
Pada malam hari yang tenang, aku bersama temanku saling berbicara empat mata sesuai apa yang telah dia inginkan sebelumnya.
Di kedai kopi kami berdua saling mengobrol sambil menegok air kopi tidak pahit, juga tidak manis. Menurutku kopi yang nikmat adalah rasanya seimbang, tidak cenderung ke sisi pahit ataupun manis.
Kalau terlalu manis, aku tidak sanggup meminumnya, sedangkan terlalu sedikit gula akan terasa pahit. Aku tidak menyukai keduanya.
Begitulah mengenai untaian kata yang saat itu kuucapkan melalui lisan berantakan, aku menyebutkan kata sebutan yang tidak keruan.
Kalau ada orang yang mendengar percakapan kami, aku malah ragu apakah orang itu bisa memahami setiap kata yang kami bicarakan.
Aku tidak memungkiri atau bagaimanapun menanggapinya, temanku adalah salah seorang pujangga yang sering melanglang hasrat, membagi kata-kata cinta kepadaku.
***
“Teman, kau jangan bicara begitu. Itu membuatku kesal dengan segala yang kudengar dari ucapanmu itu.”
Dia meletakkan gelas kopi miliknya. Kalau ingin tahu apa yang kuucapkan sebelumnya beginilah mengenai dunia yang tampak bercahaya kadang gemerlap, tanpa adanya cahaya banyak orang yang akan kesulitan melihat, juga sulit menentukan arah jalan pulang.
Saat ada lampu terang-benderang menunjukkan jalan, justeru kadang anehnya banyak orang yang memilih tempat gemerlap yang tidak ada cahaya, sesat dan sesat.
“Lantas, apa yang akan kita bicarakan, kau saja terus berbicara seperti itu? kalau begitu kau belah saja perutku untuk mengeluarkan semua isinya lalu menguburku dalam tanah. Kuburlah aku semakin dalam, aku suka itu.”
Aku mengerakkan tangan, terlihat jelas seolah tanganku bergerak mengikuti suara yang keluar dari rongga mulut.
Aku refleks melakukannya, tidak terbiasa dengan semua itu. Seandainya dia tahu aku sedang tidak berminat berbicara.
Mulutku berucap, tetapi jiwa ini telah melayang terbang jauh semakin jauh, tidak dapat lagi kujelaskan menggunakan kata-kata yang bisa menggambarkan pemandangan, satu bait sederhana yang teramat indah kurasa.
__ADS_1
“Teman, aku sering memperhatikanmu, rupanya akhir-akhir ini kau sering menggerutu, kenapa tidak kau belah saja perutmu sendiri? Bahkan, belah kepalamu, lalu berikan isi kepalamu itu untukku. Aku menginginkan ilmu matematika yang kau miliki.” Temanku tampak mengubah gaya bicaranya, meniru gaya bicara seolah ingin mengikuti alunan nada bicara yang sama denganku.
Aku tidak sanggup menyanggahnya. Pikiranku sudah berusaha lebih cepat mencari kata, tetapi sayangnya tertegah di dalam pikiran yang anehnya tak mampu kuterangkan.
“Hah. Kau memulainya teman, mengungkit-ungkit kelebihanku yang menawan.” Aku menghela napas, mencerocoskan ucapan kepadanya.
“Berikan saja padaku, tidak usah banyak bicara.” Nada bicaranya seperti sedang memaksa tampak wajahnya begitu serius menatap ke arahku.
“Kau ingin aku begitu, teman. Lupakan saja, kalau kepalaku terbelah dan kau melihat semua isi yang ada di dalam kepalaku, takutnya kau akan pingsan melihat semua ilmu yang kumiliki.”
“Teman, pembicaraan kita sudah melenceng amat jauh dari apa yang semula kita bicarakan, kita seperti orang yang sedang mabuk. Kenapa hal ini sering terjadi?” tanya temanku seperti ingin mengalihkan pembicaraan, melontarkan pertanyaan yang hampir-hampir membuatku bergeleng kepala.
Benar, kalau dipikirkan lagi ini adalah pembicaraan teraneh yang pernah kualami dengannya. Aku tidak mengerti.
“Itu salahmu, kenapa kau memilih berbicara denganku?” ucapku sambil berdiri ingin beranjak pergi.
Akan tetapi, aku harus menahannya. Seberapa kuat pun amarah, tiada dapat kugambarkan lebih detail lagi, tiada sanggup kutulis lebih banyak, tiada sanggup dan tiada sanggup.
Aku terpaksa kembali duduk, meminimalkan emosi. Lantas, berkata, “Apa yang ingin kau tanyakan, teman? Tanyakan semuanya, kalau perlu kau tatap langit tinggi, semula kau dakilah gunung. Sampai di puncak kau lihat ke bawah. Di situlah, kau akan tahu jawabannya, tapi aku tidak seperti itu. Tentu, aku pasti akan menjawabnya tanpa menyuruhmu mendaki gunung, semakin cepat semakin bagus karena aku ingin pulang secepatnya.”
Aku mengucapkan panjang lebar. Lihatlah, betapa baiknya aku duduk bersama orang yang sedang kutatap menyebalkan.
“Aku hanya ingin bertanya, bagaimana hubunganmu dengan Wapta? Akhir-akhir ini kau sudah bertemu dengannya, jadi bagaimana? Apakah kau bisa mengatakan perasaanmu padanya?” Tanya temanku yang bagiku tampak penasaran dengan kisah asmara yang sedang aku alami.
Memanglah. Dia sudah menyebalkan, bertambah rasanya kian menyebalkan, mempertanyakan masalah rentan kepadaku tanpa sedikit pun tahu perasaanku.
Tidak adakah toleransi di dunia ini. Hei, toleransilah ke sesama.
__ADS_1
“Tolonglah, temanku. Jangan kau tanyakan hal itu kepadaku, kau mau menumpahkan air garam ke arah luka yang belum sembuh, begitu tega rasanya jika kau begitu.” Alasan tajam kuucapkan mentok menunjukkan tatapan tidak suka. Aku ingin beranjak pergi segera dan tak ingin membahasnya.
“Ya, sudah. Maafkan aku teman, karena sudah lancang mengusik suasana hatimu.”
“Kalau begitu aku ingin pamit pergi dulu, malam semakin larut. Btw, ini adalah malam pertama bagimu, malam pernikahan yang disambut cahaya dan bunga-bunga. Kenapa kau malah memilih bersamaku di malammu yang amat indah ini?” tanyaku tanpa sedikit pun mengharap jawaban. Setelah itu, aku langsung berdiri ingin beranjak pergi.
Temanku itu juga berdiri dan mengantarkan aku ke depan pintu, katanya mungkin ini adalah hari terakhir dia bisa menemuiku.
“Jika aku tidak menemuimu lagi, kemungkinan nanti kita akan bertemu di alam sana.” Itulah lanjutannya.
Aku tidak menyangka hal lainnya. Kemungkinan terburuk atau apalah yang tidak bisa aku sangka-sangka, sederhananya aku tidak ingin menduga hal yang macam-macam.
Kemungkinan hanyalah tentang kesibukan yang begitu padat sehingga dia tidak bisa menemuiku. Entah temanku ingin menetap di daerah baru dan meninggalkan tempat lama atau ada hal lain yang tidak bisa dia utarakan kepadaku.
Aku tidak tahu alasan kenapa temanku mengatakan ucapan yang seperti itu. Sesuatu yang bahkan tidak ingin kutafsirkan.
***
Tak kerasa sudah tiga hari berlalu, meninggalkan kenangan dan berkas-berkas masa lalu, beberapa moment tentang dirinya pada bulan bulan sebelumnya.
Lagi-lagi kilas balik terjadi, tiba-tiba saja ingatan dulu yang ingin kuburkan malah kembali hadir menghantui perasaanku.
Setelah beberapa lalu sudah memudar, kini memunculkan cahaya samar yang berangsur-angsur menampakkan wujudnya.
Tepat saat itu pada bulan Januari, pada saat itulah awal-awal hari yang membuatku merasa cemas, juga pada saat itulah awal-awal hari yang kadang membuatku sendu memikirkan sesuatu yang membuat wajah tersipu malu, membuat perasaan berbunga-bunga dengan suara mendayu.
Pertemuanku dengan Wapta seakan-akan membawa keinginan diriku yang mengajak raga untuk menemukan kompas ajaib yang bisa menuntun diriku berjalan ke masa lalu.
__ADS_1
Memang terasa sangatlah berat, tetapi perjuangan tetaplah perjuangan, aku tidak boleh menyerah begitu cepat, walaupun memang kenyataannya aku telah menyerah karena dengan santainya mengundurkan tali anak panah yang batal kulontarkan.