
Aku terdiam lama dengan pandangan redup menatap kosong. Cahaya keremangan itu ternampak menyilaukan. Bertanya pada batin pun tidak ada jawaban.
Membayangkan bagaimana staf televisi itu menayangkan iklan dan acara. Bagaimana sebuah rating menjadi tujuan mereka. Itu pertanyaan aneh yang masih menggema dalam batinku, tidak ada jawaban.
Sunyi dan senyap bagai nada dering yang sengaja dinonaktifkan. Otakku beku, pikiranku melayang lagi entah kemana?
“Hei, anak muda.”
“Apa keinginan terbesar yang kau harapkan selama hidupmu, anak muda.” Seseorang tanpa kukenal mengejutkanku. Muncul di belakang tanpa kusadari keberadaannya.
Aku menoleh. Terkikuk. Se-sejak kapan ini? Perasaanku bergetar hebat dan dahsyat. Bukan main. Hei, ada di mana aku sekarang? Pandanganku menatap asing ke arah sekeliling. Mengapa jalanan dan tempatku berdiri, bahkan semuanya dari atas bawah tampak berbeda dari sebelumnya? Suasana.. hawa.. dan.. ini..
Persis seperti sekarang aku berada di tengah zaman kuno yang tertinggal dalam lembaran sejarah. Buku tebal perkuliahan yang bahkan pernah dulu membuatku tertidur pulas dengan dekapan buku di tangan. Tahun berapa sekarang? Mengapa tulisan itu tampak terlebih kuno, bahkan rasanya aku tidak bisa membacanya.
Orang yang tadi memanggilku tengah berdiri di sana. Seseorang lelaki yang tampak berusia tua, rambutnya memutih dan tampangnya menyenangkan. Ditatap pun sepertinya dia awet muda.
“Apa yang kau lihat, anak muda.” Lelaki tua itu berjalan menghampiriku dengan raut wajah menyebalkan yang pernah kutengok.
“Ah. Aku suka wajahmu yang terheran begitu menatap tempat ini.” Lelaki tua itu menepuk pundakku dengan gayanya.
Aku termangu dengan semua ini, lelaki tua itu sejenak mengalihkan pandangan ke arah bangunan di sana, aku juga sama. Entah, aku bingung hendak menatap kemana? Mengikutinya mungkin, iya.
“Selamat datang, anak muda. Seperti yang kulihat wajahmu tengah merasa lelah, matamu sendu seperti orang yang hendak menangis. Bergembiralah untuk sesaat. Kau tahu bangunan besar itu adalah salah satu di antara bangunan di desa ini yang teramat kami banggakan, saat kau menatapnya ribuan duka cita dan perasaan kacau akan hilang. Bahkan Yang mulia Raja sangat bergembira melihat bangunan itu tetap megah sampai sekarang dan kau masih saja memilih berdiri dengan ekspresi seperti itu, diam dan tidak bicara apa pun. Ayolah, aku akan mengajakmu lagi berjalan-jalan melihat sekitaran sini.”
Lelaki berusia tua itu menatap sebentar, lantas jalan lebih dulu dariku, tertawa pun tidak. Senyum apalagi, raut wajah yang tampak serius dengan tangan dilipat ke belakang. Jalanan tampak kosong. Di sekitarku tanaman anggrek dan buah apel mengisi setiap penjuru, di tempat itu seakan hanya kami berdua yang asyik menghabiskan waktu bersama.
“Di dunia ini engkau tidak sendirian, anak muda. Berbagai makhluk hidup, alam nan sejuk dan benda mati sekalipun bisa kau jadikan teman, asalkan kau mau menerima mereka sebagai temanmu. Lihatlah, persahabatan burung dengan dahan pohon bagaimana ia menjaga dan membuat sarang di sana. Persahabatan langit dan awan yang menjadikannya indah di pandangan mata. Persahabatan lautan dan ombak, angin dan lain-lainnya. Kau hanya perlu bisa beradaptasi dengan semua itu.”
“Besok atau lusa. Jangan bersedih lagi atas apa yang menimpa hidupmu dan kalau kau bertanya kepadaku apa yang membuat masalahmu saat ini menjadi rumit, jawabannya itu adalah dirimu sendiri.”
“Beribu kata pun kau menyalahkan orang lain, sejatinya kesalahan terbesar terletak di dalam dirimu sendiri, anak muda.”
“Kau yang egois atas semuanya. Menuduh sembarang ke orang lain. Menyangkal sesuatu yang sebenarnya kaulah penyebab dari semua permasalahan hidupmu sendiri. Itulah mengapa beberapa hal ada sederet angka yang ditulis di sana, melambangkan sikap manusia yang apabila bersalah. Kadang secara naluri mereka melindungi diri dari disalahkan, menjadikan orang lain sebagai titik sasaran untuk disalahkan.”
“Tapi, tidak semua manusia begitu, bukan?” Kujawab sambil memandangnya.
Lelaki tua itu tertawa. “Tentu saja, tidak semua manusia begitu, aku mengerti apa yang kau katakan, itu hanya kebanyakan dari mereka atau mungkin hanya beberapa, entalah tidak banyak jumlahnya. Yang pasti, kaulah di antaranya.”
“Kenapa kau yang sekarang menuduhku begitu? Ternyata kau juga orang yang suka menuduh sembarangan.” Kutanya usai mendengar paragraf akhir ucapannya.
“Aku tidak menuduhmu, anak muda. Tapi, aku tahu semua tentangmu, semua yang kau lakukan selama ini. Kau sosok pemuda yang tumbuh dengan persepsi milikmu sendiri. Menganggap pemikiranmu adalah yang paling cemerlang dan kau sosok yang tidak mudah menerima nasihat, tidak mudah berubah dan kau sering menuduh orang lain berbuat salah padamu. Seperti halnya dosen yang sering memarahimu dan kau menuduhnya telah pilih kasih, bukan?”
Mendengar hal itu aku menelan ludah, mempertanyakan bagaimana mungkin dia tahu mengenai itu? Bahkan rasanya aku tidak pernah menceritakan itu kepada orang lain, hanya kepada kakek sebagai tempat curhatku selama ini.
“Kau tidak perlu terkejut bagaimana aku mengetahuinya. Hal yang perlu kau perbaiki adalah perasaan dan berpandai dirilah menjaga hatimu agar tidak kotor. Kau lihat sungai itu, kotor dengan sampah yang larut di sana. Itu, kah dirimu yang tidak pernah peduli akan hal itu?”
“Merenungi hari yang berlalu adalah jalanmu untuk mengukur kesalahan yang ada di dalam dirimu, lantas berbuat baiklah usai setelah itu. Membersihkannya perlahan akan membuat hati terasa lapang dan pikiranmu itu pun tenang.”
“Di setiap hari, sisihkan waktu malammu untuk merenung. Di kegelapan malam itu, kau bisa mengingat banyak hal, tangisan seseorang pendosa meringis. Pun, sakit teramat di dalam dadanya. Kita bisa melihat bagaimana sosok seorang yang sering merenungi kesalahannya. Dia takkan lagi sibuk mempermasalahkan dan mengungkit kesalahan orang lain, kita bisa melihat semua itu dengan jelas di mana dia sibuk dengan kesalahannya sendiri dan tidak mempermasalahkan orang lain. Dia akan sering meminta maaf, bahkan sering bertanya kepada yang lainnya, apakah di dirinya ada kesalahan yang harus diperbaiki dan dia selalu berusaha memperbaiki dirinya. Kian hari berlalu, dia akhirnya bagai mutiara yang bersinar. Memancarkan kehangatan dan kenyamanan bagi orang lain, bahkan di suatu waktu dirinya menjadi sorotan banyak orang dan disukai keberadaannya saat berada di lingkungan masyarakat.”
“Bagaimana aku tahu soal itu karena aku mempunyai salah seorang teman yang itulah sosok dirinya dan itulah sebaiknya bagimu, carilah teman yang mengajakmu ke jalan yang benar. Karena perubahan besar padamu dan sikapmu yang bisa kita rasakan, bisa jadi datangnya dari orang di sekeliling kita, semakin kau berteman dengan orang jahat, lambat laun pemikiran akan berubah. Muncul pemahaman baru dalam pikiranmu dan pada akhirnya kau hendak melakukannya. Betapa itu tercela dan sebaiknya harus kau hindari.”
“Tapi, kalau kau bisa menjaga diri. Berteman dengan siapa pun. Itu tidak masalah, hanya saja dihindari dan kurangi, jangan terlalu dekat dengan mereka.”
Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu berceramah terus padaku, lelah pun tidak sepertinya. Aku mengikutinya di belakang sambil mendengarkan dengan pandangan mataku tengok kanan kiri. Merasa risih sendiri dengan suasana yang sekarang bagiku asing. Di suasana itu, seakan hanya kami berdua yang ada, hidup di sana dan memiliki peran di dalamnya. Hei, tunggu kalau dipikirkan itu juga benar dan di manakah orang-orang berada? Mengapa tempat ini tampak seluruhnya kosong? Hanya kami berdua di sini. Aku dan lelaki tua itu terus berjalan.
Lelaki tua itu kali ini tersenyum. Berpaling menatap ke arahku. “Anak muda, jangan galau dan sepahit apa pun hari yang sekarang kau lalui dan rasakan mengenai kehidupan ini dan lika liku percintaan. Lihatlah ke arah bangunan yang megah itu, betapa dulu seorang pemahat kayu membangunnya dengan harapan tinggi. Lihatlah, sampai sekarang bangunan itu tetap megah berdiri menghadap tiupan angin, selama itu dia bisa bertahan dari terik matahari. Bangunan itu memang dibangun dengan megah, kemegahan yang tak ternilai harganya. Seberapa pun engkau akan membelinya, bangunan megah itu akan tetap berdiri dengan kukuh di sana.”
Lelaki tua itu menjelaskan panjang lebar yang membuatku sedikit mengernyit.
Bangunan megah? Megah apanya? Apa yang kulihat itu seperti bangunan biasa, sama pada umumnya. Aku menggerutu kesal dengan berbagai argumen di dalam benak pikiran dan batin. Kaki ini terus berjalan, masih mengikutinya yang sesekali menegok ke arahku dan terus mengoceh dengan semangat tinggi hingga rasanya kupikir ucapannya itu mubazir, terkeluar sana sini. Sibuk memperkenalkan sejarah kepadaku dengan berbagai gaya.
“Anak muda, kau pasti heran, bukan? Mendengarkan ucapanku yang menyebut bangunan itu megah. Ketahuilah, bangunan itu memang megah. Kau bisa melihatnya kelak. Pada sejatinya saat kau mampu mensyukuri kehidupan ini, kau akan mampu melihatnya. Kami selama ini senantiasa bersyukur, bangunan itu bisa berdiri dari tahun ke tahun hingga rasanya usia bangunan itu lebih dari 1000 tahun.”
Dia seperti menyergah apa yang kuucap dalam batin. Aku terbelalak menatap heran. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku? Bagaimana mungkin? Lelaki tua itu sedikit pelan mengusap jenggot putihnya.
Saat itu cahaya terang kembali datang. Lelaki berusia tua itu kini memberi senyuman dan hilang dari pandanganku.
Ingin tahu apa yang kurasa? Wajahku terasa kaku dan denyutan nadiku bergetar. Aku mengusap mata, mengusap wajahku sebisa mungkin. Aku harap ini bukan alam nyata dan cuma sebatas khalayan.
Dan..benarlah sudah, itu hanya sebatas khayalan. Martin Sirikanjana membangunkan lamunanku lagi. Kami masih berada di halaman tempatku kuliah.
Aku bangun dari lamunan dan sekarang berdiri hampa. Tersadar bahwa sekarang aku bersama Martin Sirikanjana sudah berada di halaman kuliah. Masih segar kuingat. Pun terbayang tentang apa yang sebelumnya terjadi, itu seperti kenyataan yang tengah kualami. Jelas ternampak seperti layar televisi yang kudengar dan kutatap bagai iklan sampo yang hari itu membuatku garuk kepala.
Degung degung di kepalaku. Semua tentang seseorang teman dan kawan dalam bahasa kampungku dulu bernama Sajak. Ingatan yang terlebih lama. Seperti film yang diputar ulang di dalam kepala.
Yeah—aku mengingat semuanya, tentang persawahan dan berbagai hal lainnya. Tentang lelaki tua itu berbeda. Kalau Sajak memang ada di alam masa laluku.
__ADS_1
Aku harus bisa melupakan semua itu, kemungkinan saat ini pikiranku sedang kacau seperti biasanya dan aku tidak ingin terus mengingatnya. Semoga ingatan tentang masa lalu itu bisa berakhir.
Aku menghela napas. Berjalan melewati tempat parkir. Martin Sirikanjana terus bicara dengan bahasanya dan aku tidak menghiraukannya. Masih kuat berjalan.
Pandanganku beralih ke sebuah bangunan. Di dalam ruangan sekian detik tiupan angin, jendela besar itu dan dua cabang dahan pohon yang terlihat melengkung.
Aku berdiam beribu bahasa. Itulah jendela tua ternampak usang dengan corak kelabu yang tidak kusukai. Aku lebih menyukai kalau jendela itu biru, lebih cerah dan ditatap menyenangkan, tetapi itu buatku sendiri dan kutahu selera orang berbeda.
Kalau sekarang aku punya sekaleng cat biru di tanganku, sepertinya warna jendela itu akan kuubah biru dan menunjukkan ke orang-orang betapa aku adalah orang yang egois atas semuanya, tetapi aku sadar tidak punya hak untuk mengubahnya.
Benar. Aku tidak punya hak mengubah sesuatu yang bukan punyaku. Jendela tua dan ruangannya yang terlebih rapi itu adalah kepunyaan salah seorang petugas kebersihan di tempatku kuliah ini. Bergumam pun aku tidak banyak ucap.
“Oohoi, Narak.”
Pak tua itu sekarang menyapaku dengan suara khasnya, Martin Sirikanjana tersenyum ramah ke arahnya, malah lebih dulu membalas sapaan pak tua yang sekarang sedang membersihkan halaman.
Padahal, pak tua itu tidak kenal dengan Martin Sirikanjana, senyuman ramah dan nada bicara lembut. Pak tua berkenalan sebentar, menuduh wanita itu adalah pacarku. Dia berbisik, aku juga berbisik bilang bahwa itu tidak benar.
Aku masih diam dengan tatapan sama. Pikiranku masih membayang dengan segala apa yang terbayang dalam benakku. Memandang tidak banyak peduli. Inilah sekarang yang berbeda denganku dulu seakan hidupku terasa lebih banyak melayang terbang ke alam yang tiada bisa kumengerti dan sepertinya aku memang harus pergi ke tempat psikiater.
Seperti saran yang diberikan ayahnya Martin Sirikanjana saat berada di dalam mobil sebelumnya.
“Sesekali kau boleh mengingat masa lalu, Narak. Tapi, kau harus ingat bahwa masa lalu itu telah berlalu dan kau tidak boleh terkekang olehnya. Lupakan sejenak dan jalanilah harimu sebagai seorang pemuda yang bersemangat mencapai cita-cita.”
Sedikit kata dari orang berjas hitam itu masih segar kuingat. Itu saja. Membuatku seperti lautan tanpa ombak, juga seperti masakan tanpa adanya garam dan seperti tungku tanpa adanya api.
Ingin kehendak hati mengatakan banyak hal, tetapi aku sadar akan semuanya. Sejak awal seharusnya aku tetap tegar menjadi diriku sendiri, tanpa harus repot menjadi sosok orang lain. Diriku yang pendiam dan terus mengoceh dalam batin, terus menulis berbagai ekspresi yang kurasakan.
Itulah sejatinya orang munafik sepertiku.
Itulah diriku sejak dulu. Awal permulaan saat aku hidup dan memulainya dari sekarang memang semuanya telah jauh berbeda. Jauh kesekian kalinya lembaran yang memakan banyak kosa kata. Banyak hal ketidaknyambungan dari hanya sekadar ucapan dan perbuatan.
Tertulis terulang dari satu halaman ke halaman lainnya, berbelit belit dan rumit ke segala arah. Menjelaskannya pun aku lelah.
Kambing Hitam melembek. Ternampak, berhenti. Kucing jinak dan malang itu terdiam, daun gugur itu terhenti. Ataukah jenaka. Palu retak itu terkembali. Gulir sang waktu yang kutatap, jarum jam berdetak seakan lebih lambat.
***
Kalau boleh aku ingat mengenai naskah yang pernah kutulis. Menulis kosa kata ambyar yang sulit kujelaskan.
Pun, kabarnya tersebar ke segala arah. Ke segala penjuru dunia yang kutahu hari itu salah seorang telah bicara. Aku tengah memandang salah seorang yang di kepalanya memakai topi, berduduk di atas pelana kudanya. Berbincang dengan salah seorang teman wanita yang juga sedang menaiki kuda. Mereka berdua bukan berasal dari penduduk sekarang. Zaman dulu—zaman yang berbeda dan keberadaannya di zaman kuno, kebetulan saat itu hanya mereka berdua di sana. Menyusuri jalanan, berbincang mengenai kabar dan lain sebagainya. Sebelumnya aku lupa cerita tentang bagaimana lelaki koboi itu bisa berjumpa teman wanitanya.
Tak lama kemudian, aku mengingat semuanya. Itu terjadi di awal permulaan musim panas yang terasa hangat menyengat pakaian dan jubah berkibar di jalanan. Tiupan angin selatan bertiup lebih cukup bagus seakan menyejukkan suasana di cahaya terang terik matahari.
Masih sendirian di atas pelana. Lelaki jomlo, tidak ada pasangan di belakangnya. Sang lelaki itu memacu kudanya dengan gigih. Kuda itu berlari cepat mematuhi perintah dan kuda itu tahu cara berterima kasih terhadap perlakuan tuannya.
Masa lalu dan masa pahit yang terlewat di padang pasir mereka. Masa depan itu sekarang ternampak merah bergemintang cahaya bintang di langit. Bertabur harapan dalam menanti kabar dari hari ke hari.
Kuda itu masih berlari. Mendengus dengan sopan. Sekian cepatnya kuda itu berlari kini ternampak bagai membelah gurun pasir. Lelaki itu tidak bisa berbuat banyak, hanya berpegang teguh pada keyakinan dalam batinnya. Ingin menuntun diri menuju ke arah utara. Dan apa yang ada di sana? Hei, dia bahkan tak peduli dengan hawa panas yang menyengat diri, lelaki itu ingin pergi, membelah gurun pasir hanya untuk menemui sang baginda raja yang istananya berada jauh. Tanpa diberitahu sudah diberi titik temu pertemuaan mereka, istana yang berada di tengah-tengah gurun pasir.
Semua itu dilakukannya hanya ingin memenuhi keinginan untuk membahas sesuatu mengenai pembahasan hak pribadi miliknya yang hilang dalam pandangan dan dari deretan papan nama yang terlupakan. Deretan daftar yang ada di pengujung ingatan lampau. Ingatan itu tidak banyak memberikan makna dalam lembaran kertas. Ingatan yang seakan benar-benar hanyalah sebuah coretan omong kosong dan kosong melompong.
Bahkan sekali ingat bisa merusak akal sehat dan mengenai angka-angka, perhitungan yang tidak banyak sebabnya.
Di tengah perjalanan itu dia menatap salah seorang wanita dan ternyata itu adalah wanita yang telah lama menjadi temannya.
“Itu, kan? Dia?” Lelaki koboi itu terkejut. Memacu kudanya ingin menyusul.
Apakah prasangka itu benar? Hmm.. dia ingin memastikan semuanya.
Lelaki koboi itu berteriak, “Hei, kau ....”
Wanita itu menoleh. Kaget. “Ya, ampun. Kamu?”
“Ternyata benar, aku tidak salah mengenali orang. Dari mana saja kau selama ini? Lama sekali aku tak melihat batang hidung kau. Haha.. syukurlah kita bertemu di sini.”
Seseorang lelaki berpakaian klasik dan memakai topi itu menyapa dengan masih kukuh berduduk di atas pelana kudanya.
Wanita itu masih terkejut bahagia dan tersenyum sembari menutupi gigi putih miliknya. “Kamu. Oh, ya ampun. Ini benar-benar tidak disangka.”
“Ya, ini memang kebetulan, sepertinya.” Lelaki koboi itu tertawa, seperti kebanyakan orang entah senang atau apa?
“Iya, kalau boleh aku bercerita. Aku abis jalan-jalan ke kota seberang itu, mencari hiburan seperti biasa. Di sana, kamu tahu ternyata ada seorang lelaki aneh dan dia selalu berlagak seperti kamu seorang koboi, wajah terbelah dua dan suka membicarakan aib orang lain, lelaki yang bersibuk diri dengan perihal rindu, tapi dirinya sendiri tidak bisa mengatakannya dan malah menulisnya. Itu aneh, aneh sekali. Seseorang bijak bahkan pernah berkata bahwa seseorang yang mencintai seseorang wanita, dia akan memberikan bukti nyata. Bukan sibuk memberikan alasan-alasan atau penjelasan-penjelasan yang seperti itu, bukan?” Wanita itu menjelaskan dengan detail ucapannya.
Orang bijak mana yang dimaksudkannya? Saat mendengarnya aku bertanya heran dalam benakku dan jelas mengernyitkan dahi. Ingin sekali kutanyakan siapa nama orang bijak itu, jangan-jangan dia hanya mengarangnya saja. Bukan hanya itu, dia terus mengeluarkan ocehan.
Lelaki koboi itu diam. Teman wanitanya terus bicara dengan kalimat-kalimat yang menjelekkan lainnya. “Dia itu lelaki berwajah dua, sepertinya. Aku bahkan tidak menyukai sosok lelaki seperti itu.”
__ADS_1
“Banyak dustanya dan ribet. Kamu tahu lelaki itu?” Wanita itu menatap tanya.
“Dia itu lelaki yang sering melamun, sering galau, sering menulis kata-kata di papan pengumuman pribadi miliknya. Jika benar seseorang itu mencintai seseorang lainnya.. kupikir dia tidak akan menuliskan hal itu yang tidak ada manfaatnya, malah menyebarkannya ke orang-orang. Bayangkan saja, itu tidak ada faedahnya dan kalaupun dia memang cinta sama orang yang dicintainya. Pastilah dia akan mengusahakannya dengan tindakan, bukan? Memberikan bukti-bukti dan bukan hanya sekadar kata-kata. Apalagi sibuk melamun tidak jelas begitu. Lelaki itu sepertinya tidak tahu banyak soal cinta itu seperti apa, apalagi dia sepertinya tidak tahu arti memendam rasa itu seperti apa? Dia terlalu lugu dan bagiku dia tidak pantas disebut lelaki karena sering menangis, sering patah hati dan sering melamun, bahkan sering berbohong dan banyak lagi yang lainnya.” Wanita itu banyak omong.
Persis wanita itu bagai seekor serigala berbulu domba. Penampilan luar dan dalamnya beda, langit dan bumi jauhnya.
“Aku tidak tahu soal itu. Karena selama ini aku tidak pernah pergi ke kota seberang, ternyata kau tahu banyak tentang semua itu dan bagaimana apa kau tahu siapa namanya?” Seorang lelaki berpakaian koboi itu bertanya, seperti penasaran.
“Ya, saat itu aku mendengar gosip dari banyak orang di sana. Dia itu lelaki yang kadang suka berlagak sok bijak dan dia itu lelaki yang tidak tahu apa itu sosialisasi antar sesama, apalagi komunikasi bahkan cuek bebek sama tetangganya sendiri.”
Dua orang di sana itu berbincang perihal tentangku, bukan orang lain. Sosok koboi itu terbatuk sejenak, entahlah mungkin tersinggung dan merasa tersinggung.
***
Editor naskah menyela cerita. Dia meminta penjelasan, aku angkat tangan.
“Ceritamu ini tidak logis.” Editor naskah itu kini kulihat memberi garis merah di naskah yang kuberikan padanya. Wajahnya datar mencoret tulisan naskah tersebut.
Setelah dia periksa keseluruhan. Naskahku ditemukan amburadul dan berantakan seperti biasa, bahkan tokoh cerita tak memberi kesan terbaik.
“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku sambil mengusap bawah hidung.
Editor naskah itu sejenak tertawa tipis, tidak nyaring. “Tidak ada sepertinya. Tidak ada yang akan kuberi saran lagi. Apa kau tidak ingat selama ini kau sudah sering mengantarkan naskah novel padaku dan semua naskah yang kau berikan padaku ini tidak layak. Bawa pulang naskah kau ini dan saat kau berhasil menjelaskannya, berikan kembali naskah itu padaku.”
“Jangan lupa memberi kesan terbaiknya, hanya karena kau ingin mengarang, jangan abai soal masalah ini.”
Editor naskah itu menatapku mantap, tak lupa juga dia memberi senyuman terbaik sembari mengembalikan naskah yang ada di tangannya. Tersenyum ramah.
“Kau harus semangat lagi, nanti saat kau sudah bisa menjelaskannya, datanglah kemari. Kau bisa mengantar naskah itu kembali padaku. Di beberapa tahun menjadi editor selama ini aku tidak bekerja sebatas menyunting naskah saja, tetapi aku juga ingin menyunting penulis sepertimu, aku mengenal beberapa penulis yang berhasil dan semua itu tak luput dari campur tangan editor yang mengarahkan, membimbingnya dan membanting kerjaan demi hanya memberi sebuah pelajaran, memberi saran dan masukan. Anehnya, hanya kau di antara ribuan penulis yang pernah kuberi hal demikian, tidak ada kemajuan. Bahkan berkali-kali sudah kuberi masukan dan saran hingga saat ini kau masih saja mengulang kesalahan sama seperti dulu, menulis naskah dengan kacau balau. Sekarang, ini menjadi PR buatku, salahnya itu ada di mana, ya?”
Aku menatap hambar. “Yeah, aku meminta maaf kepadamu karena menulis naskah ini dengan berantakan dari segi tulisan, alur ceritanya dan kosa kata yang tersendat di lidah. Karena memang aku menulisnya sambil melamun. Di awal dan sampai sekarang, di beberapa bagian naskah ini aku seperti orang yang kesusahan mengeja, bahkan seperti orang yang terdiam lama.” Aku menjelaskan sebisa mungkin, editor naskah itu menatap bukan main. Sorotan matanya fokus.
“Mengenai alur cerita dan di antara bab awal aku serius menulisnya dan kadang seiring berjalannya waktu aku menjadi kurang fokus, kalimat itu terulang di bab sekarang dan dari elemen tanah yang kugumpal dan lempar. Seperti itu. Sukar kujelaskan bagaimana aku bisa mendapatkan teori itu dan menjelaskannya aku tidak bisa. Lebih nyaman ini semacam orang yang tengah berdiri tegak, berpidato di depan orang banyak dengan lebih leluasa. Di beberapa kata yang keluar di mulut. Beberapa menit hingga berganti jam, bicara lagi dengan pembahasan baru dan konfliknya tentang masa lalu.”
Di antara teks pidato yang mendebarkan, kupikir ada salah satunya yang berhasil membuat naskah itu menjadi terkesan indah dan sepertinya soal itu aku salah.
Salah persepsi. Seperti yang dibilang editor naskah bahwa tulisanku itu aneh dan terkesan hambar dengan kosa kata yang memang tersendat di lidah, tidak ada apa-apanya. Dia hanya perlu sebuah penjelasan dan berbaik hati ingin menyuntingnya. Baiklah, aku berusaha menjelaskan di hadapannya sekarang.
“Itulah sebenarnya tulisan naskah ini yang memang berantakkan. Dan kau tahu sudah berantakkan, tertinggal di lembaran usang.” Aku tertawa mengambil naskah itu.
Editor naskah tidak tertawa, malah geleng kepala dan aku pun keluar dari ruangannya.
***
Menghela napas. Aku sekarang telah memiliki satu orang editor naskah tetap yang bisa menyunting naskahku kapan saja aku mau, tetapi dia itu cerewetnya minta ampun dan aku memilihnya sebagai editor naskahku hanya karena merasa nyaman dekat dengannya, tentu sikap ramahnya yang di sana ada atmosfer keakraban dan berdiskusi dengan lancar. Di beberapa kali moment aku selalu meminta saran darinya apa pun dan bagaimanapun kondisinya dengan wajah senyum terpaksa. Kulihat dia kesal, aku pernah berulangkali meminta maaf kepadanya.
Hari ini di sekian detik helaan napas yang bergelantung harapan yang seakan hendak putus. Aku memegang naskah novel dan keluar dari ruangannya, kertas naskah ini percuma, berpikir dua kali hendak membuangnya ke tong sampah. Sejenak melamun, saat itu helaan napasku sudah keluar bagai air terjun di pegunungan. Dengan niat menenangkan diri, aku mengambil ponsel di saku celana.
Membuka pesan di aplikasi hijau. Mengetik status yang kurang lebih begini isinya:
🌵 Kuatlah wahai hati yang sering jatuh tersungkur rapuh, senyumlah wahai bibir yang sering mengeluh🌵
Tanggapan dari salah seorang teman memberi semangat. Tapi, salah seorang teman lama di SMA dulu, hanya dia satu-satunya yang punya nomorku.
Dia selalu memanggilku dengan Boi, entah dari mana inspirasinya sampai sekarang sebutan itu masih kuat dipegang olehnya.
Memberi tanggapan. Boi, kau itu laki. Belajar lagi sana, macam mana kau nak jadi suami kalau bangun pagi saja kau malas. Sekolah nilai kau jelek macam mana nak sukses macam tu.
Tapi kau harus semangat, Boi. Sepahit apa pun rintangan yang kau hadang. Percaya saja sama impian kau itu, kau pasti bisa!
Seperti pohon kaktus dia bilang bisa tumbuh di padang pasir yang gersang. Padahal, emot kaktus itu sekadar dekorasi yang kubuat, malah digunakannya sebagai kata penyemangat buatku. Menyebut kata suami dan nilai jelek, sebenarnya itu hampir membuatku tertawa. Terima kasih.
Aku berterima kasih atas apa yang kau ucapkan padaku, kawan. Segetir perasaan dan sabut kelapa yang terkelupas. Aku bagai tak mempunyai pendirian atas semua ini.
Yeah, bahkan sampai saat ini kalau ingin tahu aku terus bertanya pada diriku sendiri. Mempertanyakan akankah aku bisa menjadi apa pun kata terbaik nan indah itu buatku? Seperti yang mereka katakan. Pun menepisnya dengan mendatangkan bukti? Mungkin, aku memang saat ini tidak bisa berkata lebih banyak mengenai itu semua.
Seorang koboi dengan wajah terbelah. Lihatlah ke arah sana, kawan. Fiksi dalam cerita punyaku ternyata sederet tulisan yang menyebalkan. Seperti insting seorang pemburu tengah menebak sasaran empuk di ujung pulau sana dan kau tahu dia tengah menari ria, kawan. Rindang pepohonan yang melambai di ujung pulau, memutih awan menutupi sinar matahari. Sang pemanah jitu dan sang pelontar kata.
Mereka sekarang sama-sama bersibuk diri dengan memutar angka logika sederhana, melakukan persiapan dengan segala upaya dan segala macam keperluannya. Berburu binatang ingin disantap dan dilahap.
Seorang munafik handal menipu dataran wilayah semenanjung utara dekat area pesisir pantai. Dia memelompongkan benak pikiran, hilang dipandang mata.
Itulah, kawan. Naskah fiksi berjudul Koboi Berkepala Dua: Wajah yang terbelah. Aku menulis rentetan konflik peristiwa dari satu ujung ke ujung, mengenang masa lalu dan semua itu hanyalah fiksi. Naskah yang hari itu kuserahkan kepada salah seorang editor naskah yang pada akhirnya ditolak dengan alasan, sama seperti dulu.
Semenjak saat itulah aku merasa bahwa hidupku seperti melipat kertas menjadi gumpalan lantas buang ke tong sampah, tidak lebih dari itu dan juga tidak kurang.
Koboi berkepala dua, depan belakangnya beda dengan menunjukkan ekspresi wajah yang pandai sekali menipu. Sang munafik handal itu tertawa dengan kosa kata dia bermain logika. Dia menipu, lihatlah tatapan mata itu dan mulut yang membabi buta ucapan dusta, menipu sang korban yang sebetulnya telah lama dia incar.
__ADS_1