
Nama seseorang, cinta, dan harapan dalam satu tujuanku menyirami suburnya tanah dan bertumbuhnya tanaman. Itu harapan.
“Kau tidak bisa mencampur harapan dengan egomu, teman. Itu akan kacau, atau lebih-lebih lagi harapan kau itu malah kau campur dengan khalayan yang jauh sekali berbeda dengan kemampuanmu. Contoh sederhana, pengiun yang berharap ingin terbang tinggi di langit dengan sayapnya, apa ia bisa terbang di langit dengan sayapnya? Ayam dengan kedua sayapnya, tidak bisa. Harapan itu beda dengan ego dan khalayan.” Temanku terus bercocok mulut, tajam menegahku.
Aku terdiam, menatap lamat lamat tumpukan barang lama. Tanpa bisa kupikir lebih cepat, segera saat itu kucek ulang segala macam tumpukan kertas tersebut. Sekarang diri ini hanya bisa menatap berkas lama. Lihatlah, betapa usang lembaran kertas yang kupegang.
Sebelumnya tentang suara temanku, itu perkataannya dulu yang masih membekas hingga kini dalam benakku. Persis sama seperti pemahaman yang dikatakan oleh seorang wanita bernama Lita Aksima, hanya saja semua itu sedikit berbeda dari cara bicaranya dan gaya bahasa.
Gedung atas, aku berada di sini sambil berbenah membereskan tumpukan barang. Tidak pernah kusangka di sana tergeletak sebuah catatan lama yang membuatku sedikit tidak sadar mengenai semua itu.
Berdebu. Aku menyapunya dan melihat jelas itu adalah tulisan tanganku.
Aneh? Itu yang tebersit dalam kepalaku. Betapa itu catatan lama, berdebu dan bahkan membuat kedua keningku mengernyit. Pantas saja, kalau itu dibaca editor naskah pasti dia akan tertawa.
“Tulisan macam apa ini?” katanya terkejut. Memerhatikan catatan lama punyaku, baiklah itu hanyalah khalayan.
Mana ada, begitu gabutnya kah editor naskah itu sampai rela menghabiskan waktu berharga miliknya hanya untuk menatap tulisan yang seperti itu, tidak digaji pula. Makan angin, kembung dan mungkin lambungnya akan membesar bagai balon yang naik ke awan dan meletus, pecah ke paruh burung. Gugur ke tanah dan ya begitulah akhir ceritanya.
Tulisanku memang jelek, aku juga hampir tertawa dan yeah itu surat kesekian kalinya aku bisa melihatnya menjadi debu.
Hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Ini bagiku seperti kejutan yang kutemukan, kertas surat cinta pertamaku padanya yang sampai saat ini tak kunjung kukirimkan. Upps.. bukan surat cinta, melainkan lebih tepatnya surat rindu untuknya yang telah lama tidak ada kabar. Seharusnya terbalik, akulah yang kala itu tidak ada kabar. Dengan keanehan pada kata katanya itu ingin sekali kuubah dengan wah, tetapi tidak bisa karena itu adalah lebay dan tidak kusukai dalam arti yang sesungguhnya.
Dan tulisanku memang lebih lebay lagi dan tidak sinkron, itu keanehan yang saat kulihat aku garuk kepala dan duduk di salah satu bangku menggumam. Mengapa dulu aku menulis catatan ini? Pegangan tanganku dalam memegangnya terbilang cukup erat. Itulah juga pertanyaan ringanku menatap tulisan yang seperti itu.
Aku tidak banyak berubah tentang kataku cuma sebatas itu, tentang tulisanku masih saja berantakan seperti kata Jazu, lebih baik mungkin kukubur saja dalam dalam.
Kau tahu nama asliku memang Narak dan itu kubuat kepanjangannya biar beda sama orang di luar sana yang tidak mempunyai kepanjangan nama, Narasi Kerinduan.
Aku memang selalu merindu akan Wapta. Sesuai nama kepanjangan yang kubuat. Narasi kerinduan terhadap Wapta. Kalau Wapta itu berbeda, itu bukan nama aslinya.
Narasi kerinduan ini tidak lain tertuju kepada satu wanita permaisuri tercinta di dalam ruangan sanubari. Dialah Wapta yang kusingkat tanpa diketahui olehnya.
Kejadian itu usai lama menjadi kenangan yang akan selalu membuatku tersenyum dan berbahagia, tempo dulu saat dia tertawa menertawakanku saat jatuh dan terjadi musibah dari sepeda. Cuaca sedang mendung, musibah itu amat memalukan.
Aku telat ada janji kesekian ratus kalinya ingin membantu menyiram tanaman si tetangga yang bagiku dia itu rumit. Padahal, hari itu mendung, tanaman itu bisa saja tidak perlu kena siram, air hujan mungkin akan segera turun menyapanya.
Ban sepedaku terperosok ke salah satu lubang. Apa itu namanya? Trotoar, mungkin selokan atau apalah? Aku tidak tahu namanya, silakan kalian tertawa, aku memang tidak banyak tahu. Persis ban sepedaku terperosok di sana, Wapta di depanku mengusap dada, kaget bukan kepalang. Tapi, tak lama dia tertawa.
Tentunya ketika saat dia melihatku garuk kepala dan membenarkan posisi sepeda yang usai menjadi kotor. Sudah kubilang aku jatuh dari sepeda, yang terperosok ke sana adalah cuma sepedanya, sedangkan aku tergeletak di dekatnya, hampir saja.
Wapta saat melihatku yang sedang garuk kepala dan canggung, dia tertawa. “Kasihan kau, Nar. Makanya kalau ninjak sepeda itu, jangan cepat cepat. Tuh, kan nyasar ke tempat kotor, itulah akibatnya kau tidak berhati hati dan tidak fokus.”
Aku hanya bisa mangut mangut nyengir, tidak habis pikir bagaimana caraku dalam menjelaskan kepadanya, tidak mungkin juga kujelaskan semuanya dengan jujur. Ini soal dan perkara perasaan, kawan.
__ADS_1
Kalau kujelaskan saat itu sepedaku oleng karena menatap raut wajah Wapta kala itu. Membuatku gugup untuk kesekian kalinya rasa gugup yang kualami. Sepedaku malah menyasar ke salah satu tempat kotor seperti yang dikatakan Wapta. Syukurlah, pakaianku tidak, hanya sepedaku dengan kedua bannya yang berada di tempat kotor.
Puas tertawa, dia akhirnya membantuku membenarkan rantai yang habis copot karena terkena bidang trotoar atau selokan atau apalah. Persisnya benda keras bertabrakan satu sisi ke sisi hingga rantai itu copot dari tempatnya. Eh? Copot, entah mengapa diksi itu kurang sesuai, mungkin lebih tepatnya lepas rantai dari gerigi tajamnya yang kira-kira 43 jumlah gerigi yang membuat rantai itu bersambung dan saat ditinjak(dalam bahasa daerahku) ia memelesat, lari seperti seekor kucing pembalap, kenapa tidak kusebut kuda?
Bagiku kendaraan mesin roda dua itu kuda dan sepeda tanpa mesin. Mungkin, sama saja seperti larinya kucing, entahlah.
Ribet menjelaskannya. Terlebih ingatan itu samar samar, satu hal yang kuingat adalah soal itu aku tidak pernah menyangka dalam hidupku. Hari pertamaku bersekolah di salah satu SMP, tidak pernah kusangka dibantu oleh salah seorang yang selama ini kuperhatikan sejak lama dalam diam, selalu kuperhatikan dan menunggu raut wajahnya tersenyum, sejak saat itulah aku memulai semuanya, memberanikan diri usai selesai membenarkan posisi rantai, saat itu aku percaya diri menyebutnya Wapta, tanpa canggung sedikit pun.
“Terima kasih, Wapta.” Kalimat pertama dulu yang kumulai dengan sunggingan di wajah, termanis tersenyum—mungkin.
Aku lupa ekspresi apa yang kupasang kala itu mungkin garuk kepala sambil ngenyir karena merasa bahagia telah dibantu olehnya. Senyumanku tidak hilang. Persis tujuh hari tujuh malam lamanya, moment itu tidak henti-hentinya aku bersyukur.
Seseorang wanita di hadapanku itu menatap heran dan sepertinya kutebak dia tidak terima dengan sebutan itu. Apakah aku seorang peramal? Tidak, kawan. Sudah pernah kubilang ini adalah cerita flashback dari hidupku yang tengah kutulis sendiri.
Itulah alasan mengapa aku sering menyebutnya kadang mendahului kodrat dalam bercerita seakan tahu sekali apa yang terjadi, jelaslah aku bukan seorang peramal, melainkan hanya seorang pelajar ambyar dengan masalah sederhana tentang masa lalu yang bertubi tubi dalam mengguncang isi benak pikiran, perasaan dan cinta yang masih kupegang sampai saat ini, tak pernah hilang. Cinta yang bagiku adalah suatu anugrah terbesar.
Wapta menyetop dengan tangannya. “Eh? Apa tadi kau bilang? Bisa, kudengar lagi sekali, aku yang salah dengar atau bagaimana atau kau sedang mengingau?”
Wapta berkata demikian. Aku beralasan apa perlu kusebut lagi, tetapi dia mendesak dan baiklah, aku mengalah dan terpaksa harus mengarang alasan yang wajar agar semua ini menjadi jelas. Pertama tama saat itu bertele tele dulu menyebutkan ini dan itu tentang rantai yang sudah baik seperti semula dan bisa ditinjak(dalam bahasa daerahku)dengan itu aku bisa melanjutkan meninjaknya untuk memelesat kembali dijalanan, itu tidak luput berkat bantuan darinya yang kala itu ikut membenarkan rantai yang lepas dari gerigi sepeda. Usai menjelaskan, saat itulah aku kembali mengatakannya persis seperti sebelumnya.
Yeah—berterima kasih dengan kalimat persis sama menyebut Wapta. Itu kuulang penuturan kalimat sebelumnya, tanpa ingin menjelaskan lebih banyak dan berkutat lebih lama dalam mencari jawaban.
“Wapta? Apa mungkin kau mengingau di siang hari begini, jadi tadi aku tidak salah mendengarnya. Kau sebut aku Wapta? Bukankah kau sudah pernah mengenalku, kau juga sudah tahu namaku itu bukan Wapta, sembarangan!”
Nada ucapannya memang dari dulu terkenal ketus dan sejak dulu aku memperhatikannya. Entahlah, bagaimana sekarang antara waktu dan perubahan. Wapta sepertinya sudah banyak berubah, bahkan saat surat pertama kali datang ke negeri Gajah Putih, bahasanya rapi dengan begitu kutahu mungkin sekarang dan dulu sudah banyak berubah dari satu hal ke hal lainnya. Aku tidak mengapa akan demikian.
Gelar itu tidak serta merta aku tengah menghinakan seseorang, itu adalah bentuk kehormatan yang kuberikan langsung pada seseorang, entah siapa pun itu. Seperti Jazu, itu bukan nama aslinya. Jazu singkatan dari Jangka Zaman Urban.
Hanya aku yang tahu apa itu Jangka Zaman Urban. Aku enggan menjelaskannya, nanti kalau Jazu membaca tulisan ini, malah dia kegirangan dengan sebutan yang kuberikan.
Wapta saat itu sedikit tampak heran. Dia bersedekap. “Gelar, aneh?” Matanya seperti mengisyaratkan akan sebuah keanehan.
“Itu bukanlah aneh, Wapta. Itulah gelar kehormatan yang harus kau tahu, gelar itu sudah kuberikan kepadamu.” Aku mendramatisir, serius.
Itu memang adalah gelar kehormatan yang teramat sangat mulia di depan mataku.
Bagiku dan andai kau tahu Wapta, itu bukanlah hanya sekadar singkatan kehormatan semata, melainkan juga itulah bentuk kecintaan terbesarku terhadap dirimu. Kaulah yang kuberi gelar Wapta—Wanita Permaisuri Tercinta.
Inilah arti dari sebuah nama gelar yang kuberikan padamu kala itu. Untuk sejenak menghilangkan canggung di antara aku dengannya, aku beralih topik membicarakan hal lainnya dengan berbagai alasan dan soal kepanjangan nama Wapta itu tidak pernah sekali pun kusebutkan kepadanya, walau bagaimanapun dia memancing untukku menjelaskan.
Wapta mulai menggerutu. “Aku tidak percaya apa pun ucapanmu yang sok keren itu, ditambah sekarang kau malah berbelit belit. Bukankah itu sudah jelas kau hanya berkata omong kosong!”
Mendengar itu benar juga, aku terlalu over kapasitas dalam bicara. Sejenak aku menghentikan mulutku yang tadi sempat bersuara, lanjut menatap keren.
“Wapta, kau sendiri kutebak tidak tahu arti yang sesungguhnya dari nama itu, bukan? Itu spesial untukmu.”
__ADS_1
Dulu entah mengapa saat berbicara dengan Wapta, rasa gugup yang kupunya tidak menghalangiku dalam berbicara, lebih leluasa mengeluarkan isi benak pikiranku.
“Spesial? Ya—ya, kalau itu spesial, lalu apa artinya, jelaskan padaku!” Wapta berhenti menggerutu, seperti orang yang tengah dilanda atmosfer penasaran, dia bertanya.
Dia bertanya padaku seperti memastikan mengenai arti dari nama tersebut.
Aku sudah berniat tidak ingin memberi tahukan itu kepadanya, “Sudah kubilang itu spesial, hanya aku yang tahu artinya.”
“Kau itu keterlaluan! Jangan pernah membuatku penasaran. Cepat, beri tahu aku atau sepeda kau ini kubuang ke sawah!” Wapta kala itu memelotot, lebih tajam menatapku.
Dunia ini sedang siang hari, terik mentari yang ditutupi awan mendung dan lalu lalang kendaraan. Sebelumnya saat aku jatuh dan sepeda itu terperosok ke trotoar atau selokan atau apalah itu namanya, tidak ada orang. Jalanan gang kala itu sepi dan sekarang aku bisa menatap beberapa kali orang, berlalu lalang kendaraan dan Wapta yang memelotot agak kurang terasa atmosfer kengeriannya.
Membuatku kembali tertawa, sawah tidak ada di sini. Itu jalanan yang sering dilalui kendaraan, mana ada persawahan? Itu tidak mungkin bisa, hanya alasan Wapta yang berlebihan. Salah satu ada jalur kereta di dekat sini, yang di sana jauh menempuh puluhan kilometer jaraknya baru ada sawah. Dan itu jauh tempatnya, rel kereta menempuh perjalanan selama tiga puluh menit baru sampai ke tempat persawahan.
“Kau heran bisa tertawa mendengar kataku tadi menyebut sawah. Perkenalkan, itu adalah sawah, nama stasiun kereta yang kuberikan nama gelar kepadanya, persis kau yang memberi gelar Wapta kepadaku. Puas tertawanya? Sepeda kau ini akan kuletakkan di rel kereta dan kau tahu kereta itu akan menghancurkannya dan meremukkannya. Kubilang apa kau puas tertawa? Kau puas tertawa?”
Suaranya mencerucus begitu saja, baiklah ini rumit. Aku sedikit memelankan suara tawa yang kuatur agar tidak berlebihan.
“Kau galak, tapi aku suka dengan sikap galakmu. Oh, ya. Arti nama Wapta itu ada di langit yang terang benderang.” Sejenak aku terhenti menjelaskan. Mengapa mulutku seperti orang gila yang berkata?
“Kau tahu Galaxy Andromeda, milyaran perjalanan cahaya. Wapta, ia adalah...,” lanjutku kembali terhenti, memikirkannya.
Ayolah, aku sebelumnya tidak pernah ingin mengatakan itu dan kenapa mulutku berbicara sendiri menyebut Galaxy Andromeda, milyaran perjalanan cahaya katanya. Apakah itu karena gugup? Itu menyebalkan, kawan. Mulut kau kenapa? Kau kenapa? Bagaimana mungkin mulutku ini bisa berkata hingga menyasar ke sana.
Sungguh, bukan itu maksudku. Arti dari nama Wapta adalah Wanita Permaisuri Tercinta. Itu maksudku yang sebenarnya, mungkin karena basa basi yang membuat mulutku bicara hingga ke segala arah. Wapta menatapku tidak main main.
“Adalah apa?” Wapta menaikan volume suara, sepertinya ingin tahu apa maksud ucapan sebelumnya yang kukatakan kepadanya, tidak penting sebenarnya.
“Adalah aku tidak tahu.” Aku tertawa seperti orang gila kesurupan.
“Kau terima saja. Menolak pemberian orang lain itu mubazir,” lanjutku memberi suatu penguat kata, mubazir seperti makanan yang diboleh dibegitukan.
Wapta kian memelotot tajam, memerotes kata mubazir yang kuucapkan. Itu ucapanku memang tidak nyambung, aku mengakuinya dan mencoba menjelaskan perkara lain dan kau tahu tidak pernah kusangka dalam benak dan seluruh perasaan dan jiwaku bahwa pada akhirnya Wapta menerima gelar yang kuberikan.
Aku bersorak dalam batin senyaring yang kubisa, masih mempertahankan segala tameng itu agar tidak ketahuan.
Ya, dialah Wapta, Wanita Permaisuri Tercinta, saat itu hanya aku yang tahu.
Kala itu aku lebih leluasa berbicara dengannya menggunakan bahasa lancar seakan tanpa beban, berbeda sekarang dengan gaya kaku dan tidak mampu berbaur dengan lingkungan sekitar.
Ini.. sepertinya sudahlah, aku pun sudah banyak mengingat-ngingatnya. Itu masa lalu yang kata Lita Aksima seharusnya aku bisa melupakannya dan menjalani hidup ini selalu dengan senyuman, tabah menerima.
Doaku untukku sendiri di malam nan sunyi, tak satu pun orang yang tahu. Kalimat apa? Dan apa pintaku kepada Sang Pemilik Semesta. Bagiku sekarang, mengingat ingat itu juga untuk apa? Kalau dipikirkan aku selalu kalah dalam berdebat.
Aku jadi teringat kisah lama. Batu kerikil yang kulemparkan ke dinding. Bunyinya itu pun terdengar di telinga, indera menebaknya, sayang kupikir kena ternyata tidak, itu hanya terkena papan penyangga.
__ADS_1
Fatamorgana bercampur imajinasi ambyar. Dengan dugaan yang tak mendasar.
Lelahku seakan ingin menyerah. Pada dunia yang tak lagi sama, pada jati diri yang sudah tidak ada. Beberapa kali orang bicara ini dan itu, terkesan penting dalam hidupku satu per satu usai kini mereka telah pergi, bahkan saat aku menyadari kesalahanku. Maafku berulangkali tentang ini, tentang semua hal, kurasakan betapa rasanya adalah rasa pahit dan getirnya napas kuhela. Lirihku terdiam, diri yang meronta iba dalam tingkatan tangga, tinggi menyentuh dataran bulan hingga membuatku terhempas dalam lamunan yang tak kunjung usai. Mengenai sinar dan tatapan yang semata hanyalah kenangan.