
Kakek menarik tanganku hingga tiba di depan toko. Jaraknya lumayan dekat tidak jauh, sebelumnya sudah pernah kujelaskan toko dan rumah kakek itu berdekatan.
Saat waktu senggang, aku sering menghabiskan waktu duduk di bangku taman, tempatnya terasa nyaman sering kujadikan tempat membaca buku, kadang-kadang membantu kakek yang biasa melayani pembeli.
Itulah kebiasaan lama, tidak perlu dituliskan panjang, nanti yang ada bosan. Tidak seru.
Sekarang kami telah tiba di toko. Jelaslah sudah kedua mata ini menatap sekumpulan semangka yang tampak banyak, aku tidak tahu ini pesta atau apa?
Perasaanku sekarang saat menatap semangka bagai menatap sekumpulan batu yang ingin aku hancurkan semuanya.
Sayangnya, di tanganku tidak ada palu atau linggis yang bisa memecahkannya, aku sudah pernah mengatakannya; aku tidak suka semangka.
Sampai begitu tidak sukanya, jelas sekali saat itu aku menggelengkan kepala, tidak kuasa menatapnya, kakek malah mencicit bilang; “Man, kau itu seperti orang yang baru pertama kali ini lihat semangka, ngomong-ngomong ini semua kiriman dari salah seorang yang berada di Indonesia, langsung kakek sambut dengan rasa gembira.” Kakek menepuk pundakku.
Saat mendengarnya, aku langsung penasaran siapa orang yang mengirimnya. Kakek tidak mengatakan siapa pun seakan dia menganggapku bisa berbicara kepada semesta, juga bertanya pada semesta langsung siapa orang yang mengirimnya.
Semesta, beritahulah aku siapa gerangan yang telah mengirim semangka ini? Mengapa harus semangka? Aku tidak suka semangka.
Saat itu aku memekik di dalam batin. Siapa oh siapa? Aku tidak tahu, jelaskanlah siapakah orang yang telah mengirim semangka. Pandanganku sedikit menatap lesu, tidak suka berlama-lama.
“Kakek, kenapa tidak menjelaskan padaku siapa yang mengirim semangka itu ke sini?” tanyaku penasaran.
“Nanti akan kakek katakan. Ayo, bantulah kakek membelahnya, sebelumnya kakek tadi sudah mengundang orang-orang, nanti mereka akan berdatangan kemari. Kau lihat sekarang toko ini tutup dan sepi bukan? Itulah alasannya.”
Aku memandang ke sekeliling toko, benaran tutup dan sepi, menyisakan semangka dengan jumlah banyak.
Jujur, aku merasa heran mempertanyakan di dalam benakku, mengapa ada orang yang mengirim semangka dengan jumlah banyak seperti itu, tetapi aku tak ingin memikirkannya lebih panjang, tidak penting.
Wal hal, aku tidak tahu siapa orang yang mengirimnya, jadi untuk apa aku memikirkannya, bahkan penjelasan seorang dosen yang sudah sangat detail, aku perlu mencatat, mengkaji lebih dalam, membaca dari satu buku ke buku agar paham maksud dari kata-katanya.
Inilah, semangka tanpa tahu siapa pengirimnya. Jelas saja, aku tak ingin memikirkannya, membuang waktu.
Kepala ini bisa meledak-ledak mengeluarkan suara letupan.
“Nih pisau. Belah semangka itu.”
Aku mengembuskan napas kesal, keluh, putus asa, tidak berminat dan lain sebagainya. “Kakek sebelumnya sudah kukatakan aku tidak suka semangka. Astaga? Harus berapa kali aku mengatakannya.”
“Tidak ada alasan. Kau mengeluh hanya karena itu. Baiklah, kakek yakin kau pasti langsung menyukai semangka ini. Akan kakek beri tahu semua semangka ini kiriman wanita itu, wanita yang telah menemanimu datang kemari hari itu.” Kakek mengatakan spontan, tidak memberikanku jeda dalam mendengarkan.
Dia membuat jantungku seketika berdebar-debar. Ternyata kiriman semangka ini dari Wapta. Aku tidak pernah menyangka.
Dia wanita yang selama ini aku cintai malah mengirimkan sesuatu yang tidak aku sukai.
Apa ini pertanda dari Sang Maha Kuasa bahwa aku dan dia itu tidak berjodoh, kenapa harus semangka. Aku tidak suka.
“Apa Kakek sengaja berbohong padaku?”
Aku tidak akan langsung percaya begitu saja. Harus ada bukti dari perkataan kakek, aku yakin seyakin-yakinnya perasaanku mengatakan tidak mungkin Wapta mengirimkan semangka.
Ayolah, ini tidak mungkin. Apakah alam semesta memberiku cobaan sebesar ini? Toloong!
“Kau tak percaya?”
__ADS_1
“Iya, aku tak percaya. Semua ini pasti ada buktinya, kakek punya bukti?”
“Punya.” Kakek menjawab, terdengar mantap.
Aku heran mendengarnya, garuk kepala menunggu kakek memperlihatkan buktinya.
Wapta, aku ingin berbicara denganmu, apa benar kau mengirimkan semangka ini?
Kalau boleh kukatakan, aku tidak suka semangka, sebenarnya yang salah itu aku karena selama ini tidak pernah memberi tahumu mengenai semangka.
Kakek yang semula kutanya perihal bukti sekarang tampak meraba saku celananya.
Aku memperhatikan dengan jelas. Dia tampak mengeluarkan sesuatu, kulihat dalam bentuk lipatan.
“Nih, buktinya.” Kakek memberikanku selembar surat. Astaga? Aku tidak bisa percaya. Saat itu jantungku kaget, elus dada memegangnya.
Mataku saat ini tertuju fokus menatap surat, sejenak bergeming lumayan lama.
Dengan perlahan pasti, kubuka surat itu. Benarlah, ini tulisan Wapta, aku mengingat jelas seakan wajahnya terpampang bagai hologram di dalam benakku.
Ya ampun, aku meleleh bagai es yang dipanaskan, diri ini seakan naik ke atmosfer bumi, naik terus hingga mencapai angkasa bagai roket yang melaju dengan kecepatan diatas kecepatan.
Hatiku berbunga. Astaga? Lupakan itu, aku harus sadar, aku bukan seorang wanita.
Kalau ingin tahu di dalam kepalaku seperti ada pesta kembang api, suara letupan kebahagian terasa semarak tiada habis-habisnya kujelaskan.
Jika ini kujelaskan semuanya tentu akan memakan sepuluh lembar kertas dengan amsal-amsal absurd punyaku.
Aku senang beribu kali melantunkan kalimat syukur di dalam batinku.
Selama ini aku sibuk menimbang keinginan mengiriminya surat atau tidak, menulis dengan terbata-bata, hanya mampu menulis tiga kata.
Sekarang persis surat itu ada di depanku, saat memegangnya aku merasakan di jiwaku bentuk perasaan kasih sayang dan cinta yang mendalam.
Ini kejutan. Kakek menepuk pundakku yang seakan membangunkan lamunanku. “Man, kau perlu belajar menjadi lelaki macho, hanya dikirimi surat saja kau sudah tersenyum-senyum. Nanti saja bacanya, nah kau pasti bersemangat karena sudah tahu semangka ini pemberian siapa bukan?”
“Ngomong-ngomong, kenapa kakek tidak memberitahuku dari awal kalau ada surat dari Wapta?”
“Tadi, kakek ingin ucapkan, bahkan ingin memberikanmu surat itu. Tapi, waktu itu kau tengah murung, bagaimana mungkin kakek berikan di saat seperti itu, nanti feelnya tidak akan kena ke ulu hati kau.”
Saat ini di dalam perasaanku seakan terasa ada yang jangkal. Mengapa Wapta bisa mengetahui alamat rumah kami yang baru?
Padahal, kami sudah pindah. “Kakek, bukankah ini jangkal mengapa Wapta bisa tahu alamat rumah kita sekarang.”
Kakek tertawa. “Kau saja yang sibuk kuliah, sibuk menulis kata cinta, dia pernah berkunjung ke sini satu bulan sebelumnya, hari itu dia menunggumu berjam-jam lamanya, tetapi kau tak datang-datang.”
“Berjam-jam?”
“Iya, dia memutuskan pulang.”
Aku mengembuskan napas keluh. “Kakek tidak pernah bilang Wapta datang.”
“Oh, itu kakek lupa.” Dengan suara parau dia mengatakannya.
__ADS_1
Saat mendengarnya aku merasa bersalah, berjam-jam Wapta menungguku.
Dan itu terjadi satu bulan lalu, entah hari apa tanggal berapa? Kakek tidak menyebutkannya.
Semua ini murni adalah kesalahanku, aku harus membalas suratnya nanti dengan permintaan maaf.
“Sekarang, tidak usah memikirkannya. Kau bantulah kakek membelah semangka, sebenarnya kakek mengajakmu ya ingin memberitahumu tentang ini.”
Sekarang aku tahu alasan kakek memaksaku ikut bersamanya. Dengan surat ini di tanganku yang belum kubaca, aku harus menyimpan di saku terlebih dahulu.
Aku merasa tidak apa-apa membelah semangka, mengikuti seruan kakek. Rasanya apa yang tidak kusukai sekarang seakan berubah.
Di dalam benak pikiranku sekarang membayangkan seperti apa surat dari Wapta. Surat itu tadi hanya kubuka sekilas, kakek cepat menutupnya.
Menyuruhku memasukkannya ke dalam saku. Aku tidak bisa membantah, sebagai seorang cucu mangut-mangut setuju, lanjut membantunya membelah semangka.
Saat semangka itu terbelah, kakek menyuruhku menyusunnya di meja-meja.
Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka ada meja di dalam toko, mungkin memang sudah disediakan khusus untuk orang-orang duduk menikmati semangka.
Saat ini, Kakek malah semakin memaksaku memakan semangka. Dengan paksaan bertubi, tuturan lembutnya membuatku memakan sedikit demi sedikit.
Kakek sering mengatakan soal ayah, kejadian lucu bersama ayah selalu berkaitan dengan semangka.
Rasa yang tidak kusukai itu perlahan berubah, sekarang aku menyukainya. Terlebih ini adalah pemberian Wapta.
Dulu Waptalah yang membuatku menyukai kopi, sekarang walaupun dia tidak ada di sisiku, dia mengirim semangka.
Lihatlah, betapa sekarang tidak pernah disangka, kini aku telah menyukainya.
Kalimat terima kasihku kepadanya pun bersuara di dalam batin, bentuk kalimat yang mungkin tidak akan pernah bisa kuucapkan. Wapta, maafkan kesalahanku yang telah kuperbuat.
Benarlah kata kakek aku harus belajar menjadi seorang lelaki macho, lelaki yang tidak mudah terbawa perasaan.
Persis beberapa jam kemudian, para undangan yang sebelumnya kakek katakan sekarang mulai berdatangan, satu per satu dipersilakan duduk, wajah mereka semua tampak berseri.
Aku hanya bisa menatap dari kejauhan, mereka semua saling bercengkrama. Daritadi aku sudah meminta izin pamit dengan kakek.
Semangka itu juga sudah tersusun rapi di meja, tidak perlu lagi memberikannya ke orang-orang karena jumlahnya sudah dirasa mencukupi.
Kecuali nanti di saat para undangan selesai memakan semangka. Saat mereka semua pulang masing-masing ke rumahnya, lantas toko yang dijadikan tempat makan-makan semangka bersama itu pun harus aku bersihkan, lebih tepatnya membantu kakek.
Sekarang, aku punya waktu buat menyendiri dengan niat ingin membaca surat dari Wapta. Aku sangat penasaran apa isi dari lembaran surat yang sedang kupegang.
Tiada hal yang bisa kujelaskan lebih lanjut, jujur aku seakan sudah menghabiskan semua kosa kata untuk hal ini.
Kalau ingin tahu bukan sebagai orang alay, melainkan sekadar amsal anggap saja ini letupan di malam-malam tahun baru.
Lihatlah, langit malam yang tampak bercahaya letupan. Kembang api meletup menampakkan cahaya dengan berbagai warna-warni keindahan.
Kegembiraan saat itu terasa semarak, lalu berpejamlah sebentar. Damai hati, lapang pikiran. Diam diri merasakan keindahan pada setiap suara-suara yang terdengar.
Itulah yang kurasakan saat menatap surat Wapta. Rasa yang seakan menggembirakan sanubari di dalam diri.
__ADS_1