Daur Ulang

Daur Ulang
Asam Manisnya Kehidupan


__ADS_3

Aku memang tidak pernah tahu kemana arah kaki ini akan melangkah, kemana arah yang akan kutuju nantinya. Berjalan menyusuri lorong lorong kehidupan ini melelahkan. Benar-benar ini seperti membingungkan isi kepalaku yang berserakan dengan berbagai macam hal dan perihal tentang pertanyaan singkat mempertanyakan banyak hal dalam debaran rasa yang membuncah kuat.


Ingin kujelaskan lebih panjang satu per satu, tetapi aku menyadari semua itu tidak perlu atau nanti saat menunggu semuanya usai tenggelam bersama alunan ombak pesisir pantai dan nanti saatnya pun tiba pada detakan sang waktu hari ini. Kalau aku adalah seorang koboi di tengah gurun pasir sahara. Berkelana menyusuri wilayah.


Apakah yang akan kuperbuat? Lihatlah, Anggrek putih itu di sana, di ujung wilayah antara keputusasaan yang hilang diterpa kepahitan hidup dan dilema lama yang mengerontangkan hati tanpa penjelasan dari tutur kata menerima. Harapan yang menghilang tanpa bisa kupikirkan lebih banyak dan tentang semua ini bagai sesuatu yang hendak kulempar ke dalam bejana dan berakhir ke sebuah sumur.


Bertasbih dalam batin. Menunduk dengan tatapan terkantup, telingaku mendengar sebutan dosen itu mengatakan dugaan bahwa Martin Sirikanjana adalah pacarku.


Ini persis seperti pak tua yang sebelumnya menduga hal sama, mengatakan Martin Sirikanjana adalah pacarku. Itu satu kesalahan besar yang harus sesegera mungkin kutepis dan jelaskan padanya.


Akan tetapi, bagaimana caranya? Cara untukku menjelaskannya. Itu tidak rumit.


Benar, tidak serumit yang kupikirkan.


Wajah ini telah banyak berhadapan dengan kesalahpahaman. Pun, aku sudah terbiasa dengan semuanya.


Menghadapinya satu per satu.


Menjelaskannya bagiku adalah perkara mudah dalam hidupku.


Saat ini benakku berusaha merangkai sejumlah kalimat penjelasan.


Kalimat panjang lebar yang akan kujelaskan langsung supaya dosen itu berpuas diri menerima penjelasan dariku.


Kalau perlu kusebut perkara penting dalam hidupku tentang kerinduanku yang hanya tertuju pada satu wanita, yaitu Wapta. Sejatinya dialah wanita satu satunya yang selalu kurindukan. Hanya dia, bukan orang lain yang dimaksudkan dosen.

__ADS_1


Belum sempat aku mengarang alasan. Dosen itu malah tertawa. “Mengenai sebelumnya itu, aku hanya bercanda, Narak. Mahasiswi itu entah pacarmu atau bukan itu adalah hakmu dalam berhubungan antar sesama. Aku tidak berhak mencampurinya, bisa jadi kau berkata benar bahwa dia adalah memang temanmu, aku bisa menerima semuanya, bahkan saat kau mengatakan kebohongan sekali pun aku tetap menerimanya.”


“Tapi, apa yang kutegaskan di sini adalah kau seorang pelajar yang berpendidikan. Bertindaklah sebagaimana seorang pelajar. Salah satunya adalah disiplin. Datang tepat waktu dan kau harus bisa berakhlak dengan baik. Gelar sarjana yang kau dapatkan itu tiada artinya tanpa akhlak yang baik dalam dirimu. Kau tahu seberapa pun tinggi pendidikanmu dan seberapa pun banyak ilmu yang kau miliki hingga luasnya bagai lautan dan kau bisa menyelesaikan masalah persoalan hidup ini dengan mudah ataupun bahkan dinamika yang menggemparkan umat manusia, kau bisa menyelesaikannya. Ingatlah selalu akhlak yang baik itu berada di atas ilmu, lebih utama dan lebih mulia dari hanya keilmuan yang kau miliki. Sebab akhlak yang baik membawa keberkahan dalam hidup.”


“Seseorang yang berilmu tanpa adanya akhlak yang baik dalam dirinya itu bagai binatang tanpa adanya otak. Sebelumnya kau harus ingat menjadi mahasiswa, seharusnya inilah yang kau pikirkan, Narak. Tentang adab, disiplin dan sebagainya. Kau tidak perlu menatapku seperti itu.”


Usai mendengar semua tuturan kalimat yang diucapkan olehnya. Pun saat ini aku memilih menunduk diam tanpa menjawab, walaupun sebelumnya dia berucap tidak ingin memberi ceramah ataupun memarahiku, tetapi kenyataan yang kulihat dan dengar sekarang adalah berbeda?


Aku berbaik sangka dalam sanubari untuk tidak berkata macam-macam terhadap apa yang dia ucapkan, seorang dosen itu amatlah mulia posisi dan pangkat jabatannya dalam membina mahasiswa dan mahasiswi teladan. Kemungkinan itulah atmosfer dalam kepalanya dan kebiasaannya ingin memberikan pelajaran berupa hikmah kepada salah seorang sepertiku yang bagaikan anak SD, bandel.


Syukurlah, di hidupku ini masih ada orang yang seperti dia selalu memperingatkanku akan satu hal, berkali-kali seakan aku tengah berada di dalam halaqah yang ramai oleh sahabat baik dan menasihatiku dengan tuturan yang menyenangkan.


Jauh dalam benak pikiranku menerima semuanya, aku salah sebelumnya saat berangkat sudah kupastikan tidak akan terlambat, tetapi obrolan bersama orang berjas hitam yang sebelumnya terlebih lama menghabiskan waktu masih kuingat, betapa seharusnya itu tidak terjadi dan itulah alasan kenapa sekarang membuatku terlambat masuk ke ruangan kuliah.


Akan tetapi, terlambat sering kujadikan sebagai alasan dengan banyaknya alasan yang mungkin kalau dibukukan akan memakan banyak kertas dan halaman.


“Usai panjang kujelaskan, apa kau mengerti semua itu?” Dosen bertanya.


“Saya mengerti.” Kujawab pendek.


Sebagai tanda bahwa aku mendengarkan ucapannya dengan betul betul meresapi apa yang diucapkan olehnya. Kalau aku ingin menjelaskan panjang lebar mengenai hidupku, hanya satu kata, bimbang.


Itulah hidupku, kawan. Kebimbangan hidup yang sering kurasakan dan ditambah kerinduanku bagai penyakit kronis yang susah kusembuhkan, membuatku seperti tepung yang gagal dibuat menjadi kue, berantakan dan terganggu keseharianku dalam beraktivitas menuju pengalaman dan pengajaran. Rinduku semacam entahlah yang aku sendiri bergumam heran dalam memahami semua ini, mengapa aku merindukan sosok wanita yang bahkan tidak pernah aku tahu. Apakah dia juga sama padaku? Aku benar-benar menghela napas mengenai kerinduanku kepada salah seorang wanita itu benar nyata adanya yang hingga saat ini tak kunjung bisa kukatakan padanya. Apa? Ini bukan soal bagaimana aku tegar menjalaninya?


Melainkan inilah penjelasan mengenai semua itu, aku masih sering bimbang sampai sekarang. Masih berkutat dengan hal hal yang tidak penting untuk dipikirkan.

__ADS_1


“Simpanlah baik-baik semua yang baru saja kukatakan padamu, Narak. Kalau dalam sebuah cerita ini namanya plot twist. Alasanku memanggilmu kemari yang sebenarnya karena ada salah seorang editor naskah yang katanya ingin berjumpa denganmu. Dari awal perlu kau tahu aku menunggu kedatanganmu. Itulah sebabnya aku berdiri di sana, lalu mengajakmu ke ruanganku ini dengan sedikit penyamaran. Berharap supaya ada sebuah kesan kejutan di dalamnya yang membuatmu senang.”


Aku mengernyit. Hingga di paragraf akhir ucapannya, senang? Editor naskah?


“Editor naskah? Ja—jadi semua ini?”


“Benar, Narak. Kau masih ingat denganku?” Seseorang berjas putih muncul di balik tirai, tepat di belakang dosen tersebut.


“Sudah lama tidak berjumpa.”


Dia? Dialah orangnya. Bagaimana mungkin aku melupakannya. Dialah orang yang dulu menghempas naskahku, apa ini? Mimpi?


Aku tidak percaya dengan apa yang kutatap saat ini. Jari tangan kugerakan sembunyi sembunyi mencubit pahaku sendiri. Hasilnya terasa dan ternyata ini bukanlah mimpi. Ini nyata!


Dosen itu kembali tertawa. “Kau begitu lugu, Narak. Bagaimana mungkin aku memanggilmu ke ruanganku hanya untuk itu, kau tahu ada berapa banyak mahasiswa yang berjalan bersama mahasiswi? Banyak jumlahnya, Narak. Di antara mereka apa pernah kau melihatku memanggil mereka semua ke ruanganku hanya untuk ditanyai seperti itu?”


Ya, aku sudah mempunyai firasat dan dugaan kuat dari awal, sebelumnya itu adalah hal aneh yang kuterima dan raut wajah dosen itu tidak bisa membohongiku dan berpasrah diri aku mengikuti hingga ke ruangannya. Asam manisnya kehidupan telah banyak kurasakan.


Dari hanya sekadar tatapan, ucapan dan perbuatan orang lain padaku, ini terlebih bukan seperti kejutan. Dia bukan orang yang ingin kutemui, dia bukan orang yang ingin kukenal. Melainkan aku ingin lari, jauh pergi dari sisi dirinya. Editor naskah itu entah mengapa aku menyimpan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan lebih banyak.


Aku berdiri dari semula duduk, takzim dengan menghormati dosen di depanku.


“Maafkan saya, Pak. Saya datang ke sini untuk kuliah, bukan bertemu dengan dia.”


Kalau aku berada hanya berdua dengannya di suatu tempat, diri yang tenggelam dalam genggaman dan amarah. Editor naskah itu akan kutampar. Akan tetapi, di dekatku saat ini ada seorang dosen berwibawa. Dalam batinku menimbang diri dan berkuat hati harus sabar dengan pandangan menunduk pun aku tidak banyak ucapan.

__ADS_1


Aku tahu di dunia ini diisi dengan asam manisnya kehidupan. Bertemu dengan editor naskah itu tidak ingin kulakukan.


Apakah ini adalah ujian hidup dari semesta kepadaku? Kakek memang pernah menasihatiku dulu, aku harus bisa bersabar dan berkutat pun aku harus bijak menyikapi semua hal dalam hidup ini.


__ADS_2