
Kakek tertawa. “Jangan kau melamun menatap kulit semangka. Ayo, cepat bantulah kakek membersihkan tempat ini. ชีวิตไม่มีอะไรจะบ่น(Ciwit mimi arai ca bun).” Dia lanjut menepuk pundakku, memberi nasehat dalam bahasa thai yang artinya hidup ini tidak ada yang perlu dikeluhkan.
Kemungkinan kakek menatap ekspresiku yang tampak berantakan, tanda-tanda wajah orang yang sedang mengeluh. Kenyataannya tidak. Aku hanya sekadar mengingat catatan lama yang ingin kuhapus dari memori jangka panjang.
Juga mengenai novel fiksi yang sempat kutulis dan telah kukirimkan ke salah satu platfrom online. Dulu, aku begitu naif menulis banyak novel yang sekarang semuanya malah berhenti di tengah-tengah, lebih ngenes lagi tidak bisa dihapus.
Bahkan, tulisannya bisa diamsalkan seperti seratus bekas jejak bebek yang berjalan di permukaan tanah bertampak becek.
Aku tertawa melihatnya. Lebih-lebih tetap saja walaupun tulisan ini rapi, terbaca saja aneh. Ingin sekali merevisi setiap bagian sayangnya tidak ada waktu sebanyak itu. Lebih tepatnya tenagaku mudah lelah dan memakan banyak waktu, biarkan saja.
Tidak usah direvisi, aku harus menghela napas memang itulah hasil tulisan dari jerih payah pikiranku, bukan hasil sempurna yang didapatkan dari hasil menjiplak tulisan orang lain. Oknum bejat yang sesaat puas tertawa dengan sukses menjiplak karya orang lain.
Aku menghela napas sebentar. Tulisan lama itu perlahan saat ada waktu senggang sesekali aku revisi biar ada bedanya, sekaligus nostagia dengan bahan bacaan yang sedikit garing. Begitulah cerita ini dimuat, tidak sebatas tulisan, ini seperti buatan dari tangan orang yang tidak berpengalaman.
Saat melihat tulisanku yang teracak sendiri, rasanya aku sangat ingin terus bisa menulis panjang lebar, sekali lagi pun kusebutkan waktu tidak memberi banyak untukku menulis. Pernah pun berandai-andai jika di dunia ini ada jam ajaib yang bisa menghentikan waktu.
Mungkin saja, seluruh pekerjaan akan mudah kulakukan, bahkan pelajaran akan kukuasai dan kesalahan diriku dalam hal apa pun yang telah lalu, semuanya akan kuperbaiki dengan mantap.
Kenyataan yang kulihat sekarang adalah apa? Aku masih saja melakukan hal yang sama, sedangkan waktu terus menerus berputar meninggalkan secoret tinta peristiwa malang yang menimpa keadaan dan musibah hati. Jelas kurasakan perihnya luka yang menganga, semoga lekas sembuh. Hanya doa yang kini kupunya.
Aku mengetahui semua peristiwa yang sudah terlewat jauh semakin jauh meninggalkan diriku dengan penyesalan dari hari ke hari.
Dapat dipastikan waktu tidak akan bisa kembali lagi. Peristiwa sebelumnya dan sekarang aku hanya bisa menjadikannya sebagai bahan renungan dan kenangan yang selalu kuingat dan entah mengapa aku selalu saja berada di dalam bayang-bayang kepedihan. Rasa perih yang terasa jelas mengkal di dadaku, juga sekilas bayang-bayang semu yang tidak mampu kusentuh. Itulah diriku, bukan diri orang lain.
__ADS_1
Betapa pun rasanya diri ini terus melangkah jauh meninggalkan masa lalu, sepertinya masih saja hati ini merasakan pilu, rasa yang amat berat di dalam kalbu.
Aku mengakui kesalahanku yang lalu, lebih jelasnya tidak dalam satu kata maaf lagi, sepertinya kalau satu kata maaf itu diucapkan hanya akan menjadi tameng kesatria baja hitam yang berasal dari sikap kebodohanku.
Ya, aku telah menjadi bodoh karena membuat kesalahan kepada Wapta, seorang wanita yang begitu kucintai. Ini mungkin lebay. Terserahlah, cintaku tidak selebay kenyataannya.
Kalau ingin tahu kerinduan itu nyata adanya, tidak semata bualan atau khalayan, juga tidak hanya sekadar kata-kata. Bahkan ada banyak syair yang menjelaskan, membahas lebih detail tentang bagaimana rindu itu bersemu di dalam ingatan dan hati. Itulah singkatnya yang tengah kurasakan.
Aku tak ingin menjadikan suatu kata maaf tanpa berjumlah banyak yang hanya akan menjadi tameng dengan kekuatan lemah. Kata maaf bagiku bagaikan sebuah dinding tinggi, tameng-tameng yang seakan berdiri megah, menjadi penghalau dari lontaran anak panah sekalipun tembakan meriam.
Tameng itu jelas sekali melindungi diriku, sejatinya suatu kata maaf tanpa berjumlah banyak itu hanya akan membuatku merasa lebih tidak menyukainya, sebagai seorang lelaki bersahaja dan beradab aku harus bisa mengakui kesalahanku, meminta maaf bukan hanya satu kata, melainkan beribu jumlahnya yang akan kuucapkan dengan ketulusan mendalam terus dan seterusnya suratku akan selalu tiba kepadanya.
Surat yang memuat kata maaf. Sudahlah, aku memang salah, bahkan diri ini tidak bisa menjelaskan lebih rinci. Itulah diriku sekarang apa adanya, tidak menjadi orang lain yang tampak manis di hadapan dan hambar di belakang.
Wapta, aku sekarang merindukan dirimu. Besok atau kapan kita bisa bertemu kembali? Sepertinya ini adalah alasan mengapa takdir memisahkan kita. Alasan untuk saling merindukan atau hanya aku di sini yang merindukan dirimu.
Tepat saat itu aku telah melambungkan doa-doa ke hadirat Sang Maha Kuasa, tetapi entah mengapa kini aku merasa harapan dulu yang kuinginkan malah jauh semakin jauh meninggalkanku, bahkan harapan itu kini seakan keluar dari zona sukma, mengakibatkan dunia seakan berguncang menggelorakan rasa yang tak akan bisa dimengerti dalam hitungan jam.
Lebay? Silakan saja, ucapkan sebisa selagi itu bisa. Setiap orang punya kepribadiannya masing-masing, mengatakan segala macam bentuk kata, orang pun punya pemahamannya sendiri. Berbeda denganku yang tidak mempunyai banyak kesempatan dalam memahami kehidupan.
Aku kembali menghela napas sedikit mengingat kesalahanku yang lalu, bentuk kesalahan fatal yang membuatku tidak sanggup mengatakan perasaan, bahkan sekadar mengiriminya surat, menyapanya ramah walau tiga kata. Wapta, apa kabar?
Sebelumnya, aku sungguh tak mampu mengirimnya. Namun, aku tak pernah menyangka surat yang selama ini melewati waktu penuh pertimbangan kini aku berhasil menulisnya, membalas surat dari seorang wanita yang kucintai, surat yang telah siap kukirimkan, surat yang kini terlipat rapi dan kumasukan ke dalam saku.
__ADS_1
Maaf beribu maaf. Tidak bisa kusanggah, aku memang salah, selama ini aku memang bersalah atas semuanya. Maka dari itu sambutlah kata maaf dariku, itulah yang sejatinya selalu kutunggu.
Aku tidak berharap hal lain. Aku hanya ingin mengharapkan satu kalimat sambutan maaf darinya. Pernah pun mendengar ada orang yang berkata maaf saja tidak akan cukup, selama tidak ada keinginan untuk berubah.
Aku sejenak berpikir dalam dan membayangkan diriku. Aku tidak begitu mengerti mengenai hal tersebut.
Semoga kesalahan ini akan dapat kupahami lebih lanjut, memahami kesalahan dan terus berusaha agar tidak mengulanginya.
Aku sempat merasa aneh pada diriku sendiri, entahlah mungkin ada kelainan mental di dalam jiwa ini. Adakah seorang psikolog ternama yang bisa membantuku?
Lupakan saja. Saat ini aku sedikit ragu menatap kakek, mempertanyakan di dalam benakku. Apakah kakek mempunyai semacam kekuatan lain yang ada di dalam dirinya bagai superhero mampu terbang di udara mengeluarkan leser di matanya.
Superman. Begitulah apa yang kubayangkan. Pikiranku benar-benar absurd.
“Kenapa kau menatap kakek seperti singa menatap mangsa?” Kakek bertanya padaku, lantas tertawa. Kami berdua sejenak tertegun menatap kulit semangka, itulah sikap yang menular dari ketidaknyambungan antara ucapan dan perbuatan.
“Tidak ada. Superman.”
“Superman? Ah, lupakan saja. Kau bantulah kakek, jangan pikirkan macam-macam. Kau tahu ini semua harus beres sebelum jam sore nanti.” Kakek tampak serius. Dengan sedikit anggukan aku balas senyuman.
Kami berdua lanjut membereskan kulit semangka yang berserakan, tidak mengapa rasanya luar biasa. Kakek orangnya sedikit kuat seperti biasa kuat-kuat otot berisi.
“Man, jika kau bertanya. Inilah cara yang bagus untuk sejenak menghilangkan cinta-cinta di dalam otakmu itu, lebih-lebih menatap lalu lalang kendaraan.” Tangannya bersih-bersih kulit semangka, sedangkan mulut kakek sepertinya ingin membersihkan cinta yang berserakan di dalam otakku.
__ADS_1
“Benarkah? Kakek pernah mencobanya atau mengalami di dalam hidup kakek sama sepertiku.” Aku jelas penasaran.
Kakek bicara seperti itu sekilas dugaanku mengatakan dia ingin membahas masa lalu tentang dirinya dan wanita kesayangannya, entahlah aku hanya berharap ada kecerahan dari semua yang telah meracuni pikiranku.