Daur Ulang

Daur Ulang
Rangkaian Yang Kesebelas


__ADS_3

Rintik hujan mulai turun membasuh lapisan tanah. Di bawah menara ini yang terlebih tinggi dengan pemandangan hijau, ini bagiku berbeda dari tempat sebelumnya dan aku sekadar ingin menyambung apa yang ingin kusambung. Jarum jam itu berdetak jelas kudengar di kedua lubang telinga, di antara keheningan hidup dan inilah keheningan terdalam yang pernah kurasakan. Desir angin alami nan ditangkap telinga menenangkan.


TimeTravel ini membuatku tiba ke zaman kuno hingga ke alam fantasiku sendiri. Dalam peputaran waktu yang sama, aku selalu merindukan Wapta dan beberapa orang yang dulu ada dalam hidupku.


Aku tidak pandai dalam mengarang puisi bagaimana caraku bisa mengungkapnya dalam bait ke bait. Bisaku sebagai orang lemah, hanya merindu. Pun tanpa bisa kukatakan semuanya, memendamnya untuk kesekian lama sebagai lelaki aneh yang tidak berani dan aneh teramat aneh seolah aku terus berlari dari permasalahan hidupku sendiri. Lemah ini, terlemah keadaan tanpa bisa menengok ke depan.


Wapta benar tidak tahu tentang semua ini, tentang segala apa yang kupegang, bisaku dari dulu hanya menyembunyikannya.


Itu tidak banyak berarti dalam ungkapan yang tidak semestinya kuterangkan. Lirih dalam hening yang tak bisa kujelaskan.


“Narak.”


Lita Aksima sejenak menyadarkan lamunanku dan aku tidak bisa bicara hanya bisa memilih diam, menatap kosong.


“Selama ini aku sering memperhatikanmu dan sekarang kau sudah banyak berubah, Narak. Dulu kau begitu bersemangat menjalani hari harimu, bahkan kupikir tiada yang bisa mengalahkan semangatmu.”


“Kau ingat saat kau mengatakan itu padaku di bawah air terjun. Kau berani menyapaku dengan tanpa peduli apa reaksiku.”


Lita Aksima banyak bicara mengingatkan kembali moment itu yang sebenarnya hanyalah fiksi. Dan kala itu aku memakai topeng ramah tamah yang sejatinya bukanlah diriku, aku punya banyak topeng di sini kanan, kiri, tengah dan belakang. Pun atas bawah yang kesemuaannya bisa kugunakan, itulah inspirasi pertamaku membuat novel koboi berkarakter munafik dan itu amat jelas dari tindakanku.


“Kau tahu itu hanya fiksi,” jawabku.


Berterus terang dengan segalanya, tanpa memandang wajah Lita Aksima. Hatiku sekarang sedang tidak baik baik saja, mengingat banyak hal yang menyakitkan.


Itu tidak menyakitkan bagi orang lain, hanya sekilas penyesalan yang teramat aneh di dalam ingatanku dan isi hati yang tak kunjung bisa kulupakan sesosok Wapta. Satu satunya wanita yang kucintai.


Dan itulah dia sosok lelaki yang menjadi pelaku durjana—lari dari kenyataan, dan mungkin Wapta adalah korbannya dari lelaki yang sekarang menghilang begitu saja, tanpa penjelasan dan tanpa menghiraukan keberadaannya dulu.


Aku tidak pernah patah hati mengingat semuanya, hanya menyebut bahwa aku telah salah memendam perasaan.


Aku baru ingat tentang ini, tentang Lita Aksima tidak menyukai kalimat maaf tanpa adanya perubahan di diri orang yang sebelumnya meminta maaf.


Mau bagaimana aku sudah telanjur mengucapkannya, meminta maaf lagi. Refleksku sendiri, tanpa kukehendaki.


Aku merasa bersalah saat sebelumnya mengatakan permintaan maaf dan kalimat itu keluar tanpa kusadari. Pun kutahu ini hanyalah sebuah kepingan yang ada dalam ingatanku, telah lama pudar dan tenggelam bahkan lupa seakan ingin menghilang.


Sosok sepertiku yang dari dulu tidak menyukai nasihat perlahan tahu bahwa itu semua tidak banyak berarti. Aku menyadari dan sangat memerlukan banyak sekali pengulangan nasihat demi nasihat agar diri ini bisa berkuat diri, terus berbenah, berbaik dari kesalahan demi kesalahan.

__ADS_1


Hanya lewat beberapa hari, beberapa minggu nasihat itu bagai hilang dari kepalaku saatku tidak mendengarnya lagi, seringkali aku bertanya adakah obat dari semua ini, dari semua yang kualami?


Atau hanya aku yang selama ini menuduh nasihat itu adalah omong kosong, seperti rasanya aku memang sampah yang tidak mengerti apa apa tentang dunia ini, bahkan seringkali bersikukuh menolak penjelasan dari banyak hal dan dalam pengertian berbeda dengan maksud yang sama.


Itulah nasihat mereka dari apa yang kutahu sebetulnya mereka hanya ingin memberiku semangat, satu demi satu.


“Kau tahu itulah cerita fiksi yang kutulis, Lita Aksima. Semua itu tidak jauh berarti.” Kujawab dengan suara pelan menatapnya.


“Ya, aku tahu—itu memang benar. Dan.. walaupun semua itu bagimu hanyalah fiksi, satu hal yang ingin kutekankan adalah kau tidak boleh menggunakan sajak puisi hanya untuk menipu, bahkan untuk membohongi perasaanmu dan juga perasaan orang lain. Saat hari itu apa kau ingat, kau sendiri yang mengatakannya padaku bahwa kau mencintaiku? Lalu, usai semua itu, fakta yang sekarang kutemukan berbeda, kau malah mencintai Wapta dan menyebutnya di hadapanku bagai tanpa dosa, kau seakan tidak menghargaiku sebagai orang yang ada di hadapanmu.”


Kali ini, Lita Aksima benar benar berhasil menamparku dengan sekilas ucapannya. Bagaimana dulu aku mengungkapkan perasaanku padanya. Yeah, itu hampir membuatku seperti menelan ludah pahit tentang ucapanku sendiri dan bertanya apakah aku telah mengotori sajak puisi.


Lita Aksima mengangguk. “Ya, bagiku kau telah mengotori sajak puisi dengan kalimat yang sejatinya kau sendiri tahu bahwa perasaanmu kala itu tidak mencintaiku. Hari itu kau malah mengatakan bahwa kau mencintaiku dan merayu dengan sajak sajak puisi buatanmu. Bukankah itu dusta yang sengaja kau bungkus sedemikian rupa rapinya dengan kalimat kalimat indah yang kau punya dan itulah sebabnya aku mengatakan kau telah mengotori sajak puisi dengan kalimat kalimat dusta yang kau samarkan demi hanya itu ....”


“... kau hanya ingin memamerkan ke orang-orang bahwa kau berhasil membuat wanita luluh dengan sajak puisi milikmu ... yang itulah sebabnya alasan jelas kau telah mengotorinya. Itu sungguh menjijikkan!”


Lita Aksima menatapku seperti orang marah. Aku mengembuskan napas pelan menatapnya, seberapa menjijikkan kalimat yang dimaksud olehnya? Apa mungkin Wapta juga sama dengannya? Merasa jijik dan merasa itu adalah kalimat dusta.


“Entahlah, Lita Aksima. Untuk saat ini aku hanya bisa meminta maaf lagi kepadamu dan kalau kau marah padaku. Itu adalah risiko bagi diriku karena telah berani melanggar satu demi satu dan aku sering melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.”


Aku menjelaskan lagi padanya. Meminta maaf bahkan berapa kali sudah terhitung banyak, mungkin dia memaafkanku dan tidak banyak menerima semuanya.


Tatapan marah yang sebelumnya kulihat kini berubah dari raut wajahnya. Tawa kecil dan mengejekku baper mengira aku menyukainya, itu menjadi bahan tertawa Lita Aksima menertawakanku.


Aku tidak bisa menyanggah semua itu. Mengenai itu juga kemungkinan memang benar adanya, dia memang tidak pernah bilang padaku soal menyukai itu dan kini tertawa kecil kudengar darinya usai mengetahuiku salah sangka dalam mengira, kukira dia menyukaiku, ternyata dia menjawab tidak pernah.


Itu memang terasa seperti sambaran petir di bawah terik panas matahari, tidak ada hujan yang kubisa kurasakan dinginnya, gelegar dan hawa panas mendominasi.


Seorang pembual kata di antara ratusan anak panah yang patah kini hanya bisa menelan ludah pahit atas kalimat kalimat yang pernah dia tulis. Siapa orangnya? Akulah yang kumaksud. Bukan siapa siapa.


Sejak lama aku punya pemikiran siapa pun tak akan menyukaiku, entah itu Wapta atau yang lainnya. Makanya lebih baik perasaan ini kupendam untuk diriku sendiri.


Berangsur pelan, lirih. Lita Aksima menghilangkan sejenak suara tawanya dan pembicaraan itu kembali berlanjut dari satu topik ke topik lainnya. Mataku sibuk memperhatikan alam sekitar dan benar saja tidak banyak mendengarkan, sesekali hanya mangut mangut, dia banyak topik dan berbagai hal diperkenalkan dari nama tumbuhan hingga nama nama hewan yang jelas kutahu dia penyuka alam. Atau mungkin sekadar basa basi yang memang sudah basi. Itu sapi, di sana. Yeah, aku tahu itu sapi, tidak perlu disebutkan lagi.


Berjalan jalan seperti ini. Pagi hari inilah hal disukai olehku dari dulu. Itulah juga balasku panjang lebar menjelaskan soal keseharian demi keseharian yang kulalui sendiri. Menceritakannya pada Lita Aksima dengan berbagai ekspresi yang membuatnya sukses dalam tertawa.


Atmosfer berbeda kurasakan saat dia kembali menyinggung perihal Wapta, perihal kerinduan yang kualami. Dan terakhir dia menyinggung perihal kegagalanku dalam menerbitkan naskah yang pernah kutulis. Itu tidak banyak memberi kesan apa apa, tetapi aku tahu betul mana yang baik, mana yang buruk.

__ADS_1


Aku lebih baik diam daripada ikut terseret ke jurang pembicaraan miliknya. Sebagai seseorang yang selama ini menjujung sikap bodo amat dan tidak banyak peduli.


“Kau tahu tempat ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Kita sama sama tahu apa yang terlebih sama ini membuatmu mengingat masa lalu, masa itu sudah berlalu, Narak. Seberapa besar kau mengingatnya bahkan sering berkutat lebih lelah, semua itu berada hanya pada jangkaan yang tidak lebih tentang seputar angka angka di dalam pemikiranmu.” Lita Aksima berkata pelan menatapku.


Saat itu aku hanya bisa terdiam mendengarkan takzim, menelan ludah gugup seperti aliran sungai yang terus mengalir tenang dan udara yang tidak terlihat akan ada wujud batang hidungnya menerpa helai rambutku. Lita Aksima terus mengeluarkan bicara dan kami terus menuju istana nan megah di sana, aku tidak dapat merasa apa pun, ini terlebih sama, seperti hidupku yang penuh hampa dengan segenap pengetahuan tanpa berlandaskan pola pikir cemerlang, tanpa adanya pelajaran yang bisa kupetik dan renungkan lebih lanjut mengenai ini.


Kepalaku seperti tong kosong, nyaring bunyinya, tanpa bisa banyak yang dapat kupikirkan tentang semua ini.


Lita Aksima, aku ingin bicara lebih banyak padamu, tetapi semua itu lebih baik kupendam dalam diam. Kau tidak tahu tentangku, bukan? Kau itu hanya bicara sesuai kadar yang kau mau. Sesuai dengan pola pikirmu, menebak tentangku.


“Kita bicara tentang kegagalan yang baru kau alami, Narak. Tidak ada yang perlu kau sesali dan tangisi saat kegagalan itu ada padamu, saat di mana dunia terasa sempit dan kau merasa terhujam oleh puluhan anak panah yang turun dari langit. Asal kau mengingat beberapa hal yang terjadi dalam kondisi mampu bersabar dan bersyukur.”


“Perlu kau tahu, manusia itu diciptakan dengan beragam dari satu ras suku ke ras suku lainnya, berkelompok satu dengan kelompok lainnya. Dengan beragamnya bangsa, budaya, dan berbagai bahasa yang sejatinya semua itu mempunyai satu hikmah, yaitu untuk di antara kita bisa saling mengenal satu sama lain, menghargai dan menyayangi dari sikap tersebut, kau harus tahu, Narak. Mengenai masalah kehidupan yang menimpamu dan bagimu rumit, sebetulnya itulah alasannya. Dunia ini berkesinambungan terus menerus antara siang dan malam, antara pembeli dan penjual. Dan itulah sedikit yang bisa kuberitahu tentang semuanya agar kau sedikit mengerti tentang kehidupan ini yang kalau kau bisa bersabar dan bersyukur, kau akan beruntung.”


“Dan kau bisa memikirkannya, lalu menerimanya dengan lapang bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda, tidak sama. Ada di antara mereka yang menguasai ilmu tertentu dan tidak bisa menguasai ilmu lainnya dan di antara mereka ada juga menjadi tukang bangunan, ahli dalam bidang bangun membangun. Dan orang yang menguasai ilmu tadi tidak bisa membangun rumah, kita bisa meminta bantuannya. Ada di antara orang yang bisa berenang dan juga ada yang tidak bisa, hidup ini sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Di antara mereka ada yang pandai memanah dan juga ada yang pandai memasak. Dengan begitu aku berharap kau tahu bahwa tidak semua orang itu ditakdirkan dalam takdir yang sama dalam segi kemampuannya, dalam segi usahanya. Ada di antara mereka yang hanya bisa menjadi pendengar dan tidak bisa menyampaikan, walaupun sejatinya mereka tahu suatu ilmu, tetapi sedikit pun tidak ada di dalam benaknya bisa menyampaikan itu kepada orang lain. Baik melalui tulisan maupun ucapan.”


“Beberapa golongan manusia dibagi menjadi banyak jenisnya. Beberapa jenis pekerjaan, beberapa jenis kemampuan dan lain lainnya. Kesemuaan itulah untuk satu hal agar dunia ini terus berkesinambungan antara satu dan lainnya, saat ini kau tidak perlu percaya tapi saranku pikirkanlah bagaimana terbaiknya agar kau tidak mengeluh dan berlarut dalam kesedihan.”


“Di antara hidup ini kita saling membutuhkan satu sama lain dan itu tidak bisa kau mungkiri hingga di antara itu terciptalah sebuah komunikasi dan saling menyatukan tenaga, saling membantu.”


“Kadangkala kalau kau mau memikirkannya lebih lanjut, begitulah kehidupan ini yang sebenarnya antara satu dan lainnya berkesinambungan. Antara angin dan ombak yang kau lihat dan rasakan, antara hujan dan panas hingga sesuatu hal lainnya yang bisa kau pikirkan sendiri. Lebih banyak merenunglah agar kau tahu hakikat kehidupan dan tentu masing masing kita punya pemikiran yang berbeda dan kau akan tahu saat kau merenungkan sendiri dan saat itu peganglah prinsip hidupmu dan jangan pernah lepaskan ia dalam hidupmu. Sejatinya kehidupan ini adalah mencari jati diri dan membenahnya terus menerus dengan berbuat baik. Kalau kau merasa salah, bersegeralah membenah diri lagi hingga di suatu masa seseorang itu bisa tersenyum lepas dalam hidupnya, tidak ada duka cita lagi karena dia usai dengan semua kesedihan. Dia sudah mengerti tentang kehidupan ini, walaupun beribu masalah hinggap di dalam kehidupannya. Dia akan selalu bisa bersabar dan mampu bersyukur atas segala segalanya.”


Panjang lebar kala itu dia mengucapkannya padaku, bahkan kala itu rasanya aku seakan lelah dalam mendengarkan.


Ingin menutup kedua lubang telinga, walaupun aku mengakuinya selama ini aku hanyalah sekumpulan duri di sela pohon yang sendirinya telah lepuk dan patah, selama dalam masa sendiri sudah banyak kesedihan, banyak pula mendengar tentang semua itu mengenai perkataan dan penjelasan mengapa seseorang bisa hidup dan mendapatkan cobaan, tentang seberapa banyak peristiwa dan senyuman orang yang menyebutkan ini dan itu, berlalu begitu saja membahas berbagai masalah dan hal lainnya yang membuatku termenung lama, sendirian mengigit jari.


Bagaimana kiranya kehidupanku yang kala itu seakan berjalan lancar, baik baik saja dan berbagai hal lainnya yang entah mengapa sampai sekarang semua itu masih sering kuperdapati perasaan yang merasa ini seperti peristiwa yang terbentuk menjadi sebuah alunan syair tentang kebimbangan diri ini dalam setiap helaan napas dan langkah kaki yang hendak kupilih. Pun dalam segala hal yang kujalani dalam menempuh peputaran sang waktu yang kurasakan berjalan cepat.


Itulah juga akhir dari perjumpaanku dengan seorang wanita bernama Lita Aksima. Aku sungguh menyesali tingkah lakuku sendiri yang tidak bisa menerima nasihatnya dan betapa pun telah banyak kalimat maaf kuucapkan. Semua itu kini tidak banyak berarti lagi, kalimat itu seakan telah berubah menjadi kalimat kering korantang dan sudah seringkali kuucapkan hingga semua itu tidak banyak berarti lagi saat kesalahan demi kesalahan itu bertubi tubi kulakukan. Ini kesedihan yang kualami.


Saat di mana kalimaf maaf berubah basi di telinga orang yang mendengarnya.


Aku menulis catatan kesedihan kala itu berjudul, Lita Aksima dan untuk lembaran yang telah hilang. Sosok seperti dirinya memang antik dan aku telah salah.


Maafku berkeras kepala, aku masih merasa seperti tidak bisa mendapatkan sesuatu yang berarti banyak di antara ini.


Siapa orang yang tidak menyukaiku? Hampir, dalam hitungan banyak, bahkan mereka temanku sendiri kadang menyebut kalimat yang menunjukkan mereka tidak menyukaiku dan lebih banyak membenci beberapa sikap dan sifat yang kumiliki, lebih dari itu kupikir aku hanyalah setumpukan kayu lepuk.

__ADS_1


Lalu hilang diterjang banjir. Di antara derasnya arus sungai dan muara yang terus menerus membawanya, setumpukan kayu itu berpasrah tidak punya kekuatan untuk melawan, dibawa oleh arus sungai dan ia pun menenggelamkannya ke dasar.


Di dasar sanalah setumpukan kayu itu berakhir terkubur, perlahan tapi pasti tanpa seorang pun tahu kemana ia hilangnya.


__ADS_2