
Kesiur angin bertiup di bulan ini lumayan cukup terasa, bisa didengar dua lubang telinga. Yeah, duduk sambil minum kopi adalah hal yang terasa luar biasa.
Itu Jazu dan berbeda denganku, hanya minum secangkir teh. Dingin pula airnya.
Sementara, mereka bertiga sebelumnya sudah pergi dari hadapan kami. Di tempat itu kini hanya menyisakan kami berdua, sejenak saling mengobrol. Sebelumnya aku baru ingat tidak bertanya bagaimana Jazu bisa tahu aku berada di sini? Sama sekali, belum pernah kutanya sedikit pun. Aku benar-benar lupa menanyakannya.
“Aku tidak menyangka, ternyata kau pandai menebak pola pikirku dan tanpa ribet kau menemukan keberadaanku di sini.” Kumulai obrolan dengan basa basi terlebih dulu.
“Dan bagaimana caramu bisa mengetahui keberadaanku di sini? Itu akurat sekali.” Aku melanjutkan bicara, bertanya.
Jazu belum menjawab. Aku menyeringai hendak tertawa menatap raut wajahnya.
“Ya, kau benar, teman. Aku memang pandai kau pun tahu itu pikiranku jernih.”
Jazu seperti berlagak di depanku dengan gayanya dan irama tangan yang sejenak ikut mengikuti ucapannya.
“Kau percaya diri. Bagaimana harimu dan mengapa kau memutuskan ke tempat ini?”
“Bosan, hariku membosankan.”
“Ini berita hangat yang kudengar sore ini, kau bosan? Itu tidak bisa kupercaya.”
Aku menyebutkan sore, padahal ini mendekati siang pukul 10.55 lewat. Mengapa aku menyebutnya sore? Jazu saat itu bertanya dan malah tertawa sambil mempertanyakan kepadaku apa aku sedang mengigau? Kujawab tidak, aku hanya mengetes kemampuan otaknya.
Jazu tertawa. “Percaya atau tidak itulah kenyataannya. Kau mengingau, teman.”
“Ah. Lupakan tentang itu. Hei, ingat.. sebelumnya kau tidak menjawab pertanyaanku bagaimana caramu bisa mengetahui keberadaanku di sini?”
Aku mengingatkannya kembali tentang pertanyaanku sebelumnya. “Kau menyewa dukun untuk memata-mataiku?” lanjutku bertanya sambil tertawa.
“Du—dukun? Apa kau gila?! Cobalah kau pikirkan untuk apa aku memata-mataimu? Itu sungguh tidak ada untungnya, yang ada malah aku rugi karena telah menyewa dukun hanya untuk melakukan hal itu.”
Beuh, raut wajahnya serius menatapku lebih tajam. Malahan sekarang aku yang merasa bersalah atas semuanya.
“Ya, maaf. Aku hanya bercanda.”
Jazu tertawa. “Aku juga sama, teman. Hanya bercanda, kau terlalu serius menanggapi candaanku.”
Bukankah sebaliknya? Lupakan, aku tidak ingin membahasnya. “Candaan kita ini absurd seperti kue kering, tanpa ada lapisan selai kacang di atasnya.”
Aku tertawa hanya karena senang, sebetulnya itu tidak lucu. Jazu sama tertawanya entah itu dalam bentuk apa?
“Nice, brother. Kau bijak seperti orang yang pernah kukenal di warung haji palak dulu. Tapi, tawamu itu bisakah dikondisikan sedikit, tidak usah dipaksa karena aku tahu kau sedang berpura-pura tertawa.” Jazu kembali serius menyeruput kopinya.
Sekarang aku paham maksud tawanya yang sedang menertawakanku.
“Ya, kuakui kau memang pandai menebak semuanya dengan benar, kita kembali ke topik awal pembicaraan saja, sampai sekarang kau belum menjawab pertanyaanku, teman. Bagaimana caramu mengetahui keberadaanku di sini? Jika dengan dukun kutanya tadi kau balas ketus yang intinya bukan, lalu dengan cara apa kau mengetahui keberadaanku di sini?”
Ada banyak hal yang bisa dibuat Jazu pada awalnya yang seharusnya pendek malah menjadi panjang. Dibahas berulang kali pun dengannya tidak bosan. Dari hanya satu pertanyaan itu saja memakan waktu kami dalam mengobrol hingga pada akhirnya dia mengatakan semuanya.
“Baiklah, teman. Mengenai pertanyaanmu itu, sederhana saja aku tahu kau sering menghabiskan waktu di tempat ini. Kau juga tahu aku sudah lama mengenalmu dan semua tentangmu hampir semuanya sudah kuketahui dan hari ini adalah hari yang bisa kutebak dengan mudah kau berada di tempat ini. Bersama mereka sebelumnya kalian saling mengobrol dan saling membagi cerita. Itulah kebiasaan dalam hidupmu yang bahkan sering kau lakukan pada saat waktu senggang, tanpa ada kegiatan lain. Benar begitu, teman? Kau tahu aku tidak habis pikir ada apa dengan tingkah lakumu itu, teman. Itulah ciri khasmu yang aneh.” Jazu tertawa.
Akan tetapi, suara tawanya tidak nyaring, seperti hanya bentuk senyuman. Mungkin itu hanyalah sekadar pemanis tambahan karena dia berhasil menebak dengan mudah katanya. Baiklah, kawan. Aku tidak ingin banyak bicara untuk saat ini.
Jazu menyeringai mantap. “Heh, kau tidak perlu tersinggung dengan ucapanku, lantas cemberut seperti batu aspal, teman.”
“Wajah aspal di tengah jalan itu, hitam diinjak injak ban kendaraan. Penuh debu dan rasanya tak ada seorang pun yang mau berdiri di sana.” Dia melanjutkan ocehan.
“Hah? Kau bilang aspal? Haha.. kau tidak becermin dengan tubuhmu. Berat badanmu itu masih sama, melebihi truk bensin.” Aku membalasnya ketus. Dalam hati tak ingin mengalah darinya.
Ayolah, sembarangan menyebutku aspal begitu. Mana ada? Wajahku ini kalau kau ingin tahu lebih tampan dari superman di televisi, kau tahu dulu aku pernah menghayal menjadi sosok superhero yang terbang di langit. Terbentang sayap. Eh? Jubah maksudnya. Intinya superhero bernama superman dengan gagah perkasa terbang menyelamatkan orang, membantu banyak hal dari hanya sekadar senyuman dan kebahagian. Itulah cerita lama dalam sebuah ruangan imajinasi.
“Kalau begitu kau aspalnya, setiap hari kau akan kuinjak dengan sepatu bot bergerigi tajam di bawahnya.” Jazu tertawa.
“Kau akan kesakitan.” Lanjutnya penuh tawa. Dengan tatapan menyenangkan.
Aku sama sekali tidak tertawa saat mendengarnya, bahkan telingaku memanas. Kupikir gurauan itu tidak lucu dan terkesan ada unsur sadisnya.
“Kau tahu kebanyakan tertawa itu tidak baik buat keseharian, katanya bisa membuatmu lupa sama aktivitas penting.”
“Kata siapa? Kau bisa pastikan mengenai kebenarannya dan apa semua itu akurat?”
“Yeah, itu kataku. Percaya atau tidak itu bohong, jangan dipercaya.”
Jazu mengambil sendalnya. “Ini sendal sepertinya kasihan nganggur, kau tahu aku sangat ingin mengusapkan sendal ini ke wajahmu, teman. Biar kinclong.”
Aku tertawa sambil mengatakan jangan. Sendalnya itu juga kasihan, siapa yang sudi menyentuh wajahku? Berbagai kosa kata kami sekarang saling lempar. Itu semua hanyalah bercanda belaka, tidak seserius kami kala bertemu big boss. Di ruangannya saat itu kami hanya terkikuk takut, tidak ada tawa dan hari ini kami libur.
Pada akhirnya kami terus melakukan tingkah konyol yang bisa menarik perhatian orang-orang di seberang sana. Mereka menatap kami seperti terheran. Detik menit memelesat seakan cepat berlalu.
__ADS_1
Bangku bangku kosong di jam begini. Beberapa orang kantoran sibuk bercengkrama dengan kliennya di taman.
Mungkin ada tugas atau hal lainnya, entahlah aku tidak tahu. Mereka memakai jas berdasi sejenak mengusap rambutnya. Udara siang, walau seharusnya panas. Di sini, naung ditutupi oleh rimbun pepohonan taman yang berjejer besar. Warung tempat kami saat ini mengobrol memang asri dan alami suasana panorama alamnya.
Jazu kembali menyeruput kopinya. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan, teman?”
Dia berkata usai menyeruput kopi. “Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia memberikan kepada kita nikmat senyaman ini, udara yang bertiup sepoi dan rasa damai di hati kita adalah wujud rasa syukur kita bisa bertatap muka sampai saat ini.”
“Saat kau merasa hampa, tidak apa pun dalam hidupmu. Itulah kehampaan. Apa yang hampa, teman? Hidup ini.. itu hanya karena kau tidak bisa bersyukur.”
“Ya, itu ceramahmu hari ini.” Kujawab serius sambil mengeluarkan kertas dan memulai mencatat semuanya.
“Untuk apa kau catat?” Jazu bertanya.
“Untuk bahan renungan.”
Itu memang benar. Bahan renungan saat hatiku merasa hampa. Tidak salah, dalam hidupku terkadang di antara peristiwa yang kulalui aku sering merasa hampa seperti merasa gundah gulana, merasa kosong dan untuk berkelana pun rasanya tak nyaman perasaan. Hancur jalanan penuh berlubang yang membuat kendaraanku bergoyang dan membuat kepalaku pusing, lelah pun sudah pasti. Berkilomoter jarak nan jauh di pengujung penglihatan sana.
Aku pernah bertemu salah seorang lainnya yang berucap dengan mantap. “Setiap manusia mempunyai akal. Mereka mempunyai segala argumen dalam kepalanya untuk bisa memikirkan dan kadang tanpa pikiran jernih sekali pun mereka bisa membantah apa pun yang bertentangan dengan dirinya. Kau pun sama dengan mereka, koboi. Di antara ribuan manusia di gurun pasir ini, kaulah manusia yang paling durjana!” Salah seorang koboi di gurun itu bicara padaku.
Koboi itu mendekat perlahan. Mencoba tersenyum ramah ke salah seorang di antara puluhan penduduk kota terpencil dan raut wajah yang bagai terbelah dua yaitu aku berdiri ditatapnya, aku sedang tidak berminat bicara dengannya karena sama sekali tidak mengenalnya.
Eh. Ko—koboi. Astaga? Ini khilaf, apa yang kutulis sebelumnya? Koboi? Tidak, kawan. Ini bukan cerita tentang koboi, haduuh.. bukan itu! Astaga? Wah, kacau balau.
Aku ingin menghela napas, lalu kembali mengetik tulisan ini dengan santai.
Aku ingin berterima kasih atas semuanya, semua ini tidak terasa, kawan. Cerita ini kutulis pada waktu yang lama dan perlahan tapi pasti sekarang memasuki rangkaian yang kesepuluh, lebih banyak lembaran. Pun, pada bab yang sudah terlewati banyak hal, semua itu tidak pernah kusangka di sela kepingan yang kutulis acak ini. Aku bergumam sendirian bisa terangkai menjadi suatu peristiwa dan nada.
Irama nan ingin aku sampaikan kepada salah seorang wanita bernama Wapta. Dialah orang yang kucintai, lebih teramat panjang penjelasan dalam hidupku.
Seperti katamu yang kau katakan padaku bahwa aku tidak boleh menyerah hingga sekarang aku mengingatnya. Saat ini, aku hanya ingin menenangkan pikiran dan memulai sesuatu yang baru. Salah seorang di antara musuh besarku pun pernah juga mengatakannya. Saat bertarung dengannya di padang pasir berhawa panas, seorang koboi sepertiku menghindar cepat memelesat dan memainkan tali pelana, meneriakkan suara lantang hiyya bersama kuda itu aku terus berhadapan dengannya, tanpa peduli kalimat kalah ataukah menang dalam berperang dengan musuh terkuatku.
Ho-ho. Aku tertawa dan astaga, aku baru sadar saat ini malah menggaruk kepala, aku salah lagi, kawan! Haduuh. Parah! Ini kacau balau ceritanya. Hahahaha ...!
Maafkan aku, aku meminta maaf inilah yang menjadi kebiasaanku dalam menulis. Inilah yang kadang mengherankan dalam hidupku! Wah—wah, mengherankan.
Baiklah, kawan. Lain kali aku tidak akan menceritakan cerita koboi itu lagi, mungkin di chapter berikutnya. Boleh tertawa?
Haha.. kubilang santai, tak usah galau melihatnya, tidak usah pula marah. Bawa tertawa saja, kawan. Hei, bukankah aku sudah meminta maaf padamu? Apa itu tidak cukup? Hah? Tidak cukup?
Membicarakan cerita tentang sang koboi hingga keluar jalur dari alur cerita ini dan entah mengapa aku pun senang, bahagia tanpa merasa beban, seperti itulah alasanku yang kadang sering melanglang.
Aku melupakan semua itu, hampir lama baru sekarang aku baru mengingatnya.
Baik itu musuhku maupun teman sepertimu yang ada di sisiku, terkadang aku hanya ingin membela diri.
Dalam arti pertahanan yang ingin kubuat kukuh karena bagiku semua ini perkara mudah yang tidak perlu dibuat ribet.
Orang benci akan tetap membenciku, tentang ini aku tidak ingin banyak tatapan lagi. Saat ini kuingin memulai semuanya dengan sesuatu yang sedikit berbeda.
Editor naskah yang hari itu berucap ada benarnya. Itulah nasib! Untuk sekarang dan selamanya aku tidak akan banyak membantah segala yang dikatakannya.
Maaf, aku meminta maaf terlebih lama meminta maafnya tentang segurat garisan lama yang saling bertaut di sepertiga kemilau terang yang menembus jendela kaca. Di sanalah, ada seseorang lelaki berdiri menatapku seraya mempertanyakan untuk apa kau meneruskan sesuatu yang memang tak sesuai dengan kadar harapan? Bukankah itu sia-sia belaka?
Bukan begitu, kawan. Harapan hanyalah sebuah doa dan mewujudkan adalah usaha diri berjuang untuk bisa mewujudkannya. Pada hakikatnya tiada yang bisa memperbuat sesuatu kecuali atas izin dari Sang Pemilik Takdir. Manusia hanya bisa berencana, Sang Maha Kuasa atas segalanya yang menentukan semua itu.
Di suatu masa mungkin sesuatu itu akan terjadi sesuai kadarnya atau mungkin tidak sama sekali, sekadar itulah harapan. Besar kepala pun tentang kesombongan adalah tiada guna. Itulah yang terjadi dalam hidup tempo lalu mengenai pembelaan diri dari dihina, mengenai tatapan marah dan kosa kata membela saat merasa dihina.
Yeah, maaf. Semua itu telah usai dan sudah tertinggal jauh di belakang menjadi kenangan dalam hidup, kepahitan ataupun asam manis dan getirnya kaki berdiri di hadapannya saat itu. Kondisi hatiku bagai noda yang tampak menghitam pekat berguguran tembus ke dalam tanah, seharusnya apa yang kupikir itu tidak sepatutnya kulakukan. Berdiam diri merenungi kesalahan adalah hal yang perlu kulakukan saat itu, memang benar.
Aku harus menguburkan impianku dulu untuk menjadi seorang penulis.
Aku tidak sepatutnya membantah seorang editor naskah. Itulah perkara yang sudah terjadi, di akhir paragraf dengan titik akhir mengakhiri kebersamaanku dengannya dulu. Keluar dari ruangannya saat itu yang terasa pengap oleh keringat, jantungku melemah. Mentalku kalah diterpa kenyataan pahit dalam kehidupan ini.
Peristiwa yang berakhir menjadi secarik kertas di ujungnya coretan hitam tentang perkara yang mencengangkan hidupku.
Sekarang di Negeri Gajah Putih ini, aku ingin kembali berusaha merajut impian yang telah lama ada itu dalam hidupku. Aku masih berada di ujung ilusi mata, menimbang rasa dalam ilusi nan semu belaka, menginjak duri yang sakitnya di kaki. Aku masih berada tepat pada benua Asia Tenggara yang tidak terlalu jauh dari sudut pandang deretan papan nama negara di benua ini. Negeri Gajah Putih adalah sebutan bagi Thailand. Tanah kelahiran ibuku, tanah bertemunya ayah dengan sosok wanita berkerudung merah.
Apa pun yang terjadi sebelumnya di dalam hidup ini, itu semua hanyalah bentuk peristiwa masa lalu yang telah lama ada. Kuingin melambaikan tangan.
Teman, apakah kau tahu tentangku sampai sekarang aku belum bisa membuktikan semuanya. Pun pada editor naskah yang hari itu menghempas naskahku. Mungkin, kau benar, teman. Seberapa kerasku mencoba semua itu sampai sekarang gagal untuk kulakukan. Sampai sekarang impian itu masih tenggelam jauh di dasar tanah.
Ucapan Jazu yang menyuruhku mengubur impian kala itu hingga sekarang masih membekas padaku. Sementara mereka yang memberiku semangat saat itu masih juga kuingat. Kata salah seorang di antara mereka, selama aku hidup aku masih punya banyak waktu untuk terus bisa mencoba dan suatu saat semuanya akan jelas, saat ini aku hanya harus yakin pada langkah yang kumulai, membuktikannya dengan segenap tenaga dan harapan.
Terima kasih, kawan. Walaupun sempat terpikir olehku ingin menyerah. Hingga saat ini aku tidak menemukan sosok kawan ataupun teman dalam penuturan Jazu yang persis seperti mereka. Dulu kami bersama menghabiskan waktu mengobrol.
Menikmati hari indah dulu bersama mereka yang istimewa. Bagiku mereka adalah teman terbaik yang pernah kupunya.
Mereka memberikan kenyamanan bertukar pikiran dan mampu menciptakan suasana damai, hangat dan menyenangkan.
__ADS_1
Bersama mereka dulu saling membahas berbagai hal dalam hidup dengan tawa, kupikir itu lebih berarti daripada saat ini.
***
“Narak, ada apa? Kau selalu saja, seperti biasa.. kau selalu telat masuk ke tempat kuliah ini. Kau perlu kuberi pelajaran untuk sekarang dan kedepannya agar kau bisa menjadi mahasiswa yang disiplin.”
Dosen itu menghentikan langkahku.
Aku terdiam menatapnya. Hal yang tidak bisa diterima akal adalah mengapa Martin Sirikanjana diperbolehkan masuk, sedangkan hanya aku seorang yang sekarang berdiri dan ditegah olehnya. Hei, entah mengapa alasan dan tujuannya? Aku pun tidak tahu, perasaanku saat ini tengah sunyi. Pun, aku berharap bisa bertemu kembali dengan mereka kawan-kawanku dulu. Bagaimana saat itu aku dan mereka menghabiskan waktu bersama, tertawa walau kadang berselisih pendapat dan aku marah karenanya, tetapi semua itu tidak berlangsung lama dalam hitungan waktu.
Rindu.. ke salah salah seorang di sana.
Tidak lama, kawan...
Kawan ataupun teman dalam bahasa yang dituturkan Jazu, apa kalian tahu kerinduan ini tidak hanya tentang Wapta seorang, tetapi ini tentang semua, tentang kita.
“Hidup ini terus berjalan, Boi. Kau sendiri harus semangat menjalaninya, jangan pernah menyesali kehidupan ini.. karena sejatinya kau tidak pernah tahu kapan kau akan mati, berakhir dalam kehidupan ini.”
“Kita telah banyak mendengar bagaimana kematian itu datang. Ada yang secara tiba-tiba, ada pula yang lama ataupun cepat belum sempat ke rumah sakit. Kematian bisa terjadi kepada siapa saja bukan hanya orang tua, ia tidak memandang usia, ia tidak memandang siapa pun baik itu hewan sekali pun. Saat ini kita hanya harus menjalani hidup ini dengan yakin, Boi. Dengan yakin mengenai takdir yang telah digoreskan oleh-Nya.”
Itulah, kawan. Kata-katamu yang hingga saat ini kuingat dalam segala helaan napas, kadang itu membuatku merenung dalam diam. Kalau ingin tahu aku belum bisa konsisten dalam menjalankan hari, selalu melanggar apa yang telah kutetapkan dalam buku catatan pribadi milikku, beribu hal dalam hidup ini.. lelahku sendirian untuk terus menanjak ke atas, sesekali pun kubersandar di batang pohon nan di atasnya rindang dedaunan dan aku tak ingin terus begini, aku tak ingin semua ini akan berakhir sendirian... Menyendiri itu bukanlah keinginanku selama ini, tetapi aku sekarang merasa begitu, sepi dan senyap bagai ponsel tanpa adanya nada dering dan aku harus bisa menerimanya.
“Ikutlah ke ruanganku sekarang!” Dosen itu menatap sekilas lumayan galak. Dengan suaranya yang menggelegar itu kuakui sukses membuyarkan lamunanku.
Patah patah aku mengangguk. Dosen itu jalan lebih dulu dariku dan di sepanjang perjalanan menuju ruangannya. Dia berceramah panjang lebar tanpa jeda kalimat padaku, sebagai mahasiswa bodoh yang kuliah di universitas supermegah ini aku sadar diri bukanlah siapa-siapa. Hanya butiran pasir yang mudah ditiup angin. Bisaku berdiam seraya mendengarkan dengan saksama, patuh, takzim, mangut-mangut dan sesekali saat dalam kondisi tidak mengerti, tanpa canggung aku memutuskan bertanya mengenai maksud ucapannya yang lebih-lebih dia menggunakan bahasa thai, sedikit sukar bagiku untuk kumengerti. Bahasa asing itu tergolong ke suatu hal yang tidak banyak kuketahui, baru terhitung masa dua tahun lalu saat pertama kali tiba di negeri Gajah Putih ini dan memulai hidup seperti orang normal pada umumnya.
“Menurutmu kapan seseorang itu akan mati?” Jazu bertanya saat berada di hari itu, saat yang lainnya sudah pergi.
Di sana menyisakan kami berdua saling mengobrol membahas sesuatu yang pelik dalam masalah hidup ini. Jazu berkata usai salah seorang di antara mereka menyebut soal kematian sebelumnya. Aku terdiam pelan menegok minuman teh punyaku, kalau membahas ini rasanya aku bagai debu di antara serpihan kayu.
“Jawab saja, teman.” Jazu lanjut bicara.
Aku menggelengkan kepala ringan. “Aku tidak tahu jawabannya.”
Jazu menarik napas lebih stabil dari raut wajahnya. “Biar kuberi satu sudut pandang. Perlu kau tahu ini bukan tentang masalah kematian pada umumnya yang sering kau lihat dan dengar, ini tentang kematian hati seorang pemuda dalam menjalani hidupnya. Menurutmu kapan seseorang itu akan mati? Saat kau melihat peluru menembus jantungnya? Bukan, saat kau melihat pedang menancap di perutnya? Juga bukan. Lalu kapan seseorang itu akan mati? Saat jati dirinya menghilang dan semangatnya memudar ditelan waktu.”
“Itulah kematian terbesar bagi sosok seorang pemuda, teman. Bukan hanya pemuda, tetapi itu berlaku bagi siapa pun. Itu baru satu sudut pandang dari orang yang kutemui tempo lalu, masih ada beberapa sudut pandang lainnya.” Jazu menjelaskan mantap dengan gayanya.
Aku memilih tidak ingin menjawab ataupun memberi tanggapan, itu ucapan di luar otakku yang aku tidak bisa memahaminya.
“Tapi, kematian yang kumaksud tadi tidaklah mutlak mati selamanya. Ia masih bisa dihidupkan kembali. Kau hanya harus kembali mengingat niat baikmu dan melangkah sambil membangun kembali semangat hidupmu yang pernah runtuh, berjuang dan bertekad, jangan sampai tekadmu mati.” Jazu melanjutkan bicara.
“Kau bergurau?” tanyaku.
Bahkan aku tidak menggubris ucapannya karena dia menyebutkan contoh yang keliru menurutku dalam pandangan logika.
Entah apa maksud dibalik semua itu? Lebih-lebih aku enggan bertanya dan saat ini bagiku lebih baik memilih tidak banyak peduli dengan semua itu. Jazu memang begitu saat bicara tidak disaring, asal terkeluarkan tanpa ada hal lain yang dia pikirkan baik tentangku yang tidak mengerti maupun tentang ucapannya yang memang menyebalkan saat kudengar.
Semenjak saat itu dan beberapa kejadian dalam hidupku. Pada akhirnya aku memilih menjadi orang pendiam. Walaupun kadang ciri khasku yang dikenal Jazu masih tetap kupertahankan dan kutunjukkan padanya.
***
“Narak, apakah kau mendengar apa yang baru saja kuucapkan? Seringkali aku memperhatikanmu dan kau seperti biasa, melamun seperti itu.” Dosen menatapku.
Melalui penuturannya lamunanku berhamburan dan berantakan seperti sekumpulan benang kusut di lantai, seperti awan yang bercerai berai perlahan lenyap di permukaan langit. Dramatis. Ringkasnya lamunan itu menghilang dari kepalaku.
Pun saat ini rasanya kakiku berpijak tidak terasa. Aku memegang kepala ringan bagai plong merasa kosong, membuyar ingatan di antara kepingan kaca yang pecah berantakan dan roti lapis yang dimakan, gelas kosong tergugur. Menghasilkan bunyi yang terasa bagai berada dalam kepalaku, terasa bagai nyata di hadapan mata.
“Kalau pertanyaanku sebelumnya membuatmu tidak nyaman, tidak usah kau pikirkan, lupakanlah untuk sejenak.. dan tenangkanlah pikiranmu.” Dosen itu berbicara sambil membuka pintu ruangannya yang tertutup rapat.
Kami berdua sekarang tiba di ruangan khusus dirinya. Seperti biasa perangainya usai masuk. Dia duduk di kursi kebanggaannya yang selama ini berkutat lebih lama membina mahasiswa dan mahasiswi yang dia ajar, jauh teramat mulia posisi seorang dosen berduduk di depanku. Aku hormat tanpa banyak bicara.
Mulia dalam tanpa kutip. Dia seorang dosen dan aku hanya seorang mahasiswa.
“Narak, alasan mengapa aku melarangmu masuk ke ruangan kuliah adalah bukan untuk memarahimu ataupun untuk memberi ceramah. Bukan itu, saat ini aku hanya ingin tahu kebenaran dari dirimu sendiri. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu mengapa akhir-akhir ini kau sering melamun, seperti orang yang kehabisan semangat untuk hidup dan kau kuliah seperti orang tidur tanpa menoleh ke siapa pun, beberapa mahasiswa lain merasa kurang nyaman.”
“Sebagai dosen di universitas ini aku menjamin dan mengawasi semuanya. Memberikanmu satu kesempatan menjelaskan adalah hal yang kutunggu, baik buruknya dirimu asalkan jangan pernah berbohong di hadapanku.”
“Para mahasiswi banyak yang penasaran dengan sikapmu. Di antara mereka tidak ada yang fokus, semua itu salahmu karena aura negatif dalam dirimu yang kuat. Dapat kuperhatikan para mahasiswi selalu menantikan kau tersenyum untuk satu kali saja dalam artian melihatmu bahagia dan rasanya selama ini kau bahkan tidak pernah menatap ke siapa pun, sibuk dengan dirimu sendiri. Hari ini, apa yang kulihat adalah berbeda, Narak? Kau berjalan bersama seorang mahasiswi. Kalian berjalan dan berbicara. Di halaman itu, aku melihatnya kau juga tampak akrab dan lepas bergurau dengannya. Bisakah kau jelaskan semua itu? Ini tempat kuliah, bukan tempat pacaran, kau harus tahu!”
“Mahasiswi itu hanyalah teman saya.” Aku menjawab sesuai kadar kepentingannya.
“Duduklah.” Dosen mempersilakan.
Pelan pelan menggangguk. Aku duduk di depannya dengan pandangan menunduk.
“Kau tahu, Narak. Gelar sarjana itu tidak penting, apa yang penting itu disiplin dan kau bisa berakhlak dengan baik.” Dosen memulai mengembuskan napas.
Aku terdiam menanti ceramah panjang lebar yang akan diutarakannya padaku.
__ADS_1