Daur Ulang

Daur Ulang
Gendang tak bersuara


__ADS_3

Dari kejauhan tampak sekumpulan burung terbang menuju arah barat, sedangkan beruang berjalan-jalan di muara sungai mencari ikan untuk dimakan.


Dari beberapa orang ada yang sehat, ada juga yang sedang sakit. Peputaran waktu dan berjalannya jarum jam itu membuatku sadar bahwa beberapa memang ditakdirkan begitu. Dunia punya cerita, alam punya warna.


Ranting pohon yang sekarang kutatap bergerak ditiup angin, sekilas renungan membayangkannya kadang cobaan hidup seperti angin. Seberapa kencang angin meniup ranting pohon, selama ia masih kokoh dan terus bertahan, melewati musim demi musim hingga saatnya ia gugur ke tanah. Semua ada batas waktunya.


Aku menyadari kebahagian yang sekarang menghilang entah ke mana, lalu muncul kesedihan. Begitulah sudah, perasaan datang silih berganti, dunia akan terus berubah-ubah layaknya musim, layaknya cuaca, juga layaknya waktu siang berganti malam.


Meninggalkan banyak sekali kenangan yang indah bersama-sama orang yang dicintai, juga teman yang dulu saling melengkapi, menolong ketika butuh keperluan.


Hubungan yang dengannya seperti saudara, aku memang tak punya siapa-siapa selain dirinya, terlebih dari apa yang sudah terjadi tidak bisa kembali, walaupun ratapan tangis berhamburan dengan tiada henti.


Seumpama gendang yang dipukul tidak ada suara, tidak ada lagi yang datang berkunjung selain dirinya, tidak ada lagi yang menyapa, tidak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum. Entah sampai kapan? Adakah pengganti dirinya atau tidak ada sama sekali.


Harapan sudah pudar oleh kepergian dirinya, dia benar-benar sudah pergi dan takkan kembali.


Di kala kesedihan itu benar-benar datang, kata apa pun yang terucap dari lisan seperti orang yang mengetik tidak beraturan, itulah diriku, berantakan oleh perasaan yang kini kurasakan, walaupun beberapa mengatakan ketidaksamaan, tetapi tulisan tampak seperti hanyalah sebuah bualan.


Kipas angin di dalam kamar terus berputar menghadap wajah, berharap air mata itu kering oleh tiupan kipas angin.


***


Aku memutuskan untuk keluar rumah dan berlibur ke tempat yang kuinginkan. Baru kali ini, aku sadar akan sesuatu yang kurasakan, sesuatu yang telah lama hilang dalam kehidupanku.


Aku ingin menghabiskan waktu dengan ketenangan hati, melupakan sejenak kesedihan dari sunyinya malam-malam kesendirian, malam-malam yang terus menghantui diriku dengan cacian, suara-suara yang berbisik-bisik itu mengganggu dan terus berdatangan.


Suara yang bukan berasal dari manusia, melainkan seperti suara angin malam yang sering mengusik, pelan tapi menyeramkan.


Aku tidak ingin suara itu terus datang menghantuiku. “Ah, menyebalkan, kenapa hal ini begitu amat sulit kulupakan. Ayolah ... suara itu terus datang, menghantuiku dan mengusik ketenanganku.” Aku berpejam dalam menatap ke arah depan.


Dengan mobil biru bersepion jingga itu, aku berangkat ke tempat yang kuinginkan. Saat itulah, aku melaju dengan kecepatan yang sangat cepat. Namun, entah mengapa gejolak perasaan saat itu pun datang, di tengah-tengah perjalanan itu lagi-lagi air mataku tumpah karena mengingat peristiwa yang sudah menjadi kenangan.

__ADS_1


Aku memberhentikan mobil sejenak menyeka air mata, perasaanku telah merobek hati semakin dalam sehingga pandanganku tidak fokus menyetir. Saat itulah, aku memilih memberhentikan mobil.


Aku mengambil tisu yang berada di dekatku, memutar satu irama musik sendu yang menghantarkan diriku ke alam bawah sadar.


Aku memejamkan mata, perlahan-lahan air mata itu mulai berhenti jatuh, pikiranku sejenak menjadi tenang dan nyaman.


Syukurlah, aku menghela napas kemudian menancapkan gas, melanjutkan perjalananku ke sebuah desa yang terletak di atas pegunungan, desa itu terpencil dan tidak banyak penduduk yang bermukim di sana, udara di desa tersebut cukup nyaman karena angin sepoi-sepoi terus bertiup, dan matahari terlindung oleh awan.


Aku bersyukur bisa memilih tempat yang sesuai untukku menenangkan diri, menghilangkan perasaan sedih yang bersemayam di dalam sanubari.


Sesampainya di desa tersebut, aku berdiam diri pada patung tungku api, patung tersebut mempunyai corak abu-abu dan merah, di bawah patung tersebut ada kuil rinta.


Aku menenangkan diriku, menatap ke arah sekeliling, mengutip beberapa hikmah dari kejadian yang sudah terjadi, tidak ada lagi kesedihan, semuanya seperti batu yang di lempar ke air, sudahlah. Sesuatu yang telah terjadi, biarkanlah untuk apa menyesali itu, dan berlarut-larut dalam kesedihan yang tidak ada artinya sama sekali.


Doa yang kukirimkan untuk temanku, lebih baik daripada ratapan tangis yang hanya menunjukkan penyesalan kehilangan tanpa bukti pengorbanan dan kasih sayang.


“Teman, doaku untukmu semoga kau di sana tenang dengan penuh senyuman, terlebih semoga kita disatukan kelak di alam sana, tunggu aku. Dan sebelum aku menyusulmu kelak, ada banyak doa yang kukirimkan untukmu.”


Batas usia adalah bentuk rahasia, tak seorang pun tahu kapan ia akan berakhir, sadar akan hal itu, aku harus bersabar dalam menjalani kehidupan dan bersyukur atas apa yang dimiliki sekarang, karena sesuatu yang telah dimiliki, ketika diri sudah pergi dari alam ini, sesuatu itu tak akan mengikuti, hanyalah jasad dan selembar kain putih yang mengikuti.


Di tempat pegunungan itu terdapat banyak pepohonan dan burung-burung berbunyi mengikuti suara angin, sudah hampir 2 jam berlalu, tidak begitu terasa karena memang aku tidak membawa jam sama sekali, aku mengetahui analog jam, ketika aku bertemu salah seorang petani daun teh, petani tersebut mengajakku ke rumahnya dan di situlah aku bisa mengetahui jam berapa dan berapa lama waktu yang sudah berlalu.


Di sudut ruangan yang sempit, ada sesuatu yang menarik perhatianku, aku pun bertanya kepada pak petani, “Benda apa ini?”


Petani itu menjawab, menjelaskan bahwa itu adalah benda leluhur yang turun temurun diwariskan, benda tersebut berupa gendang tua, namun ketika dipukul tidak ada suara sama sekali.


Aku memperhatikan dengan detail, bagaimana gendang itu terlihat, tampak sudah sangat tua sekali, bahkan hampir rapuh di sekelilingnya, lukisan yang terpahat seolah sangat detail dengan ukiran sempurna, sepertinya gendang itu terjaga dan terawat oleh beberapa generasi.


Petani itu tampak memperhatikan diriku, “Anak muda, kenapa kau melamun?” Dia menepuk-nepuk pundakku.


Aku menggeleng. “Tidak, aku tadi hanya memikirkan sudah melewati berapa generasi gendang ini?” Aku bertanya memandangnya ke arah gendang tua tersebut.

__ADS_1


“Gendang ini sudah melewati 20 generasi, kami menjaganya dengan sangat hati-hati.”


Aku terus berbincang dengan pak petani, di saat itulah aku mulai mengantuk, petani yang melihat keadaanku seperti itu langsung mempersilakan diriku untuk merebahkan diri. “Mungkin kau lelah waktu di perjalanan? Dan sekarang beristirahatlah, anggap saja rumah sendiri.” Petani itu mempersilakan.


Aku mengucapkan terima kasih atas kebaikan petani. Aku pun mulai membaringkan tubuh dengan pelan ke kasur, perlahan-lahan terlelap, eh... tiba-tiba perutku berbunyi!?


Astaga? Belum juga terlelap. Petani itu tertawa mendengar suara perutku, “Anak muda, sepertinya kau kelaparan, jangan terlelap tidur dulu, biar aku suduhkan makanan untukmu.”


“Ah, tidak usahlah repot-repot, aku ini orang yang kuat, sekarang aku tidak sedang membutuhkan makanan.” Aku benar tidak ingin merepotkan dengan gaya yang lumayan membuat petani itu kembali tertawa.


“Anak muda, kau mengingatkanku pada masa mudaku dulu.”


“Bagaimana mungkin? Apakah kita sama?”


“Tidak, aku hanya sekadar mengingat masa lalu saja, tidak usah kau pikirkan.”


“Ah, kau ini sangat tidak asik, setidaknya beritahu aku sesuatu.”


“Baik, kalau begitu aku akan menceritakannya.”


Sejenak setelah itu petani menghela napas, lanjut menceritakan banyak hal kepadaku, aku mendengarkan dengan saksama.


***


Menurut informasi di desa ini cukup banyak menyimpan sumber daya alam, mulai dari perkebunan teh yang sangat luas, juga ada sebuah pertambangan emas di desa itu dekat pegunungan dan apit oleh kedua jurang yang sangat dalam, pertambangan tersebut cukup besar di kelola oleh seorang wanita bernama Lita Aksima.


Lita Aksima berasal dari perkotaan dia adalah seorang mahasiswa kampus dan sekarang dia dalam masa libur.


Sementara ayahnya ingin beristirahat, Lita Aksima menggantikan posisi ayahnya untuk sementara, dia berkunjung ke desa tersebut untuk memantau dan memperhatikan para pekerja melakukan tugasnya.


~Lita aksima~

__ADS_1


Sekedar pertemuan yang membuat kesan, kuharap benar-benar ada kata yang bisa menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi.


Aku sudah mengenalimu lebih dari apa pun, salam untukmu. Tiada dalam suka mau duka, jiwa ini akan terus mengenang dirimu.


__ADS_2