Daur Ulang

Daur Ulang
Pernikahan seorang teman; Kebahagian dan senyuman


__ADS_3

Desir pasir di padang tandus mengiringi perasaan yang gersang oleh belaian kasih yang tak sampai, tepat ke arah muara sungai terdapat celah buntu, mengharuskan diri untuk menyebrangi sungai-sungai harapan yang membentang luas disertai gersangnya padang pasir, aku tak pernah menyangka ternyata semua itu hanyalah fatamorgana, sungai itu tidaklah nyata, semata bualan yang menipu penglihatan.


Hari kian berlalu meninggalkan kenangan dengan jejak-jejak perasaan pilu, bersiap diri ingin memukul palu untuk hati yang entah kemana dia pergi berlalu.


Aku pernah memandang langit, bumi yang luasnya tak terkira rasanya, aku tak bisa mengelilinginya dalam waktu satu hari.


Dengan hati lapang penuh senyuman hari ini, aku tetapkan niat berdamai dengan masalah hati, tetapi aku mengakuinya teramat sulit di pandangan mata, terasa sumpek di dalam benak pikiran.


Aku memberi suatu isyarat kepada burung elang untuk terus terbang tanpa bimbang. Namun, tidak pernah menyangka justru diriku sendiri yang merasa bimbang dalam memilih, menentukan arah tujuan. Entah diri ini akan menjadi pengiun yang terus berenang atau burung unta yang terus berlari kencang ke depan.


Lari dari kenyataan.


Bagiku berbicara mengenai perasaan adalah sebuah keberanian, juga hal yang membingungkan. Seperti temanku yang berhasil mengatakan cintanya kepada seorang wanita. Aku jelas berbeda dengannya. Tidak bisa diri ini berucap, kadang lunglai atau apalah itu, aku sulit menjelaskannya.


Undangan itu kini telah datang, seperti yang dikatakan temanku beberapa hari sebelumnya. Undangan yang di dalamnya memuat nama ternampak indah bersampul bunga-bunga, berwarna kuning dan putih.


Sederhananya, sebuah undangan bertuliskan nama pasangan dengan tampilan berwarna kuning dan putih disertai gambar bunga, juga doa kebahagian.


Aku meletakkan undangan itu di atas meja, di tempatku biasa menulis. Temanku telah membuktikannya kepadaku, dia bisa mendapatkan seorang wanita tanpa melewati jalur pacaran, memulainya tanpa ragu, berani langsung tanpa tanggung menempuh lautan luas dengan bahtera rumah tangga.


***


Keesokan pagi, aku berusaha menghadiri pesta pernikahannya, bahkan kumainkan drama di depan cermin, sejenak menunjukkan ketampanan, senyuman yang terpampang membayangkan kesan berharga kepunyaanku, seperti memakai baju kemerahan yang menjadi ciri khas dan kesukaanku.


Baju itu seakan menambah aura ketampanan, mungkin saja aku cukup percaya. Bahkan, para wanita akan terlena dengan ketampanan dan gaya keren yang kutunjukkan. Hahaha, itu berlebihan.


Sssstt.. baru saja aku bangun tidur, jelasnya itu adalah mimpi tadi malam, berkhayal indah, walaupun sebatas angan.

__ADS_1


Barulah, pada saat pukul 09.30 aku berangkat menaiki kendaraan vespa tua berwarna merah biru, aku menyukai kedua warna itu yang memiliki kesan yang banyak meninggalkan kenangan.


Vespaku melaju di jalanan dengan perasaan senang. Perjalanan menuju ke acara, luar biasa macetnya, jalanan jejal dan syukurlah aku datang tidak terlambat.


Di acara pernikahan yang sedang kutatap, para saudagar kaya berdatangan tampak sekujur tubuh memakai setelan jas hitam khas golongan mereka. Golongan orang kaya berdompet tebal, aku puas menatap tak berkedip, berusaha meneguk air liur pun susah, agak berat karena gugup.


Mereka bercengkrama dengan gaya-gaya yang tidak sanggup kupikirkan. Aku tidak menganggapnya sombong atau apalah. Aku sekadar tidak terbiasa dengan suasana seperti itu. Berbicara sambil meletakkan tangan di saku celana, kadang-kadang mereka bersekedap, bertatap dengan gaya yang luar biasa pokoknya.


Pernikahan temanku sangat mewah, benar-benar di luar batas imajinasi.


Temanku seperti meminang seorang putri dari negeri dongeng, kecantikan serta kekayaan yang membuat mata siapa pun bisa terbelalak melihatnya.


“Luar biasa, teman. Kau benar-benar seperti seorang pangeran yang bersanding dengan seorang putri.” Aku bergumam takjub menatap ke arah temanku yang sedang bersanding di pelaminan.


Mereka duduk berdua, tersenyum-senyum indah, menatapnya pun sejuk. Aku jelas merasakan kebahagian seorang teman yang telah lama bersamaku seolah-olah aku telah disuntik dengan suntikan vitamin yang membuatku sanggup sejenak melupakan perihal hati dan kesedihan.


Suntikan yang tertusuk di sela-sela tubuhku mampu membuatku ikut tersenyum karena hilangnya segala macam kekacauan yang mengganggu pikiran. Doa pun kupanjatkan kala melihat kebahagian mereka, semoga nanti aku dan orang yang kucintai akan menikah sama seperti temanku.


Temanku yang kini telah menaiki bahtera rumah tangga, kau mendahuluiku. Tenang saja nanti aku akan segera menyusulmu


Kemungkinan semua ini, hanya sekadar bualanku belaka. Bukan begitu, aku berdoa, tetapi hakikatnya mungkin hanya bergurau, calon istri saja aku tidak punya. Haha, menyebalkan.


Walaupun satu orang yang masih kuingat. Dialah Wapta, dia akan terus kuingat, tetapi aku ragu apakah aku bisa memilikinya. Bahkan, untuk mengatakannya saja aku tidak bisa melakukannya. Gugup dan gugup.


Aku seorang lelaki yang tak tahu bagaimana caranya mengatakan cinta dengan alunan yang terbaik, alunan yang merdu.


Seperti temanku yang bagai seorang pangeran dan putri sedang bersanding di pelaminan itu tampak mereka memegang bunga, bersiap untuk melemparnya, semua orang juga tampak menanti bunga itu dilempar. Hadirin dibuat menunggu lama.

__ADS_1


Hitungan mundur dilakukan hingga habis angka, mereka pun melempar bunganya.


Semua orang tampak berebut ingin mengambilnya. Akan tetapi, siapa sangka, bunga yang dilempar mereka mendarat tepat di kedua tanganku seperti angin membantu diri ini untuk mendapatkan bunga tersebut.


Pangeran terkekeh. “Teman, kau akan segara menyusulku.”


Aku tidak terima mendengar hal itu. Aku lantas bertindak membuang bunga tersebut. “Siapa yang percaya, itu hanyalah mitos.” Aku tersenyum canggung, sulit menyembunyikannya. Pangeran itu seperti menatapku penasaran.


“Sudahlah, teman. Jangan sering berdebat denganku, nanti malam, ikutlah meminum kopi bersamaku.” Temanku menyeringai.


Aku terjengkal menahan tawa.


“Bukankah nanti malam adalah malam pertamamu dengannya. Teman, kau bergurau terlalu pagi, apakah kau sedang mengingau?” Aku mengejek puas dengan nada keras, bahkan membuat orang-orang yang mendengarnya tampak heran.


Wajarlah, mereka heran menatapku yang dengan santainya mengejek sang pangeran, berdebat dengannya, tetapi sang pangeran tidak mengelakan. Dia malah memberikan perhatian dan tawa, memberi rasa hormat yang terbesar.


“Pagi? Sekarang sudah siang teman. Aku ingin banyak mengobrol denganmu teman.”


Aku sedikit kaget. “Hah, kau tidak mengerti ucapanku, teman. Kau harus tahu, jika kau bersamaku, malam pertamamu akan sia-sia. Kau tidak berpikir dengan itu!” Aku menggerutu lantang.


Begitulah aku dan temanku, sang putri hanya tersenyum tampak menutupi giginya yang putih berseri, dia tersipu menggunakan kelima jari tangan kanannya yang seolah-olah sedang menahan tawa yang melanda perasaan di lubuk hatinya.


Kebahagian tampak terpancar di setiap wajah, hari ini seperti suara ombak di pinggir pantai, tiupan angin bergemuruh dari ujung tempat yang tidak diketahui dari mana asalnya. Seolah-olah angin memanggil, membelai melalui udara, seakan menarik bibir tersenyum.


Senyuman tergaris dengan sendirinya menyebabkan banyak pertanyaan berdatangan menghampiri setiap lapisan.


Pertanyaan itu ditanyakan olehku sendiri, kini aku menemukan jawabannya, ternyata sebuah kebahagian akan terasa di kala waktu dihabiskan dengan kebersamaan yang meliputi tatap mata dan canda tawa.

__ADS_1


Temanku benar. Dia telah menemukan kebahagian miliknya, tetapi berbeda denganku, sejauh mana aku bisa memaknai kehidupan rasa kesedihan masih saja melekat kuat di dalam batin ini.


Aku pulang seraya menghela napas, sampai di sebuah aliran sungai. Lantas berhenti sejenak seraya menatap ke arah sungai yang mengalir. “Terima kasih, teman. Kau hadir memberi warna dalam kehidupan ini.”


__ADS_2