
Aku menghela napas berat. Rindu sesosok dirinya yang kian memantul-mantul di dalam benakku. Rindu yang ternampak bagaikan kemilau terang menusuk mata. Perih terasa, amat derita mencoba melapangkan dada.
Jauh di dalam sanubari pelesatan kata bersambut nuansa hangat tawa. Kenangan dan waktu bersamanya itu membuatku sadar bahwa sebaiknya kulupakan sosok wanita yang bernama Wapta itu.
Entah bagaimana menjelaskannya? Bibir ini sudah kelu berucap, kadang bicara pun tersendat-sendat.
Aku telah lama menimbang rasa, merasakan detak-detik jam berputar damai di sela-sela kepingan kenangan. Aku telah melewati banyak hal, banyak kesedihan yang telah kurasakan, hanya saja terbatasnya diriku dalam menunjukkan tulisan yang sulit kuberikan gambaran mengenai sekilas bayang bagai sebuah cetakan peristiwa dalam bentuk hologram.
Satu hal yang lebih penting bagiku sekarang adalah untuk tidak memikirkan masalah yang tidak ada ujungnya.
Apa yang dikatakan kakek tempo hari itu telah menyadarkanku banyak hal, kehidupan tidak selalu tentang cinta, juga tidak selalu tentang kesedihan selama diri mampu menerimanya dengan hati lapang, pikiran tenang.
Sepahit apa pun masa lalu yang pernah mengisi memory kenangan diriku, aku harus menerimanya karena itu adalah bagian kehidupanku, sesuatu yang telah lewat jauh berhari-hari sebelumnya, berbulan-bulan melewati siang berganti malam.
Entah itu patah hati atau cinta yang diharapkan manis, ternyata kenyataan yang kulihat sekarang adalah terasa pahit. Aku terus menahan perasaan, terus merindukan sesosok yang boleh pergi atau hilang dalam kehidupanku.
Aku hanya bisa berharap terus berharap tanpa perbuatan nyata yang kuberikan kepadanya. Aku tidak pernah menyangkal apa pun, kepahitan cinta itu berasal dari diriku sendiri. Aku tidak pernah menyangkalnya.
Bagaimanapun akhirnya hubungan itu selesai dalam helaan napas, bagaimanapun semuanya lenyap dariku karena ketidakmampuanku dalam mengungkapkan perasaan, bagi kebanyakan orang mungkin saja mengatakan kalimat mengandung cinta itu tampak sederhana, tetapi berbeda denganku yang tidak pernah tahu, tidak pernah bisa mengatakannya. Bagiku itu adalah kalimat tersulit di dunia ini.
Wapta, berbahagialah selalu dengan kehidupanmu. Kau tidak perlu merindukanku, cukuplah aku di sini yang akan terus merindukan sesosok tentangmu.
Entah mengapa aku masih mencari makna rindu dan cinta. Lebih tepatnya aku masih saja tidak mengerti, apa mungkin hanya aku di dunia ini yang menderita, mengingat cinta yang tak pernah bisa kubayangkan bagaimana cara mengungkapkannya.
Wapta, aku sering berulang kali memaksa tangan ini untuk menulis tentang dirimu, tetapi sayang beribu sayang keterbatasan kemampuan diriku tidak mampu dalam menulis kata-kata terbaik yang bisa melukiskan tentang dirimu, tentang semua perasaan cinta yang kumiliki.
Aku sempat ingin masuk ke dalam kelas bahasa supaya memahami lebih tajam kata per kata, tetapi aku urungkan. Aksara Thai yang kau sebutkan adalah bukti tersirap yang kutuangkan dalam kelipatan kata perasaan.
Aku hanya mampu menulis kata yang tampak berantakan, berserakan dalam uraian yang tentu dibaca pun akan membingungkan.
Sederhananya, aku bukan orang yang pandai menulis, keterbatasanku seakan-akan telah menjadi penghalang diriku untuk menulis, mengungkap bentuk keindahan bait kata dalam sebuah ikatan cinta.
Semua ini hanyalah sekadar rintihan yang kurasa begitu kuat, sangat kuat aku mencintaimu.
Percayalah. Kesemuaan ini bukanlah tulisan orang lain, melainkan diriku bergumam rindu hampir di setiap pengujung malam-malam senyap, lalu menuliskannya ke dalam lembaran kertas dengan rasa cinta mendalam, membubungkan rasa rinduku ke puncak yang tiada sanggup kudaki, rasa yang melebihi dari apa pun.
Aku sering menuliskan kata-kata tentang dirimu, bukan tentang orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dalam masalah kerinduan yang tengah kualami.
Aku tahu kerinduan ini berasal dari keinginanku, sekilas dugaan pemikiranku saat ini muncul mengenai perasaan dan keinginan itu adalah satu perpaduan yang sama. Rasa ingin bertemu, rasa cinta ingin memiliki.
Begitulah perasaan dan keinginan yang sejatinya satu perpaduan yang sama, saat itu aku sejenak menghela napas begitu panjang, sangat panjang sampai aku melihat tidak ada harapan pun yang sekarang kupunya.
__ADS_1
Harapan yang dulu aku tahu, yang dulu ingin kuberitahukan, harapan yang mengucapkan doa di setiap jerih payah berharap kata-kata ini dibaca olehmu.
Jujur, Wapta. Aku sangat menginginkan pertemuan antara aku dan dirimu, inilah yang dimaksud penghabisan rindu.
Rindu yang tidak bisa aku jelaskan, rindu yang tersirap harap. Aku merindukan sosok wanita yang bahkan tidak pernah diri ini tahu apakah dirinya sama denganku?
Aku pernah menyadari kehidupan bukan hanya tentang cinta yang sekarang menyisakan rindu ingin bertemu, sejenak pun aku pernah menyadari kehidupan ini tidak selalu tentang cinta.
Ada banyak hal yang lebih dari sekadar asmara. Lihatlah, Kakek dia dulu memberikanku dua pilihan yang mampu melupakan sejenak tentang cinta lama.
Pilihan yang kala itu membuatku geleng-geleng kepala tidak setuju. “Man, kalau kau disuruh memilih antara dua pilihan, mengejar cinta atau mengejar cita-cita, mana yang akan kau pilih?” Itulah dua pilihan yang diberikan kakek kala itu.
Aku diam, tidak menjawabnya. “Anak muda sejatinya cinta itu sebuah perasaan yang nantinya kau akan dapatkan lagi, lagi, dan lagi. Percayalah, tidak perlu kau galau begitu.” Kakek menepuk-nepuk pundakku.
Baiklah, sekarang itulah yang kuingat, sekarang aku hanya merindukan sesosok dirinya, Wapta. Dialah orang yang membuatku merasakan rindu, kerinduan yang mendalam, teramat dalam.
Kerinduan ini muncul seakan mengundang jiwa resah yang tak pernah bisa kujelaskan, seberapa lama rindu ini mengiringi waktu yang terus berputar, aku tahu segala rasanya. Rasa kerinduan yang terasa sakit.
Mataku telah perih, mata ini telah sembab dipenuhi kerinduan yang teramat tinggi puncaknya. Ada banyak kata yang ingin kueja, satu per satu huruf melantunkan nada-nada kerinduan.
Rintih sudah semuanya, kata-kata yang begitu berantakan, bacalah ini dengan hinaan yang terserah dilontarkan, dipendam. Itu tetap sama;
Perasaanku terlerai dengan helaan napas bagai guntur mendengkur belai, pergilah sudah melanglang sanubari, naik tinggi hingga mencapai batas yang tiada bertepi. Daun yang kutatap melambai, lantas gugur menyisakan suara sayup filosofi, disusul suara yang sedikit kudengar sekumpulan gandum bertikai. Sejenak sunyi, menyisakan suara senyap dan berdiam diri tanpa ada seruan bertitah lagi.
Rasa rindu ini kian memaksa diri berdiam dalam renungan, terdiam dalam suatu kata ucapan tanpa tindakan. Aku tahu itu adalah kata berantakan, tetapi apa itu bisa membuat orang lain paham tentang masalah ini? Aku menganggap diri ini lemah, ada banyak hal yang tidak bisa kuletakkan dalam cawan.
Lantas memberikannya pun tak nyaman, lihatlah betapa tidak tersusunnya kata-kata itu, tidak dalam rintihan, tidak dalam tangisan. Aku tahu semua ini adalah sekilas kata tanpa ujung, tanpa bisa dimengerti.
Begitulah rindu yang tak akan bisa dimengerti olehku, bahkan menjelaskannya aku tak mampu, hanya bualan-bualan yang terasa tidak nyaman didengar.
Berulang kali pun direvisi, kata-katanya akan semakin berantakan. Aku tetap tidak mengerti masalah ini, tanganku seakan menulis tanpa kendali, tanpa ujung dari semuanya.
Menulis kecacatan pikiran yang sungguh tiada dalam suatu arti kata rindu dan cinta. Tiap orang punya definisi dan hakikatnya sendiri, apa itu cinta dan rindu menurut mereka? Apa itu cinta dan rindu menurutku?
Selama ini aku selalu berkutat memikirkan kata cinta yang tiada ujungnya. Pernah bosan? Aku tidak pernah bosan melukiskan kata cinta, terlebih tulisan ini bukan untuk orang lain, melainkan untuk wanita yang selama ini kurindukan.
Rinduku seakan api yang membesar, semakin membesarkan wujudnya, api yang berada di dalam sanubari ini telah berkobar dahsyat.
Kobaran dahsyat dan ganasnya kerinduan yang memuncak tinggi mencapai awan.
Di partikel sana udara dari kobaran api seketika memanaskan awan yang membuatnya bergerembul, kala itu pun terbentuk lingkaran awan hitam, lingkaran yang terdengar gema petir menyambar. Hujan deras pun turun membasahi kedua mataku.
__ADS_1
Lagi-lagi aku lengang, terdiam seakan diri ini telah jengkang. Letih dan perih denyutan jantungku seakan beririma wayang.
Aku melamun kosong menatap surat dari Wapta, tidak mengatakan apa pun lagi, rasanya aku tahu cintaku ini terpendam jauh sampai sekarang aku tak bisa mengungkapkannya.
Apakah ini takdir perasaan yang sedang kuterima atau hanya aku seorang lelaki lemah yang tak sanggup menghilangkan ingatan tentang seorang wanita. Dialah Wapta, seorang wanita yang tak sanggup kulupakan.
Aku menulis kata-kata untuknya di buku catatan ini seakan kosa kata yang kugunakan telah habis semuanya.
Setelah itu, entah mengapa aku punya keberanian menuliskan surat. Saat itu pula rasa rindu dan keinginan seakan mendorongku untuk menulis surat lebih leluasa yang akan kukirimkan kepadanya;
Wapta, aku sudah membaca suratmu. Apakah kau tahu, sekarang aku sudah berganti nama. Namaku sekarang menjadi Roman, itu aneh bukan? Itulah kakek yang menyebutku begitu, katanya agar mengingatkan dia pada ayahku.
Aku tidak perlu menulis surat ini menggunakan bahasa thai. Kalau ingin tahu alasannya, aku ingin menulis panjang lebar membalas suratmu, tanpa lelah merangkai Aksara yang membuat kepalaku menjadi botak. Haha, itu bercanda.
Kau tidak perlu khawatir. Di sini lumayan terasa sejuk, aku merasa senang berada di bangku taman menulis surat untukmu, tetapi jujur aku rindu bertemu denganmu, semoga nanti kita bisa bertemu, mengenai pertanyaanmu yang banyak itu, tentu aku tidak bisa menjawabnya satu per satu, singkat saja kau benar dan aku baik-baik saja. Terima kasih hadiah ulang tahunnya.
Wapta, surat ini dariku. Roman, jangan panggil Narak karena aku sudah berganti nama, tetapi tak apa orang-orang di kuliah juga menyebutku Narak. Aku sekadar memberitahu dirimu saja.
Salam dari Negeri Gajah Putih teruntuk Zamrud Khatulistiwa di sana.
Surat itu selesai kutulis dalam dua lembar kertas. Aku masih duduk, menatap melamun sedikit ragu mengirimnya atau tidak. Rasa rinduku mengatakan kirim saja surat itu tidak lebay. Hanya bentuk balasan dari surat sebelumnya.
Aku menimbangnya takut kalau dia mengatakan aku lebay dan berlebihan. Aku pun melipat kertas dan ingin kukirimkan.
Akan tetapi, saat aku berjalan. Di seberang jalan sana kakek berseru nyaring, aku menoleh menatapnya berdiri di depan toko melambai-lambai, menyerukan agar diriku membantunya membereskan tempat makan-makan semangka sebelumnya.
Kala aku menghampiri apa yang kulihat sebelumnya ternampak bagai jamuan raja-raja di istana, sekarang berubah total.
Apa yang kulihat sebelumnya banyak semangka, sekarang menyisakan kulitnya di meja yang ternampak berantakan.
Aku sejenak menghela napas, entah mengapa menatap semangka yang sekarang terpampang berantakan rasanya mengherankan.
Imajinasiku membayangkan bagai menatap tulisanku yang pada saat itu, saat diri ini awal-awal terjun ke sisi tarikan huruf ke huruf membentuk kata ke kalimat. Dari kalimat ke paragraf hingga jadilah satu susunan yang kadang membuatku geleng-geleng kepala saat membacanya.
Sekarang, rasanya aku lebih bisa menulis hal-hal sederhana di dalam kehidupanku.
Lebih rapi juga entahlah atau mungkin masih berantakan, aku hanya perlu saat ini untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Walaupun, di luaran sana ada orang yang tidak suka padaku, terserahlah.
Tentunya di balik tulisanku saat ini, semua itu karena aku sering melatih diri dari hari ke hari hingga sekarang aku bisa menulis lebih leluasa, lebih bisa dimengerti dari sebelumnya. Aku akan terus berusaha lagi, lagi, dan lagi.
Inilah ceritaku tentang kemampuan diriku yang terus berlatih, tentang diri ini yang tidak pernah lelah letih terus melatih keterampilan yang entah bagaimana menyebutkannya. Biarkanlah berlalu.
__ADS_1
Takdir seakan memberiku suatu cara jitu dalam membalut cerita rindu yang memperkenalkanku pada suatu bidang literasi yang dikenal orang saat ini.
Penyebab semua ini adalah karena seorang wanita itu bernama Wapta. Dialah orang yang membuatku semangat dalam menulis, tentunya menulis tentang dirinya, bukan tentang orang lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dalam masalah ini.