Daur Ulang

Daur Ulang
Dua Ratus Dua


__ADS_3

Lihatlah jalanan yang ramai. Pakaian setiap orang yang kutatap rapi semuanya. Dengan helm, juga atribut berkendera lengkap.


Mereka semua berkendara bersamaku menuju arah utara. Lebih tepatnya beriringan entah ke mana tujuan mereka.


Cuaca saat ini bisa kugambarkan laksana kompor gas menyala dan tangan berada di dekatnya. Lebih ringan semacam hawa.


Kutatap matahari tampak membulat, menunjukkan pancaran sinar terik. Sekarang, dunia ini dilanda hawa panas yang seakan membakar kulit.


Sedikit mengerjapkan mata, menatap lurus ke depan, kadang menoleh. Hawa panas ini seakan memberi tahu diriku tiada yang bisa kulakukan agar hidup ini lebih bisa bermanfaat. Apa mungkin? Haduuh. Aku lengang lagi, menatap kosong ke depan.


Sejenak merenung. Ada sesuatu yang menghambat pola pikirku dalam hal ini, terbayang lebih sulit, lebih seram dari angka dua bertukar menjadi dua ratus.


Dengung suara membuat mataku terpejam. Setir kukendalikan pelan, syukurlah tidak terjadi apa pun. Aku menggelengkan kepala, mengerjap-ngerjapkan mata, mengingat hal terbaik yang dulu bisa kulakukan.


Aku masih berkendara. Melewati terpaan panas yang jelas menyentuh wajahku. Jelas terasa keringatku bergerembul di area pelipis. Aku terus melaju di jalanan tanpa menghiraukannya.


Sekarang terbayang di dalam otakku ingin membuka payung agar melindungi diriku dari terik matahari yang membulat terang di sana. Bukan dilihat dengan kepala lurus, melainkan sedikit mendongak, menatap pancaran sinar yang terang di sana.


Semua orang pasti tahu letak matahari saat berada di jam dua siang lewat tiga belas menit. Tengah hari lewat, bergulir waktu dari detik ke menit.


Wapta, kau harus tahu seberapa panas cuaca yang saat ini kurasakan. Suratku akan tetap tiba kepadamu, sebentar lagi aku sampai ke tempat pengiriman surat.


Percayalah, tunggu saja.


Aku bukanlah seorang lelaki pemberi harapan palsu, melainkan memang selama ini aku tidak pernah memberi tahu, mengatakannya langsung mengenai harapanku kepadamu, sedikit pun rasanya tidak pernah aku ucapkan.


Kendaraanku terus melaju hingga tak seberapa jauh aku terhenti di lampu merah. Satu menit berlalu hingga lima belas menit.


Terdengarlah suara klakson dari banyaknya kendaraan bersahutan, bayangkan cuaca panas berhentinya lama. Itulah yang mungkin menjadi penyebabnya.


Tanyakan saja, setiap orang dalam hidup menempuh perjalanan pulang atau pergi, saat itu mereka menginginkan kelancaran, macet sungguh tidak dapat ditoleransi.

__ADS_1


Terkecuali golongan orang yang mampu bersabar, bersitatap tenang ke depan. Menghela napas dalam sedalam lautan menembus palung mariana.


Kalau ingin tahu, aku bukanlah seseorang yang selama ini dianggap dalam golongan orang yang mampu sabar, melainkan sabar-sabar sambal. Kadang sering lebih tidak sabar, entahlah menunggu lampu merah berganti hijau, juga cuaca sangat panas.


Itulah yang membuatku terkadang merasakan resah. Saat itu aku tengok kanan kiri, sejenak berdiri berusaha menatap ke arah depan. Lampu merah masih terlihat. Apakah lampu itu rusak? Itulah yang kupikirkan dalam-dalam.


Sudah bermenit-menit. Tidak ada kepastian apa pun. Kulihat polisi tidak sedang bertugas, tidak ada satu pun seragam khas kepolisian yang terlihat.


Rasanya ingin sekali aku menerobos lampu lalu lintas yang tengah kutatap kesal, tetapi melanggar aturan itu bukanlah gayaku.


Sejak dari dulu mematuhi peraturan adalah prioritas utama dalam kehidupan yang terus kuterapkan. Entahlah, satu kali aku melanggar saat keterlambatan datang, itu pertama kali terkena hukuman karena melanggar peraturan Big Boss.


Kalau ingat wajahnya sampai sekarang kepalaku kadang sering sakit. Membayangkan ocehannya, juga tatapan mata yang amat menakutkan. Ngeri!


Lupakan saja tentang kesemuaan yang telah berlalu, kini aku tahu sesakit apa pun masa lalu, semua itu berlalu dan terus berlalu.


Apa yang sekarang kurasakan, apa yang sekarang kulakukan adalah bentuk sesuatu yang baru, aku harus bisa lebih kuat menjalani kehidupan ini.


Kehidupan yang jelas menampakkan rasa kesedihanku di masa lalu. Biarkanlah semua itu, biarkan sudah.


Ringkas saja, sekarang ada banyak kendaraan yang terhenti gegara lampu merah itu terus menyala. Banyak orang yang protes mengeluarkan kekesalan mereka. Aku hanya heran sekilas menduga, otakku lancar selancar jaringan 5G yang memuat informasi lebih dari sekadar gambar.


Lima menit kemudian. Bunyi khas kepolisian datang ke tempatku sekarang berhenti. Ramainya, aku menatap mereka memakai seragam yang bisa dibilang cool. Wajah juga mantap, berwibawa macho.


Mereka mengumumkan bahwa lampu merah itu rusak. Seluruh orang yang mendengarnya tampak bergumam senang, bukan karena lampu itu rusak, melainkan mereka bergumam senang karena bisa melanjutkan perjalanan.


Sama. Aku juga ikut senang, suratku akan tiba kepada Wapta. Betapa rasanya pikiranku saat ini dipenuhi kesenangan yang tiada habisnya.


Perlahan besi-besi di sampingku, depan dan belakang melaju, hanya aku yang masih terdiam enggan beranjak pergi.


Saat itu aku menepi, lalu mengeluarkan selembar kertas. Di sana aku menulis surat lanjutan teruntuk Wapta.

__ADS_1


Wapta, kalau ingin tahu, jalanan menuju ke tempat pengiriman surat seperti ada sejuta kekuatan lem super lengket. Aku terhenti lama, lampu merahnya rusak. Di depanku sekarang ada polisi, bentar aku ingin meminta tanda tangannya dulu.


Aku menghentikan tangan menulis. Saat itu lanjut berjalan menghampiri para polisi yang kini tampak bertugas.


Aku menatapnya kuat-kuat. Menyapa mereka ramah terlebih dengan senyuman mantap.


Mereka balas menyapa.


“ขอลายเซ็นได้ไหม?” Boleh aku meminta tanda tangan? Saat itu aku memberikan lembaran suratku sebelumnya. Tepat di bawah tulisan masih ada tempat untuk bisa dicoret, eh salah diberi tanda tangan maksudnya.


Polisi itu menepuk pundakku. “โอ้ชายหนุ่มเพื่ออะไร?” Oh, anak muda, untuk apa?


Dia bertanya padaku, sedangkan teman-temannya menatapku seakan menebak ekspresi wajah. Aku tidak tahu mengenai itu sekilas menduga, tentulah dugaanku bisa salah karena aku bukan seorang psikolog.


“เพื่อแสดงให้เพื่อนของคุณเห็นว่าคุณสามารถรับลายเซ็นของเราได้?” Untuk menunjukkan kepada teman-temanmu bahwa kau bisa mendapatkan tanda tangan kami?


Beberapa hendak tertawa. Aku juga sama bahkan lebih nyaring dari para polisi itu.


“สำหรับผู้หญิงที่ฉันรักจากอินโดนีเซีย.” Untuk wanita yang kucintai dari Indonesia. Jawabanku mantap tanpa ragu-ragu.


“อินโดนีเซีย?” Indonesia?


Aku balas anggukan, mengatakan iya dengan ringkas tanpa panjang. Sepertinya aku akan berada lama lagi di sini, beberapa dari mereka masih memantau arus lalu lintas. Polisi itu menatapku tersenyum.


“นั่นคือจดหมายถึงเขา.” Itu surat untuknya. Kataku lagi ringkas menunjuk ke arah surat yang masih dia pegang, belum diberi tangan tanda. Polisi itu masih diam.


Dengan wajah tersenyum. Aku menunggu dengan perasaan yang bisa dibilang seperti truk bensin yang menabrak kios-kios di pinggaran jalan. Terdapat kompor menyala. KAABOOM! meledak. Astaga? Semoga saja tidak terjadi apa pun.


Bisaku sebagai seorang makhluk di muka bumi ini, hanya bisa berdoa meminta perlindungan kepada Sang Maha Kuasa.


Kadang di dalam kehidupanku ada banyak sesuatu yang terlewat dengan helaan napas berat, bergumam kesal dan entah mengapa hati ini terdiam seribu bahasa kala membahas alam semesta.

__ADS_1


Diri ini masih saja merenung, memikirkan sesuatu yang bahkan sulit kupecahkan dalam hitungan menit.


Semua ini tak semudah menghempaskan gelas ke permukaan keras, lantas pecah atau kaca dan lain sebagainya.


__ADS_2