Daur Ulang

Daur Ulang
Meteor Jatuh Ke Bumi


__ADS_3

Polisi itu kini tersenyum menatapku. Hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang lewat di jalanan masih segar kudengar.


Di tangannya masih memegang suratku. Mulutnya bergerak pelan membaca terbata-bata dengan alunan musik di pengujung musim kemarau.


“คุณหมายถึงอะไรโดยลายเซ็น?” Apa yang kau maksud tanda tangan? Polisi itu bertanya setelah lama menatap suratku, sontak aku berusaha memahami kata-katanya yang tampak tak keruan.


Tidak mengerti, entahlah selama ini pikiranku sering tersendat. Butuh loading lama, lebih baik kuputuskan balik bertanya.


“คุณหมายถึงอะไร?” Apa maksudmu?


Itulah yang ingin kutanyakan. Sederhana, telah kuucapkan dengan gaya santai seperti menatap seorang teman.


“ฉันหมายถึงทำไมคุณถึงต้องการขอลายเซ็น?” Maksudku kenapa kau ingin meminta tanda tangan?


Polisi itu menjelaskan maksud perkataannya. Ternyata dia tadi bertanya alasanku meminta tanda tangannya.


Beginilah ringkasnya. Aku ingin membuat Wapta terhibur kala menerima suratku, tidak semata garing mengenai surat yang tidak ada ekspresi senang di dalamnya.


Itulah alasan sebenarnya yang memang kala itu jalanan seperti ada kekuatan lem super lengket yang menghentikan seluruh besi-besi. Ringkas saja lampu merah yang selama ini sering ditatap oleh pengendara beroda dua, juga empat itu rusak.


Eh? Pemborosan kata. Biarkanlah, biar jelas tambahkan kata lagi yang membuat editor naskah geleng-geleng kepala saat membacanya.


Lampu merah yang sedang kutatap tidak menyala terus bermenit-menit, kapan hijaunya? Matahari membubung tinggi di sana.


Lampu merah itu tak kunjung berubah hijau. Tidak dalam artian rusak tidak menyala, keanehan terjadi adalah lampu merah terus menyala. Diam tak ada kepastiannya.


Kala para polisi datang mengatakan lampu merah itu rusak, saat itu aku lanjut menulis surat yang memuat kata lem super lengket untuk menghibur Wapta.


Sebagai bukti aku ingin meminta tanda tangan salah seorang dari mereka yang bertugas. Sepertinya apa yang kubayangkan tak semudah itu kudapatkan.


“เกี่ยวกับหัวใจที่อธิบายไม่ได้ กรุณาช่วย.” Ini mengenai hati yang tak akan bisa kujelaskan. Mohon bantuannya.


Aku menjelaskan sebisa yang kubisa. Penjelasan yang memuat kata hati di dalamnya, semoga bisa membuatnya mengerti; paham mengenai keadaanku.


Tanpa menjawab. Kuperhatikan polisi mulai menggerakkan tangan, menulis tanda tangannya, perasaanku bersorak girang dengan kebahagian yang tiada tara.


Tidak bisa aku mengerti. Lagi-lagi aku menjelaskan perasaan yang seharusnya lelaki pantang menyebutkannya agar katanya terkesan maskulin, tetapi biarkanlah.


Itulah diriku apa adanya. Aku tidak seperti orang lain yang mempunyai sikap maskulin atau apalah, tetapi aku adalah aku yang terlihat sewajarnya. Lupakan saja semua itu, maskulin atau bukan? Jelas itu bukan urusan penting buatku, melainkan sekadar ucapan.


Terlebih itu bukanlah sesuatu yang membuat orang lain kelaparan saat tidak membahasnya. Sesekali tidak begitu.


Akan tetapi, kalau dibahas seru juga. Lihatlah, orang-orang maskulin di dunia ini. Ada jenggot lebat, aku tidak punya. Apa? Protes! Silakan, tentulah hak setiap orang berpenampilan dan mendeskripsikan perasaan. Terkesan lebay sudahlah, itu bukan sesuatu yang membuat seseorang kelaparan.


Kalau ingin tahu perasaanku bagai bunga-bunga yang bermekaran, juga cahaya yang tampak berkilau dengan warna keindahan. Cahaya yang memancar naik terus ke atmosfer bumi, meledak di luar angkasa. Boooom!


BOOOMM!


Bentuk-bentuk cahaya kembali memancar keluar dari galaksi bima sakti, memelesat masuk ke galaksi andromeda. Cahaya itu memecah berubah menjadi partikel-partikel kecil, lantas kembali meledak di sana.


Aku terbang dari tempatku berdiri hingga menembus atmosfer bumi. Sayangnya, pak polisi menepuk bahuku dengan tepukan bertubi, sontak dia membuatku kecewa, meruntuhkan lamunanku yang super debur membahagiakan, memenuhi seluruh ruangan sanubari dan pikiranku.


“ฉันได้ลงนามในเอกสารฉบับนี้แล้ว.” Aku telah menandatangani surat ini.

__ADS_1


Dia menatapku tersenyum. Memberikan surat yang semula kuberikan kepadanya.


“ขอขอบคุณ.” Terima kasih, jawabku ringkas. Polisi itu mengangguk. Bertanya siapa namaku.


Di situlah kebingungan melanda. Aku ingin menyebutkan nama Roman, tetapi nama itu adalah pemberian kakek yang tentu saat ingin menyebutkannya malah teringat ibu yang memberiku nama Narak.


Oh tidak! Aku bingung, sejenak berpikir cepat sebelum polisi itu mengernyit heran karena menatapku lama menjawab.


“Romanarak.” Aku telanjur ucap. Bagaimana mungkin Romanarak? Astaga, terlalu.


“คุณให้บัตรประชาชนของคุณกับฉันได้ไหม?” Bisa berikan kartu tanda pengenal milikmu?


Pak polisi meminta kartu. Aku terdiam ngenyir. Sejenak menggaruk kepala, sekarang menjadi orang yang serba salah karena sebelumnya tersilap ucap menyebutkan nama.


Sepertinya tidak mengapa. Saat nanti dia bertanya mengapa berbeda, kusebutkan saja salah ucap karena menatap wajahnya yang tampan itu sehingga membuatku salah tingkah. Eh, salah tingkah? Tidak mungkin kuucapkan demikian. Haduuh yang terbayang di dalam benakku malah wujud pelangi yang melengkung di langit-langit.


Aku lanjut berpikir mencari jawaban lain. Menembus ke dalam otakku sedalam lautan menembus palung mariana. Takut salah ucap lagi, akhirnya aku menemukan caranya.


Bukan mengatakan alasan karena menatap wajahnya yang tampan, melainkan memang kebiasaanku yang keseringan salah ucap. Lagi pula apa yang sebelumnya kuucapkan adalah Romanarak.


Aku cukup bernapas lega, tidak sulit mencari alasan karena namaku yang tertera di kartu tanda pengenal adalah Roman. Sudah resmi kakek yang tempo lalu membuatkannya untukku.


Di tempat kuliah, namaku tetaplah Narak, tentu saja ada penjelasan panjang dari semua itu yang ingin tahu nanti saja kujelaskan. Saat ini aku sedang bersitatap dengan polisi di depanku.


Aku mengeluarkan dompet, membuka perlahan lalu mengambil kartu tanda pengenal yang tersisip antara kartu pelajar dan bacaan puisi yang kulipat-lipat.


“นี่คือบัตรประชาชนของฉัน.” Ini kartu tanda pengenal punyaku.


Dengan tanpa ragu aku memberikannya. Polisi itu kini mengeceknya tampak bergumam, tetapi siapa sangka dia tidak membahas kesalahan nama yang telah kusebutkan atau belum saatnya.


Itulah kemungkinan terbesar mengapa sekarang kulihat ekspresi pak polisi tampak menahan tawa. Dia masih menatap kartu tanda pengenal punyaku.


Polisi itu menatapku tersenyum. “คุณมาจากอินโดนีเซียใช่ไหม?” Apakah kau berasal dari Indonesia?


“Yes. I'm from indonesia.” Aku lelah menggunakan bahasa thai. Kalau ingin tahu bahasa inggris telah mendunia.


Banyak orang yang tahu bahasa tersebut, bahkan sekilas dengar seakan telah menjadi suatu kelaziman seperti kalimat yang telah kuucapkan. Yes or no? I'm. From? Nama negara yang tentu terdapat di buku-buku.


Orang yang sedang kutatap bukan main. Dia adalah seorang polisi tentulah bisa berbahasa inggris, paling tidak dia mengerti apa yang kuucapkan. Aku menduga pendidikannya tentulah tinggi.


Aku telah lelah mengucapkan bahasa thai. Maaf penjelasannya terulang sebagai bentuk penguat kata bahwa memang aku lelah. Pegal lidah, sesekali berubah bahasa yang membuatku nyaman di diriku sendiri.


Kalau ingin tahu selama ini aku tidak berminat belajar bahasa inggris sekilas mendengar dari televisi, juga membaca koran-koran bekas milik kakek.


Tentu itu hanya masalah minatku. Sebenarnya terdapat pelajaran di bangku sekolah dulu. Lebih tepatnya aku tetap belajar bahasa inggris, hanya saja tidak berminat memperdalam lebih tahu.


“Oh, you can speak English?” Pak polisi menatapku seakan kagum. Astaga? Aku yang salah menilainya, tidak bukan begitu.


Tatapan kagum yang kumaksud? Aku tidak tahu sebenarnya sekadar menduga.


Aku menduga lagi dia berucap sekadar basi-basi atau bertanya memastikan, juga ada kemungkinan lain ragu atau dia menyangka baru saja aku telah kerasukan roh ghaib dari negeri Gajah Putih ini.


Di lain keadaan, aku mencoba menahan dari berbagai macam dugaan. Sekadar mengingat lebih bijak mengenai pemikiran yang menyebabkan kesalahpahaman terjadi. Berawal dari akibat kesalahan diri sendiri yang telah berani menduga sesuatu yang sebetulnya tidak begitu.

__ADS_1


Aku mengangguk. “Yes, I can.” Kujawab ringkas, tidak sepanjang yang diperkirakan. Berdiri di sini aku bagai orang yang diintrogasi, tetapi baguslah sekadar basi-basi berkenalan dengan salah seorang polisi yang bagiku dia orang yang baik.


“Always be patient for long remote love. I know the content of your letter, need you know I understand the Indonesian.” Bersabarlah selalu untuk cinta jarak jauh yang panjang. Aku tahu isi suratmu, perlu kau tahu aku mengerti bahasa indonesia.


Eh? Aku kaget. Astaga, dia berkata sembarangan. Di dalam suratku itu aku tidak ada menyebutkan kata cinta. Apa mungkin dia menduga sekaligus mengatakannya langsung padaku.


Aku sejenak merasakan denyutan jantung memompa dahsyat. Atmosfer yang terbentang seakan-akan jatuh meteor ke bumi, menghantam tepat ke arah jantungku yang sedang berdetak kencang.


Aku kelu seketika. Terdiam memegang surat dengan perasaan mengkal. Sesak penuh duri menancap ke dalam batinku.


Pak polisi itu sejenak tertawa. “I just thought.”


“What? You. You are overreacting!” Tidak dalam seberapa banyak kalimat yang kuucap, sebelumnya aku dibikin kaget geleng kepala.


Sekarang aku tahu ternyata pak polisi hanya sekadar berpikir dalam benaknya saja. Mengatakan apa yang dia duga. Syukurlah, meteor yang semula jatuh kini kembali terbang ke angkasa.


Bagaimana mungkin meteor kembali ke angkasa sana? Cukuplah, bayangkan saja walaupun cacat logika. Kemungkinan ada kekuatan super yang mampu membuatnya kembali memelesat ke angkasa sana.


Aku hanya bergurau. Tidak ada meteor sungguhan, sekadar amsal buatanku untuk menjelaskan isi perasaanku. Aku tahu itu memang lebay, tetapi dijelaskan berapa kalipun sudah aku lelah.


“Your name is Roman, why did you say Romanarak?“ Tibalah polisi itu bertanya padaku perihal nama yang tadinya salah ucap, jelas sekali otakku berusaha tegar mencari jawaban.


Mencari kata-kata agar bisa menjawabnya. Baiklah, aku harus tenang sebentar tanpa perasaan cemas.


“Sorry, I'm wrong. You are like a lion that makes me nervous.” Kujawab dengan kalimat yang tempo lalu kubaca di koran.


Untunglah sebelumnya aku pernah membaca koran milik kakek yang di situ lumayan. Kataku maaf, salah ucap. Kau seperti singa yang membuatku gugup.


“What? You, You call me a lion.” Sepertinya dia tidak terima ucapanku, padahal itu adalah bentuk lawakan. Jika dia bertanya mengapa kau menyebutku begitu, akan kujawab lagi di dalam mimpimu.


Sebagian polisi yang bertugas kini menatapku karena rekannya memekikkan suara. Tentulah memang ini semua karena ucapanku yang asal tanpa memikirkan akibatnya. Jauh di dalam perasaanku meminta maaf. Kucari alasan lain.


“What I said it is a parable. lion is the symbol power you have.” Semoga saja dia mengerti maksudku mengenai perumpamaan kekuatan simbol yang dikenakan di seragamnya.


Ringkasnya singa adalah penguasa hutan. Anggap saja jalanan yang kutatap bagai hutan. Lihatlah para kendaraan yang tidak mematuhi lalu lintas kena tilang, itulah para binatang yang terkena mangsa. Tamsil atau apalah. Terserah, aku lelah menjelaskan kepada pak polisi yang tampak mulai tersenyum.


Polisi itu menepuk pundakku. “ฉันแค่ล้อเล่น(Chan khai lu len).” Sejenak dia tertawa mengatakan bahwa sebelumnya sekadar bercanda.


Aku ikut tertawa menghargai candaannya, walaupun nyaris membuat jantungku copot. Astaga? Lebaynya. Lagi-lagi berapa kali aku harus menjelaskan aku tidak lebay.


Hari ini pun aku tahu semula aku ingin ngelawak, bisa berubah menjadi sesuatu yang tak kuinginkan. Hampir saja, kukira polisi itu akan marah dan menjebloskan diriku ke penjara, sesekali tidak begitu.


Dia mengatakannya sekadar bercanda seperti kebanyakan manusia lainnya. Polisi itu kembali menambahkan kata-kata yang kuucap seperti apa yang terdapat di koran.


Ternyata polisi itu tahu lawakanku. Dia juga mengatakan hanya ingin melihat ekspresi kagetku, sedikit terlalu kurasa. Inilah mungkin yang dinamakan senjata makan tuan, senjata tak punya tata krama.


“Thank you for your signature. I ask permission to leave, this letter wants to return to Indonesia as soon as possible.” Aku berpamitan. Lebih tepatnya meminta izin untuk pergi, lanjut mengatakan surat ini akan kembali ke Indonesia secepatnya.


Astaga? Aku mengucapkan ngasal. Pak polisi tertawa, “Your English is pretty good.”


Aku sejenak ikut tertawa. Aku tahu polisi itu sekadar bergurau memuji bahasa inggrisku. Baiklah, aku memasukkan surat yang telah kulipat. Tersenyum mendadah kepada para polisi terkhusus untuk orang yang telah memberikanku tanda tangan.


Saat ini. Aku kembali melaju di jalanan, menuju ke tempat pengiriman surat. Perasaanku bergumam senang, bertemu salah seorang polisi yang bagiku dia orangnya ramah dan baik.

__ADS_1


Hanya saja sedikit susah, lidahku mudah pegal mengatakan bahasa thai. Dengan inisiatif aku berganti bahasa inggris yang jelas aku tidak begitu mendalaminya sekadar melihat televisi dan membaca koran-koran bekas milik kakek.


__ADS_2