Daur Ulang

Daur Ulang
Kerajaan Negeri Dongeng


__ADS_3

Lita Aksima mengucapkan banyak hal tentangku dan tentang kehidupan. Aku bertanya bagaimana seseorang bisa tegar dalam menjalani hidupnya? Menghadapi terpaan badai kehidupan dan menjalaninya dengan senyuman. Kata Lita Aksima adalah dengan satu kata yaitu bersyukur. Itu yang dikatakan olehnya kepadaku.


Di atas menara yang berada tepat di tengah persawahan ini, aku tidak banyak menjawab, hanya bisa mendengarkan sambil menatap hamparan hijau di sana dengan gejolak perasaan yang terasa bagai ombak di tengah lautan. Apa? Itu memang perasaanku yang telanjur kubahas, tetapi baiklah lain kali aku akan memilih mencoba tuk berhenti menerangkan bagaimana perasaan yang kurasakan, nanti dibilang lebay dan itu bukan gayaku. Sesekali di lain kesempatan akan tetap kubahas karena itu adalah ciri khasku, walaupun aku akan memikirkan mengenai kadar kelebayannya akan seperti apa agar tidak terkesan alay di mata orang yang tidak menyukainya.


Editor naskah juga pernah mengatakannya, lelaki itu pandang menyebut isi perasaan, kecuali penting, tetapi inilah hidupku. Lebih gampang, aku menjalaninya sesuai kadar kemampuan diri dalam berpijak dan melambung tanpa membawa apa pun di tanganku, entah itu keberhasilan atau kegagalan ini tetaplah sama.


Dulu dan sekarang, aku tetaplah aku, yang walaupun kini telah berubah dari semula ceria dan banyak omong, banyak bicara menjadi seorang pendiam, memilih lebih banyak menyimak semuanya. Drama kesekian ratus kalimat. Ini tidak mengapa, kawan. Sebenarnya aku pun tahu di mana letak sanubari itu berada. Di mana petang berganti malam, di mana malam berganti pagi hingga berganti siang. Tanaman yang rimbun dan tiupan angin berdesir di dekat telingaku. Bercampur aduk pun aku tetap bisa mendengar semuanya.


Keluhan yang sama. Jeritan hati yang meronta teriak berteriak nyaring.


Membuatku hampir mati dalam keluhan. Hampir putus asa dalam menjalani hari dan bertemu kenyataan pahit itu tidak pernah kuinginkan. Mau bagaimana? Kata Lita Aksima kehidupan memang seperti pasang surut air laut. Di sana pun akan ada ombak.


Tiupan angin dan hujan yang berderai mengisi setiap kekosongan dan hawa kehidupan baik kedamaian maupun kekacauan pikiran. Ini tidak lebih banyak berarti dalam sebuah catatan hidupku, kalau panjang lebar kujelaskan mungkin iya dan mungkin juga tidak.


Lita Aksima memberi sebuah senyuman yang kulihat itu mengingatkanku pada sosok kekasih hati bernama Wapta. Aku merindu atas dirinya. Atas segala kenangan yang telah ada dalam jiwaku.


Senyuman mereka berdua hampir sama. Wajah Lita Aksima mirip dengan wanita yang selama ini selalu kurindukan, aku terdiam lama menunggu kepastian diri dalam hal yang tak ingin kujelaskan.


Lita Aksima menatapku dengan setiap kata yang diucapkannya, setiap butiran kalimat itu bagai mutiara nisbah kecantikan. Aku yang tidak mengerti dengan tatapannya, hanya bisa berdiam terus berdiam sambil mendengarkan dengan saksama dan tatapan fokus ke depan sana. Memandang kemilau langit yang terbentang biru.


Usai banyak bicara, dia berhenti sebentar lalu pelan menyentuhku.


“Waktu tidak terasa. Usai selama ini, apa kau masih mencintainya?” Suara lembut Lita Aksima terdengar bertanya.


Satu pertanyaan Lita Aksima itu kudengar dengan tatapan hangat sambil memberi senyum. Untuk saat ini kalau bisa jangan bertanya mengenai cintaku kepadanya.


Wapta, segenap hal dalam hidupku hanya teruntuk dirinya dan mengenai ini berapa kali kan kujelaskan berapa kali pun kuterangkan mungkin akan banyak membosankan, bukan bagiku. Melainkan bagi orang yang mempunyai rasa kritis dalam menilai semua ini. Aku yang hanya mementingkan perasaan dalam hidup dan helaan napasku, semua itu akan kalah dengan kepastian mereka dalam mengkritis semua tulisan yang kutulis.


Dalam tuturan tanya Lita Aksima.


Aku mengangguk. “Mengenai itu.. kau sendiri mungkin sudah tahu jawabannya. Usai selama ini, aku masih mencintai dirinya. Bagiku dialah satu satunya wanita yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun dan saat ini entah.. aku juga bingung mengapa dan apa alasaku begitu mencintainya sampai sekarang, seharusnya aku bisa melupakannya usai kejadian itu yang telah lama berlalu.”


Aku menjelaskan sebisaku kepadanya. Tokoh karakter fiksi di depanku adalah seorang penyimak yang ternyata berbeda dari yang dulu. Seperti jauh berbeda.


Dulu dia seorang yang amat ketus dan suara yang bagai lelaki, tidak menyukai kata cinta dan sebagainya. Aku yang saat itu ada bersamanya merasa risih, setiap kali mencoba mendekatinya selalu berakhir dengan pukulan yang membuatku merasa seperti tidak dihargai dan ending dari semua itu aku tahu dia memiliki kekasih dan aku pun memutuskan mundur diri, pergi tanpa permisi, tanpa memberitahu kemana arahku melangkah.


Aku hanya berpamitan dengan pak tua penjaga kebun teh, seorang petani. Dia memberikan tempat tinggal yang layak dan makanan yang menganggapku seperti cucunya sendiri. Pagi hari, aku berangkat pergi meninggalkan Lita Aksima dan sekarang aku bertemu kembali dengannya.


Di atas menara ini, Lita Aksima. Aku masih mencintai Wapta, walaupun dulu pernah mengatakan hal yang tak seharusnya kukatakan. Kau ada di antara lembaran yang telah hilang. Maaf, hari itu aku lupa meletakkan lembaran kisah tentangmu.


“Aku masih mencintainya sampai saat ini.”


Lita Aksima tersenyum. “Benarkah? Kau mencintainya, lalu mengapa kau masih memilih memendam perasaanmu, mengapa kau tidak ingin berterus terang saja kepadanya? Bagiku berterus terang itu lebih baik dan tidak akan membuatmu seperti orang yang linglung lagi, kau tahu selama ini aku sering memperhatikanmu lewat cerita pak tua penjaga kebun teh itu.”


Aku terperangah saat mendengarnya. Pak tua penjaga kebun teh? Aku bingung bagaimana dia bisa bertemu dengannya.


Aku refleks mengusap kepala. “Kau bisa memperhatikanku lewat pak tua itu?”


“Iya.” Lita Aksima mengangguk, jauh dari apa yang kupikirkan.


Bagaimana mungkin dia bisa memperhatikanku dari hanya mendengar kabar yang bahkan kabar itu belum tentu pasti kebenarannya. “Lalu apa katanya?”


Aku memutuskan bertanya tentang apa saja yang telah dikatakan oleh pak tua penjaga kebun teh itu, lebih tepatnya petani daun teh, rasa penasaranku memuncak.


Lita Aksima terkekeh sebentar, aku bertanya kenapa? Dia bilang tidak ada apa-apa. “Katanya kau itu lelaki aneh!”


Pak tua yang bijak, dia mengatakan hal itu kepada Lita Aksima dan kalau kupikir tidak salah kalau membenarkan ucapannya.

__ADS_1


Aku tertawa pelan usai mendengarnya. Lita Aksima lanjut menggerutu dengan ucapan ketusnya. Akhirnya aku mengalah.


Ciri khas Lita Aksima dari dulu tidak bisa kubantah, dia bagai matahari yang bersinar sementara aku hanyalah bintang yang berada jauh dari tata surya hampir tidak bisa menandingi cahaya matahari. Redup, bintang kecil yang tak bisa apa-apa.


“Pak tau itu benar, pak tua itu tidak salah. Bahkan entah mengapa aku sendiri pun sampai saat ini susah mengerti tentang diriku sendiri, apalagi orang lain. Mereka tidak akan bisa mengerti dan kupikir sebutan aneh itu memang pantas buatku.”


Aku menjelaskan sambil nyengir dengan menatapnya sebentar dan menunduk ke bawah menara. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Lita. Aku tetaplah sama.”


“Kenapa kau bicara seperti itu?” Lita Aksima bertanya heran.


Mungkin penjelasanku tadi terlalu panjang atau bagaimana? Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu alasannya. Mengetahui alasan yang tak pasti membuatku hampir seperti orang gila yang bertanya tanpa ada jawaban pastinya. Dia seorang Lita Aksima yang tidak bisa kusanggah ucapannya.


“Tidak ada apa-apa.” Aku tersenyum.


Memberi suatu kepastian kosa kata dalam keseringan yang sukar kujelaskan.


Memilih cepat berpikir ingin mengalihkan topik pembicaraan di antara kami, topik sebelumnya itu cukup rentan membuatku galau. Telintas pertanyaan dalam benakku.


“Kau tahu sekarang kita ada di mana?” Kupun memutuskan bertanya, sebenarnya ingin mengubah topik dari sebelumnya.


“Kau masih sama seperti dulu tidak konsisten dengan ucapanmu.” Lita Aksima terkekeh. Dia tidak menjawab pertanyaan yang sebelumnya kutanyakan.


Aku heran mendengarnya. Dulu saat pertama kali bertemu dengannya, aku tidak habis berpikir kapan dia mengenalku? Bukankah dulu dialah yang pertama mengatakan tidak ingin mengenalku, lalu mengapa dan bagaimana mungkin dia bisa mengetahui itu? Aku kembali memutuskan bertanya. “Sejak kapan kau mengenalku?”


Lita Aksima tersenyum. “Kau itu kebiasaan. Sepertinya kau tidak menyimak ucapanku yang sebelumnya, coba kau ingat.”


“Hmmm... ucapanmu yang sebelumnya? Memangnya apa?” Aku tidak ingin berpikir lebih banyak, berpikir berat untuk apa?


Lebih nyaman buatku bertanya dan tanpa banyak memikirkan. Itu simpel.


Lita Aksima memasang wajah cemberut yang kutahu itu dari dulu. “Narak, dari dulu kau itu tidak pernah menyimak ucapanku. Mangapa? Apa itu caramu mengabaikanku dengan sikap anehmu itu? Kau tidak pernah bisa menghargai perasaanku.”


“Kalau begitu aku mau minta maaf kepadamu karena sebagai lelaki, aku tidak bisa menghargai perasaanmu. Maafkan aku yang tidak tahu akan semua itu dan selama ini aku memang kesulitan memahami perasaan orang lain. Bukan hanya kau, tetapi semua orang yang kutemui, di antara mereka sedikit yang bisa kurasakan dan lebih banyak hampa.” Aku menjelaskan dengan rasa bersalah.


Lita Aksima memalingkan wajahnya, menatapku berkata jangan begitu. Dia akhirnya memaafkanku dengan satu syarat jangan pernah mengulanginya.


Aku baru tahu sekarang bahwa Lita Aksima tidak menyukai orang yang berucap maaf tanpa ada sedikit pun perubahan setelahnya. Maaf yang diucapkan berulang kali dan pelakunya di kemudian hari malah mengulangi kesalahan. Mengenai itu, aku cukup menelan ludah saat mendengarnya.


Itu bagiku adalah perkara berat karena kebiasaanku sejak dulu hingga sekarang tidak mudah untuk kuhilangkan.


Lita Aksima berjalan pelan. Di atas menara ini yang tingginya lumayan. Ladang persawahan tampak awan putih dengan cakrawala biru di sana, bahkan tampak sekawanan burung mengepakkan sayap. Terbang menyusuri langit.


Aku menatap dirinya. Lita Aksima berjalan pelan dan membelakangiku dengan tatapan menunduk, menatap ke bawah.


“Kita sudah lama tidak bertemu, Narak.” Dia kembali memandangku. Rambutnya terurai berayun dan bergerak disentuh angin.


“Aku tahu semua cerita tentangmu dari petani daun teh. Pak tua yang sebelumnya kusebutkan, kau tahu pak tua itu seperti tahu banyak hal tentangmu, sering saat aku tidak ada kegiatan ke sana dan bertanya banyak hal hingga kubertanya kemana kau pergi usai kita berjumpa hari itu, hanya soal itu yang dia tidak tahu atau mungkin dia enggan memberi tahuku.”


Lita Aksima menjelaskan, petani daun teh itu memang sudah mengenalku usai lama dulu aku dan dia bercakap-cakap, aku tidak pernah tahu bahwa dia menceritakan tentangku kepada Lita Aksima.


“Waktu sudah selama itu terus berlalu, memang terasa cepat dan tidak terasa sudah selama itu. Kupikir hari itu kau telah memilih takdir hidupmu dan memulai kehidupan baru bersama lelaki itu, lalu aku memutuskan pergi. Dalam benakku memikirkan bagaimana mungkin aku ada di antara kalian. Berada di antara hubungan orang ketiga? Bukankah itu sesuatu yang menyebalkan dan tidak manusiawi?”


Aku menjelaskan kepadanya alasan kepergianku jauh dari sisi dirinya. Saat dia bilang bahwa dia sudah dilamar oleh orang lain dan dengan spontan mengusirku.


Kulihat mata Lita Aksima mulai berair. Dia mengusapnya pelan. “Itulah dirimu, Narak. Kau begitu mudah menyerah dan kau memilih lari dari kenyataan yang tak bisa kau dapatkan, padahal dulu aku hanya menguji kesabaranmu dan tentang sikap keseriusanmu terhadapku, ternyata usai kau tahu tentangku dan kau memutuskan pergi dengan begitu mudahnya.”


Aku menunduk, merasa bersalah. “Kadang aku hanya merasa kurang pantas.”

__ADS_1


Lita Aksima langsung menampar wajahku, sedikit sakit! Aku memegang pipi yang terkena tamparan. Mengapa? Mengapa dia menamparku, apakah dia marah?


“Saat kau mencintai seorang wanita dan memilih mengatakannya, pastikan hatimu benar-benar mencintainya, jangan pernah memberi harapan ke wanita yang ternyata kau sendiri bimbang dengan perasaanmu.” Lita Aksima menatapku sambil mengusap air matanya yang ternampak.


“Kau benar, Lita. Aku memang salah, di lain sisi kau tahu aku perlu membuktikan perasaanku kepada seseorang saat ini, itu tentang dia. Orang yang telah lama kucintai dalam hidupku di kenyataan.”


Bagai batu yang dilempar, hilang. Aku merasa tidak layak bertatapan dengan Lita Aksima. Mengapa aku masih mencintai wanita yang telah lama tidak ada di sisiku? Aku juga tidak tahu alasannya, Lita Aksima benar, aku sendiri bimbang dengan perasaanku.


“Ya, aku tahu. Wanita itu Wapta, kan?” Lita Aksima bertanya, seperti memastikan.


Aku menggangguk. “Dan aku meminta tolong kepadamu, berilah aku satu pendapat mengenai semua ini, apa kau bisa memberikan dan memastikan padaku kalau perasaan yang selama ini kupendam saat kukatakan kepadanya bahwa aku mencintainya, lalu pertanyaanku tentang itu apakah dia akan menerimanya?”


Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Lita Aksima punya sesuatu yang kutahu dari dulu dia ahlinya. Namun, dia tampak menggelengkan kepala.


“Jangan kau tanyakan itu padaku, Narak. Apa kau tahu aku tidak jago memberi pendapat, tetapi kau hanya harus percaya bahwa dibalik rasa tulus seseorang. Apa yang berasal dari hati akan tersampaikan ke hati, walau bagaimanapun nantinya kau mendapati ekspresi dia dalam memberi tanggapan atas perasaanmu. Mungkin, dia tidak menerima cintamu kalau kau datangnya mendadak atau dia menerimamu, kedua itu adalah risiko bagi orang yang mencintai.”


“Kalau aku menjadi dia, aku tidak akan menerima lelaki aneh sepertimu.” Lita Aksima melanjutkan ucapannya. Yang ini lebih terdengar serius sambil bersedekap.


Itu yang membuatku ingin tertawa dengan raut wajahnya yang tampak mengejekku persis seperti dulu. “Iya, itu pendapatmu yang bisa kupikirkan untuk sekarang.”


Aku berlanjut berbincang dengan hal lain untuk mendamaikan suasana canggung di antara kami. Habis sebelumnya bercampur aduk, kini mulai perlahan berubah suasana menjadi riang gembira. Wajah Lita Aksima sempurna mengembang kecantikannya.


“Apa kau lihat istana di sana?” Lita Aksima menunjuk ke bangunan megah.


Usai lama berbicara satu sama lain, kami saling memandang ke arah bangunan megah berupa istana di sana.


Ini seperti kerajaan negeri dongeng yang tidak pernah kutahu di mana aku berada sekarang. Pernah dulu aku menulis cerita tentang semua itu, tetapi kubatalkan dengan begitu mudahnya mematahkan pena yang kupegang, kepalaku pernah menderita sakit yang kurasakan pusing.


Aku mengangguk. “Iya, aku melihatnya.”


“Ayo, kita ke sana. Kau tahu, Narak. Ayahku pasti senang menatapmu.”


“Ayahmu? Bagaimana dia mengenalku?”


“Soal itu, bukankah kau menulis cerita koboi itu? Perlu kau tahu Ayahku adalah seorang koboi yang kau tulis itu hingga dia menikah dengan salah seorang putri raja dan sekarang dialah yang mewarisi kerajaannya, kau tidak tahu? Padahal kau adalah penulisnya yang menulis cerita tentang perjuangan ayahku berkelana.”


Lita Aksima menjelaskan dan aku menggumamkan hal itu dalam benak. Cerita koboi itu aku baru mengingatnya, tetapi apa hubungan yang sebenarnya dengan semua ini? Kukira dulu Lita Aksima adalah karakter fiksi yang kutulis tentang wilayah pegunungan, petani daun teh, sumber daya alam yang melimpah meliputi perkebunan daun teh yang begitu luas disertai pertambangan emas.


Kok bisa sekarang malah berubah, koboi itu ternyata adalah ayahnya? Yang ternyata sekarang juga adalah seorang raja? Aku tidak mengingat apa pernah menulisnya?


Aku memang ingat dulu pernah menulis cerita koboi itu, hanya saja cerita itu tidak selesai kutulis, tulisan naskahku terhenti di saat koboi itu ingin menjawab perkataan orang yang baru mengejeknya. Koboi yang ingin membela diri yang juga tak mampu kujelaskan melalui tulisan. Hingga pada kenyataannya tulisan itu kubuang, memilih jalan cerita lain dan naskah pun rampung.


Dan Lita Aksima? Aku ingat dia adalah anak salah seorang bos di pertambangan emas. Mengapa cerita ini menjadi kacau balau, sebagai penulis aku merasa bersalah atas semuanya. Apa yang akan kulakukan? Akankah cerita ini kudaur ulang kembali dengan tekad semangatku.


Dulu aku tidak banyak mempunyai diksi dalam memilih kosa kata dan menulisnya bagiku amat susah hingga memutuskan berhenti di tengah jalan. Yang lama, yang baru bagiku tetap sama susahnya.


Bahkan saat itu kepalaku seringkali kugaruk dengan pikiran kacau dalam memikirkan alur cerita yang tidak pernah kutahu bisa menciptakan hal di luar nalar seperti ini, Lita Aksima dan koboi itu saling berhubungan? Ayah dan anak? Aku tidak habis pikir mengapa ini bisa terjadi.


“Bukankah dulu aku menulis ceritamu saat itu adalah tentang pertambangan emas, pegunungan yang mempunyai sumber daya alam berlimpah dan petani daun teh itu bagaimana mungkin cerita ini menjadi bercampur aduk denganmu dan koboi itu?”


Aku bertanya kepadanya, heran. Penuh teka teki dalam kepala. Yang sejatinya aku selalu merindu akan sesuatu yang telah lama ada dalam hidupku, kalau boleh aku katakan ini bukan yang terakhir kalinya.


Rindu kembali menulis cerita tentang mereka. Ini berat dan mengapa alur ceritanya menjadi kacau balau? Apa yang kutatap adalah Kerajaan Negeri Dongeng.


Cerita yang kuberi nama kala itu membanting harapan dan akhirnya ditolak penerbit. Lita Aksima, koboi dan petani daun teh seorang pak tua yang bijak. Entahlah, mengapa aku merasa seperti terperosok dalam tulisanku sendiri.


Kerajaan Negeri Dongeng memang akhir dari cerita yang pernah kutulis, tetapi mengapa alur cerita ini menjadi bercampur aduk dan tidak sinkron satu sama lain. Astaga? Aku telah berdosa menulis semua ini dan aku bertekad akan memperbaikinya.

__ADS_1


Namun, aku bingung harus memulainya dari mana, itulah yang membingungkan isi kepalaku mengenai Kerajaan Negeri Dongeng. Perlu kuingat ini semua hanyalah dunia palsu, fiktif dalam cerita.


Semoga aku bisa memperbaikinya.


__ADS_2