Daur Ulang

Daur Ulang
Cerita Bersama Kakek


__ADS_3

Setelah Kakek selesai mempersiapkan tempat untuk kami berdua, dia menghampiri kami seraya tersenyum, bentuk garisan sempurna melengkung di permukaan bibirnya, aku menatap dengan leluasa, jujur rindu rasanya.


"Tempat kalian berdua sudah selesai. Oh, tapi sebelum itu, kalian duduk saja di sini, aku akan mengambilkan kue dan juga minuman dingin." Kakek bersegera cepat pergi dari hadapan kami.


Aku memperhatikan sekilas. Sepertinya telah menjadi kebiasaan orang di negara ini, sebelumnya aku baca di laman browser mengenai negara ini, jikalau ada tamu berkunjung, katanya hal utama bagi mereka adalah menjamu tamu, memberi sebuah kue dan minuman dingin, lalu mengajak tamunya untuk makan.


Kebiasaan yang berulang kali kubaca di salah satu situs internet. Entah itu benar atau tidak, jelas aku hanya menduga.


JRENG!


Tak lama, Kakek datang menghampiri kami, di tangannya menenteng tiga buah minuman dan beberapa kue, dia membawanya bergilir bolak-balik berjalan. Aku betul, artikel itu benar, tidak salah dalam hal ini, tetapi hampir saja aku tersesat, jika itu tidak betul.


Usai tertib, minuman dan kue tersusun di meja, kami duduk mengobrol bersama.


Mengisi waktu, mengucapkan kata yang berangsur-angsur mengeluarkan suara tawa. Beberapa saat kemudian, Wapta beralasan ingin beristirahat, mungkin dia lelah atau apa, sorotan matanya tak dapat kutebak.


Ia pun beranjak menuju tempat beristirahat, sedangkan aku masih betah mengobrol dengan Kakek.


"Sudah lama rasanya, aku tak berjumpa dengan ibu dan ayahmu, bagaimana kabar mereka?" Kakek bertanya, jujur membuatku tak bisa menjawabnya, seketika bibir ini membeku karena pertanyaan itu.


Aku melihat sorotan mata Kakek yang tampak heran kepadaku karena aku terdiam, tak bisa menjelaskan. Pada akhirnya, berat bibir ini, tetapi aku menghela napas untuk berani menceritakan semua kejadian itu kepada Kakek.


"Kek, sudah lama waktu berlalu, sepuluh tahun yang lalu, saat usiaku tujuh tahun, Ayah mengalami kecelakaan, dia kehabisan banyak darah dan meninggal, kejadian itu membawa kabar duka mendalam bagi Ibunda, tak lama setelah itu Ibunda menderita satu penyakit dan pada akhirnya dia juga menyusul Ayah, mereka tersenyum di alam sana, Kek." Aku berucap menjelaskan. Tak menyangka, deraian air mata itu jatuh dengan sendirinya.


Kakek menghela napas. "Huh, jadi begitu ... aku tak tahu akan hal itu, wajar saja selama ini tidak ada kabar sama sekali. Pantas saja, selama ini, aku sering merasa khawatir akan keadaan mereka," jawab Kakek seraya mengelus janggutnya yang sudah berwarna putih. Tapi, Kakek orangnya tegar, tidak sepertiku.


"Sebelum kejadian itu, Ibunda menulis sebuah surat dalam lembaran kertas ini ...," ucapku seraya menunjukkan kertas itu kepada Kakek.


Kakek mengambilnya, membaca seluruh isinya. Ketika selesai membaca surat itu, kulihat ekspresi wajah Kakek terkejut, dia kemudian memelukku lagi dengan erat.


"Maafkan kakek, karena tidak mengetahui akan hal ini, kau sudah berusia tujuh belas tahun, pasti selama ini kau sulit dan berat bagimu menjalani hidup sendirian tanpa kasih sayang kedua orang tua," ucap Kakek sedikit hebat, padahal aku belum mengucapkan usiaku sekarang. Mungkin saja, pada saat aku menjelaskan kejadian itu, dia mengetahui usiaku.


Sekarang, dia juga sama denganku, berderai air mata, sejauh ini, aku tidak menceritakan bahwa aku hidup sendirian, sedang Kakek mengatakannya, mungkin juga dia mengetahui selama itu dari surat yang telah dia baca, benar selama ini aku hidup sendirian, aku tak bisa berbohong.


Aku yang mendengar akan perkataan Kakek, jelas hanya bisa memperlihatkan senyuman, agar Kakek tidak merasa bersalah ataupun bersedih atas sesuatu yang sudah berlalu.


"Tak apa-apa. Kakek, biarpun selama ini aku hidup sendirian, tapi aku bersyukur, malah itu membuat jiwa kegagahanku muncul, aku pun bekerja di salah satu pekerjaan, walaupun gajih tidak terlalu besar, itu sudah cukup memenuhi keperluan yang kubutuhkan," kataku memperlihatkan sebuah senyuman.


Padahal yang terucap dari bibirku begitu jauh berbeda dengan kondisi yang sebenarnya terjadi, walaupun bisa hidup mandiri, tetapi perasaan kesepian karena tidak ada orang di sisi ini, hampir membuatku putus asa dan larut dalam kesedihan.


Akan tetapi, demi menghibur Kakek, aku menceritakan kehidupan dengan lapang dada, senyuman yang merekah indah menghiasi wajah dan ucapan tanpa keluh kesah.

__ADS_1


"Kau bekerja apa? Aku sedih mendengar ini, mengetahui bahwa usia muda yang kau miliki malah dihabiskan untuk bekerja," ucap Kakek seperti prihatin atas kondisi yang kualami.


"Tak apa-apa. Kek, aku bekerja sebagai tukang angkot barang, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja di sana," jelasku kepada Kakek yang sedang tampak menyimak.


"Kenapa kau berhenti dari pekerjaanmu itu?" Kakek bertanya.


Aku sedikit menggelengkan kepala, mengangkat bahu. "Entahlah, ada alasan yang tak bisa aku katakan, Kek." Aku berucap dengan wajah menunduk.


Kakek menepuk pundakku. "Baiklah, kalau begitu. Sekarang, kau di sini dan tinggallah bersama kakekmu di sini, wanita itu apakah dia pacarmu?" tanya Kakek dengan nada menghibur. Aku balik menatapnya.


Kakek seperti penasaran, wajahnya tampak seperti mulai menggodaku untuk ikut tertawa.


Aku geleng-geleng cepat. "Bu—bukan, Kakek terlalu berlebihan dalam menilai. Oh, ya apakah Kakek tinggal sendirian, mana Nenek?" jawabku mengalihkan pembicaraan.


"Ah, Nenekmu? Dia, tepat satu jam yang lalu, sebelum kalian datang, Nenekmu keluar rumah, dia sedang berbelanja untuk keperluan rumah, ketika dia datang nanti pasti terkejut melihat kau ada di sini."


"Apakah Nenek sama seperti Kakek bisa berbahasa indonesia?" tanyaku.


Kakek menggeleng. "Nenekmu tidak bisa berbahasa indonesia karena dia tidak tertarik bahasa indonesia, berbeda denganku. Aku mempelajari bahasa indonesia karena ketertarikan yang membuatku ingin mempelajarinya."


"Bagaimana kakek bisa berbahasa indonesia, apakah kakek belajar sendirian?"


"Kakek belajar dari ayahmu, panjang ceritanya kalau aku ceritakan kepadamu."


Kala itu, Kakek mendongak, menatap langit-langit kamar, pada akhirnya dia setuju untuk menceritakan awal mula ketertarikan yang membuatnya mempelajari bahasa indonesia. Melalui Ayah, dia belajar katanya.


Sebelum itu, Kakek tampak menghela napas panjang, aku jelas mendengarnya. Namun, tak ingin menegur, kufokuskan diri untuk menyimak, sebetulnya sedang menunggu Kakek untuk menceritakannya.


"Baiklah, Narak. Dahulu, entah bagaimana Tuhan mempertemukan takdir orang tuamu, aku juga tidak tahu mengenai pertemuan mereka. Namun, saat itu bulan januari, Ayahmu menyatakan cintanya kepada ibumu, dia datang langsung ke rumah ini untuk melamar, aku pun menerima lamaran tersebut."


Syukurlah, sekarang Kakek benar-benar menceritakannya, aku senang. Pertemuaan Ayah sekilas, tetapi bagiku itu cukup berkesan, mungkin Kakek termasuk orang yang segan bertanya mengenai masa lalu mereka berdua, sedikit aneh bagiku. Tak ingin berlarut dalam lamunan, aku kembali menyimak cerita Kakek.


"Sejak ayahmu tinggal bersama denganku, aku mendengar kedua orang tuamu saling berbicara satu sama lain menggunakan bahasa indonesia, lambat laun aku menyukai bahasa yang mereka tuturkan."


"Kemudian pada suatu waktu, Ayahmu sedang tidak ada kegiatan, aku menghampirinya dan bertanya banyak hal mengenai bahasa indonesia hingga aku benar-benar memahami dan bisa menuturkannya."


Aku mendengarkan cerita Kakek seraya mengangguk, menyaksikan dengan tenang. Tak bosan, cerita itu seru, aku menyukainya.


Cukup lama. Kakek bercerita dengan penuh pembawaan, bahkan seakan aku ikut masuk ke dalam cerita miliknya. Sekarang, cerita itu telah habis dia tunjukkan.


"Oh, jadi begitu, kek. Sejak awal, sepertinya kedua orang tuaku berada di negara ini, lalu bagaimana mereka bisa bertempat tinggal di Indonesia dan berpisah dengan kakek, bagaimana ceritanya, Kek?"

__ADS_1


Aku mempertanyakan sedikit panjang, wajar saja. Aku suka cerita kakek, tak ingin berakhir, ingin terus mendengarkannya.


Kakek hanya mengangguk. "Tujuh belas tahun lalu, sebelum kau ada di dunia ini—"


"Eeh, Itu berlebihan, Kek!" Aku menyergah cepat.


Kakek tampak tertawa kecil karena mendengar ucapanku seperti itu, tak ingin berlarut-larut, sejenak dia menghentikan tawanya.


"Sela beberapa waktu kemudian, tiga bulan berlalu, ibumu hamil, saat itu aku sangat bergembira mendengarnya."


"Setelah itu, apa yang terjadi, Kek?" Aku keseringan memotong cerita Kakek, padahal Kakek belum tuntas menceritakannya, tapi tak apa, Kakek pun seperti senang.


"Saat itu, sembilan bulan berlalu dan kau terlahir di salah satu rumah sakit Bangkok(Thai: โรง พยาบาล กรุงเทพ) Aku menyukai dan begitu senang mendapat telepon dari rumah sakit."


"Satu pertanyaan singkat, kutanya bayinya apa? Mereka jawab lelaki. Aku semakin riang dan tersenyum tak karuan."


Sontak, seketika aku mengingat kejadian TimeTravel berupa kilas balik yang terjadi pada malam hari itu, ketika Ibu memberikan aku nama Narak.


"Saat telepon berdering, aku sedang bekerja menjaga toko ini, saat menerima telepon itu agak gugup dan setelah mendengarnya, aku bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk kondisi ibumu dan juga ingin bertemu dengan cucuku yang manis dan imut ini," kata Kakek sambil mencubit pipiku, aku cukup diam mendengarkan semuanya.


"Setelah tiba di rumah sakit, aku bersegera ke tempat ibumu berada, dan di sana sudah ada ayahmu, dia menemaninya dengan penuh kasih sayang. Tak lama, dia menyarankan ibumu untuk memberikanmu sebuah nama."


"Ibumu menyuruh aku untuk memberikan nama, tetapi aku tidak bisa, saat itu sulit untuk menyangkal dan mencoba mencari alasan, tentu akhirnya dia mengerti."


"Kemudian Ayahmu menyerahkan semuanya kepada ibumu untuk memberikan nama yang pada akhirnya dia memilih kata Narak."


"Alasan dari semua itu karena Ibumu memperhatikan betapa menggemaskannya dirimu, betapa imutnya wajahmu, itulah sekilas mengenai namamu."


Kakek menjelaskannya serius, sedangkan aku telah mengetahui alasannya, pada waktu itu, masih samar, kilas balik yang terjadi pada malam hari itu telah memperlihatkan kejadian tersebut, hanya saja kilas balik itu tidak terlalu terperinci seperti yang diceritakan Kakek.


Kakek kembali menghela napas. "Setelah usiamu genap setahun, orang tuamu memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan memulai hidup mereka di sana, waktu berlalu cepat, tak menyangka kau datang ke sini, dan kejadian yang menimpa mereka berdua benar-benar aku tidak mengetahui semua itu."


Sekarang, kuliat Kakek meneteskan air mata usai menceritakan semua itu, aku hanya bisa terdiam dan ikut juga merasakan pilu, entah bagaimana, sulit menghindarinya.


Jujur, saat itu.. dalam batinku kembali tersusun kata yang berantakan. "Naluri manusia, sebuah peristiwa. Sekilas kenangan yang terlewat, hilang, pergi, entah bagaimana perasaan menerimanya, hampir habis sudah semua asa dan tenaga untuk menyingkirkannya, tampak kesedihan seperti awan mendung yang menutupi indahnya sinar matahari."


..."การแสร้งยิ้มบางครั้งมันง่ายกว่าการอธิบายว่าทำไมเราถึงเศร้า...


...---...


...Terkadang senyuman lebih mudah daripada menjelaskan mengapa kita bersedih....

__ADS_1


Tidak, semua itu tak bisa dijelaskan. Aku mengetahuinya dan jelas tahu detailnya, sama sekali, jangan bertanya. Cukup diam merenung, itu saja. Kau tahu semua hal mengenai sesuatu yang kuhadapi, tidak. Bahkan, kau tidak merasakannya, persis seperti apa yang kurasakan.


__ADS_2