Daur Ulang

Daur Ulang
Akhir Pertarungan


__ADS_3

Bayangkan hidup di zaman peperangan. Editor naskah di depanku bagai kesatria perkasa memakai jubah merah. Anggaplah aku sebagai musuhnya berjubah hijau.


Sekarang kami berdebat. Berkencang urat leher bagai saling menghunus pedang. Ayolah, ini bukan genre action. Buatlah santai, tertawa atau minum kopi sana.


“Penulis karpet! Kalau sudah kubilang berhenti, ya berhenti karpet!” Editor naskah menghempas naskahku persis dulu.


Dulu sekali, saat pertama kali kuantarkan naskahku ke salah seorang editor yang sekarang kutahu dia adalah temannya.


“SIAPA NAMAMU?” Kali ini, kuulangi pertanyaan sebelumnya. Lebih lantang tentunya, dia belum menjawab.


Ingin sekali kupukul. Genggaman tanganku sudah mengepal. Siap memukul biar tahu rasanya kata pepatah ringkas akibat mulut badan binasa. Akan tetapi, kutahan diri.


“Namaku tidaklah penting untuk kau ketahui. Perlu kau tahu yang penting saat ini adalah tulisanmu yang harus kau bakar, hanguskan di dalam kobaran api.”


Editor naskah GILA. Kucoba menarik napas tenang, berusaha meredam amarah terus menerus memaksa diri untuk bisa tenang, untuk mampu bertahan lebih lama.


Editor naskah itu tertawa. “Sudahlah, bawa pulang tulisanmu ini, cepatlah kau bakar!”


“Sebenarnya anak muda untuk apa kau menemuiku, untuk mengedit naskah punyamu? Haduuh, kau pasti sudah tahu jawabannya bukan, tulisanmu ini bahkan cacat logika. Upps ... maaf, baru sekarang kuucapkan sejujurnya.” Dia melanjutkan omong kosong yang ingin segera kupukul.


Editor naskah menyeringai. “Penulis karpet!”


Aku daritadi hanya berdiam diri menahan emosi. Sudah kupastikan dia tidak galak, tetapi SOMBONG! Dia menyebutku penulis karpet yang mana di dalam KBBI karpet mempunyai makna hamparan(tikar).


Iya, aku tahu karpet yang derajatnya memang di bawah. Di pijak, di duduki atau dibakar siapa peduli? Tidak ada, ada banyak penulis karpet di dunia ini katanya. Karpet yang lebih bagus. Dia memberikan kepadaku sebuah amsal yang lebih sadis dari sebelumnya; Penulis Karpet Usang. Lebih ringan karpet saja tidak akan membuatku marah.


Editor naskah mengernyit. “Kau bergurau?”


Aku sejenak tertawa. “Iya, aku hanya bergurau biar tidak tegang.”

__ADS_1


“DASAR PENULIS KARPET!” Editor naskah itu seketika menampar meja, suara lantang jelas sekali kudengar menerobos masuk ke gendang telinga.


Itulah yang namanya pemborosan kata. Mubazir katanya. Apa? Masalah! Baiklah, saatnya pertarungan ini dimulai. Editor naskah mengesalkan, kau akan kuhajar.


Tinjuku melayang. Editor naskah itu sigap menghindar. Sayang sekali pukulanku memeleset—tidak tepat sasaran. Ah, sepertinya pemborosan kata lagi. Biarlah atau terserahlah, aku sangat kesal, teramat kesal, begitu kesal dan sangat-sangat kesal dengan editor tersebut.


Dia itu sombong. Sangat sombong, begitu sombong, terlalu sombong. Editor naskah itu kini tertawa terus tertawa. Pemborosan kata kini akan terus bermuara bagai sungai mengalir. Boros dan boros, saat ini aku menyatakan diri berperang dengan editor naskah. Okey, ini tidaklah mudah.


Aku harus bersiap diri. Mengencangkan otot, mempersiapkan argumen terkuat yang bisa kukatakan demi membela apa yang harus kubela.


Aku berusaha kuat melawan editor naskah dengan mengatakan berbagai argumen sikap keteguhan yang kutetapkan.


“Apa pun argumen yang kau katakan hingga puas. Tetap saja tulisanmu ini layaknya memang dibakar!” Editor naskah mengulangi ucapan yang sama.


Aku harus tenang. Jangan terpancing emosi dulu. Membicarakannya baik-baik adalah cara orang bersopan santun, benar. Aku harus tabah, memang itulah kenyataannya. Tulisanku tidak sebagus orang lain.


“Ada apa? Kenapa kau terdiam? Sudah sadar di mana letak kesalahanmu?” Editor bertanya dengan raut wajah menyebalkan.


Astaga? Ini lebay, sungguh lebay. Aku tidak ingin melakukan kesalahan demi kesalahan. Biarkanlah, biarkanlah, biarkanlah, biarkanlah sudah.


Majaz Pleonasme ini akan terus bermuara bagai batu yang jatuh ke bawah. Ada sungai dan batu itu terus hanyut dibawa arus hingga ke muara. Lihatlah, berpuas dirilah. Editor naskah sombong.


Saat ini aku berusaha tenang memalingkan arah pandangan. Kalau ingin tahu rasanya aku bagai ditikam ribuan tombak seakan diri ini ingin pingsan.


Dia menepuk pundakku. “Heh, sekali lagi kuulangi menyerahlah sudah menjadi penulis, saat kuuji dengan kesabaran kata-kata pedas kau tak mampu menahan amarah. Anak muda, maksudku berhentilah menulis selama kau tak mampu menghadapi tiupan angin.”


Saat mendengarnya. Aku menghela napas, merasakan pikiran kosong melompong. Astaga, aku telah salah, secara tidak sadar telah dikuasai amarah. Mengapa? Aku sejenak mendongak, menghilangkan rasa keluhan yang menyesak di dalam sanubari.


“Kau tahu aku sebenarnya tidak segalak apa yang terkenal dariku, aku hanya menguji mental para penulis yang kutemui. Kau adalah salah satunya.”

__ADS_1


Aku menoleh, menatap raut wajahnya yang tersenyum. “Apa maksudmu?”


Aku jelas penasaran. Lebih penasaran mengenai apa hubungannya dengan menyebutku penulis karpet.


Otakku sekarang tidak selancar jaringan 5G, kalau ingin tahu gunung berapi di dalam diri ini seakan aktif, meletuskan banyak kata kekesalan di dalam pikiranku sehingga membuatku tidak mampu banyak berpikir.


Editor naskah menghela napas. “Aku tak perlu banyak ucap, bawalah tulisanmu pulang. Satu pesanku, siapkan mental kalau ingin bertemu dengan editor naskah lagi, bisa saja editor yang kau temui lebih dariku.”


Dia menyerahkan lembaran naskah punyaku. Baiklah, aku mengambilnya. Pulang dengan santai tentunya. Inilah akhir dari pertarungan, sedikit heran juga tidak. Inilah memang bakat yang kuinginkan tidak ada di dalam diriku. Ini lebih, lebih, lebih dari apa yang kutahu sekadar tulisan.


Dua kali terulang kembali, hanya saja pertemuanku kali ada sedikit perlawanan dariku. Beda sama dulu, di mana aku ditertawakan dan hanya mampu terdiam membuang naskah itu ke tong sampah. Inilah akhirnya, akhir yang sama.


Aku tidak ingin membuat narasi ini terbaca sedih. Ayolah, itu bukan bakatku, melainkan banyak bicara dan marah-marah adalah bakat yang kupunya. Lihatlah, dari narasi ini saja sudah jelas aku banyak bicara dan suka marah-marah. Sayangnya, editor naskah itu tidak mengatakan namanya sama sekali.


Apa yang kukira mengenai diri ini? Tidak ada lagi, mungkin memang benar kalau dijumlahkan totalnya ada tiga orang berkepala besar yang menyuruhku berhenti menulis. Dua orang editor naskah, satu temanku dulu di kedai kopi.


Akan tetapi, tidak sepenuhnya apa yang mereka katakan akan benar terus menerus. Bukankah manusia itu akan berkembang saat berlatih? Akan berkembang kuat dari musibah atau apalah yang membuat suasana hatinya bergejolak ingin memperbaiki dan memantaskan diri.


Sekali lagi untukku mencoba mungkin tak akan mengapa. Entahlah, saat ini aku perlu merenungi kesalahanku. Bertahan terus bertahan, terus menerus merenungi hingga kudapatkan titik semangat. Api yang berkobar untuk memulainya kembali.


Ini lebih panjang, lebih mubazir kata. Pengulangan demi pengulangan. Iya, memang itulah kebiasaanku yang harus kuubah, harus kuperbaiki.


Aku bisa saja menulisnya panjang lebar lebih dari seratus halaman, tetapi untuk apa? Narasinya kurang sedap, kurang nyaman dibaca. Mungkin, aku harus masuk ke kelas bahasa.


Tidak, tidak, tidak. Kelas bahasa bukan bakatku. Lelah, pusing nanti. Seberapa kuat pohon tinggi menghadapi tiupan angin. Aku tidak tahu karena aku bukan pohon. Hanya sebatas menatap, mungkin ada di antaranya pohon yang kuat. Pohon yang mampu menghadapi tiupan angin sekencang apa pun dan ada juga yang tidak.


Ini masih maghrib. Sekarang, aku berkendara menghabiskan kosa kata yang berhamburan di dalam benakku, isi kesatuan kalimat yang tidak ada maknanya.


Biarkanlah, biarkanlah hati ini lapang kalau aku tahu mengenai kata-kata terindah maka akan kutulis, walaupun beberapa kali bolak-balik lembaran hingga membuatku tahu entah mengapa sulit untuk kutuliskan mengenai kata-kata terindah yang selama ini berusaha kurangkai, tidak seberapa lama diri ini berdiam atau berucap lebih dari apa pun. Itulah kenyataan yang harus kuterima.

__ADS_1


Kenyataan yang kutelan pahit. Inilah akhir pertarungan antara diriku dan salah seorang editor naskah yang sangat menguraikan batasan api kesabaran.


Bayangkan hidup di zaman peperangan. Editor naskah di depanku bagai kesatria perkasa memakai jubah merah. Anggaplah aku sebagai musuhnya berjubah hijau.


__ADS_2