Daur Ulang

Daur Ulang
Racun Yang Mematikan & Hama Yang Harus Dibasmi, Dimusnahkan Dari Muka Bumi


__ADS_3

Aku masih di sini menunggu kelanjutan ucapan kakek yang tampak menyindir kurang nyaman didengar. Kakek mengatakan kepadaku cara yang terbilang bagus baginya untuk sejenak menghilangkan cinta-cinta yang bersemayam kuat, berserakan penuh sesak di dalam isi kepalaku.


Entah mengapa rasanya hal itu cukup sulit kujalani, walaupun aku tahu caranya. Selama ini aku sudah sering merenungkan sesuatu yang bahkan aku tidak mengerti.


Terkadang sekilas rasa memahami datang, tak berlangsung lama ia kembali menghilang lenyap dari sisiku seakan-akan ia tidak mau dekat denganku.


Sekarang pun pikiranku masih membayangkan surat Wapta dengan teks bacaan bahasa thai yang bagiku begitu indah. Ukiran tangannya menulis Aksara cukup membuatku kagum.


Apa mungkin aku akan mati sebentar lagi karena terus mengingat cinta, memendam rindu yang jelas teramat sakit rasanya.


Itu tidak mungkin bukan? Apakah rindu itu bagaikan racun yang mematikan? Entahlah aku tidak ingin tahu lebih lanjut.


Jika aku benar-benar akan mati, perasaanku ini akan hilang selamanya. Saat itu mungkin tangisanku pecah berderai sesal karena selama aku hidup telah memendam rindu yang semakin lama menggores sembilu, semakin lama terdiam dengan angan yang menggebu-gebu.


Perasaan ini mungkin suatu saat akan terkubur bersama jasad diri di dalam tanah, hilang dan lenyap sudah. Mungkin itu hanyalah mitos, lupakan saja mengenai racun atau hal lain sebagainya, saat ini aku harus fokus terus dalam masa kuliahku, tidak boleh memikirkan sesuatu yang jelas merusak hari-hariku.


“Anak muda, kau sering melamun. Berceritalah kepada kakek. Siapa tahu kakek bisa membantumu.” Kakek tidak menjawab pertanyaanku, malah memintaku untuk hal-hal yang semakin membuatku resah.


Astaga? sebenarnya aku tidak sedang melamun. Kakek ini rupanya sengaja mencoba bercanda denganku, aku hanya sekadar menatapnya balas tertawa.


Setelah mempertanyakannya kakek ternampak sibuk terus membersihkan kulit semangka. Aku juga sama—terus sibuk membersihkan.


Aku punya alasan untuk tidak menjawabnya. Dengan niat mengalihkan topik, sesekali aku mengalawak, mengatakan bulan itu bulat, sama halnya bumi juga bulat. Penganut bumi datar pasti akan kalah kalau berdebat denganku.


Kakek tampak menatapku serius. “Bumi bulat atau datar. Bahkan, segitiga Itu tidak penting, Man. Kau itu lebih baik baca buku saja perbanyak ilmu yang di dalam kepalamu.”


“Kau tahu penganut bumi datar itulah orang yang tidak punya wawasan. Teori-teori lama, sudah lama itu terjadi, sekarang kau sudah membaca buku, teori itu sekarang keseluruhannya sudah terkuak. Herannya, di dunia ini masih ada orang yang ribut masalah bumi datar atau bulat. Itu membuktikan mereka kurang belajar.”


Kakek menjelaskan panjang lebar. Siapa sangka kukira dia akan tertawa, rupanya sekarang wajahnya berubah serius. Aku mangut-mangut mendengarkan.


“Kakek dulu kuliah di suatu jurusan yang sibuk membahas tentang astronomi, puluhan buku berjilid tebal sudah kakek baca semuanya bersama seorang teman yang sekarang dia telah sukses menggapai cita-citanya. Hanya saja, mungkin takdir kakek sudah digariskan menjadi seorang pedagang. Kakek pun tidak pernah mengeluh atas semua itu, kehidupan ini akan terus berlalu dari pagi sampai malam.”


Aku tertegun mendengarkan. Kakek lagi-lagi menjelaskan panjang lebar. Aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi, sebelumnya aku ingat tadi mengira kakek akan membahas masa lalu dirinya dan wanita kesayangannya. Ternyata memang benar dia membahas masa lalu, hanya saja aku sedikit meleset menduganya.

__ADS_1


Dia membahas Astronomi. Siapa yang salah? Tentulah aku yang salah karena memulainya terlebih dulu. Kakek masih berbicara panjang lebar sampai membuatku terdiam mendengarkan.


Hingga aku menduga itu adalah kalimat akhir dari ucapannya. “Ingatlah, Man. Keluhan apa pun yang kau ucapkan itu semua tidak akan mengembalikan waktu. Pagi masih panjang buatmu sebelum kau seperti kakek yang berusia senja.”


Kakek lanjut bicara menampakkan senyuman beserta gerakan tangan yang mencerminkan seseorang dengan gaya berpidato.


Dugaanku benar, setelah itu kakek tidak berbicara lagi sekarang tampak sejenak kembali membersihkan kulit semangka.


Aku bersyukur bisa kuat telinga mendengarnya. Nada bicara kakek bagai dosen-dosen killer yang hampir membuatku melayang di udara. Lebaynya. Tidak begitu lebay, hanya sekadar penjelasan, bukan kenyataannya.


Kakek lanjut berdehem. Kemungkinan menatapku tertegun seperti sekarang membuatnya sadar bahwa aku orang yang menyukai Astronomi. “Kau ingin tahu masa lalu kakek?” Itulah kakek bertanya lagi, aku cukup balas anggukan kepala ringan. Tidak ingin menjawabnya.


Kakek menceritakan kembali panjang lebar dengan tangan yang sekarang masih sibuk membersihkan kulit semangka yang berserakan.


Aku dengar juga sama seperti dirinya. Kami berdua saling membersihkan tempat yang semula berantakan, sekarang mulai menunjukkan kebersihan.


Astronomi memanglah suatu ilmu yang kakek sukai dari waktu kecil. Itulah awal ucapan darinya memaparkan kepadaku suatu bidang ilmu yang tak akan bisa kudapatkan karena aku mengambil jurusan yang berbeda dengan kakek. Saat menceritakan perihal kuliah dia berdiam diri dari membersihkan kulit semangka.


Isi ruangan dipenuhi buku-buku tebal astronomi, juga ada beberapa hal lainnya seperti bentuk prestasi yang ingin dia raih, ingin dia kukuasai, tetapi saat itu kulihat bertanda silang merah.


Aku menduga kakek telah gagal menggapai apa yang telah dia rencanakan. Aku seakan mendapatkan tamparan keras, kakek yang sudah belajar dengan giat saja. Dia sekarang sepertinya telah gagal, aku tahu akan hal itu dari dugaanku.


Kakek orangnya pendiam dalam masalah yang menimpa hidupnya. Aku cukup tahu dalam waktu setahun mengenalnya tidak pernah mengeluarkan keluhan sedikit pun.


Walaupun dugaanku bisa saja salah. Suatu keberuntungan dulu aku bisa menemukan tempat persembunyian kakek yang mempunyai ruangan khusus Astronomi.


Bahkan aku memasuki ruangan itu tanpa diketahui kakek. Membaca lebih dalam mengenai Astronomi, jujur saja ruangan itu membuatku tertarik.


Di sana juga ada buku perdebatan bumi datar versus bumi bulat, beragam argumennya seakan menjadi titik suatu kalimat perbedaan dalam pendapat mereka masing-masing.


Saat kakek berhenti membersihkan kulit semangka. Aku juga sama, ikutan kakek yang berhenti membersihkan kulit semangka dari meja-meja, hitung-hitung saja sedang beristirahat.


Kakek lanjut lagi bicara perihal nama-nama buku yang begitu dia sukai. Bahkan setelahnya memuji-muji sang penulisnya.

__ADS_1


Aku merasa kakek seperti menderita demam terhadap buku. Kalau membahas buku di depan kakek jangan pernah berucap perihal macam-macam, nanti dia akan terus menjelaskan, lalu memberikan sekilas nasihat sederhana dalam kehidupan.


“Ingat satu hal lagi, Man. Kalau kau membeli buku pastikan itu adalah original, bukan barang bajakan. Dari dulu kakek paling tidak suka dengan itu. Para pembajak itu sama halnya mencuri, mereka menjual hasil curian dan kau malah membelinya. Itu sama saja kau adalah komplotan dari mereka.”


Setelah lama bercerita. Tibalah dia memberikan nasihatnya. Benarlah dugaanku yang tadi sekilas menduga itulah kelakuannya.


Aku mendengarkan terus dengan saksama, walaupun sepertinya kakek sedikit melebarkan ucapan ke arah yang tampak keliru dari semula membahas buku. Biarkanlah, mungkin aku yang salah menduganya begitu, tetapi jauh di dalam sanubari aku sangat tidak suka, bahkan secara tegas aku menolak produk bajakan, entah itu buku atau hal lainnya.


Di dunia ini kakek menjelaskan hakikat terciptanya otak di kepala manusia seharusnya digunakan untuk berpikir, tentulah berpikir perihal lebih lanjut dan lebih dalam, lebih dalam lagi.


Mengenai produk bajakan yang jelas sekali hanya akan membuat sang pembajak kaya raya, terbahak bahagia dan tanpa peduli rasa bersalah mereka melakukan tindak pembajakan. Hati nurani mereka telah tertutup.


Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar mengenai ini. Sekelompok pembajak buku itu kalau dibahas akan memakan banyak kertas. Kakek sepertinya sangat tidak suka dengan oknum pembajak, juga orang yang tanpa punya perasaan bersalah malah membelinya, padahal dia sendiri tahu itu adalah buku bajakan.


Saat ditanya mereka menjadikan murah sebagai alasan, itulah kata kakek keduanya sama saja, tidak menggunakan akal untuk berpikir atau sekadar berpikir kalau ada yang murah, beli saja buat hemat.


Sejatinya membeli sama halnya menyirami pohon yang akan membuatnya tumbuh semakin besar. Sederhananya, membeli sebuah buku bajakan sama saja mendukung para pembajak yang akan membuat mereka semakin merajalela.


Kakek menjelaskan lagi cara ampuh melawan pembajak adalah berhenti membeli buku kepada kelompok mereka, biarkan mereka berteriak murah, murah.


Nyatanya barang bajakan adalah curian, tidak boleh diperjualbelikan. Ilegal, haram dalam satu artian yang sungguh mengerikan.


Para pembajak itu semacam hama yang harus dimusnahkan. Berperang dengan hewan hama rasanya sulit, mereka punya kemampuan berlindung di balik layar-layar, tubuhnya pun kecil mudah saja kalau injak, tetapi seakan ada yang melindungi, padahal hama itu harusnya dibasmi dan dimusnahkan semuanya.


Semua itu tidak dalam seberapa lama dibahas, tidak seberapa banyak lembaran kertas. Para pembajak buku itu sebenarnya sekelas penjahat yang tidak memikirkan jerih payah seseorang. Dengan mudah mereka membajak, lantas menjualnya.


Aku menatap kakek bergeming sesaat, lantas lanjut membersihkan kulit semangka, mendengarkan cerita kakek seakan waktu tidak terasa. Ada hal yang tak bisa kujelaskan lebih jauh lagi.


Kakek sepertinya sudah selesai berbicara. Dia berbicara lumayan lama menceritakan masa lalu dirinya dan buku bajakan yang begitu dia tidak suka, bahkan saat itu terbayang di otakku kalau aku sedang berada di dalam kamar, berbaring sambil berpejam bisa jadi tak lama aku akan tertidur mendengarnya.


“Kakek, kalau ingin tahu daritadi aku jelas memperhatikanmu, bagaimana rasanya bercerita panjang lebar begitu?” Kutanya sambil menunjukkan sikap polos.


Astaga? Sudah kuliah semester dua nada bicara masih saja polos, itulah saat bersama kakek atau siapa pun orang yang kukenal pasti begitu, sesederhana merindukan sosok Wapta yang sering kusebutkan di dalam doa.

__ADS_1


__ADS_2