Daur Ulang

Daur Ulang
Editor Vs Penulis Gabut


__ADS_3

Malam hari itu. Di suatu ruangan khusus sedikit sempit terasa susah bernapas. Aku duduk diam merasakan hawa merinding, menatap seseorang yang mengecek naskah demi naskah. Itukah dia sang editor naskah yang terkenal itu. Iya, memang dia orangnya.


“Cih, mubazir kata!” Dia mendengus.


Sejenak diam. Kosong melompong pikiranku disertai rasa gugup yang bersahutan. Berdam-dam seakan ada orang yang memukul drum. Memang editor satu ini terkenal galaknya luar biasa.


Salah seorang penulis konon katanya demam tujuh hari tujuh malam. Saat ini aku memberanikan diri setelah sholat maghrib mengadakan janji jauh-jauh hari sebelumnya. Kesempatan bagus memang takdir atau apa editor yang terkenal galak itu sedang berwisata di Thailand.


Aku bisa bertemu, menganggapnya sebagai suatu keberuntungan luar biasa dalam hidupku. Setelah sekian lama tiada trauma apa pun lagi yang kurasakan.


Wajah editor mengernyit. “Tulisan macam apa ini? Berantakan sekali.”


“Kau penulis karpet! Naskah ini tidak ada unsur alur cerita di dalamnya!” Editor melantangkan suara.


Aku menelan ludah. Apanya yang tidak ada unsur cerita di dalamnya? Astaga, ini editor parah sekali ingin kupukul.


“Tulisan kau ini seperti puisi, tetapi saat kulihat lebih teliti tidak juga. Lalu tulisan macam apa ini?”


“Maklumi saja, kau harus tahu aku menulisnya saat gabut.” Kujawab dengan tatapan mantap, suara tegas.


Editor naskah tertawa sadis. “Gabut? Kau memberikan naskah yang kau tulis di saat kau gabut, lalu apa kau pikir pertemuan kita sekarang ini gabut juga, haah?”


Aku menggeleng. “Tidak, aku tidak sedang gabut. Pertemuan ini serius, aku ingin tahu segala macam kesalahanku—”


“Kau ingin tahu kesalahanmu? Kesalahanmu itu sangat fatal!” Editor itu menyergah.


“Apa? Sebutkan.” Kujawab mantap, menatapnya tanpa ragu sedikit pun.

__ADS_1


“Tanda bacamu salah, tulisan yang seakan tidak memiliki alur cerita, mubazir kata, banyak plot hole dan tambah susunan kata yang kau tulis susah dimengerti, bahkan jauh dari kaidah-kaidah penulisan dan tata bahasa!”


“Kau tahu naskah seperti ini layaknya berada di tong sampah!”


Editor naskah itu sepertinya telah berpuas diri mengucapkannya. Ayolah, bukankah itu pekerjaannya sebagai penyunting naskah. Lalu untuk apa di dunia ini ada seorang editor naskah? Hakikat, baca itu hakikat di dalam buku-buku. Hakikat pekerjaan.


Kadang seseorang tidak banyak mengerti mengenai hakikat sesuatu. Apa arti sesungguhnya dari sebuah pekerjaan. Editor naskah sombong, enak sekali ucapannya menyebut naskahku begitu.


Tinggal edit. Sempurnakan menurut kaidah dan lain sebagainya selesai. Maka, setelah itu berikanlah saran dan masukan kepada penulisnya agar lebih memperhatikan tulisan. Saran dan masukan yang memotivasi, bukan menghakimi. Editor satu ini menurutku tidak galak, tetapi sombong.


Dia seakan mengganggap dirinya pesawat tempur yang berada di permukaan langit, menatap penulis pemula sepertiku bagai bangunan yang hendak ia hancurkan dengan tembakan rudal.


“Tidak, kau bukan seorang penulis pemula.” Dia berucap membuatku tegang.


Editor itu seakan tahu apa yang sedang kupikirkan. Saat itu aku sedikit kaget. Kemungkinan hanya kebetulan. Semoga saja, aku tidak ingin banyak menduganya karena itu tidak penting.


“Aku jelas mengenalmu, kaulah penulis yang dua tahun lalu keluar dari ruangan editor naskah, kau berjalan menunduk. Dan aku ingat betul, kaulah orang yang membuang naskah ke tong sampah. Kau tidak tahu, aku melihatmu kala itu berputus asa membuang naskah itu ke tong sampah!”


“Mengenai ucapanku sebelumnya, kau harus tahu aku sekadar mengingatkanmu mengenai kejadian waktu itu. Kabar baiknya naskah yang kau buang hari itu kupungut, kulihat semua tulisanmu yang tampak berantakan. Kau tahu editor naskah yang kau temui hari itu adalah temanku. Aku sudah menduga temanku seperti biasa, bersikap keras hingga membuat kau membuang naskah itu ke tong sampah.”


“Kaulah penulis yang sama. Dua tahun lalu, aku ingat betul kejadian itu. Sungguh, kawan kau tidak ada pengembangan diri sama sekali. Tulisanmu masih sama seperti dulu.”


Editor itu membuatku mengkal. Dua tahun lalu, aku membuang naskah tulisanku ke tong sampah. Sebenarnya tidak mengapa, ayolah perasaanku terlalu lembek dalam masalah ini. Aku harus kuat, sekali lagi lelaki itu berjiwa pantang menyerah.


“Sudahlah. Kau berhenti saja menjadi penulis. Kau tahu tulisan kau ini kalaupun terbit tidak akan laku di pasaran.” Editor naskah seakan menaruh boom di dadaku.


“Tulisanmu tidak bernyawa. Karakternya terasa hambar, kau kurang bisa dalam menggambarkan ekspresi dari masing-masing tokoh!” Dia lanjut menjelaskan.

__ADS_1


Aku terdiam menatap kosong ke lembaran naskah yang dia pegang. Sepertinya apa yang dikatakan temanku dulu di kedai kopi, memang benar aku tidak punya bakat menulis cerita.


“Siapa namamu, anak muda?” Editor seketika memecahkan lamunanku.


“Narak.” Kujawab ringkas, tidak ingin berbasa-basi.


“Namamu terkesan kurang bagus kampungan! Ayo, bangunlah dari mimpimu, anak muda. Lupakan sudah cita-citamu untuk menjadi seorang penulis. Kau itu kuumpakan bagaikan papan tripleks yang kalau ditinju katanya warrior brother.” Editor itu tertawa puas sepertinya senang.


Nada bicaranya tidak galak, tetapi menusuk. Dia sebelumnya sudah menggoreskan kata tajam kepadaku dan kini menumpahkan air garam ke arah luka yang belum sembuh.


Kesalahan. Aku melakukan kesalahan lagi karena telah berani menemui editor naskah. Bukankah dia terkenal galak? Ah, aku baru ingat tentang itu.


Aku harus lebih kuat lagi menatapnya, bahkan kalau bisa lebih galak darinya, melawan hingga titik darah penghabisan.


Aku menatap kukuh. “Apa hakmu menyuruhku berhenti menulis?”


Editor naskah itu kini tertawa. “Jelas, itu bukan hakku, aku sekadar memberitahumu, kau tidak berbakat menulis! Percuma, kalaupun kau bersikeras menulis hingga berhasil menerbitkan buku, tetap saja tulisanmu tidak akan laku di pasaran. Camkan itu!”


“Siapa namamu, editor sombong!” Kujawab lantang tanpa raut wajah tersenyum.


Aku ingin mencatat namanya di dalam buku kekesalan. Buku diary bersampul hitam. Editor sombong, kau akan kucatat. Kuingatkan wajahmu.


Aku menyadari diriku sekadar penulis gabut yang tak akan bisa sesukses penulis yang kusukai. Akulah penulis tanpa arah tujuan. Ayolah, saat ini aku sekadar bertanya; tidak adakah toleransi di dunia ini? Saling menghormati atau apalah yang menuntun seseorang ke jalan yang ingin dia tuju.


Perkataan editor kuakui memang benar, tetapi dia kurang menghargai perjuanganku yang selama ini kuusahakan semaksimal mungkin dengan satu harapan, tulisan itu terbit menjadi sebuah buku.


“Kau berlagak keren bertanya namaku, heh? Dan kau kuakui cukup berani mengucapkan kata sombong di depanku!” Editor mengeluarkan nada santai, mengembuskan asap rokok.

__ADS_1


Aku lupa bilang dia perokok. Bahkan saat berbicara denganku batang rokok terus menyala. Kadang dia hisap, embuskan.


Aku tidak perlu menuliskannya panjang lebar mengenai rokok karena itu bagiku tidak penting. Kalaupun aku menulisnya, maka akan kubuang kertasnya ke laut agar masalah yang selama ini menganggu pikiranku beres tak berbekas.


__ADS_2