Daur Ulang

Daur Ulang
Perut Ikan Paus


__ADS_3

Saat ini aku ingin melepaskan dahaga, mengeluarkan kepingan itu yang dilahap api. Yang lama, tertinggal kenangan.


Yang baru, terbawa suasana haru. Membayang ke tempat hiburan dan liburan di musim panas yang menjadi kebiasaan santai, mengunjungi tempat destinasi untuk sejenak menenangkan diri.


Berbeda sepertinya yang tampak hujan di luaran sana. Itu mengingatkanku tentang banyak hal. Yeah—begitu, tidak mengapa.


Dibalik cahaya senja yang mulai tampak bersinar menyelimuti pemandangan, kemilau warna indah di sana. Buku catatan sedekat ini dengan harapan bergelantung dalam benak pikiran sambil menulis beberapa kata, beberapa bait nada.


Aku kembali ke hari itu. Di mana kala itu rangkaian pertama dalam cerita hidupku terjalin dan bermula cerita ini, saat berada berduduk diri ini di atas bukit yang tidak terlalu tinggi dari pandangan mata menatap ke bawah, santai buatku menikmati dan menatap pemandangan senja di langit barat. Bertatap buku fiksi yang di dalamnya tertera sebuah cerita tak elak harap, cerita kasih tak sampai. Paragraf dusta yang melanglangkan kalimat puja-puji terhadap sang kekasih yang nyatanya semua itu dusta.


Ujung cerita fiksi yang menyedihkan itu seakan tenggelam bersamaan cahaya senja itu, perasaanku juga ikut mulai redup.


Itu cerita cinta, kawan. Aku sekarang ingin mengingat cerita lain dari semua itu.


Tentang persahabatan


Tentang perjuangan


Sederet alunan bergema, mengalir bagai air tenang. Ini lantunan lagu lama, kawan. Antara bersantai dan tertawa atau marah sekalipun. Marah itu bagiku tidak baik, sangat berusaha kuhindari dari setiap hari yang berlalu. Setiap saat di waktu aku sibuk menata diri, bergeming sendirian.


“Kau tahu ikan paus? Ikan yang berenang di lautan sana, ikan yang berukuran besar lebih besar dari rumahmu, kawan. Dan di sana kau lihat perutnya.”


“Hahaa... perut ikan paus yang besar itu, kawan.” Suara itu kini teringat dan terbayang dalam ingatan.


Suara tawa dengan ciri khasnya. Siapa? Siapa lagi kalau bukan dia orangnya. Aku ingat betul masa itu saat dia tertawa dan aku tidak ingin menyebutkannya sekarang, nanti kurang keseruannya.


“Kau jangan sampai dimakan ikan paus dan membuat kehidupanmu berakhir mati di dalam perutnya. Kalau kau masuk ke sana, terima nasib saja. Bisa jadi kau akan mati dan berakhir menjadi lalapan di lambungnya. Berakhir menjadi tulang hingga menjadi kotoran, lalu kau akan terbuang dari pantat dan suara kentutnya, kotoran yang bersatu bersama air laut dan akhirnya kau musnah dari muka bumi ini.”


Dia mengatakannya seperti orang yang tengah serius. Menatap langit yang kala itu hujan deras dan tak sedikit pun ada cahaya matahari yang ternampak. Gelap.


Seakan hari telah malam. Syukurlah, tidak ada petir ataupun guntur. Hanya hujan yang menemani kami berdua sekarang.


Pondokan di tengah persawahan dan dia kala itu bercerita panjang lebar. Siapa? Siapa lagi kalau bukan dia orangnya. Sajak, dialah orang yang pertama kali mengucapkan perut ikan paus itu padaku. Menjabarkan imajinasi konyol miliknya.


Awal cerita itu bumbu ceritanya garing, membuatku seperti orang yang terpaksa mendengarkan. Tapi, di akhir imajinasinya akan kuberitahu bagaimana cerita imajinasinya itu bersambung ke cerita nyata yang membuatku termangu.


Kubilang jangan bingung. Hhehe, Perut Ikan Paus katanya. Beda jauh dari apa yang kupikirkan sebelumnya.


Sajak membicarakannya dengan gaya yang melebihi superman kehabisan ongkos taksi. Itu sebenarnya judul puisi yang entahlah bagiku ini seperti koran pagi, bacalah. Aku pernah bilang, bukan? Kataku ingin membuat koran yang terpanjang di dunia dan mungkin akan mendapat penghargaan dan konyol sekali imajinasi soal mendapatkan penghargaan. Intinya aku ingin membuat koran, tanpa harus repot dibebani oleh alur cerita yang terlalu.


Bakatku tidak bisa membuat alur cerita hebat seperti kebanyakan orang lain buat. Seperti kebanyakan yang laku di pasaran. Hidupku adalah bagian dari keseluruhan naskah ini yang tidak memberi banyak kesan terbaik buatku mengenang semuanya, mengingat deretan sang waktu yang memberiku kesempatan bertemu dengan seseorang dan memulai cerita ini.


Perut ikan puas. Inspirasi bisa datang dari mana saja, saat mengenang ucapan Sajak saat di persawahan dulu, terlintas dalam benakku ingin merangkainya dalam goresan tinta puisi. Dalam kesekian warna yang indah, mungkin. Atau bahkan kulupakan saja biar ada unsur misterinya.


Tidak, aku tidak ingin membuat unsur misteri. Dalam hal ini, aku percaya dengan kemampuanku sendiri, walaupun memang bisa kuberikan penjelasan bagai angka nol persen dalam hitungan matematika. Astaga, itu sungguh memalukan, kawan. Memang benar lagi kalau soal matematika hampir seluruh hidupku dulu membuat suatu kenangan yang bibir ketawa nikmat kala mengingatnya, bahkan aku payah dalam pelajaran matematika. Pelajaran yang memang mengharuskan diriku berhitung dengan otak dan pergerakan jari. Mengumpulkan sisa uang hasil bekerja di sawah membantu orang mencabut rumput hingga akhirnya aku bisa membeli alat hitung yang bagai kelereng ditusuk lidi dan menjadi sate. Itulah bentuk alat hitung zaman itu, bukan kalkulator atau alat digital yang disebut orang ponsel pintar.


Sajak berbeda. Dia jagonya matematika. Pujian guru pernah bergema di ruangan kantor kepala sekolah, aku pernah iseng mendengarnya. Menduga jarak yang lumayan mantap tertawa, mereka juga membicarakanku yang nilainya jelek bagai entahlah. Aku lupa soal perumpamaan apa yang mereka sebut tentangku dulu.


Aku bahagia mengetahui mereka menyebut namaku. Menyebut tentangku yang memang tidak bisa apa-apa. Kalau aku harus ikut tertawa bersama mereka, aku menertawakan mereka sebagai guru yang gagal mendidikku agar paham soal mata pelajaran. Karena penjelasan guru selalu kurasakan nanggung, saat bertanya malah dituduh tidak memperhatikan dan syukurlah Sajak selalu membelaku saat berdiri ditertawakan seluruh kelas. Lihatlah, dia temanku maju menjawab semua soal di papan tulis.


“Kau cemen sekali, kawan. Ini soal matematika gampang.”


“Iya, aku ini cemen. Nah, kau jagonya matematika, kan? Makanya bantuin aku, kuberi sesuatu yang pernah kudengar saat khatib berkhotbah di mesjid katanya membantu seorang kawan itu pahalanya besar, kau harus tahu itu.” Aku merangkul bahunya. Mencoba bergurau.


Sajak belum menjawab, aku lantas berbisik. “Ayo, cepatlah kau jawab. Aku sudah lelah di sini berdiri dari tadi.”


“Tenang, serahkan saja padaku. Eh, lepas dulu tapi rangkulanmu. Aku susah menulis kalau kau terus merangkulku seperti ini.”


Aku mendengarnya saat itu tersenyum lebar. Patah-patah melepaskan rangkulan di bahunya. Guru pun menatap geleng kepala, para murid lainnya jangan ditanya. Mereka sibuk tertawa dengan puasnya.


Dalam jangka waktu lima menit. Sajak lumayan kubilang seperti superhero yang menyelamatkanku dan dia berhasil menyelesaikannya dalam hanya waktu lima menit. Sekarang, coba tebak apa yang kudengar? Tepuk tangan. Semua murid kelas 5 SD itu kompak bertepuk tangan. Membahana di langit-langit.


Bahkan guru itu kini tampak tersenyum lebar menatapnya, lantas bilang dengan buku tebalnya, “Kau adalah penerus bagi bangsa kita, Sajak. Kau memang orang yang pintar dan berbakat.”


Pujian seperti itu hampir membuatku mengernyit kesal. Tapi, tidak apa. Sajak, dialah temanku, kawan dalam bahasa kampungku. Dia memang berbakat, juara satu lomba pengarang puisi dan juara kelas, jago matematika. Itulah bakat dari lahir yang siapa pun gurunya, Sajak bisa beradaptasi yang tentu jauh berbeda denganku. Bahkan selalu merasa penjelasan yang diberikan guru selalu nanggung dan membuatku sering bertanya dan sering mendapatkan hukuman.


Memang, mungkin otakku yang setengah dalam memahami setiap ucapan para guru. Tapi, aku senang saat dihukum aku bisa bermain-main bebas dan terlepas dari jam pelajarannya yang membosankan.


***


Perut Ikan Paus. Aku ingin tertawa, kawan. Mengenang semua itu di dalam benak pikiranku, mengenai masa dulu.


Judul puisi yang hari itu kutulis, terjadi sebelum aku memasuki dunia perkuliahan. Tapi, lupakan sejenak soal judul puisi yang aneh tersebut. Di balik judul Perut Ikan Paus, ada sebuah cerita yang membuatku kadang merasa bahagia dan tersenyum sendiri saat mengingatnya. Di dalam buku catatanku, tersimpan banyak kenangan.


Eh? Lupa. Selain ingin membuat koran yang terpanjang di dunia, aku lupa bilang bahwa juga aku ingin membuat catatan di sini. Bukan di tempat lain dan di tempat ini bagiku lebih gampang menulisnya dan mengingatnya seperti tetesan air terjun yang terus mengalir jatuh dengan derasnya. Yeah, aku sekarang kembali mengingat masa dulu, kawan. Masa itu ketika kami berempat jumlahnya berada di area persawahan, mandi lumpur.

__ADS_1


Area yang luasnya sepanjang mata memandang, kami berlarian saling lempar. Sajaklah di antara kami yang paling semangat melemparkan tanah.


“Hoouu.. kau tidak bisa mengenaiku, begitu saja kemampuan kau ternyata yang tidak bisa apa-apa.” Aku berlari lebih kencang, tertawa puas berhasil menghindari setiap lembaran Sajak yang meleset ke arahku.


Mengulu-ulu dengan gaya. Itu candaan frontal, kalau tidak kuat mental. Salah seorang anak seusia kami di kampung sebelah pernah menangis akibat candaan berbungkus hinaan tersebut. Berjam-jam saat itu untuk membuatnya ceria lagi dan mengatakan bahwa itu hanyalah kalimat bercanda yang kami terangkan. Ibunya datang menghampiri lebih galak dan menyeramkan tatapan matanya. Masa itu selalu kurindukan, alangkah beda dengan sekarang yang hanya bisa terkurung oleh perasaan cinta yang tak pernah usai.


Masih membahas persawahan yang kala itu kami berlarian memekik kegirangan. Bekas hujan sebelumnya, lumpur di sana ternampak lebih hitam pekat. Aku tertawa berhasil menghindari lemparan Sajak.


“Narak, kau curang!” Sajak tertawa paksa dengan suara lantangnya.


Menoleh ke sana. Gumpalan tanah yang digenggamnya seperti buah meriam yang hendak ditembakkan. Seperti peluru pistol yang hendak dilesatkan. Lagi dan lagi, aku berhasil menghindarinya dengan bernas.


Beberapa yang lain tampak berunding, berbisik satu sama lain dan ternyata kini mereka ikut membantu Sajak dan membentuk sebuah tim, bersepakat ingin melempariku dengan gumpalan tanah.


Kau tahu, kawan. Kala itu aku bagaikan seorang penjahat yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa kesalahanku? Kambing Hitam atas segalanya. Lihatlah, mereka sekarang menamai diri mereka sebagai tim pahlawan bernama trio superhero yang ingin mengalahkanku.


“Hei, apa kalian sudah cukup berundingnya, kawan? Ayo, serang aku!” Aku menatap tawa dengan juluran lidah.


“Narak, tunggulah serangan kami. Kau akan kami musnahkan dari muka bumi ini dan kami akan menyelamatkan bumi ini dari makhluk durjana seperti kau!” Sajak menyahut dengan intonasi yang superfantastis. Menatapku sebentar dan tidak lama mengalihkan tatapan ke timnya.


Dapat kupahami itu bagai memberikan kode rahasia. Ingin membentuk rencana, melakukan penyerangan terhadapku. Hei? Tungggu dulu, kawan. Mereka itu jumlahnya bertiga, sedangkan aku sendirian. Ini memang tidak adil, tetapi aku harus menerimanya karena di antara mereka sudah bersepakat dan setuju ingin menjadikanku sebagai lawan dan musuh terbesar yang pernah ada di muka bumi.


Dan tokoh pahlawannya adalah mereka bertiga. Sang penyelamat bumi dari menghalangi kedatangan makhluk luar angkasa dan ingin memusnahkannya yaitu aku yang mereka anggap meresahkan planet bumi. Percayalah, kawan. Ini semua akan memuat kalimat panjang dan saat aku menulisnya di buku catatan dulu, lebih banyak kertas yang kugunakan. Kalau kau merasa bosan dan mengantuk saat ketika membacanya. Saranku silakan kau bilang padaku dan berhentilah membaca tulisan yang membosankan ini.


Karena aku tidak pernah memaksamu untuk membaca cerita ini. Lebih-lebih lagi, aku ingin mengucapkan kalimat terima kasihku untukmu. Untukmu yang telah sudi membaca tulisan absurd punyaku.


Dulu aku pernah bilang, bukan? Aku tidak pandai dalam menulis, bahkan pernah juga kubilang editor naskah hari itu bahwa mereka semua geleng kepala saat menatap naskah punyaku yang memang kalimat dan alur ceritanya berantakan dan tidak keruan seluruh isinya, kemana arah tujuan, topik dan konteksnya? Itulah yang membingungkan. Tapi, aku tidak menyerah segampang itu, aku selalu mengendara percaya dan memulai hidup ini dengan penuh optimis dan bagiku menulis adalah jalan hidup yang kini berusaha kutempuh dengan maksimal dan bersikukuh membangun jati diri yang perlahan hari demi hari ingin kutegakkan.


Membangun jati diri ini mulai dari sekarang. Walaupun semua itu jelas teramat jelas memberatkanku dalam goresan kata yang tak banyak memberi makna. Seakan membuat kepalaku harus berkorban membanting logika, melupakan kata hinaan yang saat ini menjadi PR harian di setiap hari kulalui. Dalam helaan napas yang sama. Lelah sudah pasti.


Seperti sebuah makanan semu yang kumakan untuk menata hidup ini supaya lebih tertib, santun dan lega sambil sesekali menatap iba ke arah tungku api yang menyala dan berusaha supaya diri ini bisa memadamkannya. Membuat bangunan kukuh dan menjauhkan api itu dari membakar bangunanku. Dalam membangun motivasi diri, aku harus memadamkan api itu dari dalam batinku.


Aku ingin terus melangkah, tanpa adanya sebuah gumaman ragu, juga tanpa adanya sebuah penyesalan yang merupakan tekad beku yang selama ini ingin kubentuk.


Aku juga pernah bilang ingin menjadi penulis novel yang terkenal. Yeah—intinya aku suka menulis apa pun jenisnya.


Di tengah persawahan. Nada suara Sajak kembali bergemuruh memekik ke langit. Dua orang bersamanya tampak menatapku dengan tatapan mantap memperagakan akting mereka sebagai seorang pahlawan dan mengikuti apa yang dilakukan Sajak.


Kompak. Mereka melakukan aksinya di depanku sana dengan raut wajah superaneh yang pernah kulihat, bergaya dengan gayanya dan bersiap ingin melempariku dengan genggaman tanah, sejenis rasenggan Naruto. Sementara aku menunggu, memasang gaya santai dan masih enak menunggu serangan dengan bersedekap di dada, tanpa harus risau dan takut. Lagian itu hanya tanah.


Bukan sungguhan. Itu hanyalah sebuah permainan yang kami lakukan saat sedang gabut di tengah masa liburan sekolah, hari minggu dan bersenang-senang di sana.


Gumpalan tanah digenggaman Sajak sudah siap melempar. Satu-dua gerakkannya terhenti. Diam bersenandung pun tidak.


Dua orang itu menyusul. Mereka kompak melempariku dan kembali saat itu aku berlari bagai membelah awan. Mengikuti irama angin, menghindari tembakan lumpur tanah yang mereka gumpal dan lemparkan padaku. Hujan rintik mulai kembali turun.


Mereka terbahak sama kompak, aku juga ikut sama terbahaknya. Menertawakan mereka gagal menyerangku dan mereka menertawakanku karena saat aku berlari dan nahas suatu kejadian konyol terjadi, aku terpeleset. Jauh sekali pikiran mereka dari menyerangku saat itu, malah menertawakan. Padahal, itu adalah kesempatan bagus saat aku terbaring di kumbangan lumpur tersebut. Bagai berbaring di kasur. Rintik hujan itu seakan menyentuh lembut wajahku.


Langit dengan awan kelabu di atasnya. Kehidupan sering membuatku termenung sejak kecil. Mengapa ada air mata? Mengapa saat itu bagiku langit seperti sedang menangis? Aku sibuk melamun, menatap dan mempertanyakan hal demikian pada diriku sendiri.


Sajak menghampiriku dan mengulurkan tangan. “Bangunlah, kawan. Kau tidak mungkin tidur di situ, bukan?”


Dua orang bersamanya ikut mengulurkan tangan. Sekarang malah aku yang kini kebingungan. Dilema antara hidup dan mati. Eh? Kebablasan omong, maksudku adalah aku bingung hendak memilih uluran tangan yang mana? Hingga akhirnya aku memutuskan dan memilih bangkit sendiri, tidak ingin membuat salah satu di antara mereka merasa tersinggung.


“Kalian ini bagaimana? Bukankah aku penjahat yang ingin kalian kalahkan? Mengapa kalian sekarang membantuku?”


“Saat aku terpeleset, bukankah itu kesempatan bagus buat kalian menyerangku. Ayo, jelaskan kenapa kalian malah ingin membantuku?”


Aku mencerocos ucapan. Bahkan lebih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin mengalihkan topik dari hanya sekadar membahas terpeleset. Itu caraku dengan menajamkan ucapan seperti orang yang tengah marah. Tawaku hilang dan lenyap bagai berubah menjadi seekor singa dan mengaum dengan kerasnya.


Sajak menatap tidak ragu meminta maaf dan lanjut dengan gayanya, “Itu hanya permainan, kawan. Mana ada sungguhan, apa kau tadi merasa bahwa kami benaran menganggapmu sebagai musuh kami?”


“Hei, itu salah besar, kawan.” Sajak menyeringai, menirukan gaya pemain sepak bola favoritnya.


“Benar, itu salah besar.” Dua orang di samping Sajak kompak menyahut.


“Kita hanya bermain-main saja.”


Mereka tidak bisa diajak bercanda. Lagian maksudku hanya bercanda, mungkin candaanku itu memang garing dengan nada ucapan seperti marah. Padahal, aku hanya berkata apa adanya.


Tak lama aku tertawa. Mereka heran dan malah ikut tertawa bersamaku.


“Kalian ini mudah sekali tertipu.”


Aku menggumpal tanah dan melemparkannya ke masing-masing wajah mereka. Dan mereka tidak marah, malah terbahak dan aku lari lebih kencang untuk menghindar dan menyelamatkan diri.

__ADS_1


Sajak berteriak. “Narak, kau curang lagi!”


“Iya, itu curang namanya!”


Mereka berseru-seru dengan nada kesal, tetapi raut wajah mereka sama tertawanya, saling menertawakan wajah yang bercelemotan lumpur tanah.


“Siapa suruh lengah, kan aku adalah seorang penjahat yang tidak punya hati nurani, jadi wajar saja.” Aku tertawa bangga mengatakan dan mengingatkan soal akting yang sedang kami lakukan.


Para pahlawan itu juga maju kini tak banyak kata lagi dan kembali masing-masing menggumpal tanah. Melempariku dan aku kembali berlari dengan semangat menghindarinya.


Hujan semakin deras di langit. Salah seorang kakek tua tak lama usai itu menghampiri dari kejauhan. Berpegang payung di tangannya, lalu bilang cepat pulang. Itu orang tua salah seorang di antara kami, bukan orang tua Sajak. Itu orang tua salah satu dua orang tersebut.


Tanpa banyak bantah satu orang di antara kami berlari dan sebelumnya sudah berbicara pada kami bahwa dia tak bisa berlama-lama main, orang tuanya sudah memanggil agar kembali ke rumah. Sisanya hanya kami bertiga sekarang. Menatap salah seorang di antara kami yang terus berlari menyahut panggilan orang tuanya.


Dia beruntung punya orang tua. Aku hanya bisa membayang bagaimana kiranya sosok orang tua itu dan bagaimana jadinya kalau aku punya orang tua. Kemungkinan masa itu akan seperti dirinya. Dua orang bersamaku juga punya orang tua, hanya aku sendirian yang tidak mempunyainya.


Larinya cepat menyusul ayahnya di sana. Hujan di langit memang sekarang menjadi semakin deras. Satu orang lagi memutuskan hendak pulang dan pulanglah dia dengan tawa yang masih segar di wajahnya. Tersisa kami berdua sekarang.


Aku dan Sajak memutuskan juga pulang. Persawahan ternampak semakin kotor dengan kubangan lumpur yang tampak semakin pekat dengan suara ciri khasnya dan kesiur angin yang terdengar. Dingin.


Hawa udara saat hujan memang dingin. Dari pondokan rumah persawahan hingga saat kami berjalan pulang, cerita soal Perut Ikan Paus itu lumayan mampu membuatku lupa akan dinginnya badan.


“Perut ikan paus, kawan. Kau tidak akan mampu membayangkan apa yang diterima nasib seseorang yang masuk ke dalamnya akan berakhir seperti apa, bukan? Kalau kau bisa membayangkan makanan. Kau bayangkan saja lauk makan.” Sajak menjelaskan masih dengan gayanya.


Itu masih berada di pondokan. Kami beristirahat sebentar di sana. Hingga di tengah perjalanan ceritanya itu terus berlanjut dan aku terus menyimak cerita ikan paus yang hidup di kedalaman lautan yang bisa bisa dangkal. Sunlight Zone. Zona yang diketahui pada salah satu catatan yang mencatatnya dari lembaran ke lembaran, memuat tulisan atas permukaan air laut yang mempunyai kedalaman hingga 700 kaki atau(213 meter). Zona kedalaman itu masih bisa ditembus cahaya, disinari oleh cahaya matahari tentunya dan membuat zona itu memiliki suhu hangat. Sebagian besar hewan yang memang hidup laut. Sekumpulan makhluk yang bernapas dengan air. Mereka hidup di zona itu, begitu pula dengan photoplankton. Hewan yang menjadi bahan makanan utama bagi sebagian hewan laut di sana. Terutama ikan paus, kalau itu tidak salah referensinya, kawan. Karena aku juga pernah membacanya. Begitulah hidupku, kawan. Mengenai orang yang baru belajar, mengenal suatu bidang ilmu pengetahuan tanpa diri yang bersungguh-sungguh dengan tekad dan jiwa raga sehat. Belajar adalah hal penting dan diperlukan untuk mengetahui tentang kehidupan.


Aku banyak salah dalam hal ini. Sajak hanya menceritakan dan tidak melenceng dari pembahasannya. Beda jauh denganku yang kalau bicara bisa melebarkan permasalahan hingga kemana-mana.


Sajak pernah membaca soal itu dan aku tidak pernah menyangka cerita itu sampai pada satu titik temunya. Yeah—imajinasi miliknya berubah menjadi cerita yang tidak pernah kusangka. Cerita nyata dan berpindah dari imajinasinya menuju ke cerita nyata yang pernah juga kudengar.


Mukjizat terbesar yang terjadi pada salah seorang nabi. Saat di lautan lepas, setiap orang muslim yang belajar seperti kami pasti tahu mengenai cerita itu. Cerita tentang Nabi Yunus Alaihis salam.


“Kawan, kita selalu tahu inti dari cerita itu, bukan? Bahkan guru mengaji kita di mesjid sering menyebut-nyebutnya dan membahasnya dengan perumpamaan yang menakjubkan kita saat mendengarnya. Cerita tentang Nabi Yunus yang ditelan oleh ikan paus besar itu. Cerita yang membuat guru mengaji kita berdrama dengan fantastis menirukan suara ombak dan angin hingga rasanya membuat kita saling tertawa satu sama lain.”


Yeah, itu memang benar. Sekarang, aku mangut-mangut mendengarkan cerita Sajak yang kuakui dia pandai bercerita dengan gaya santainya. Terlebih persis sama dengan cerita yang diceritakan guru mengaji kami. Sebenarnya ikan yang memakan Nabi Yunus Alaihis salam adalah ikan Nun yang terdapat dalam tulisan arabiyah dalam Alqur'an surah Al-Anbiya ayat 87. Guru mengaji kami memberi nama ikan itu ikan paus. Di beberapa referensi dalam tahun saat aku sudah berumur memasuki masa SMA aku mendapatkan informasi mengenai nama ikan tersebut.


Banyak referensi yang kutemukan dan hasilnya mengatakan ikan yang menelan Nabi Yunus Alaihis salam itu bernama ikan paus dan itu kebanyakan referensi yang bersumber dari beberapa buku yang telah mengisi hari-hariku pada masa itu. Masa itu yang selalu kurindukan.


“Nabi Yunus Alaihi salam memberikan pelajaran pada kita, Narak. Tentang betapa kesabaran itu harus ada di dalam diri dan jangan sampai terpancing amarah. Tapi, kesabaran Nabi Yunus itu sudah luar biasa. Itu hampir membuatku tidak bisa melupakannya. Cerita guru mengaji kita saat di mesjid hari itu, selama 33 tahun lamanya Nabi Yunus berdakwah, hanya dua penduduk Ninawa yang mendengarkan beliau. Kau bisa membayangkan, bukan? Itu lama sekali hitungan waktunya.”


Aku menelan setegok air mulut ke dalam tenggorakanku. Merasa takjub dengan cerita tentang Nabi Yunus Alaihis salam.


“Selama itu lamanya. Iya, guru mengaji kita hari itu menjelaskannya. Itu seperti kita hidup berdampingan dan berhadapan dengan mereka yang berprilaku buruk. Kondisi kita mungkin akan benar-benar diuji dengan itu.” Kami terus berjalan.


“Yeah, soal itu guru mengaji kita jagonya. Dan saat ini sepertinya hujan semakin deras, kawan. Lebih baik kita berteduh, mencari tempat biar bisa istirahat.”


Suara itu terdengar samar. Tetesan hujan dan suara angin bergemuruh. Kami masih berada di area persawahan, hujan pun terus turun dengan derasnya. Di sana ada pondokan lagi dan kami beristirahat kembali. Beberapa saat duduk di sana, Sajak akhirnya kembali melanjutkan ceritanya. Hingga cerita itu sampai pada titik di mana drama menirukan gaya guru mengaji kami bercerita itu dimulai olehnya.


Lihatlah wajahnya itu sekarang, mengikuti setiap intonasi yang diucapkannya.


Awal cerita itu bermula, kawan. Tentang suatu masa di mana pada suatu hari, kesabaran Nabi Yunus sudah mencapai titik batasnya dalam menghadapi kaum Ninawa yang bisa dibilang keras kepala dan tidak mau beriman. Beliau pun secara manusiawi dengan kesabaran yang telah hilang itu berniat meninggalkan kaumnya, sebelum beliau pergi dari sana. Nabi Yunus Alaihis salam menyampaikan kepada penduduk Ninawa bahwa azab Allah akan datang pada mereka. Kemudian pergilah Nabi Yunus Alaihis salam dalam keadaan sedih, kecewa, dan marah. Campur aduk perasaan yang menyelimuti sanubari.


Di salah satu dermaga di Ninawa. Nabi Yunus Alaihis salam menumpang pada salah satu kapal. Itu guru mengaji kami dulu menyampaikannya dengan berbagai suara dan kala itu cuaca cerah di sana. Suatu hal yang membuat prasangka dalam batin bergema mengenai lautan akan baik-baik saja sampai tujuan. Nakhoda itu menyetujui nabi Yunus ikut berlayar bersama mereka, walaupun saat itu kapalnya sudah berlebihan muatan.


“Kawan, kita selalu tahu cerita itu, bukan? Guru mengaji kita bahkan lebih detail menerangkannya. Saat di tengah lautan, ombak besar dan badai terjadi. Awan gelap, tiupan angin kencang dan sang nakhoda sudah memerintahkan untuk membuang muatan ke laut. Hasilnya tidak ada kemajuan hingga pada akhirnya sang nakhoda itu harus mengambil keputusan pahit, yaitu mengurangi jumlah penumpang kapal. Berpikir pun saat itu mereka lakukan agar semuanya menjadi adil, penentuan siapa penumpang yang harus keluar dari kapal pun dilakukan dengan undian.”


Sajak mendongak sejenak ke arah langit, menengadahkan sebelah tangan kanannya seperti orang berdoa. Menampung air hujan yang tetesnya perlahan. Gaya berceritanya lumayan, itu hampir membuatku terbayang sosok guru mengaji yang hari itu menerangkannya pada kami.


Cerita Sajak kembali berlanjut dengan tatapan teduhnya. “Yeah, kawan. Kita akan selalu tahu cerita itu, bukan? Nabi Yunus Alaihis salam yang pada akhirnya beliau ditelan oleh ikan yang berukuran besar, bahkan guru mengaji kita dulu pernah bilang mengenai salah seorang ulama, Salim bin Abi al-Ja'd yang menyebutkan dalam kitab Tafsir Ibnu Katshir bahwa ikan besar itu ditelan lagi oleh ikan lainnya yang lebih besar sehingga keadaan di dalam sana gelapnya menjadi 2 kali lipat ditambah dengan kegelapan lautan. Selama berada di dalam perut ikan besar itu, Nabi Yunus mendengar tasbih yang berasal dari ikan-ikan besar dan ikan-ikan lainnya. Bahkan ia mendengar suara tasbih telur ikan yang tidak terhitung jumlahnya. Guru mengaji kita menjelaskan bahkan ahli-ahli tafsir pun berkata, Nabi Yunus sempat mengira dirinya meninggal. Namun, setelah beliau berhasil menggerakkan anggota tubuhnya, saat itu juga Nabi Yunus Alaihis salam memosisikan diri dalam keadaan yang khusyu, sujud dan berdoa kepada Allah.”


“Kesabaran yang panjang, kawan. Itu inti dari cerita yang pernah kita dengar. Guru mengaji kita yang saat itu menceritakan pada kita semua. Itu kejadian luar biasa, kalau kau yang masuk ke dalam perut ikan paus itu bisa jadi kau sudah mati, kawan.”


Sajak tertawa. Aku sama tertawanya, walaupun sebelumnya aku dibuat berkelana mengingat betapa kesabaran selama itu akhirnya berbuah hasil. Selama 40 hari bertasbih dalam perut ikan paus.


Dalam hal berada di dalam perut ikan paus. Ada memang beberapa perselisihan pendapat dan masyhur pendapat tersebut. Selama 40 hari berada di dalam perut ikan paus dan selama itu tasbih beliau terus bersuara, terus bergema menyebutkan dan mengakui diri sebagai orang yang dzholim.


Setiap peristiwa ada hikmah yang bisa diambil di dalamnya. Aku mengingat masa itu, masa di mana Sajak bercerita dengan gayanya yang hingga sekarang itu masih segar kuingat dan mengenai itu tepat pada masa saat sebelum memasuki perkuliahan. Aku menulis sebuah puisi berjudul Perut Ikan Paus yang kuakui semua itu terinspirasi dari sejumlah cerita tersebut. Antara hujan dan cerita tentang seorang nabi yang membuatku semenjak saat itu merasa ada sebuah getaran dalam jiwa untuk beristighfar, memohon keampunan terhadap dosa-dosa yang ada di dalam diriku ini. Berharap pada satu pengharapan semuanya akan terhapus seperti coretan pensil, seperti kerak arang pada panci yang digosok dengan spons kawat atau hal alternatif lainnya karena di kampungku kalau ada kerak pada panci, caranya cukup digosok dengan spons kawat.


Walaupun memang itu butuh berjam-jam dan hasilnya lumayan sedikit putih dan masih ada bercak-bercaknya yang sulit dihilangkan. Yeah, Sajak. Kita memang akan selalu tahu mengenai cerita itu karena dulu kita hidup dan tumbuh bersama salah seorang guru mengaji yang suka bercerita dan bahkan lebih bersahaja, lebih detail dalam menceritakannya.


Itu bukan cerita fiksi yang diceritakan guru kami, bahkan ada banyak cerita lainnya yang jelas terpercaya, bersumber dari jejak perawi hadist dan kitab suci Al-qur'an. Lagi, cerita yang diceritakan guru kami kadang bersumber dalam uraian dan penjelasan para alim ulama mengenai semua itu dan tersusun dalam kitab-kitab yang terlebih tebal halamannya.


Dalam tetesan hujan yang perlahan reda itu, kami memutuskan pulang. Cerita Sajak pun telah usai dia jabarkan padaku dengan mengambil sisi bagusnya dan mengenai ending dari semua itu kami sudah tahu, kami punya banyak hal untuk diingat sebagai kenangan seorang teman dan seorang kawan dalam bahasa kampungku.


“Perut Ikan Paus, kawan. Kau tahu perut paus yang besar itu.”

__ADS_1


Begitu katanya yang masih terbayang dalam ingatan kepalaku, sampai sekarang.


__ADS_2