
Aku menatap berlipat tangan, berdong-dong lelah mengoceh. Sekadar berharap atau apalah maksudnya yang telah membuat diri susah menjelaskan.
Aku pun tidak tahu bagaimana rasanya bercerita panjang lebar. Apakah ini sama denganku saat berada di taman menulis surat sebelumnya, mungkin saja aku tidak tahu mengenai hal tersebut.
Enggan berkutat lebih lama, lelah. Biarkanlah sudah, menulis kata ternyata tak segampang yang selama ini aku kira.
Sekilas irama yang memecahkan segelas anggur tanpa berparuh congkong. Pikiranku masih saja terbayang teks bacaan dari surat Wapta, juga mengenai tulisan yang baru saja selesai terlipat rapi.
Perasaan yang tertuang sekadar surat? Aku sangat tidak yakin surat yang sekarang berada di dalam saku celanaku bisa membuat Wapta berbahagia.
Paling tidak aku membalas suratnya agar dia merasakan tenang, entah dia akan suka atau sebaliknya, bisaku saat ini hanya berharap.
Surat itu belum kukirimkan. Kakek seakan-akan menghambat rasa rinduku, perasaanku saat ini merancang sebuah rencana untuk bersegera mengakhiri percakapan di antara kami, tetapi baru saja secara tak sengaja aku justeru terpeleset kalimat tanya, sekilas ucap tanpa banyak bicara lagi, sekarang aku berdiam ucapan.
Tangan kakek mulai bergerak lagi membersihkan kulit semangka. Masih banyak berserakan di piring-piring yang tertata berantakan.
Kulit semangka itu diambil perlahan, lalu dimasukkan ke dalam plastik. Sepertinya agak ribet itulah cara kakek, dia punya caranya sendiri.
Kami berdua sekarang kembali sibuk membersihkan kulit semangka, sedangkan nenek dia daritadi hanya memperhatikan kami. Itulah kakek yang sangat sayang pada nenek hingga tidak ingin membuatnya kelelahan.
Nenek berkipas. Duduk dengan gaya biasa, dia tersenyum entah menatapku lucu atau kenapa? Jelaslah aku tidak tahu alasannya.
Mungkin karena kakek yang bergaya seperti pelawak saat membersihkannya.
Dari dulu aku sering memperhatikan kesederhanaan hubungan antara kakek dan nenek. Sesederhana itu, mereka saling memahami satu sama lain, kemungkinan itulah kunci utama di dunia ini untuk mendapatkan moment terbaik dalam keeratan hubungan rumah tangga.
Tadi saat mendengar pertanyaanku, kakek tertawa lebih nyaring dari biasanya. Dia mengatakan anak kuliah sepertiku seharusnya sudah dewasa.
Pertanyaan yang baru saja kupertanyakan sangat tidak mencerminkan kepribadian seorang mahasiswa. Macam bocah kelas satu SD.
Kali ini. Aku menepuk pelan jidat seakan mendapatkan tamparan, dilempari dengan bola yang terpantul terus berbalik mengenai keningku, ucapan yang seakan menimbulkan bekas, juga benjolan terasa sakit, entah bagaimana tubuhku sekarang bergerak kaku seperti ada lem super lengket yang menempel di urat syaraf.
Kakek lagi-lagi tertawa. “Man, kau tak perlu tahu bagaimana rasanya bercerita panjang lebar. Sudah, kita harus cepat membersihkan kulit semangka yang berserakan ini, kakek tahu kau pasti ingin cepat mengirim surat ke wanita itu bukan?”
Aku mengenyir, juga menggaruk kepala saat mendengarnya. Aku tidak menjawabnya, bahkan bergegas membersihkan dengan kedua tanganku.
Dengan pergerakan gesit, jiwa tenang dan lain sebagainya hingga tidak terasa putaran jam melesat, melewati menit demi menit.
Pukul dua tengah hari, kami selesai membersihkannya. Aku bersorak di dalam batin, bersyukur sehabis hirupan napas.
__ADS_1
Tentulah kakek tidak mendengar kalimat syukurku, tetapi dia menatapku kuat-kuat.
“Pergilah. Kirim surat itu kepadanya.” Seperti biasa suaranya terdengar parau, saat itu senyumanku seketika mengembang. Dengan anggukan, aku menatap mantap.
Di tengah hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang, aku tidak peduli akan hal itu. Dengan berlari di pinggaran jalan aku bergerak cepat menuju rumah.
Saat tiba di sana secara tergesa-gesa aku masuk rumah ingin mengambil kunci kendaraan beroda dua milikku. Seingatku kunci itu berada di dalam lemari, tetapi samar lupa-lupa ingat.
Aku mengecek dalam lemari, sesak baju-baju. Geledah sana, geledah sini. Sayangnya tak kunjung kutemukan, kunci itu berada di mana sebenarnya? Sekarang aku terus memikirkannya, menggaruk kepala yang jelas terasa gatal. Otakku loading lama, tak ingat benar atau apa aku benar-benar lupa menaruhnya?
Aku ingin menyerah. Astaga? Lelah, pikiranku mendadak terasa pusing. Sejenak berpejam dengan tangan memegang kepala. Aku tidak mampu lebih kuat menahan rasa rindu yang bersemayam kuat melebihi apa pun.
Surat yang sekarang kugenggam harus kukirimkan segara. Aku harus bergegas pergi ke tempat pengiriman surat. Akan tetapi, sangat tidak aku percaya sekarang tak kunjung menemukan kunci kendaraan.
Wahai kunci, di mana engkau berada? Lemari. Ayolah, kenapa tidak ada? Aku membutuhkan kunci sepeda motorku segara.
Suaraku terkeluar keras memantul-mantul di dalam benak. Bentuk kalimat kesal dan rasanya tidak nyaman, ingin kubanting. Sabar! Kala itu timbul suara mistik. Bulu kudukku merinding, sudahlah hirup napas saja. Iya, benar.
Aku kembali bicara dengan diriku sendiri. Semacam teman khalayan yang kuberi nama Farhan. Begitulah, dia sering muncul dalam bentuk suara yang tak mampu aku terangkan.
Saat itu aku merasa tidak kuasa lagi mencarinya, bahkan isi lemari itu sudah kubongkar habis semuanya, tetapi tidak juga ditemukan kuncinya. Di mana?
Dengan niat ingin melapangkan dada. Aku sejenak menghela napas, melangkah pergi ke arah dapur ingin meminum jus jambu biji favoritku.
Saat kubuka kulkas, belum sempat mengambil jus jambu biji, siapa sangka aku melihat kunci sepeda motorku di atasnya.
“Ini ... Yeaayy!” Saat itu aku bisa diamsalkan bagai setang yang lepas dari kendali, oleng-oleng memekik dengan rasa senang yang menyeluruh di sekitaran atmosfer.
Yeah, aku memang lebay. Mendeskripsikan perasaan secara berlebihan, itulah ciri khasku yang kuberi nama Sepak Terjang Gulali Rasa Asam-Asam Pedas.
Kala aku bertemu seorang psikolog, mengatakan perasaan berlebihan sekilas ternampak lebay, mungkin saja kepalaku akan terkena ketuk.
Secara menurut pemahaman mereka lelaki itu seharusnya pantang menyebut isi perasaan yang terkesan lebay, cukuplah lelaki itu berotot kuat dan mempunyai sikap maskulin yang jauh lebih super debur mempesona dipandang mata.
Apa mungkin, astaga? terserahlah. Jurusan kuliahku tidak membahas tentang psikologi, mungkin sekadar persepsiku yang berlebihan.
Aku cepat mengambil jus jambu biji, membuka kemasannya, lantas meminum dengan kecepatan di atas satu kilometer per detik. Kunci sepeda motor yang semula kutatap telah berada di genggaman tangan.
Usai habis meminumnya, aku berlari keluar rumah dengan tergopoh-gopoh. Napasku berembus kencang, berlari memantapkan langkah kaki terbaik yang kubisa.
__ADS_1
Kendaraan beroda dua itu masih kutatap dari kejauhan. Aku masih berlari di dalam rumah, kulihat dari pintu yang terbuka.
Langkahku sekarang berhenti, berdiam di dekat sepada motorku. Perasaanku gugup seakan gugur meteor dari luar angkasa. Peluh keringatku berceceran. Ayolah, ini hanya mengirim surat, kenapa diri ini terdiam beku seperti ini? Rasanya ada sesuatu yang begitu berat kulakukan.
Akan tetapi, aku harus berusaha kuat mengirimkan surat itu kepada Wapta karena dia harus tahu aku di sini baik-baik saja, bahkan lucunya melupakan hari ulang tahunku sendiri, juga ingin bertemu, semoga bisa bertemu, ingin mengatakan bahwa kesemuaan yang ditanyakannya benar, juga ingin mengatakan bahwa aku yang sekarang telah berganti nama bukan Narak lagi, melainkan Roman.
Semua itu tertulis lengkap di dalam isi surat. Benar, aku harus berusaha memberanikan diri mengirimkannya.
Benar. Aku harus berani mengirimnya surat. Ini bukan tentang sekadar kata, tetapi itulah keseluruhan isi perasaan yang selama ini terpendam.
Namun, tetap saja tidak kukatakan hanya sekilas bayang-bayang samar di dalam kegelapan yang tidak mampu dilihat secara pandangan biasa.
Setelah pertimbangan panjang dengan helaan napas menghirup oksigen, aku menaiki sepeda motorku. Helm sudah terpasang mantap, juga kedua tanganku sudah siap menancapkan gas.
BREEMM ... BREEMM ... BREEMMM ....
Kepulan asap mengepul tebal, kutatap sejenak belum kujalankan ke jalan raya. Kakek di toko sana tampak tersenyum menatapku.
Sejenak aku mendadah, lantas melaju di jalanan yang dipenuhi besi-besi berlalu lalang bersamaku kini tampak beriringan menuju arah utara.
Tempat pengiriman surat yang akan kukirimkan sebuah surat kepada Wapta, sosok wanita yang kucintai setulus-tulusnya dengan rasa ketidakmampuan diri, sosok lelaki sepertiku yang tidak berani dalam mengungkapkan perasaan hingga saat ini, aku hanya mampu berharap dan terus berharap. Entah akan sampai kapan?
Wapta, kau berhak berbahagia lebih dari apa pun di dalam kehidupanku. Lebih dari sebatas kata di dalam ungkapan yang melanglang ke puncak yang tiada bertepi, tiada sanggup kuterjemahkan ke dalam bahasa dengan susunan rapi.
Semoga kau menerima isi suratku yang mungkin berantakan, kata-kata di dalamnya yang terkesan lebay, semoga kau tidak menganggapnya demikian.
Aku tahu mungkin itulah kelebayan yang selama ini telah melekat pada sikapku. Di lain hal, aku banyak salah kepadamu. Satu harapan yang kuharap adalah engkau mampu memaafkanku.
Kendaraanku melaju di atas kecepatan standar. Walaupun perasaanku saat ini sangat ingin mengatakan tancap gas, tetapi terbayang suatu kalimat mengenai saat berkendara utamakan keselamatan.
Biar lambat asal selamat. Itulah yang diajarkan pak polisi lalu lintas, mereka mengatur demi keselamatan masing-masing orang.
Alangkah baiknya para polisi mengatur dengan tertib ada peraturan, rambu-rambu, juga lain sebagainya, tentulah dalam hal ini kesadaranku muncul dalam berkendara aku harus tahu semua itu demi keselamatanku sendiri, juga keselamatan orang lain.
Aku telah lama sadar akan hal itu, maka berkendara haruslah hati-hati. Pikiran juga jangan sampai oleng.
Kendatipun demikian, saat berkendara pikiranku benar-benar oleng mengingat sosok Wapta. Mengapa atau kenapa?
Hatiku seakan bisu tidak terdengar jawaban, sedangkan pikiranku hanya menampilkan sosok wanita itu. Pikiran ini juga sama diam dalam beribu bahasa.
__ADS_1
Mereka tampak enggan menjelaskan kepadaku. Biarkanlah semua itu, saat ini aku harus tetap tenang dan fokus berkendara.