Daur Ulang

Daur Ulang
Rangkaian Yang Keenam


__ADS_3

Di ujung kota bangkok terdapat kenangan yang jelas kuingat. Ingatan hari itu di saat aku dan Wapta bersama.


Akan tetapi. Sudah itu sudah berlalu. Saat ini apa yang kurasakan adalah segala rasa yang sudah kupunya sejak lama.


Segala macam bentuk perasaan yang begitu kutahu telah memberikan segores tinta. Inilah masa-masa remaja menuju dewasa.


Aku percaya takdir. Entah aku akan mengatakan perasaanku atau tidak semuanya sama saja. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya yang jelas aku tidak tahu ke mana arah tujuan melangkah?


Aku tahu arah utara, selatan, timur dan barat. Arah mata angin, hanya saja aku tidak tahu arah tujuanku. Bimbang juga bukan, entahlah aku berharap bisa berdamai mengenai hati yang entah sampai kapan merindukan seseorang yang bahkan tidak pernah kukatakan perasaanku sedikit pun.


Ini terakhir kali aku mengingatnya. Lebih tepatnya aku tidak ingin terlalu larut dalam pengucapan kata yang menjelaskan panjang lebar mengenai perasaanku. Jelas, itu lebay bukan gayaku, melainkan gayaku memang sejak dulu begitu. Aku akan menjelaskan panjang lebar, terserahlah semua itu tidak lebay dalam kenyataannya, hanya sekadar kata yang kutulis secara berlebihan.


Berlebihan. Kakek pernah memberikanku tegahan agar tidak selebay itu, tetapi menulis kata lebay adalah keseharianku, mana mungkin kutinggalkan begitu saja.


Selebay apa pun. Di dalam kehidupanku tidak pernah lebay, hanya bentuk kalimat keluh kesah yang kupikir tidak lebay.


Tentu orang lainlah yang menilainya. Untuk apa kupikirkan penilaian orang lain, lebih baik sekarang aku fokus menata masa depan, entah ada berapa banyak di luaran sana yang menghinaku.


Bisaku hanya diam, mendengarkan dan kenyataan yang mereka lihat adalah aku pendiam berbeda dengan dulu. Di mana dulu aku leluasa mengeluarkan suara, sekarang enggan merasa tidak penting.


Aku sebatas lebay saat berada di dalam tulisan buku diary, juga saat menulis itu kadang refleks sendiri. Sekadar menulis untuk mengeluarkan kekesalan yang bertumpuk, bersemayam di dalam benak pikiranku.


Saat aku tahu keadaan tentang dirinya yang bagaikan bintang dan aku hanya rongsokan benda langit. Saat dia matahari aku adalah planet pluto yang bahkan hendak dilupakan dari tata surya.


Inilah kehidupan. Aku sepertinya telah menjadi dewasa, mampu berpikir dalam usia yang sekarang. Kesedihan telah banyak memberikan suatu pelajaran buatku. Dari banyak hal lalu serpihan kaca berhamburan di lantai telah kubersihkan, telah kubungkam mulut dengan dzikir menyebut kekuasaan dan kebesaran Sang Pencipta Alam Semesta.


Aku mendongak, menatap lampu ruangan dengan wajah getir hingga ponselku berdering, suara khas yang kutahu itu menandakan sebuah pesan.


Kulihat sebentar. Tatap terdiam memencet layar. Martin Sarikanjana. Nama yang tertera dengan ketikan pesan singkat bertanya kepadaku ada di mana.


(ในห้อง) Di kamar. Balasku singkat, lantas kirim, centang dua berubah biru seketika.


Kulihat dia mengetik. Sistem dari aplikasi hijau ini cukup canggih, lihatlah seseorang sedang mengetik saja diperlihatkan.

__ADS_1


(ฉันต้องการความช่วยเหลือทำการบ้าน) Aku butuh bantuanmu buat mengerjakan tugas.


Pesan itu kubaca serba salah, tentunya aku sedang malas keluar rumah. Bertemu orang apalagi, ditambah mengerjakan tugas, apa yang kuinginkan saat ini adalah sejenak menenangkan pikiran.


Walau bagaimanapun seorang mahasiswa harus punya semangat, tentulah tugasnya perlu kubantu. Sebenarnya tugas itu cukup mudah, tugasku saja telah selesai, sekarang sibuk berkhayal sosok Wapta di benakku.


Setelah lama bersibuk diri dengan buku tebal, kebiasaan mengerjakan tugas itu gampang tidak susah. Aku sedikit mengenal Martin Sarikanjana, dia orangnya rajin membaca buku sama sepertiku, tetapi katanya sering kelupaan di mana dia mendapatkan bahan rujukan.


(ทำด้วยตัวคุณเอง. ฉันกำลังยุ่ง) Kerjakan sendiri. Aku sibuk.


Begitulah pesan singkat yang kukirim, sebenarnya aku sedang menunggu reaksinya. Sekadar mengetes ingin tahu kemarahannya. Yes, centang dua biru.


Dia sedang mengetik. Kuduga dia akan marah, bacalah tulisan itu terkesan jutek dan kurang nyaman seperti orang yang kekurangan vitamin B6. Ngamuk-ngamuk karena depresi.


Jari jemariku bergerak bagai memainkan sebuah piano di meja, menunggu dia selesai mengetik pesan. Tebersit pertanyaan apakah dia akan marah padaku? Lihat saja apa balasan pesannya nanti.


Martin Sarikanjana mengetik, pesan masuk: (เกิดอะไรขึ้นกับคุณ? อกหัก?) Kamu kenapa? Patah hati? Dia bertanya, jauh sekali dengan dugaanku sepertinya dia tidak marah.


Aku balas: (คุณเดาผิด ฉันแค่อยากอยู่คนเดียว) Kau salah menebak, aku hanya ingin sendiri.


(กับฉัน?) Denganku? Kubalas cepat.


Centang dua abu-abu, ciri khas telah dibaca berubah biru. Dia balas cepat. Iya. Satu kata yang membuatku sedikit bertanya di dalam benakku ada apa sebenarnya. Mengapa ayah dan ibunya ingin bertemu denganku. Akhirnya aku memutuskan bertanya padanya. Tapi sayangnya dia tidak menjawab, malah bilang kalau ingin tahu jawabannya aku harus ke rumahnya.


Martin Sarikanjana lanjut cepat mengetik dalam hitungan lima detik pesan masuk: (แค่มา ให้ฉันบอกคุณเล็กน้อยมีอาหารและเครื่องดื่มมากมาย) Ayo, sedikit kuberi tahu. Ada banyak makanan dan minuman.


Saat membaca pesannya. Satu hal di dalam benakku adalah perayaan atau semacam perkumpulan yang berakhir dengan perut kenyang, kebersamaan dan kesenangan.


(ปาร์ตี้?) Pesta? Kukirim pesan ringkas bertanya memastikan.


Martin Sarikanjana mengetik, pesan masuk: (แค่มา) Datang saja.


Aku menghela napas. Dia menyuruhku datang tanpa menyebutkan detailnya. Astaga, tetapi karena menghargai seruan aku memutuskan akan datang, terlebih kedua orang tuanya ingin bertemu.

__ADS_1


Menghadiri seruan orang itu bisa dimasukkan ke dalam kategori wajib, aku pernah dulu membacanya di salah satu buku tentang sopan santun.


Sejenak tidak kubalas. Muncul emoticon senyum dengan ciri khas Martin Sarikanjana yang sering kulihat saat bersamanya.


Bentuk senyuman yang memancar. Dengan gayanya yang dibikin seimut mungkin. Begitulah dirinya. Aku tak ingin menjelaskan lebih panjang.


Aku masih menatap layar ponsel. Martin Sarikanjana kembali mengetik, kulihat dari sistem aplikasi yang memperlihatkan sekadar memberi tahu dia sedang mengetik.


(ต้องมา) Harus datang.


Itulah pesan yang kubaca selanjutnya. Aku tidak membalas panjang, cukup emoticon okey. Ringkas, itulah kebiasaan mengetik pesan, Aksara Thai susah.


Saat itu bersiap-siap ingin pergi. Setelahnya berpamitan dengan kakek.


“Kau mau ke mana?” tanya Kakek semringah.


“Ke rumah teman. Katanya ingin minta bantuan buat tugas sama orang tuanya ingin bertemu.” Aku menjelaskan sesuai dengan kenyataan sebelumnya. Kami berjauhan, berjarak lima langkah berjalan.


“Temanmu itu lelaki atau wanita?” Kakek bertanya membuatku serba salah. Hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang terdengar.


“Kenapa kakek bertanya?” Aku membalik situasi karena canggung, sebenarnya enggan mengatakannya.


“Kakek yang semula lebih dulu bertanya kau tidak menjawabnya, malah balik bertanya. Kau tidak perlu memberi tahu, kakek sudah tahu jawabannya. Pastilah dia wanita.” Kakek mengatakannya sambil tersenyum dengan suara parau ciri khasnya.


Kakek berjalan menghampiriku. Menepuk-nepuk lenganku. “Bagaimana? Apakah kakekmu ini sudah benar menebaknya?” Usai bertanya dia bersekedap menatap jalanan.


Aku garuk kepala. “Iya, kakek benar.” Sejenak tertawa menatap kakek yang dengan santainya bersekedap.


“Kau pergi ke sana ingin membantunya mengerjakan tugas bukan?” Kakek bertanya sepertinya memastikan karena sebelumnya sudah kukatakan.


“Iya, katanya lagi orang tuanya ingin bertemu.” Aku menambahkan.


Kakek masih bersekedap, berjalan menjauh dariku. “Pergilah, jangan membuat seseorang menunggu terlalu lama.” Kakek tertawa. Aku bingung sendiri menatapnya.

__ADS_1


Kakek tidak hirau lagi, dia sekarang sibuk di toko melayani pembeli. Saat itulah aku pergi, kakek sudah mengizinkanku.


__ADS_2