
Jumat pagi hujan mengguyur, menetes jatuh di tempat kediamanku sekarang, hujan itu turun sangat lebat.
Aku terdiam melamun, menatap ponsel yang ada di tanganku. Saat itu pikiranku berkelana jauh semakin jauh, aku membaca bahasa thai dan beberapa hal lainnya yang menarik dari negara Thailand.
Artikel google, juga aplikasi bahasa menjadi acuan diriku dalam mempelajari bahasa thai, bahasa yang akan kugunakan nanti untuk berbicara dengan orang sana.
Jujur lelah, tidak mengerti juga cara pengucapannya. Kala itu aku tidak habis pikir ada bahasa yang serumit itu, bagiku sangat rumit hingga aku tidak mengerti.
Kepalaku sakit, aku memegangnya. Kadang berbaring di kasur membayangkan bahasa thai yang baru kuhafal.
Aksara tulisan bahasa thai itu berusaha kuingat dan kupelajari dengan teliti, aku tak pernah malu juga saat tidak bisa menuturkannya, kala itu aku pun menelfon, lalu bertanya kepada Wapta tentang penuturan bahasa thai.
Sedikit demi sedikit, aku mempelajari bahasa tersebut, mendorong rasa yang tidak bisa apa-apa. Kemampuan seseorang dalam berbahasa itu akan terlatih seiring berjalannya waktu.
Karena sejatinya manusia hidup itu beradaptasi dengan lingkungan. Belajar dan praktik maka akan mendapatkan hasil yang cemerlang.
Aku tahu ini tidak segampang yang orang lain ucapkan, aku bahkan tidak bisa lebih banyak berharap. Lelah, terkuras pikiran, memikirkan sesuatu yang akan kuhadapi dan kujalani ini.
Aku tidak pernah membayangkan keluargaku ternyata adalah orang Thailand, lebih-lebih kakek. Dia tidak pernah mengunjungiku sama sekali.
Apakah nanti dia akan menerima kedatanganku, jujur aku masih bertanya-tanya dengan segenap perasaan dalam yang menjulang ke hadirat Sang Maha Kuasa. Memohon dan berdoa untuk segala macam kehidupan yang kujalani.
Hubungan keluarga yang merupakan jarak jauh bahkan tidak pernah bertemu sama sekali, seorang cucu sepertiku yang tak pernah bertemu kakeknya.
Aku tidak tahu bagaimana rupa kakek di sana, tetapi imajinasi diri ini membayangkan sosok wajahnya terus melanglang buana, banyak pertanyaan menghampiri pikiran, aku juga ingin sekali mempertanyakan bagaimana kondisi kakek yang berada di sana.
Mengapa selama ini kakek tidak pernah mengunjungiku atau menghubungiku sama sekali, apakah mereka lupa kepadaku?
Sebenarnya aku harus melupakan sejenak tentang itu, tentang semua hal yang tidak bagus juga kalau diingat-ingat bisa kacau pikiran. Aku tidak ingin benar-benar menjadi orang yang tidak tahu terima kasih.
Bahkan kala membaca buku saja, saat ada seminar berkesempatan bertemu penulis. Aku menyempatkan diri untuk berterima kasih atas karya yang menemaniku selama dalam kehidupan ini.
Kadang bertanya mengapa aku hidup? Dia penulis itu tertawa terlebih dulu, lanjut mengatakan hiduplah untuk menjalani keseharian, jalanilah semuanya dengan tabah. Tuhan tidak pernah tidur, berdoa dan berdoa itulah katanya.
Benarlah, aku harus punya tekad kuat demi bertemu kakek di sana. Aku harus berusaha semaksimal yang kubisa, setulus-tulusnya. Selama ini aku selalu tulus dalam mencintai seseorang.
Contohnya cintaku yang tak pernah kuucapkan, cinta yang terpendam dalam. Aku mencintai Wapta dengan ketulusan yang mana kalau dibahas akan memakan berjuta-juta lembar kertas.
Lepas dari sholat jumat di mesjid. Saat tiba di rumah kira-kira pukul 14.55 siang. Saat itu, aku kembali mengulangi penuturan bahasa thai dengan begitu semangat, sangat semangat diri ini mempelajari bahasa tersebut. Bahasa yang di dalamnya ada suatu kearifan bernama Aksara yang sulit kukuasai.
Semuanya itu kulakukan hanya untuk bertemu kakek. Tidak apa-apa, sesulit apa pun aku harus tetap belajar, terus belajar demi bertemu kakek.
“Ya ampun, kenapa begitu sulit mempelajari bahasa ini, bahkan menulisnya begitu susah, tanganku hampir kesemutan mempelajari tulisan bahasa ini,” tuturku dalam benak sambil duduk menulis Aksara bahasa thai. Aksara tulisan yang seakan membuat tanganku keseleo.
Bagi sebagian orang mungkin mudah, tetapi tidak bagiku ini bahkan terlalu susah.
Waktu seakan berjalan cepat, senja kembali datang. Lihatlah, jendela yang ditembus oleh cahayanya menghiasi suasana hatiku yang sedang gelisah, tak beraturan pikiran. Sakit kepala ini telah sakit. Tahu, sakit.
Aku berteriak, “Aaaaah, bahasa apa iniiii?” Tanganku memegang wajah, pena dan kertas kubuang jauh-jauh. Sial, menyebalkan. Bahasa yang susah, aku tidak bisa. Saat itu aku benar-benar dikuasai amarah. Tidak puas sampai di situ, aku membanting meja dengan kemampuan yang tidak pernah kubayangkan.
Aku tidak peduli tetangga di sebelahku mendengarnya atau tidak, aku marah. Sakit kepala, sakit sudah rasanya. Usai melampiaskan amarah aku bernapas ngos-ngosan, mencoba menghela napas.
Tok ... tok ... tok ....
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat amarahku meredam. Aku mengelus dada, mencoba melapangkannya sebentar.
Aku membuka pintu, “Iya, ada apa?” senyuman palsu sengaja aku gunakan dengan sapaan hangat menghiasi wajahku yang sebenarnya dipenuhi rasa kekesalan karena bahasa yang tadi kupelajari.
Tetanggaku seorang pemuda yang sama sepertiku, hanya saja karena keterbatasan biaya aku putus sekolah, sedangkan tetangga yang disebelahku itu seorang pelajar yang berprestasi. Dia pernah menang lomba menulis tingkat provinsi.
Aku yang dari dulu menulis sekadar hobi saat mendengarnya. Aku merasa ingin, tetapi aku sadar tulisanku berantakan. Jadi, untuk apa? Untuk memperlihatkan ke orang-orang bahwa aku ini orang yang tak pandai menulis, benar aku harus memperlihatkan ke orang-orang, nanti kalau ada lomba lagi. Lihatlah, aku akan menulis dengan gaya bahasaku sendiri. Orang lain suka atau tidak itu tidak jadi masalah.
Dia bernama Mandris, sering disebut orang-orang dengan nama panggilan Ris.
“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Kau itu berteriak. Bahkan, ada suara banting-banting. Macam orang gila yang sering membuatku tertawa.” Berulang kali dia menepuk pundakku.
Bagiku dia itu tampak sedang mengejek, tetapi aku harus tetap sabar. Selama ini aku memang sulit membedakan antara ejekan dan candaan, terlebih sekarang perasaanku sedang kesal. Ingin kutabok.
“Apa!? kau tertawa, silakan. Aku tak melarangnya, itu adalah hak milikmu.”
“Ada apa tetanggaku? Kau tampak gelisah, ceritakan itu kepadaku, siapa tau aku bisa membantumu.”
Kala itu menunduk. “Kau tahu, tidak ada hal yang bisa aku lakukan, aku ingin menyerah.”
Dia memegang kedua bahuku. “Tetangaku, kau itu sungguh memalukan, kau seorang pemuda sama sepertiku. Berjuanglah, jangan pikiran macam-macam, jangan selalu terpuruk oleh satu keadaan.”
Mendengar yang keluar dari mulutnya sontak saja aku terkejut, mengingatkanku dengan seorang teman yang dulu bersamaku. “Kau benar, aku harus bisa.”
“Iya, begitu. Tersenyumlah, apa yang kau pelajari, teruskanlah. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah berhenti, teruslah bermimpi. Tetanggaku, kita adalah seorang pemuda yang harusnya memiliki tekad dan semangat membara.” Mandris tampak bersikap tegas menepuk bahu kananku.
Dia lanjut bercerita tentang tokoh bangsa yang amat berjasa pada negeri ini, kau tahu Ir. Soekarno. Beliaulah yang mengatakan; “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh orang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Bukan hanya itu, perkataan beliau yang selalu melekat dalam benakku adalah; “Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya!”
“Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini baiknya digunduli saja kepalanya.” Itulah kata-kata tajam dari beliau, kata-kata yang menggetarkan sanubari. Kau berjuang, harus bercita-cita bisa. Karena sejatinya; “Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia.“ Dengarkanlah, wahai anak muda yang bercita-cita penuh pada hakikat bangsa dan negara.
“Terima kasih, tetanggaku.”
Aku kembali masuk ke dalam rumah dengan menutup wajahku. Mandris juga pamit pulang ke rumahnya.
Aku merasa malu. “Astaga ... benar ini bahkan sangat memalukan, seorang pemuda sepertiku menyerah begitu saja. Ah, tidak, aku tidak boleh menyerah, benar aku harus bisa.” Aku mengepal tangan di dada. Bersemangat dan bertekad kuat.
Aku lantas giat semakin kuat, waktu memang tidak memberi banyak buatku. Saat itu pun aku menutup kamus bahasa thai itu karena waktu sudah senja, saat itu aku pun membereskan rumah karena besok hari sabtu adalah hari keberangkatan diriku ke negara Thailand bersama Wapta yang menemani perjalananku.
Jujur, aku gugup sekali. Telah lama tidak bertemu Wapta, telah lama tidak menyapanya. Aku harus bagaimana? Satu hal dalam benakku saat ini adalah aku harus kuat, bertekad semangat.
Aku berhenti berberes karena kelelahan. Saat itu, aku memutuskan supaya melanjutkan berberes rumah pada besok saja, pukul empat pagi seperti biasa.
***
Pagi hari yang masih gelap dengan suasana yang dingin itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah. Kala itu aku sudah bangun mempersiapkan segala kebutuhan dan segalanya berusaha kurapikan.
Sejenak aku berhenti, lalu membuka pintu rumah, terlihatlah di depan mataku sosok wanita dengan pakaian yang begitu rapi. Dia berdiri di ambang pintu. “Ternyata kau, Wapta.” Aku terkejut. Dia datang terlalu pagi.
“Iya, ini aku. Kamu masih mengenaliku rupanya.”
“Sudahlah, kau datang terlalu pagi, Wapta.”
“Aku tak ingin telat, jadinya datang pagi-pagi ke sini, tidak apa-apa, kan?” tanya wapta dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sanubariku terasa gemetar gugup, tetapi aku berusaha memaksimalkan diri, menatapnya dengan penuh senyuman.
__ADS_1
“Iya, silakan masuk. Tapi maaf ya aku sibuk berberes-beres rumah jadi kau duduk saja di sofa itu.” Aku menunjuk sofa.
“Tidak, aku akan membantumu membereskan rumah.”
“Eh? Kau itu adalah tamuku, bukankah kau tahu kata orang tamu adalah raja. Kau duduk saja, jangan ikut membantuku.” Aku mengucapkan alasan sederhana, sejujurnya aku tidak ingin merepotkan Wapta.
“Baiklah, sekarang aku perintahkan kamu duduk, biarkan aku yang beres-beres rumah,” jawab Wapta seakan membalik keadaan. Memanglah dia itu keras kepala.
Aku harus memaksimal diri kala berjumpa dengannya, tetapi jujur aku menyukai sikap wanita yang seperti itu.
Aku terdiam, tak bisa menjawab. Wapta tersenyum manis, semanis madu yang banyak disukai orang-orang. “Sudah, kamu duduk saja nar, nanti aku yang beres-beres rumah, itu mudah karena itu memang kegiatan wanita dan aku adalah seorang wanita. Kamu harus tahu itu.”
“Tidak, aku tak ingin merepotkanmu, ini juga termasuk kegiatan harianku yang tak bisa diwakilkan orang lain.”
“Baiklah, rupanya kau tetap seperti dulu, keras kepala,” ejek Wapta dengan wajah yang kulihat konyol. Enak saja, bukankah dirinya yang selama ini keras kepala, kenapa menuduh aku. Ada-ada saja.
“Kau juga sama, keras kepala.” Aku membalas serangan ucapan dengan serangan yang sama, tetapi pada akhirnya Wapta tetap membantuku, argumen miliknya lebih kuat. Masa aku dikatakan bagai seorang wanita yang dia temui di perempatan jalan hari itu alias orang banci.
Astaga? Aku memegang jidat. Dia dengan santainya mengucapkan itu, aku tak bisa lagi mencegahnya. Kami berdua pun membereskan rumah. Pukul enam pagi, kegiatan itu sudah beres semuanya.
Syukurlah. Kami berdua sejenak beristirahat, menghela napas letih. Tak lama, Wapta menyusun makanan di meja, setelah selesai kami berdua lanjut makan mengisi perut supaya badan ini bertenaga menempuh perjalanan yang mungkin tidak sedikit waktu yang terlewati.
Setelah makan dan semua persiapan sudah beres. Kami berangkat menuju bandara untuk terbang ke negara Thailand. Terbang tanpa sayap, singkatnya kami naik pesawat.
Aku bukanlah orang alay. Jangan pernah menyebutku begitu, melainkan kalau boleh jujur. Ini adalah pengalaman pertama bagiku menaiki pesawat, pengalaman pertama pergi ke negara yang entah bagaimana aku bisa, tetapi di sisiku ada Wapta yang menemani perjalanan ini, aku hanya berharap dalam benakku sekarang untuk bisa bertemu kakek. Di dalam perjalanan menuju ke bandara aku melamun lagi untuk sekian kalinya. Diri ini lemah, tidak sanggup melawan angan-angan khayalan yang menghampiri.
Saat tiba di bandara. Kami berdua dipinta untuk melakukan pengecekan tiket, juga data diri, setelah semua itu usai, kami pun memasuki gerbang keberangkatan.
Saat berjalan menuju ke gerbang, kedua telapak tanganku keluar peluh. Aku mengepalnya kuat-kuat. “Perasaan apa ini? gemetar, inikah pengalaman pertama naik pesawat?” Lagi-lagi aku bergumam dengan perasaan yang diselimuti ketakutan. Saat aku membayangkan terbang memanglah menyenangkan, tetapi aku takut terjadi kecelakaan. Aku tidak protes, jujur aku adalah orang yang tanpa pengalaman sedikit pun menaiki pesawat, siapa pun boleh menghinaku, itu adalah hak mereka.
Perasaanku pucat pasi, mungkin berdampak juga pada ekspresi wajah, aku sangat membutuhkan cermin. Ingin melihat bagaimana raut wajahku sekarang.
Wapta menepuk pundakku, lalu berkata; “Belum juga naik, kamu sudah terlihat pucat, Nar.” Wapta tertawa. Benarlah, ternyata wajahku pucat, mungkin ekspresi muncul bersamaan dengan perasaan. Aku tidak menyangkalnya Wapta memang benar. Belum juga naik pesawat, belum terbang sudah gemetar rasanya.
Aku hanya berdiam diri, tak bisa berkata sepatah kata pun. Sampai waktu keberangkatan itu tiba, semua penumpang dipanggil untuk naik ke pesawat, kami berdua mencari tempat duduk yang sesuai dengan urutan yang ada di tiket. Tempat duduk yang sudah ditetapkan.
Aku mendapatkan nomor urut duduk di dekat jendela, aku bisa menatap ke arah luar dari balik kaca jendela pesawat, di samping tempat dudukku itu ada seseorang yang berjas hitam. Dari wajahnya tampak terlihat berusia 35 tahun atau kurang dari itu, aku tak pandai menilai usia melalui wajah.
Wapta duduk terpisah denganku, tepatnya dia duduk di belakang. Hal itu membuatku tak nyaman, jujur saja dari lubuk hati yang paling dalam. Aku ingin duduk bersamanya, tetapi sayang beribu kali sayang tiket pesawat ini seakan tidak memberikan diriku kesempatan duduk bersamanya.
Suara Pramugari itu mulai terdengar, memecahkan lamunanku. Dia memberikan instruksi keamanan dan keselamatan, menerapkan beberapa aturan.
Pramugari yang terlihat cantik menawan itu memberi tahu cara memasang tali sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, dan jika terjadi hal yang tak diinginkan, dia menjelaskan cara mengenakan pelampung keselamatan, juga masker oksigen. Aku mangut-mangut diam mendengarkan.
Tak lama setelah itu, pesawat take off terbang naik ke udara. Seketika jantung saat itu berdebar-debar tak menentu.
Perasaanku memucat, ingin memuntahkan semua isi perutku, tetapi aku harus tahan dengan menutup mata. Siapa tahu itu akan menolongku. Dengan pikiran yang kuusahakan tenang, saat itu aku membayangkan persawahan, juga suara sapi yang berbunyi, “mOo-moO.” Kesemuaan itu kulakukan untuk menenangkan perasaan. Aku tidak banyak ucap, rasanya diri ini tak sanggup lagi mengatakan banyak hal, juga menjelaskannya lebih rinci kepada orang lain, jujur itulah pengalaman pertama buatku.
Usai pesawat take off, terbang lurus di udara. Aku bisa menghela napas lega, melihat ke arah luar jendela pesawat.
Untunglah aku duduk di bangku dekat dengan jendela. Sungguh, menakjubkan. Aku menatap gumpalan awan putih itu terlihat menawan, juga hamparan bumi ternampak sedikit kecil.
Lihatlah, siapa pun tidak bisa sombong di dunia ini, hamparan dunia yang kubayangkan kalau meteor jatuh menghantam. Dunia ini mungkin akan terasa kelam, sekilas saat itu renungan datang menghampiriku.
__ADS_1
Kini aku terbang melintasi cakrawala, tidak dengan sayap, tetapi aku terbang dibawa mesin yang tampak bentuknya seperti burung. Kini aku benar-benar telah terbang melintasi cakrawala, ufuk yang dipandang secara mendatar, melintasi garis horizontal permukaan bumi dan kaki langit.