
Aku ingin membuat koran. Lebih nyaman tentunya. Bukan memuat berita, melainkan memuat kalimat kasih sayang di dalamnya. Entahlah, semoga saja kekuatanku mampu dan bisa membuatnya. Koran terpanjang di dunia atau koran paling lebay terserahlah.
Aku di sini. Negeri Gajah Putih, masih terdiam menatap, membaca pelan surat dari sosok kekasihku. Berulang kali agar melekat kuat di dalam ingatanku. Dia juga sama, tidak menaruh nomor ponsel di dalamnya.
Hujan yang sama dengan hari itu. Langit menumpahkan air jernih. Gemuruh angin terdengar. Kutatap keluar jendela dan suaranya kudengar merdu. Hawa dingin yang terasa. Ini koran pagi, bacalah.
Tahukah dari sesuatu yang ternampak di penglihatan ada sesuatu masalah yang apakah atau apalah, koran namanya. Justeru kemungkinan ada penjelasan yang bisa dimengerti dari semua ini atau tidak sama sekali.
Apakah tulisan ini bisa dibaca? Bisa. Tulisan ini bisa dibaca jelas. Maaf, tulisan ini tidak memberi banyak kesan terindah, seberapa banyak kandungan kalimat yang mampu kurangkai. Aku telah lama ingin mencoba hal baru, telah lama ingin tahu sesuatu yang sama sekali tiada hubungannya.
Dalam kesunyian yang rentan membawa kesedihan. Dalam iringan musik, lagu-lagu eropa atau klasik sama saja bagiku. Inilah perasaan yang sekarang kurasakan.
Mengiringi tetesan air hujan yang jatuh ke muka bumi. Dari langit awan-awan bergerembul. Warna dan luka dari masa lalu seakan memberitahuku kesendirian lebih baik atau bersama seseorang yang mampu menghabiskan hari dengan ketenangan.
Berbagi cerita suka maupun duka. Menghabiskan segala macam rasa yang tersisa dalam hitungan kekosongan. Jiwa yang telah lelah mengingat semuanya, menghadapi masalah dari hari ke hari.
Senyuman dari kesederhanaan kata memuat ajang perlombaan dalam keseringan kata bermandi keputusasaan. Terlalu lama diri ini terdiam, menatap lampu ruangan kamar yang sekarang ditemani suara hujan dari luar.
Ini hampir sama seperti dulu. Hampir membuatku tahu mengenai cinta yang hilang, cinta yang telah beralih profesi dari tukang kayu ke tukang bangunan.
Bernapas. Mendongak atau mandi di bawah tetesan air hujan. Iya, mandi saja biar bersih, tetapi jangan lama, nanti sakit.
__ADS_1
Benar. Ini hanya sebatas koran. Sesukaku menulis. Orang lain cukup tertawalah agar lebih nikmat sambil minum kopi. Bukan apa-apa, melainkan aku hanya ingin tahu sebatas mana bisaku menggambarkan sosok sang kekasih yang terhalang jarak beribu kilometer dan mengenai kerinduan yang sangat mendalam. Kosa kataku hampir tak mampu mendeskripsikannya.
Perasaanku sunyi. Debar jantungku merasakan sesuatu yang entah bagaimana terasa seperti bola salju raksasa yang dilepaskan dari atas bukit dan meluncur hingga berakhir ke sungai.
“Kau gila!” Aku teringat salah satu komentar yang kubaca di salah satu forum. Lihatlah, kegilaan atau apa? Sudahlah, berdamai saja.
Seberapa asyik rasanya kala menulis komentar negatif? Seru sepertinya, bagiku lebih baik diam atau pergi tanpa penjelasan. Di zaman yang serba canggih, orang lain bebas berkomunikasi. Kebebasan tanpa kendali dari pengikat bagai kuda liar tanpa kekang. Ia akan bergerak leluasa menghancurkan suasana atau menyakiti orang lain, kuda liar yang berdiri di bawah tetesan air hujan.
Hujan. Kenangan lampau yang terlewat dalam iringan napas menghela raga. Melalui kata acak kutemukan senyuman dan rasa lapang dari kesedihan. Catatan harianku berserakan dengan kekesalan.
Aku kesal menatap berlama-lama senyap. Bingung sendiri, entah mengapa aku sering begitu? Aku tidak ingin tahu lebih banyak mengenai hal yang membuatku tak nyaman pikiran. Bagiku saat ini cukup berdiam tanpa mengenal lebih banyak tentang kesedihan.
Membayangkan suatu lawakan yang mampu membuat perasaanku tentram dan berharap semoga hilang keputusasaan.
Bersatu dalam mahligai pernikahan.
Aku tidak ingin pacaran. Membayangkan Wapta menjadi istriku telah membuatku bahagia, apalagi kalau aku menjadi suaminya nanti. Aku menghela napas, mengusap mataku yang sedikit berair.
Rindu ini telah menghangatkan sanubari. Air mata pun sama keluar tanpa kukehendaki.
Rindu teramat rindu yang sering kali kutuliskan di dalam lembaran kertas. Baik tulisan maupun ketikan komputer. Menyimpannya dan selalu membaca ulang kata ke kata.
__ADS_1
Sedih. Bahkan terasa perih dan obat penyembuhku saat ini hanyalah menulis. Entah tulisan mengenai apa? Terserahlah, aku sudah bingung mendapati rasa yang berkecamuk di dalam diriku. Terbayang lautan yang luas, berlayar menempuh samudra hingga berakhir menemukan harta karun yang mampu membuatku tenang.
Sepertinya hujan mulai mereda. Tetesan airnya berhenti jatuh. Aku masih berbaring menatap ke arah lampu ruangan. Sendirian tentunya lebih asyik. Begitulah sekiranya ingatanku saat ini bersama kesendirian, bersyukur mengingat tentangnya yang hampir membuatku sadar betapa aku bukan orang penting di dunia ini, melainkan hanya orang biasa yang bisa dilupakan begitu saja.
Terima kasih ....
Ada banyak hal yang tidak bisa kukatakan secara langsung. Salah satunya adalah terima kasih. Aku terlalu lebay di dalam tulisan. Pada kenyataannya mengucapkannya saja bibir ini akan kelu, terdiam beribu bahasa tanpa orang tahu aku sedang bersedih dan lain sebagainya.
Terkadang irama musik membuatku nyaman sendiri. Di tengah hujan yang mulai mereda. Aku memutuskan bangkit dari berbaring, mencoba menghilangkan bayangan Wapta di dalam benakku.
Ada banyak hal selain Wapta yang bisa kupikirkan dari segala kata di buku berjilid tebal, tetapi bagiku mengingatnya walau hanya sebentar adalah suatu keharusan di dalam hari-hari yang kujalani. Seakan telah menjadi kebiasaan terindah. Seolah telah mengakar kuat menembus ke dalam lapisan tanah yang terdalam.
Jika ada yang bertanya mengenai kerinduan ini, cukuplah aku akan menjelaskannya sekadar ketinggian pohon yang sering disentuh angin, dedaunannya melambai. Kenangan bersamanya itu sering muncul, berdatangan tanpa diundang bagai angin. Ingatanku sebesar dan setinggi pohon yang tadi kumisalkan.
Hatiku terasa panas. Dibakar oleh api kerinduan yang terus-menerus berkobar membabi buta penglihatan. Terlebih ini sering terjadi yang membuat malamku tidak nyenyak tidur membayangkan sosok sang kekasih yang nun jauh di sana.
Sebagaimana tetesan air hujan yang tak mampu kuhitung. Begitulah kerinduanku yang sama dengan tetesannya. Hujan yang sama menurutku dengan perasaan rindu yang saat ini ada di dalam sanubari bak awan mendung bergerembul, lantas jatuh memberikan tetesan air yang membasuh bumi. Bersih, sejuk dan lain sebagainya.
Aku telah lelah mencoba melupakan Wapta. Sosok dirinya selalu hadir di dalam ingatanku. Lebih dari apa pun. Membuatku tahu arti kesederhanaan dari kata rindu yang cukup ingin bertemu. Kapan?
Aku ingin terbang ke sana. Hanya saja, ada kegiatan yang tak mampu kutinggalkan. Tahukah negeri gajah putih seperti mengikatku dengan berbagai alasan. Aku disibukkan bersama jadwal yang membingungkan.
__ADS_1
Fokus kuliah. Itulah yang saat ini kujalani, tetapi aku tak akan membuatnya panjang lebar mengenai kuliah. Itulah kehidupanku yang spesial, tak perlu kuberitahukan.