Daur Ulang

Daur Ulang
Tidak ada yang terbaik


__ADS_3

Di ruangan makan yang sekarang aku duduk bersama kakek dan nenek, menyantap makanan. Saat itu seakan terbit tawa dan kebersamaan. Kami bertiga saling menatap damai. Menantikan suatu masa di mana matahari menampakkan sinarnya.


Masih pagi. Kalau ingin jangan galau dulu. Harus banyak senyum. Itu kata kakek yang seakan menebak isi batinku yang melanglang entah kemana, terbang dengan jutaan kata yang berguguran dari langit ke tanah. Kutambah kata 'harus' di situ. Berbeda dari sebelumnya.


Kakek saat berbicara kadang suka membuang-buang kata dan terdengar kurang jelas. Hanya terkadang, tidak selalu begitu, kakek lebih banyak menjelaskan perkara dengan panjang lebar. Itu pun tergantung keinginannya.


Saat kutanya mengapa kurang jelas dan sering membuang-buang. Kakek tersenyum bilang, “Man, kakek membuang kata yang bagi kakek sendiri itu tidak perlu, kau sudah kuliah, Man. Tentunya kakek percaya kau pasti mengerti dan tidak perlu penjelasan lebih rinci lagi bukan?”


Aku mengangguk, juga kadang itulah kakek yang sering mengatakan perkara setengah-tengah. Bikin susah kepalaku dalam hal memahami ucapannya.


Entah mengapa aku pun sadar merasa mengenai diriku yang juga kadang sama seperti kakek. Mungkin, keturunan yang menyebabkan itu semua dan murni tanpa kusengaja. Dan satu lagi, mengenai kata ucapan yang sengaja kuacak. Aku sedikit menyukai saat mengatakan.


Selayang pandang, kata susunan yang berbolak balik tidak keruan. Amburadul, sedikit keanehan. Lebih detail aku tidak ingin membahas panjang, tentulah melelahkan, memakan banyak kertas.


Berusaha menulis kata lebih baik, lebih nyaman dilihat yang membuat tentram sanubari adalah hal ihwal tulisan yang dari dulu ingin terus kulatih hingga sekarang. Aku tak peduli memakan banyak waktu atau tidak, inilah yang saat ini kusukai.


Saat di mana kurasakan siliran angin yang menentramkan, lembut tidak lamat-lamat menatap senyum. Baik bagiku mengenai perkara galau maupun senang.


Aku lengang sendirian. Hingga kakek menepuk pundakku. Astaga? Kaget.


“Man, apa kau sedang galau?” Kakek tertawa. Memecahkan lamunanku.


“Kakek memperhatikanmu daritadi tampak melamun.” Lanjutnya mengatakan hal yang bagiku itu adalah prasangka kakek.


Prasangka yang benarlah adanya. Itu benar, apa yang dikatakan kakek benar, aku sedang melamun sejenak hilang kesadaran.


Walaupun saat makan tanganku bergerak, tetapi angan pikiranku saat itu terbang entah kemana? Tetapi lagi, kakek salah kira, aku tidak sedang galau sekadar mengingat sosok Wapta yang masih bergelantung indah di benak pikiranku saat ini.


Seakan ragaku berada di bumi, tetapi hati dan pikiranku telah berkelana pergi dari raga, melayang di permukaan langit.


Aku sadar. Menggeleng tawa. “Aku tidak melamun. Kakek itu sok tahu.”


Berniat sedikit bercanda. Nada bicara kututurkan sedemikian rupa dalam melakukan sandiwara menghibur, siapa sangka kakek menatap tidak tertawa.

__ADS_1


“Galau itu penyakit kronis yang harus kau sembuhkan sesegara mungkin, Man.”


Aku menatap balas tertawa, berusaha mengalahkan angan angan yang membuncahkan rasa tak keruan.


“Galau? Hahaha... Kakek bergurau?”


Tawaku memenuhi ruangan. Berusaha memaksimalkan tawa sebisaku.


“Hoo, tidak. Man, raut wajahmu menunjukkan kau terpaksa tertawa.” Kakek menatapku. Dia saat ini seakan menaburkan garam di kepalaku. Oh, astaga?


Puyuuh, sejenak menghela napas. Sedikit garuk kepala, garam itu berserakan penuh di sela-sela rambutku yang sebelumnya sudah kusisir rapi. Gatal terasa, garuk kepala sesekali mencari kosa kata agar mampu kusahut ucapan kakek sebelumnya.


“Nah, kenapa sekarang kau diam, Man? Benar apa yang kakek katakan, Man. Kau sedang galau pasti karena memikirkan wanita itu bukan?” tanya Kakek dengan raut wajah yang membuatku canggung.


Aku tidak menjawab. Gugup plus canggung memenuhi penuh isi kepalaku. Kakek sejenak menatap keluar jendela. Bola matanya fokus tertuju entah kemana?


“Man, kakek ingin bertanya apa yang terbaik bagimu hari ini?” Kakek lanjut bertanya mengalihkan pandangan, kini menatap jam tangan. Entahlah apa maksudnya.


Bagiku hari terus berlalu dari pagi ke siang hingga berakhir malam, bertemu besok lagi. Selama itu rasanya tidak pernah kurasakan hal terbaik dalam hidup yang bisa kurasakan di setiap hari, juga di setiap jeda waktu yang saat ini kupikirkan.


Kakek tertawa. “Kalau begitu tidak usah dibahas lagi, usai makan cepatlah kau berangkat, nanti terlambat.”


Aku mengangguk pasti. “Iya, itulah yang saat ini kuinginkan, berangkat lebih awal.”


Kakek tersenyum. “Demi masa depanmu, Man. Berjuanglah untuk mendapatkan hal yang terbaik bagimu hari ini, jika tak ada maka pikirkanlah apa yang terbaik bagimu, Man. Dengarkanlah kakek sebentar berbicara mengenai cintamu yang tak pasti arah haluan, suatu masa mungkin saja akan berujung kekecewaan. Maka, sebelum masa itu kau temui jangan terlalu berharap pada wanita yang kau cintai, Man.”


Aku diam mendengarkan. Apa yang dikatakan kakek tertangkap logika pikiranku benar adanya. Apa yang terbaik bagiku hari ini? Bagiku tidak ada. Aku seakan hidup di bawah bayang-bayang semu belaka, terdiam diri mengharapkan sosok Wapta yang jelas tiada berada di pandanganku.


Dan sepertinya telah kutemukan tumpukan berkas kata juga kalimat terbaik yang selama ini berusaha kurangkai dalam hidupku. Kata yang menjadi kalimat hingga paragraf, menghabiskan sejenak waktu untuk mengingat lebih lama.


Mengenai sekilas kata yang tersisip di antara tengah barisan dan ujung sama rata. Kutemukan rahasia di ujung angka bilangan dua puluh satu.


Huruf u di akhir kata rindu.

__ADS_1


Rindu, huruf u yang berada di dua puluh satu abjad yang tersisip ujungnya di dalam sanubari ini. Barisan balok yang memanjang dengan lengkungan, membentuk uraian.


Kakek berbicara dengan nenek. Aku dengar diam menuturkan alasan mengenai wanita yang kucintai, tidak lebih angan belaka.


Nenek menatap senyum. Menanyakan hal ihwal apa yang kulalui selama berada di ruang perkuliahan. Diam suara, desing perumpamaan bermuara di dalam kepingan atau pecahan yang dihamburkan.


Dengarkanlah, apa yang kurasakan kala itu tidak pernah ada satu pun hal ihwal yang membuatku tertarik dalam dunia remaja. Aku tidak tertarik menatapnya lebih lama, kecuali lembaran buku yang selalu kubuka bolak-balik. Itu pun tanpa lama-lama membaca, lebih sering melamun di dalam penghayatan kata yang berakhir hampa.


Hawa panas berjalan di padang pasir pernah kurasakan menerpa wajahku. Sedikit keringat pun tak ada yang menetes. Merasakan hawa panas tanpa berkeringat.


Kakek tertawa lagi sejenak. Menatap kukuh dengan bola mata yang bagai pancaran cahaya rembulan. “Narak, dengarkanlah kakek sebentar. Kau sekarang kupanggil Man itu semua ada alasannya bukan?”


Iya, ada alasannya. Aku tahu kakek dulu pernah menjelaskan alasannya. Sekarang, apa maksud kakek kembali menanyakan hal itu kepadaku? Membingungkan.


“Man, kau mirip dengan ayahmu. Di mana dia bertemu ibumu tidak pikir masalah cinta. Sejatinya, cinta itu bertemu mengikatnya dalam akad pernikahan atau tidak memiliki terus menerus mengenang hingga seseorang itu bertemu ajal.”


“Man, kau ingin seperti itu terus menerus mengenang tanpa memiliki hingga ajal menjemputmu? Pikirkanlah, Man. Ada berapa banyak wanita di dunia ini?”


Aku diam mendengarkan. Seakan tinju menghantam wajahku, tidak lebih sebelumnya mengenai apa yang terbaik di dalam hidupku, rasanya kakek melebarkan ucapan ke arah yang membuat termenung lagi sejenak.


Kemudian menatap pasti. “Kakek, aku tidak ingin seperti itu. Di saat waktunya nanti kurasa tepat aku akan mengungkapkan semua perasaanku kepadanya, sekarang kakek harus percaya bahwa takdirku memang bersama Wapta. Bahkan, selama aku hidup bernapas, selama itu aku akan selalu memohon dan memohon kepada Tuhan, bukan cuma sekali, melainkan beribu kali banyaknya, doa yang kukirimkan khusus memohon dan memohon.”


Kakek tersenyum. “Man, selama ini kakek tidak pernah melarang semua apa pun yang kau jalani dalam hidup ini, kakek tahu kau bisa menjalaninya sendiri, tetapi kakek hanya ingin memberikan gambaran kemungkinan terburuk yang akan terjadi dan harus kau hadapi, bersiap diri menerimanya dengan hati dan pikiran lapang bahwa mungkin di suatu saat nanti, cintamu pada wanita itu akan didahului orang lain, kau memendam rasa yang bahkan wanita itu tidak tahu mengenai perasaanmu.”


Aku termenung lagi sejenak. Memikirkan perkataan kakak yang kali ini lagi, lagi dan lagi ada benarnya. Selama ini aku sendirian meratapi rasa rinduku, bergejolak rasa yang selama ini memuncak ke langit.


Selama itu aku tidak pernah berpikir mengenai kemungkinan terburuk yang akan aku hadapi. Saat ini aku menghela napas berat, jantungku bergetar merasakan sakit yang kurasa sedikit aneh.


Mengapa ini terasa sakit?


Aku menuturkan kalimat tanya di dalam batin. Merasakan sendiri apa yang kurasakan.


Ini bagiku seperti jari yang waktu kecil dulu tertusuk duri, hanya menyisakan rasa perih yang tidak berdarah karena kututup segera dengan obat luka. Rasa perih yang seakan membekas tidak hilang.

__ADS_1


__ADS_2