Daur Ulang

Daur Ulang
Manusia Sekuat Baja


__ADS_3

Hari ini aku kembali menulis sesuatu di dalam buku catatan harian, sesuatu yang menggambarkan suasana hatiku.


Dari jarak yang dekat saat itu aku menatap dirinya, tampak ada hal yang menarik dari penampilannya, wajahnya tampak seperti suasana pantai yang tak begitu ramai.


Astaga, apakah aku telah keliru menyebutkannya sepert itu, sungguh aku tidak dapat menggambar tentangmu lebih dalam, sekadar kata-kata wahai Lita Aksima, apakah tidak mengapa aku ucapkan begitu?


Batinku berkata sembarangan seraya melihat catatan yang telah kutulis. Mungkin kekeliruan itu terjadi saat aku bertemu dengannya yang diriku bagai terhipnotis sehingga aku tidak menyadari apa pun lagi, sesuatu yang di dalam pandangan dirinya menusuk langsung ke dalam sanubari, semua itu berasal dari tatapan mata yang bagiku sangat mematikan.


Layaknya wajah Lita Aksima bersinar seperti matahari pada pagi hari, cahaya itu menembus sela-sela dedaunan yang dipenuhi dengan tetesan embun pagi dan hawa dingin yang menyertainya.


Entahlah, mungkin saja dia seperti ular. Ular yang sangat beracun, tanpa aku sadari, aku sudah terkena oleh cipratan racun miliknya, suara batinku meronta, sekarang pikiranku terus berwisata sambil membayangkan sosok seorang wanita yang bernama Lita Aksima.


Sungguh mengerikan!!!!


Tanda seru yang banyak diberikan untuk menjelaskan betapa mengerikannya itu, Lita Aksima menggeruguti semua lapisan dan dinding dari sanubari terdalam.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Drama klasik ini benar-benar tidak aku sukai!” gumamku dalam hati menelusuri hari yang kian tak ada arah tujuan ini.


Dari tempatku berada sekarang di atas pegunungan disertai lebatnya pepohonan yang rintang. Dari jarak 20 langkah kaki berjalan terlihat ada anak kecil yang sedang menangis. Aku menatap dengan perasaan yang diikuti senyuman, lalu menghampiri anak kecil tersebut, menanyakan kenapa dan ada apa?


Namun, anak kecil itu tetap saja menangis, bahkan semakin deras air matanya berderai jatuh membasahi tanah, tampak kedua tangannya menutupi wajah yang dilanda duka lerai nestapa yang tidak aku mengerti.


Suara tangis anak kecil itu semakin nyaring, membuatku terpaksa menggunakan kedua jari telunjuk, menutupi kedua lubang telinga.


Tak lama setelah itu, datang seorang wanita, ternyata itu adalah dia. Benar, aku tidak pernah menyangka, itu adalah dia. Ya, dia adalah Lita Aksima. Lagi-lagi aku malah bertemu dengan Lita Aksima, tamparan dari tangannya yang mulus itu mendarat tepat ke arah pipi kananku.


Aku hanya diam sambil memegang pipi kanan yang habis kena tampar. “Astaga ... wanita ini begitu menakutkan,” gumamku dalam hati.


Sementara dalam benak dan pikiranku saat ini sudah dipenuhi keinginan untuk berlari pergi menjauh dari wanita itu.


“Kau pasti pelakunya yang membuat anak kecil ini menangis, dasar kau! Lelaki tidak tahu malu!!” kata Lita Aksima sambil memeluk erat anak kecil tersebut.

__ADS_1


Aku dibuat kaku olehnya, seolah-olah aku habis terkena racun yang membuatku tidak bisa bergerak, juga berkata-kata. Kemudian wanita itu, Lita Aksima berkata kepada anak kecil tersebut. “Kamu tenang, ya di sini ada aku, kamu tidak usah takut.” Kemudian dia menunjuk ke arahku, lalu berkata, “Liat, lelaki jahat itu sudah aku tampar, jadi kamu gak perlu takut lagi.”


Entah apa yang terjadi, anak kecil itu tampak tersenyum memeluk Lita Aksima seraya berkata, “Sebenarnya aku tersesat, lelaki itu tidak jahat, aku cuman sedih dan tidak bisa berhenti menangis.”


Mendengar hal itu, aku melihat wajah Lita Aksima tampak bersalah. Dia sudah berburuk sangka kepadaku, bahkan menampar langsung tanpa bertanya, tanpa toleransi terlebih dahulu.


Baru pertama kali ini, aku melihat seorang Lita Aksima tampak benar-benar merasa canggung, terlihat jelas di hadapanku sorot matanya yang menunjukkan sikap salah tingkah dan bersalah.


Aku tertawa melihat sikap kecanggungan dan salah tingkahnya Lita Aksima. “Kenapa? Apa liat-liat, aku benar gak salah, kan?” ucapku dengan wajah konyol.


Lita Aksima tampak mengiakan dengan wajahnya yang tampak memerah. “Ah ... sudahlah, jangan pikirkan masalah yang tadi. Btw, itu sudah berlalu dan semua itu hanya kesalahpahaman saja,” kataku bermaksud ingin mencairkan suasana yang tengah terasa tegang.


Ucapanku bagai sihir yang membuat sikap Lita Aksima berangsur-angsur berubah menjadi normal seperti biasanya. Alias tidak salah tingkah dan canggung lagi.


Setelah damai suasana, kami berdua sepakat untuk menanyakan kenapa bisa tersesat di pegunungan, juga menanyakan di mana terakhir kali dia tersesat, juga tempat tinggal yang mungkin anak kecil itu ingat, kami menanyakan tentang anak kecil itu secara detail.


Anak kecil itu menjelaskan semua yang sudah terjadi, penuturannya begitu amat terampil pada usia yang masih sekecil itu, terdengar nada bicaranya yang halus dan mungil, di tengah-tengah penjelasan yang sedang dia tuturkan tampak wajah yang imut mulai menunjukkan wujudnya.


Lita Aksima kutatap seakan-akan gemes dan langsung mencubit pipi anak kecil tersebut. Lita Aksima semakin terlihat merasa gemes melihat anak kecil itu marah dan menggembungkan kedua pipinya, melihat itu tampak wajah Lita Aksima memerah dengan senyuman yang merekah indah. Dia memencet hidung anak kecil tersebut.


“Aduh ... pikiran apa itu? sudahlah aku tak ingin melihat!” gumamku dalam hati sambil memalingkan wajah agar tidak melihat sesuatu yang membuatku menjadi baper.


Setelah abis berbincang dengan anak kecil tersebut, permasalahannya sudah jelas dan kami pun menghantarkan anak kecil itu kembali ke rumahnya dengan alamat yang telah disebutkannya, tempat tinggalnya berada di bawah pegunungan.


Dalam perjalanan anak kecil itu merasa bosan hendak menangis, membuat Lita Aksima tampak menunjukkan ekspresi kebingungan mengatasinya. Dia berusaha menemukan cara, sayangnya dia kebingungan sendiri.


Akan tetapi, aku punya satu cerita yang amat kuyakini. Dengan penuh percaya ini, aku maju disertai senyuman yang terpampang lebar, juga wajah yang sengaja kubikin menjadi konyol. Mungkin saja itu terlihat menyebalkan.


Aku menceritakan suatu cerita tentang Manusia Sekuat Baja, dengan nada bicara yang lembut, aku menuturkan kata demi kata, bercerita tentang seorang anak kecil yang tak pantang menyerah walaupun banyak rintangan dalam kehidupannya.


Manusia sekuat baja, sepertinya judul itu terdengar aneh, membuat anak kecil itu bertanya-tanya kepadaku, dan terjadilah sisi tanya-jawab yang sepertinya aku berhasil membuat kebosanan anak kecil itu menghilang.

__ADS_1


Setelah cerita itu selesai, kami tiba di tempat yang sudah disebutkan oleh anak kecil tersebut, aku mengetuk pintu depan dengan segan, kami menunggu beberapa saat, lalu tak lama berbunyi decitan pintu tua menyertai terbukanya pintu.


Terlihat kedua orang tua yang memang sudah tua itu berdiri di depan pintu masuk, seketika setelah melihat anaknya yang sudah kembali ke rumah dengan selamat, kedua orang tua itu memeluknya dengan wajah yang terlihat bahagia menyertai perasaan seperti kebanyakan orang pada umumnya, mereka mempersilakanku dan Lita Aksima untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Mereka menghidangkan beberapa masakan sebagai tanda ucapan terima kasih mereka.


Setelah selesai makan dan berbincang-bincang, aku dan Lita Aksima pergi dan mengucapkan kata terima kasih atas hidangan yang sudah mereka berikan.


***


Di akhir perjumpaan diriku dengan Lita Aksima, aku memberikan salam perpisahan, salam yang tak mungkin sampai ke dalam sanubarinya, kalimat itu terucap dengan mudah tanpa berpaling arah.


“Lita Aksima, aku tahu sebatas berkedipnya mata kita berjumpa, berpisah dengan satu kata. Saat kamu menatapku dengan tatapan terakhir darimu, tatapan yang mampu membuat tanganku menggoreskan pena ke kertas dalam bentuk coretan yang bagiku tak ada makna, hanya kasih sayang dan cinta yang tercurah untukmu semata.”


Sambil berkata di dalam batin, aku menatap ke arah cakrawala. Matahari itu terlihat lambat tenggelam di sebelah barat sana, menyisakan semburat cahaya jingga kemerahan yang menyilaukan.


Cahaya senja kini menyelimuti saksi perpisahan antara aku dan Lita Aksima.


Malam harinya, aku berpamitan kepada pak petani, mengucapkan kata terima kasih yang tak terhingga karena dia sudah sudi menerimaku sebagai tamunya, bahkan membantu, memberi penginapan serta makanan dengan kebaikan yang kutatap itu sebagai pemberian luar biasa dalam hidupku. Karena sesungguhnya aku tidak pernah mengenal perhatian kedua orang tua, hidup dalam keadaan yatim piatu.


Pak petani menahanku agar jangan bepergian pada malam hari karena daerah pegunungan jalannya begitu terjal, takutnya nanti malah gugur ke jurang.


Mendengar hal itu, aku pun memutuskan untuk menerima pendapat pak petani itu. Memutuskan pada waktu besok pagi berangkat, pergi dari desa ini.


Entah bagaimana sekarang, tapi aku merasa perasaanku sudah membaik, kesedihanku juga seakan-akan sudah menghilang. Tidak tahu kenapa Lita Aksima seakan-akan mencampuri pikiranku. Mencintainya adalah pilihan atau malah tipuan belaka. Ah, ada apa dengan semua ini, aku benar-benar dibuat bimbang dengan peristiwa yang baru saja aku lalui.


Batinku masih saja meronta tidak keruan.


Keesokan paginya, aku berangkat meninggalkan desa tersebut, desa yang terletak jauh di atas pegunungan.


Menyisakan kenangan melalui setetes tinta di sepuluh lembar kertas catatan tentang seorang petani daun teh, sumber daya alam melimpah, meliputi perkebunan daun teh yang begitu luas disertai pertambangan emas.

__ADS_1


Pertambangan yang dikelola langsung oleh seorang wanita bernama Lita Aksima.


Kesemuaan yang telah terjadi kutulis rapi di dalam buku harian. Aku tidak ingin melupakan moment terindah itu dalam hidupku.


__ADS_2