
Aku tiba di tempat kediaman Martin Sirikanjana. Rumah megah bak istana dengan taman seluas lapangan sepak bola. Siapa pun orang yang tidak terbiasa menatap rumah semegah itu, sudah dipastikan akan bergumam.
Tidak jauh-jauh memberikan misal ke orang lain, cukuplah diriku. Sebelumnya saat pertama kali aku memasuki halaman rumahnya rasa tidak percaya memenuhi benakku terasa mimpi. Para penjaga ada di mana-mana tentunya menjaga dari sudut ke sudut, anehnya terlihat seperti orang biasa tidak memakai seragam.
Keluarga Martin Sirikanjana tidak mengkhususkan seragam untuk para penjaganya. Mereka bebas berpakaian apa pun selama itu sopan, itulah penjelasan yang kudengar dari mulut Martin Sirikanjana sendiri. Aku bersamanya dulu mengerjakan tugas di taman.
Memang, sebelumnya aku tidak menganggap Martin Sirikanjana sebagai seorang teman, sebatas perbincangan mengenai tugas atau hal lain yang berkaitan dengan pelajaran. Itulah anehnya.
Sebelumnya juga aku tidak pernah bertemu ayah dan ibunya sekadar mampir ke rumahnya tanpa permisi dengan orang tuanya. Sekarang aku disuruh datang yang katanya mereka ingin bertemu denganku.
“Narak!” Martin Sirikanjana berseru melambai dari kejauhan. Aku menatapnya senyum balas mendadah, menghampirinya.
Dengan langkah pelan tentunya. Sementara Martin Sirikanjana berlari, lantas menarik tanganku. “มาเร็วพ่อและแม่กําลังรออยู่.” Ayo, cepat ayah dan ibuku sudah menunggu.
Aku mengikuti tarikannya. Kami berdua memasuki rumah, menelusuri ruangan berlari. Para penjaga menatap kami yang berlari seperti heran. Kemungkinan hal lain aku tidak ingin memungkinkannya.
Tiba di dekat pintu ruangan yang katanya khusus untuk pertemuanku dengan ayahnya. Kami berdua beristirahat menghela napas lelah.
Memasuki ruangan demi ruangan. Rumah sebesar ini membuatku kelelahan. Tepatnya kami lelah habis berlari. “นารัก, เข้ามาเลย พ่อฉันต้องดีใจที่ได้พบคุณ.” Narak, ayo masuk. Ayahku pasti senang bertemu denganmu.
Setelah hilang rasa lelah. Dia mengajakku masuk ke ruangan itu. Mengenai ini, aku putuskan bertanya, “เดี๋ยวก่อน เกิดอะไรขึ้นจริงๆ?” Tunggu. Sebenarnya ini ada apa? tanyaku penasaran tidak menentu pada pikiranku saat ini. IQ-ku seakan jebol.
Martin Sirikanjana tertawa. “พวกเขาต้องการพบคุณ.” Mereka ingin bertemu denganmu.
Wanita itu membuatku bertanya-tanya. Aku tahu ibu dan ayahnya ingin bertemu denganku, tetapi maksud pertanyaanku sebelumnya adalah hal apa yang membuat mereka ingin menemuiku. Itulah maksudnya, mungkin dia mengerti pertanyaanku, tetapi enggan menjawab benar. Dia menjawab ngasal, mengulangi perkataan yang sebelumnya dia tulis di aplikasi chatting.
Aku bersiap dengan jiwa tentram. Mematangkan tatapan. Baiklah, aku dan wanita itu kini berjalan memasuki ruangan yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu, bernuansa pesta dengan warna keindahan dekorasinya. Semerbak aroma parfum.
Dua orang sedang duduk menatap kami yang sedang berjalan menghampiri. Martin Sirikanjana seolah sengaja menggandeng tanganku. Kedua orang itu tersenyum menatap tampak bergumam.
__ADS_1
“เชิญนั่งก่อน.” Ayo, silakan duduk.
Seorang wanita yang kupikir itu adalah ibunya mempersilakan duduk. Ayahnya berkecamata dengan senyum yang terbilang ramah menatapku.
“Kau dari Indonesia?” tanya Ayahnya fasih berbahasa indonesia. Aku mendengarnya cukup kagum di dalam benakku.
Aku mengangguk. “Iya. Anda ternyata bisa berbahasa indonesia, sebelumnya saya tidak pernah menyangka.”
Dua orang wanita menyimak pembicaraan kami. Martin Sirikanjana menuangkan minuman, tersenyum menyuruh minum.
Ayahnya itu sejenak tertawa. “Santai saja. Perlu kau tahu aku telah lama di sana, sudah banyak makan garam. Terlebih ucapanmu itu kenapa kau menggunakan kalimat Anda. Aku kurang nyaman mendengarnya, katakan saja seperti biasa.”
“Saya yang merasa kurang nyaman kalau tidak mengatakannya demikian.”
“Baiklah, terserah kau saja. Sejak Martin bercerita tentangmu. Sejak saat itu aku penasaran denganmu. Makanya aku memutuskan ingin bertemu hari ini, khususnya dengan istri dan tentu Martin.”
Aku sejenak meminum air yang semula dituangkan wanita yang duduk di sampingku. “Ngomong-ngomong, anda punya tempat kediaman di Indonesia atau bagaimana?” lanjutku bertanya basa-basi.
Tidak aku sangka ayahnya menjelaskan panjang lebar. Aku hanya menyimak, kembali menegok minuman. Itulah sebenarnya caraku agar tidak canggung.
“Martin suka bercerita tentangmu, katanya kau adalah mahasiswa terpintar yang pernah dia temui.” Ayahnya mengatakan demikian. Aku menatap sedikit ke arah Martin Sarikanjana yang tampak tersenyum.
“Itu berlebihan. Saya tidak seperti yang dikira. Bahkan kadang suka bingung sama perkataan dosen.” Kujawab dengan jujur. Itulah diriku yang memang kalau ingin paham penjelasan dari dosen, aku harus mencari lebih dalam di buku-buku.
Saat dosen keluar ruangan. Aku cepat menghampirinya bertanya buku apa, halaman berapa. Itulah yang selama ini aku lakukan, bisa dimengerti oleh semua manusia aku bukan orang pintar, melainkan orang yang belajar keras dari buku ke buku.
Bahkan seorang mahasiswa di perkulihan yang sering terkena ceramah adalah aku karena banyak bertanya, bahkan hari itu mengantuk tak sengaja tertidur. Lihatlah, seorang mahasiswa yang membuat kepala dosen hampir pecah, mungkin.
Para dosen hampir geleng kepala saat menatapku. Aku cukup tertawa terus bertanya dan bertanya. Tanpa sedikit pun rasa bosan, aku terus mendapatkan ceramah agar IQ bertambah katanya.
__ADS_1
“Aku malah penasaran. Seperti apa sebenarnya perkataan dosen yang membuatmu bingung?” Ayahnya bertanya, menatap kuat-kuat ke arahku.
“Hampir semua. Kemungkinan Martin Sirikanjana mengatakan demikian pintar adalah kepintaran saya dalam mencari alasan. Saya mahasiswa yang sering terkena ceramah.” Kujawab jujur lagi, untuk apa berbohong katakan saja, entah dia tidak suka, itulah kenyataannya.
Aku menatap Martin Sirikanjana yang mungkin tidak mengerti bahasa yang kami tuturkan.
“พ่อครับ ผมรู้ว่านารักษ์คนนี้เป็นคนดี เขาสามารถสอนงานที่ซับซ้อนได้ แปลว่าเขาเป็นคนฉลาด.” Ayah, aku tahu Narak ini orangnya baik, dia juga bisa mengajarkan tugas-tugas rumit. Itu menandakan dia itu orang pintar.
Aku tidak menjawabnya cukup heran mengapa dia nyambung sama apa yang kami bicarakan, mungkin sekilas menduga.
Ayahnya tertawa. “นั่นเป็นสาเหตุที่คนฉลาดในโลกนี้บางครั้งไม่ยอมรับว่าพวกเขาฉลาด แต่คนอื่นตัดสินพวกเขา มันไม่ใช่อย่างนั้นเหรอ?” Itu sebabnya orang pintar di dunia ini terkadang tidak mengakui bahwa mereka pintar, tetapi orang lainlah yang menilai mereka. Bukankah seperti itu?
“อืม.. เมื่อกี้พวกนายคุยอะไรกันน่ะ?” Hmm.. sebenarnya apa yang baru saja kalian bicarakan?
Martin Sirikanjana bertanya tampak heran. Itu benar bukan? Dia tidak sedang mengerti, kemungkinan sebelumnya sekadar kebetulan ucapannya pas dengan apa yang tengah kami bicarakan.
“มันไม่มีอะไร. อย่าไปคิดถึงมัน.” Tidak ada, jangan pikirkan itu. Kujawab cepat.
Ayahnya tertawa. “เราไปกินข้าวกันก่อนดีกว่า หลังจากนั้นก็ลุยกันต่อ.” Lebih baik kita makan terlebih dahulu. Setelah itu kita akan melanjutkan mengobrol.
Dia sekilas memalingkan pandangan. Dengan tepukan tangan sederhana datang pelayan membawakan makanan.
Satu dua tiga. Makanan diletakan di meja, para pelayan gesit bergerak. Lagi, ayam bakar bersimbah wortel mengepul asap, juga sup-sup dan lobster berukuran besar.
Jauh di dalam benakku, lebih baik kupilih ayam bakar bersimbah wortel saja. Tidak ingin yang lain karena itu adalah makanan kesukaanku. Ya, wortel adalah kesukaanku dengan ayam bakar tentunya.
Semua makanan dan minuman kini tersusun rapi di meja, tempat kami mengobrol, sebelumnya aku lupa menjelaskan kami duduk di meja makan. Dekorasi ruangan yang ditata, walaupun tertutup sepertinya kuduga ini adalah ruangan tempat makan.
Aku merasa seperti berada di tempat jamuan seorang raja. Dengan ditemani seorang putri yang berhati baik menatapku tidak menghina, bahkan kedua orang tuanya memberikan senyuman yang kutatap tulus memancar kebahagian. Hanya kalimat terima kasih yang saat ini bisa kuutarakan di dalam batin. Menatap sekumpulan makanan yang kini kulahap dengan syukur.
__ADS_1
Tahukah ada sinar bulan di tengah malam yang hari itu kutatap, lantas menghilang di penglihatan, entahlah aku juga bingung mengapa dan apa sebabnya. Apakah perasaan itu kadang berubah-ubah? Aku tidak punya pendirian.
Aku tidak punya pendirian seperti orang-orang yang memiliki kekuatan untuk menjalani hari-hari dengan sikap keteguhan. Bahkan, kadang sering kesulitan dalam berkutat lebih leluasa mengenai kehidupan.