Daur Ulang

Daur Ulang
Tersesat


__ADS_3

Di dalam mobil hitam yang memelesat di jalanan. Aku tertegun membayang di udara tanpa sepatah kata dan berdiam selalu dengan hening seperti air yang tenang. Ayahnya Martin Sirikanjana menegurku yang seperti terdengar suara khasnya.


“Kamu kenapa, Narak?” Dia bertanya padaku dengan suaranya yang sedikit parau.


Sejenak berpikir ingin jujur bahwa tadi aku mengingat masa lalu, tetapi hal itu mungkin akan ditangkap memalukan oleh beberapa orang. Masa lalu seharusnya tetaplah berada di sana dan biarkan semuanya mengalir bagai air sungai dan jernih airnya, itulah sudut pandang bagi beberapa orang yang mengatakan bahwa masa lalu seharusnya tidak perlu diingat-ingat lagi. Dilupakan dan biarkanlah berlalu.


Sementara aku tidak tahu ayahnya Martin Sirikanjana itu tipikal orang yang seperti apa? Kalau boleh kukatakan dengan jujur kepadanya bahwa tadi aku mengingat masa lalu, bisa jadi aku akan terkena ceramah yang jelas aku tidak ingin mendengarnya.


Secepat mungkin mencari alasan di dalam otakku dengan kecepatan superfantastis yang belum pernah kulakukan selama ini.


Aku ngenyir, menggaruk kepala. “Oh, itu tadi saya mengingat soal keinginan saya bertemu dosen. Saya ingin mengatakan kepadanya bahwa saya mau meminta izin dan sepertinya saya akan mengambil masa cuti untuk beberapa hari nanti, saya tadi sibuk melamun. Ya, sebenarnya saya sedang memikirkan apa dan bagaimana caranya saya bersikap hormat kepadanya dan saya berusaha merangkai kalimat hormat itu di dalam benak pikiran saya dengan sebagus mungkin yang nanti akan saya katakan kepadanya supaya dia tersenyum dan dengan senang hati, dia akan memberikan izin kepada saya untuk bisa mengambil masa cuti. Itulah yang menjadi pikiran saya sekarang dan alasan mengapa saya tadi melamun menatap ke arah jalanan.”


Aku merasa menyesal karena mengatakan suatu kebohongan seakan aku adalah seorang pembohong yang pandai menutup diri dari orang lain, sebenarnya itulah yang kupikirkan saat tadi pagi berbicara bersama kakek. Mengenai masa cuti dan keinginanku sendiri yang setuju saat mendengar saran yang kakek berikan untuk berangkat pergi. Menemui Wapta yang berada di sana agar rasa rinduku yang selama ini ada bisa musnah, menghilang dari kepalaku dan aku bisa bertemu kembali dengannya.


Menatap senyuman indahnya yang membuat sanubariku seperti puluhan bunga yang bermekaran secara bersamaan. Seperti lautan berombak tenang dan tiupan angin yang menenangkan.


“Ringkasnya kamu ingin mengambil masa cuti?” Ayahnya Martin Sirikanjana bertanya.


Aku lupa menjelaskan. Dia sedang menyetir dan dirinya tidak seperti kebanyakan orang di luaran sana yang saat punya mobil, juga punya sopir pribadi yang melayani tuannya, berbeda dengan ayahnya Martin Sirikanjana ini yang tampak sederhana dengan gayanya yang entah mengapa saat aku duduk bersamanya ikut merasakan aura yang menyenangkan, tidak bisa aku mengerti.


Sementara, Martin Sirikanjana sendirian duduk di kursi belakang tampak menyimak pembicaraan di antara kami berdua.


Yang kupikir Martin Sirikanjana tidak akan mengerti karena dia tidak bisa berbahasa indonesia. Dia tidak seperti kami berdua. Saat mendengar pertanyaan Ayahnya yang seperti itu bertanya padaku. Sekilas saat itu terbayang wajah kakek, mengenai apa yang kami bahas pagi tadi di ruang makan.


“Sepertinya kamu mempunyai suatu hal yang ingin kamu lakukan. Kalau kamu tidak keberatan menceritakannya kepadaku, aku bisa mendengarkan seluruh isi ceritamu.”


Ayahnya Martin Sirikanjana kali ini tampak tersenyum menatapku. Mobil hitam itu terus melaju dengan pedal gas yang sepertinya sedikit pelan dari sebelumnya.


Aku tersenyum membalas senyumannya. Dengan senang hati ingin menjelaskan dan menceritakannya. “Iya, itu karena tadi pagi saya sudah memberikan pernyataan soal ini dengan kakek saya dan membahasnya. Saat itu kakek memberikan saran demikian. Di Indonesia, ada salah seorang kenalan lama yang sangat ingin saya temui, sudah lama sekali saya tidak bertemu dengannya. Itulah alasan mengapa saya memutuskan dan setuju dengan saran yang diberikan kakek. Saya ingin mengambil masa cuti.”


Aku menjelaskan panjang lebar padanya. Bahkan kala itu lebih detail semuanya dan lebih panjang dari hanya sekadar itu. Sama persis saat di mana aku dan kakek mengobrol bersama di ruang makan sebelumnya, sibuk satu sama lain tatap menatap membicarakan tentang apa yang sedang kualami.


Tentang kerinduanku kepada Wapta. Martin Sirikanjana di sana tidak akan paham karena aku berbicara dengan ayahnya dalam bahasa Indonesia yang jelas hanya aku dan ayahnya yang mengerti.


Aku tidak pernah menyangka bahwa ayahnya ternyata adalah seorang pendengar cerita yang baik dan selalu nyambung denganku. Selama itu aku dan dia berbicara berasa empat mata dari hati ke hati dengan saksama, rukun dan takzim.


“Masa mudamu tidak beda jauh denganku, Narak. Tapi, yang ini pasti jauh berbeda antara aku denganmu. Dulu sekali pernah suatu ketika aku menyebrangi pulau dengan kapal karena pesawat jadwalnya macet dan kerinduanku telah membuncah hebat. Ini seperti difilm hollywood yang terkenal itu, Narak. Dan tidak pernah kusangka hari itu kapal yang kutumpangi tepat di tengah lautan terjadi kecelakaan dan api menyala besar dari buritan kapal. Saat itu pilihan orang-orang dihadapkan dengan lautan, loncat atau berakhir terbakar. Aku tidak pandang lama, langsung loncat dari kapal. Tentunya dengan pelambung di leherku. Saat itu aku berusaha berenang dengan napas dan jiwa semangatku hingga rasanya aku tidak tahu kapan aku tiba ke bibir pantai. Kamu tahu semua itu kulakukan hanya untuk menunaikan niatku bertemu seseorang yang kucintai sejak lama.”


Dia bercerita lebih panjang dari hanya sekadar itu. Lebih detail mengenai isi keseluruhan cerita yang dialaminya, tentang cerita bagaimana perjuangan dirinya itu berpetualang menelusuri tempat ke tempat hingga bertemu wanita impiannya yang selama ini menjadi istri sahnya, wanita yang amat dia sayangi dan rindukan selalu. Itulah katanya, selama merantau mencari jati diri, ayahnya Martin Sirikanjana ternyata adalah seorang musafir yang haus akan ilmu.


Aku terdiam bagai sebuah patung di bawah terik matahari yang menyengat hebat. Bersikukuh peluh pun tidak ada, hanya mampu terdiam mendengarkan setiap cerita yang diceritakan olehnya, sebelumnya dia menyuruhku bercerita tentang diriku dan pada akhirnya sekarang dia malah menceritakan sendiri isi cerita tentangnya yang sebenarnya tanpa kupinta. Sejauh ini percakapan antara aku dan ayahnya Martin Sirikanjana yang tidak pernah kusangka.

__ADS_1


Pernikahan adalah akhir dari cerita ayahnya Martin Sirikanjana hingga tiba masa itu di mana putri pertamanya lahir ke alam dunia dan diberi nama Martin Sirikanjana.


“Kamu tahu beberapa hari sebelumnya, Martin Sirikanjana susah payah belajar bahasa Indonesia. Dia menuturkan beberapa kosa kata dan semua itu dia lakukan hanya karena ingin bisa berbicara denganmu lebih leluasa dan nyaman katanya.” Ayahnya tiba diakhir cerita dan menyebutkan hal demikian.


Itu sedikit membuatku seperti menerima sebuah kejutan. Itu berarti sekarang dia bisa mengerti apa yang kami bicarakan.


Ayahnya tampak tertawa tipis. “Apa kamu merasa khawatir dia tahu tentang kerinduanmu terhadap wanita itu?”


Aku tidak menjawab sepatah kata pun karena tiba-tiba bingung ingin menjawab apa? Orang berjas hitam itu terus menyetir. Dari awal seharusnya aku menyebutnya dengan sebutan orang berjas hitam biar terkesan cool. Hari ini, aku seperti kehilangan diriku yang lain, entahlah mungkin tak mengapa, bukan apa-apa.


“Tenang saja, Narak. Rahasiamu yang tadi kau ceritakan itu aman. Beberapa waktu lalu, tidak lama baru dua hari sebelumnya, sering kuperhatikan Martin Sirikanjana saat itu mengulang kosa kata dan dia hanya belajar bahasa Indonesia untuk memperkenalkan dirinya. Masih perlu belajar lagi dan itu jelas akan memakan banyak waktu, banyak yang belum dia ketahui. Mengenai apa yang kau ceritakan sebelumnya, itulah masa anak muda. Selama mendengar ceritamu, aku mengerti perasaanmu yang masih merindukan wanita itu, Narak. Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui adalah aku juga mengerti perasaan putriku.”


Orang berjas hitam itu menjelaskan. Pikiran dan hatiku terbelalak tak percaya dengan apa yang ditangkap telingaku. Ini tiupan angin atau perkataan dusta ayahnya.


“Apa maksud Anda bicara seperti itu?”


Orang berjas hitam itu sedikit tertawa, lalu menepuk pundakku. “Maksudku Martin Sirikanjana ingin berteman baik denganmu. Dia menghabiskan waktu harian hanya untuk mempelajari bahasa Indonesia yang ingin dia tunjukkan padamu. Suatu hari, kamu akan mengerti, Narak. Bagaimana perasaan seorang ayah kepada anaknya.”


Aku mangut-mangut mendengarkan semuanya. Sepertinya masalah ini hanya aku yang baper. Orang berjas hitam itu sekadar menyebutkan perasaan putrinya yang ingin berteman baik denganku. Kupikir setiap orang tua akan mengerti perasaan seorang anak yang selama ini mereka rawat dan besarkan dengan kasih sayang.


Kasih sayang yang melebur menjadi sekumpulan cahaya kala ditatap pun terasa menenangkan dan menyatu padu di ruang pemikiran dan menentramkan sanubari.


Terbang membelah awan dengan burung berbadan besi untuk kedua kalinya dalam hidupku. Kakek benar, aku harus secepatnya mengatakan isi perasaanku kepadanya. Datang sebagai seorang lelaki dan melamarnya, tanpa bertele-tele lagi.


Semakin lama perasaanku ini terpendam, semakin menyiksaku dengan kalimat panjang berupa kerinduan dan berbagai terpaan yang entah mengapa datangnya silih berganti dan susah kuleraikan.


Perkataan orang berjas hitam sebelumnya berusaha kutepis jauh-jauh dari pikiranku. Menatapnya dengan mempertahankan senyuman agar dia tidak tersinggung.


“Wanita yang kau rindukan itu bagaimana sekarang kabarnya?” Orang berjas hitam itu kembali bertanya.


Aku menggeleng dan menjawab. “Selama ini saya dan dia hampir tidak pernah berkomunikasi melalui ponsel yang sebenarnya saya tidak punya nomor ponselnya, hanya beberapa waktu lalu kami berkomunikasi lewat media surat. Itulah suatu keadaan yang tidak bisa saya bayangkan. Mengapa dan kenapa alasannya, saya juga tidak mengerti.”


“Saya tidak tahu mengenai alasan mengapa saya menjadi orang yang tidak bisa menghubunginya dan saya harap Anda lebih mengerti. Mengenai keinginan saya bisa bertemu kembali dengan dia karena dalam hidup saya sebelumnya dialah pelita yang menerangi jalan hidup saya yang pernah dulu saya merasa bimbang dalam melangkah dan hendak kemana? Saya sempat seperti orang yang tersesat dan kebingungan. Sampai sekarang saya merasa perasaan bimbang itu masih ada di dalam diri saya dan kadang muncul kembali seperti sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan. Bagi saya dirinya mungkin adalah jodoh terbaik yang bisa menerangi jalan hidup yang selama ini membuat saya tersesat.”


“Hari itu saat saya mengirim surat kepadanya, kepala saya terasa lebih susah untuk menulis dan berbagai hal lainnya yang memberatkan saya dalam menulisnya, kadang muncul perasaan tidak usah dan sebagainya, walaupun saat itu hanya berupa kalimat bertanya, apa kabar. Dua patah kata itu memakan waktu hampir seharian dan itu bisa memberatkan saya dalam hal ini.”


Saat ini aku menggunakan bahasa formal dengan sebaik-baik mungkin yang kubisa. Menjelaskan isi perasaan yang rasanya tak perlu dimengerti olehnya. Selama aku bisa berpegung teguh pada kerinduanku dengan wanita yang kucintai, semuanya dan semoga akan menjadi baik-baik saja.


Dengan tatapan tenang aku berusaha membayangkan kapal pesiar besar yang singgah di dermaga. Wanita itu berada di sana, melambaikan tangannya.


Membayangkan kapal pesiar besar yang singgah di dermaga. Wanita itu berada di sana, memberikan senyuman terbaiknya.

__ADS_1


Aku bagai orang yang tersesat di tengah hutan belantara. Tiada tara rasa dan sering berbolak-balik tetap berada di sana, terjebak oleh cintanya yang menyusahkan diriku dalam mencari jalan keluarnya.


Saat ini aku ingin berteriak dengan gaya perangai sombong, tidak memedulikan orang di sekitarku. Di tengah hutan belantara, siapa yang akan mendengarnya?


Jeritan meminta tolong dengan nada sombong. Tapi, itu kelewat batas dari kemampuan dan bicaraku yang sekarang bukan bagian dari bakatku lagi. Di mana awal permulaan hidupku dulu mengatakan ini dan itu. Bicara adalah bakat yang kupunya. Itu dulu dan semuanya telah hilang dariku, tepat tiga tahun lalu.


Tiga tahun lalu di mana duniaku terasa lebih indah dari sekarang. Lambat laun entah mengapa seakan awan gelap bergerembul muncul dan menutupi sinar matahari yang bersinar kala itu, dedaunan dan tiupan angin kencang. Tersapu habis hingga tak bersisa seperti musim gugur yang leraiannya berhamburan, tak menentu batas pijakan.


Selama tiga tahun berlalu, aku tidak bertemu Wapta. Di tahun ketiga inilah kerinduaan yang kualami sampai ke tahap yang serius di mana rasa itu muncul dan memberatkan hari-hari yang tengah kujalani. Bahkan membuatku tak mampu menatap wanita lain. Di kota bangkok dan universitasnya yang selama ini aku jelajah dalam hidupku. Itu semua seakan tidak memberiku banyak waktu untuk hidup.


Selain mengingat tentang Wapta, hidupku terasa bagai dipenjara olehnya sampai dibatas kerinduan yang tiada bertepi, di antara samudra kata dan palung mariana. Selama aku hidup rasanya selama ini aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku langsung kepadanya.


“Aku sudah mengetahuinya usai mendengar ceritamu dan aku paham mengenai perasaan yang saat ini kamu rasakan. Tapi, sepertinya kamu perlu pergi ke psikolog untuk meredam perasaanmu, itu saran yang kuberikan kepadamu. Mengapa dari sejak awal pertama kamu merasakan rindu itu telah memberatkanmu dan kamu masih saja ingin terjebak pada perasaanmu itu?”


Orang berjas hitam itu memulai kalimat tanya yang kupikir dia akan berceramah lagi padaku, biarlah sudah dan sepertinya ini memang salahku sendiri karena tak sengaja kepelesat ucap malah membahasnya yang tak seharusnya aku mengatakannya.


Sedari awal seharusnya aku tidak mengatakannya dan malah keterusan hingga mulut ini tak sadar menceritakan kerinduanku. Rinduku kepada salah seorang wanita yang selama ini aku cintai dalam diam. Seperti yang kesebut bagai tersesat di tengah hutan belantara.


“Apa alasanmu, Narak?” Orang berjas itu bertanya seperti memastikan.


Saat sebelumnya aku tidak menjawab dan lagi-lagi terdiam lamunan dengan badan tak bergerak, diam seribu bahasa.


Dan untuk kali ini, aku menoleh ke arahnya. Menatap kedua matanya. “Saya juga tidak tahu alasan mengapa saya tetap berada di fase ini dan tetap bersikukuh rindu, saya tidak bisa menjelaskan suatu perkara yang saya sendiri tidak tahu alasannya.”


Saat itu aku mengusap wajah kebas, tanpa kusadari mulut ini mengatakan sesuatu yang lain dariku. Seolah aku adalah sang petualang pemberani dan tangguh, tak kenal takut dan tak kenal siapa aku. Mungkinkah itu termasuk lancang di hadapannya?


Aku tidak berpikir banyak mengenai semua itu, kata itu keluar begitu saja seperti mobil tanpa rem. Aku telah mengambil keputusan.


Keputusan yang ternampak benar di mataku, entah benar atau tidak? Aku masih saja bimbang akan kedua pilihan tersebut.


Di dalam mobil hitam yang terus melaju membelah jalanan kota itu, aku menghela napas dengan pikiran dan hatiku yang berusaha yakin seyakin-yakinnya ingin pergi menemui Wapta untuk melepas semua rasa rinduku yang selama ini memberatkan setiap hari yang kulalui.


Rindu yang memang kupastikan seakan pedang dan sayatan luka yang tak kunjung usai. Inilah karma dalam hidupku.


Karena entah mengapa sampai sekarang aku masih saja merasa bersalah padanya.


Lihatlah, jalanan kota yang ramai. Derum suara yang terdengar sekarang dan di luar jendela aku merasakan tiupan angin bagai hujan deras yang menyentuh kepalaku seperti tepukan tangan malaikat kecil yang berusaha menenangkan benak pikiran ini.


Dalam hal mencintai seseorang kurasakan ada suka duka yang kulewati dengan kukuh kupendam dalam tulisan. Ada perasaan yang disembunyikan dari hanya sekadar rasa kepahitan dan rasa yang membabi buta guncangan dengan ketidakmampuan diri ini melewati semua kecamuk perasaan.


Aku bagai orang yang tersesat di tengah hutan belantara. Tiada tara rasa dan sering berbolak-balik tetap berada di sana, terjebak oleh cintanya yang menyusahkan diriku dalam mencari jalan keluarnya.

__ADS_1


__ADS_2