak, aku masih mau seperti ini sebentar lagi," makin mengeratkan pelukannya.
Akhirnya Kayla membiarkan Antoni memeluknya lebih lama lagi.
Tok Tok Tok, sekertaris Kim mengetuk pintu.
"tuan muda nona muda...," ucapnya.
"Ya sebentar sekertaris Kim," ucap Kayla.
"Mas bangun sekertaris Kim mencarimu," membangunkan Antoni lagi.
"hemmmm sebentar lagi," menggeliat didalam peluka Kayla.
"Mas bangun sekarang atau aku akan marah," mulai kesal.
"Baiklah aku sudah bangun sekarang," duduk dikasur.
"Sana pergilah siap-siap dulu aku akan membukakan pintu untuk sekertaris Kim," ingin turun dari tempat tidur.
"Tunggu berikan aku ciuman selamat pagi," menahan tangan Kayla.
"Apa," terkejut dengan perkataan suaminya itu.
"Jika kau tidak mau aku juga tidak akan bangun," berbaring lagi dikasur.
Terserah saja lagi pula aku juga tidak akan dirugikan jika kau tidak bangun sekarang, tapi aku kasihan kepada sekertaris Kim yang pasti sudah menunggu tuannya itu sejak tadi.
"Baiklah," akhirnya setuju.
Antoni bangun kembali.
"Sekarang cium," memberikan pipinya.
Ada apa sih sebenarnya dengan pria ini.
__ADS_1
Kayla menyium pipi Antoni kemudian segera berlari menuju kamar mandi.
Sementara itu Antoni tersenyum ditempat tidur Dangan posisi yang sama.
Dia sangat lucu. ucapnya dalam hati.
Setelah Kayla keluar dari kamar mandi Antoni masuk kedalam kamar mandi, sementara itu Kayla menyiapkan pakaian Antoni.
***
Mereka kini turun bersama kelantai bawah menuju ruang makan. Tapi langkah mereka terhenti di tangga ketika melihat sosok wanita yang duduk disofa.
"Kakak," lirih Antoni.
Antoni segera turun dan menghampiri kakaknya itu.
Sementara itu Kayla juga mengikuti Antoni dibelakangnya.
"Antoni," melihat adiknya lalu segera menghambur kedalam pelukan adiknya itu.
Apa yang terjadi, kenapa wanita itu menangis apakah sudah terjadi sesuatu. Fikir Kayla bingung.
Antoni membalas pelukan kakaknya.
"Jangan tangisi pria kurang aj**r seperti itu," ucap Antoni.
"Antoni kau benar pria itu bukanlah pria yang baik, kenapa aku tidak percaya denganmu dan nenek. Kenapa aku lebih percaya dengan pria b****t seperti itu," melepaskan pelukannya.
"Semua sudah terjadi, sekarang kau hiduplah dengan bahagia dan tenang aku akan mengurus pria itu," ucapnya dingin.
"Apa yang akan kau lakukan kepadanya Antoni," menghapus air matanya.
"Aku akan memberikan pelajaran kepadanya, aku akan memberikan yang pantas untuk dia dapatkan," rahangnya mengeras tanda dia sangat marah.
"Kenapa tidak aku pasti akan membunuh pria itu," semakin marah.
" Bagaimanapun dia adalah ayah dari anakku, aku tidak mungkin membiarkan Claraku menjadi anak yatim,"
"Apa gunanya seorang ayah sepertinya kak, kenapa kau membela pria yang sudah menyakitimu dan anakmu,"
" Karena aku mencintainya Antoni, aku mencintai pria yang salah maka aku harus siap dengan semua konsekuensinya,"
"Cih cinta macam apa itu yang kau maksud hah," semakin meninggikan suaranya.
"Antoni aku mohon jangan lukai dia, biarkan dia tetap hidup kumohon,"
"Tidak, aku tidak akan mendengarkanmu aku pasti akan melakukan hal yang setimpal dengan apa yang dia lakukan kepadamu,"
" Tapi Antoni..," ucapannya terpotong.
"Paman es...," Clara berlari menghampiri Antoni.
Antoni segera menggendong gadis kecil itu kedalam gendongannya.
"Hei gadis kecil apa yang kau makan," tanya Antoni melihat eskrim ditangan keponakannya.
"Ini adalah eskrim yang diberikan oleh pak Mut tadi. Tapi paman es aku mendengar paman marah kepada ibu, kenapa paman memarahi ibu," bertanya dengan nada polosnya.
"Ibu kenapa ibu menangis," turun dari gendongan Antoni dan melihat ibunya menangis.
"Ibu tidak papa sayang sekarang pergilah dulu bermain diluar ya, ibu ingin berbicara dengan pamanmu dulu," menyuruh putrinya pergi.
"Tidak, aku ingin bersama ibu kenapa ibu menangis seperti ini," memeluk ibunya dan ikut menangis.
"Ibu tidak menangis sayang, ibu tidak apa-apa sekarang kau bermain sendiri dulu ya," mencoba membujuk anaknya.
__ADS_1
Antoni menatap Kayla mengisyaratkan gadis itu untuk membawa Clara pergi dari tempat itu.
Kayla yang mengerti segera mendekati Clara yang masih terus memeluk kaki ibunya itu.
"Clara sayang," berjongkok didekat Clara.
"Hemmm," Clara menengok kearah Kayla.
"Kamu masih ingat dengan bibik kan," tersenyum hangat.
Clara menganggukan kepalanya.
"Bibik adalah istri paman Antoni,"
" Iya benar sekali, kau bilang kau ingin bermain dengan bibik kan. Sekarang ayo bibik akan menemanimu bermain," tersenyum sambil menjulurkan tangannya kepada Clara.
"Tapi ibu menangis bik, paman es memarahi ibu,"
" ibumu baik-baik saja sayang, dia hanya akan berbicara kepada paman esmu. Paman es juga tidak memarahi ibu, jika dia memarahi ibumu maka bibik pasti akan memukulnya nanti,"
"Bibik janji,"
"Iya bibik janji jadi ayo sekarang kita bermain dikamar bibik,"
"Emmhhh," menganggukan kepalanya.
Akhirnya Clara mau ikut dengan Kayla kekamarnya.
Sementara itu Antoni masih menatap kakaknya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kau masih mau membela pria itu," bertanya dingin sambil duduk disofa.
" Aku membelanya karena dia adalah Ayah dari putriku Antoni, apakah kau ingin Clara lehilangan ayahnya seperti kita,"
Antoni mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dia benar-benar tidak suka jika ada yang menyinggung tentang ayahnya juga.
"Baiklah apa yang kau inginkan sekarang," berusaha menenangkan dirinya.
" kau bisa memberinya pelajaran tapi jangan sampai kau membunuhnya,"
"Baiklah akan kulakukan seperti keinginanmu," ingin beridiri dari duduknya.
"Tunggu, satu lagi aku mohon kepadamu jangan sampai Clara mengetahui hal ini. Aku tidak ingin membuat putriku sedih,"
"Tentu saja, aku sudah pasti tidak akan pernah memberitahunya,"
"Baiklah kalau begitu biarkan Clara tinggal bersama denganmu,"
"Kau akan pergi kemana,"
"Aku akan pergi menenangkan diriku untuk sementara,"
"Jadi kau ingin meninggalkan putrimu,"
" Aku ingin menenangkan diriku untuk sementara Antoni, jika Clara ada bersamaku maka dia pasti akan ikut sedih nantinya,"
"Kenapa kau tidak menyerahkan nya kepada nenek,"
"Aku tidak ingin menyusahkan nenek dia sudah tua sekarang Antoni, Dan Tina juga sedang sibuk-sibuknya mengurusi sekolahnya,"
"Bukankah masih ada wanita itu,"
"Kau tau pasti jika aku tidak akan membiarkan wanita itu dekat dengan putriku,"
"Terserah kau saja," pergi dari ruangan itu.
__ADS_1