Daur Ulang

Daur Ulang
Wanita itu Lita Aksima


__ADS_3

Seperti keadaan waktu itu, aku tak ingin mengingatnya, tetapi Lita Aksima bermuara laksana air sungai yang terus mengalir. Aku sungguh terpana akan kecantikannya yang tiada sanggup kujelaskan.


Aku bergumam di dalam kilas balik. Perlu kau tahu, kilas balik bagiku terlalu menakutkan, hampir membuat badanku keseleo urat, bisa-bisa diri ini patah tulang.


Tidak ada siapa pun yang tahu, saat itu Lita Aksima bertemu denganku pada butiran air terjun pegunungan, air terjun itu terus berderai jatuh, percikan butiran embun itu membias seperti ketika menembus prisma kaca dan keluar menjadi spektrum warna, maka terciptalah tujuh warna yang disebut dengan ???. Ya, kau tahu itu. Pelangi, itu jawabannya.


Lita Aksima, nama itu tersusun rapi di dalam sanubari, memberi arti dan kesan yang teramat dalam, entah bagaimana menerangkannya.


Aku benar-benar tak mampu mendefinisikan Lita Aksima, wanita itu hadir sekejap mata, tetapi hilang dengan begitu cepatnya.


Rasa ingin berkenalan, Lita Aksima.


Apa ini sejenis puisi? Bukan, ini lebih dari itu, aku meronta begitu dalam, Lita Aksima merengguti isi pikiranku saat ini, memblock kade semua hal yang ada di pikiran, yang ada hanya tentang Lita Aksima. Sungguh mengerikan!?


Lita Aksima, sejauh mana langkah ini bisa menyusul dirimu, aku berdiam terus melamun di dalam dekapan sang takdir.


Waktu dan harapan menjadi satu keinginan, bertemu dengan Lita Aksima adalah impian terbesar hidupku. Rupanya pertemuanku hari itu memang terbayang seperti pertemuan terakhir dengannya, kenapa? jelas karena aku tidak tahu tempat tinggalnya.


“Aku sudah menyerah dengan cintanya Wapta, mungkin akan berakhir sama,” ucapku dalam hati menatap air kolam yang sangat jernih, memantulkan bayangan Lita Aksima dengan muka yang terlihat berseri-seri.


Akan tetapi, semesta berkendak lain, di suatu ketika entah bagaimana? Saat aku berjalan di pertambangan emas, aku kembali bertemu dengan Lita Aksima.


“Kau, wanita itu, siapa namamu?” Aku hanya bisa berpura-pura tidak mengenali, dia juga tidak mengenaliku, jadi untuk apa aku sok mengenalnya? Lebih baik begini, saat ditanya orang pun nanti, aku akan berpura-pura tidak mengenalinya.


“Aku, kau menanyakan namaku?”


“Iya, aku menanyakannya. Jawablah!”


“Lita, Iya. Namaku Lita Aksima.”


“Aku beruntung dapat bertemu denganmu lagi, menyapamu dan berbicara denganmu.”


“Kenapa kau ini? siapa namamu? apa yang kau maksud dengan omonganmu?”


“Tidak, Tidak ada. Aku hanya seorang pengembara yang sedang menenangkan diri karena kesedihan.”

__ADS_1


“Astaga ... kau orang gila!”


“Kalau aku orang gila, apa orang gila bisa berbicara denganmu? dan memberi tanggapan dengan wajah ini.”


“Tidak, pergi dariku. aku tidak ingin mengenalmu.”


“Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan sebuah nama untukmu agar kau terus mengingat namaku.”


“Tidak, aku tidak ingin berkenalan denganmu.”


Lita Aksima pergi tak menghiraukan diriku sama sekali, aku lupa mencoba dengan perkenalan yang terbaik, perkenalan yang mungkin dia tidak akan meninggalkanku, begitu menyedihkan, jomlo ngenes. Drama itu sedikit mengharukan. “Astaga ... jomlo menang telak.” Aku bersorak dalam hati.


Lihatlah di televisi itu, film yang dibintangi oleh Lita Aksima, dia adalah pemain film yang kusukai, aku menghayal jadi tokoh utama dalam cerita yang memerankan karakter utama. Aku sedang menunggu moment yang pada akhirnya karakter utama itu berhasil mendapatkan hati seorang wanita yang bernama Lita Aksima.


Entah mengapa iklan muncul bertubi-tubi seakan berhamburan menutupi langkah-langkah diriku untuk bertemu dengan Lita Aksima, sang ayah bersikeras menjodohkan Lita Aksima dengan sudagar kaya raya, asalkan jangan jalan raya.


Lita Aksima menerima pernikahan itu, saat itulah karakter utama muncul, “Ah ... Superman datang, tunggulah diriku, Lita Aksima.” Dialah pemeran utama yang kumaksudkan, rambutnya kribo berkumis tebal, tampangnya lumayan ganteng.


Lita Aksima, sudah cukup jangan mendekat, semakin dekat, ini keterlaluan. Aduhh ... benar-benar keterlaluan.


“Lita, kenapa? Ada apa sebenarnya?” jawab lembut Ayah Lita Aksima.


“Izinkan aku membacakan sajak-sajak puisi untukmu, Lita Aksima,” pangkasku membuang kata Lita Aksima.


“Untuk apa? Untuk kau pamerkan ke orang-orang bahwa kau bisa membuat hati seorang wanita menjadi luluh karena sajak puisimu?”


“Tidak, Lita Aksima tetaplah dan dengarkan ini dengan sedikit saja memandang ke arahku.”


“Hah, aku muak dengan lelaki sepertimu, kenapa kau begitu kokoh memperjuangkanku?”


Aku terdiam. “Oh, aku kalah telak oleh wanita itu, Astaga ... benar-benar memalukan,” ucapku dalam hati. Aku tidak bisa lagi berpikir jernih, Lita Aksima menghantui pikiranku.


“Kau tak bisa menjawab rupanya. Ayolah jawab, aku menunggunya dengan sikap hormat.” Lita Aksima memasang ekspresi wajah yang sukses membuat jantung ini berdetak lebih kencang.


“Aku akan tetap diam saja.” Aku menjawab santai.

__ADS_1


Sayangnya, tiba-tiba listrik mati otomatis televisi itu mati sebelum karakter utama itu mendapatkan hati karakter wanita itu dengan sajak puisinya. “Benar-benar film yang menegangkan.” Aku menghela napas, mengkhayal sosok Lita Aksima.


Petani itu melihatku yang terus memandangi televisi, padahal televisi itu sudah mati karena tidak ada listrik yang menyala. “Ada apa, anak muda?”


“Aku sedang mendalami kisah dalam drama ini, membayangkan Lita Aksima yang kemarin senja aku bertemu dengannya.”


“Ah ... Lita Aksima itu, aku kenal dia,” ucap petani itu sambil mengelus-ules jenggutnya yang berwarna putih itu.


“Kau kenal dia, siapa dia?” Lihatlah, aku berpura-pura lagi tidak mengenal Lita Aksima, padahal aku sudah mengenalnya.


“Dia adalah anak dari bos pertambangan emas di desa ini, mungkin sekarang dia sedang menggantikan posisi ayahnya.”


“Bagaimana sikap asli dari Lita Aksima?”


“Ekhemm... tampaknya kau sedang jatuh cinta, anak muda.”


“Ayolah, aku hanya bertanya. jangan hinakan aku dengan kata-kata seperti itu,” kataku mengalihkan perhatian.


“Anak muda, aku tak begitu mengenal Lita Aksima, hanya kata kebanyakan orang dia itu orangnya pemarah dan suka mengoceh, jika kau memilihnya, aku yakin kalian tidak akan cocok.”


“Aku akan berusaha sekuat tenaga!” Aku menguatkan tekad sedalam-dalam yang kubisa.


Ketika listrik kembali menyala, televisi itu lanjut dengan dramanya. Petani itu memperhatikan kondisiku yang mulai memperhatikan sajak puisi terdalam.


Membayangkan sosok seorang Lita Aksima, apa ini bug? Astaga ... lagi-lagi aku kehilangan kata-kata. ayolah bergegas cari inspirasi.


Lita Aksima, ketika engkau hadir dalam hidupku, sejak saat itu langit membiru dengan suasana senja yang mendominasi semua waktu bersamamu. Lupakan saja ini hanya fiktif.


“Hei, anak muda kau merusak puisi,” ucap petani itu merasa geram.


“Biarkanlah, tidak ada maksud merusak, ternyata merangkai puisi itu susah, toh semua ini hanya fiktif, kenyataannya lebih menyakitkan.”


Petani itu menggelengkan kepalanya tak kuasa menghadapiku yang memang terlihat sedikit aneh itu. Lita Aksima, aku tahu dirimu laksana langit-langit yang tak akan bisa kugapai, tak akan bisa kumiliki.


Bolehkah aku mencintaimu, walaupun hanya sesat, walaupun hanya sekadar bercakap-cakap? Aku tidak bisa mengerti tentang diriku yang mencintaimu, walaupun dalam khayalan yang tiada ujungnya.

__ADS_1


__ADS_2