
Beberapa kenangan ada kalanya datang tak diundang. Kadang kala datang dengan kejam, mengusik perasaan yang semula tentram menjadi tidak keruan seakan menusuk luka begitu dalam.
Aku melamun untuk sekian kalinya. Hal itu sering terjadi padaku, aku tidak bisa menyangkal ataupun menepisnya. Mungkin itulah yang sudah menjadi kebiasaan, mengakar menjadi ciri khas diriku yang tak bisa kukendalikan.
Seorang pemuda sepertiku hanya mampu menunduk, menatap ke bawah dengan wajah yang mungkin terlihat sendu, aku tidak tahu pastinya karena di dekatku tidak ada cermin yang bisa melihat ekspresi wajahku sekarang, tetapi aku tahu perasaan adalah kunci di balik tampilan wajah.
Kendatipun demikian, tidak selalu begitu. Karena di dunia ini, ada orang yang kuat, mereka golongan orang yang bisa menampilkan wajah tersenyum, wal hal hatinya seakan robek menderita, menangis di dalam benak yang tak akan pernah orang tahu betapa sakitnya hal itu.
Aku seperti mengukir bayang-bayang masa lalu yang sudah lama berlalu. Membayangkan sesuatu yang tidak jelas di ingatanku. Bahkan, semuanya ternampak samar sulit kutetapkan dalam uraian sederhana.
Pesawat yang kini terbang membawaku melayang ke Thailand itu semakin membuatku terus membayangkan, mengingat masa lalu yang kian terasa sakit, walaupun kadang kala muncul barisan kata berupa petikan hikmah dari masa lalu yang telah kualami, hanya saja sedikit sekali di antara ribuan kenangan itu yang datang memberi hikmah.
Kebanyakan kenangan yang datang malah menghantui perasaanku seakan suara yang berbisik-bisik dengan irama tak menentu. Aku jelas mendengarnya. Berat di dekat telingaku, aku memikul di punggung terasa lelah.
“Anak muda, siapa namamu?” Tiba-tiba seseorang memakai jas hitam yang duduk di sebelahku itu menyapa dan bertanya. Dia memecahkan lamunanku.
Aku menoleh, menatap orang yang semula bertanya perihal nama.
“Namaku adalah Narak.” Kujawab santai.
Orang itu mengulurkan tanga, aku menyambut senyum. “Perkenalkan, namaku Aiban.” Dengan wajah semringah dia menatapku.
Kami saling berkenalan menunjukkan senyuman. Aiban daritadi tampak seperti memperhatikanku yang seolah kutebak sepertinya berusaha ingin tahu apa yang ada di dalam pikiranku.
Kemudian aku memutuskan bertanya tentang usia Aiban, “Berapa usia yang kamu miliki?”
“Sekarang usiaku menjalani 40 tahun,” jawab Aiban cepat dengan senyuman.
Aku sedikit kaget mendengarnya karena baru saja saat memasuki pesawat dan duduk. Aku mengira usia Aiban adalah 35 tahun atau kurang dari itu, wajahnya tidak terlihat seperti usia 40 tahun. Kemungkinan pola hidup yang terjaga dan itu membuatnya awet muda. Lumayan, sebaiknya di lain hari nanti aku tidak usah menebak usia orang lain dari wajahnya. Tiap orang berbeda, ada yang menyebut wajah seseorang tergantung profesi, entah itu benar atau tidak? Aku tidak tahu, intinya lain kali aku tidak usah menebak usia orang lain.
Dalam benakku berharap wajahku tidak terlihat murung dan tidak terlihat melamun. Karena aku selalu memikirkan sesuatu yang amat berat. Jadi, wajarlah lamunan ini sering terjadi padaku dan sulit kukendalikan.
“Sebenarnya sejak daritadi aku memperhatikanmu. Kenapa kau tampak murung begitu?” tanya Aiban.
Aku kaget mendengarnya, saat itu aku serba salah. Dia ternyata sejak tadi sudah memperhatikan wajahku. Astaga? Bagaimana ini?
Benarlah apa yang sebelumnya kupikirkan, ternyata ekspresi wajahku tergantung perasaan. Semoga di lain waktu aku bisa melatih saat perasaanku sedih, wajahku tetap tersenyum.
“Tidak ada apa-apa, entah kenapa mungkin takdir sudah digoreskan begini,” kataku berantakan tak keruan. Aku sponstan mengatakannya tanpa ragu.
Aiban menepuk pundakku. “Ceritakan itu padaku. Kau tidak usah malu menceritakannya, kata orang masalah yang dipendam kalau kau tidak menceritakannya, itu hanya akan membuatmu tertekan dan masalah itu akan semakin mengusik perasaanmu.”
“Tidak apa-apa, aku hanya sekadar melamun sekarang, lihatlah mataku. Aku baik-baik saja,” ucapku memperlihatkan wajah, tetapi mata ini seakan tidak ingin diajak bekerja sama.
__ADS_1
Air mataku seakan hendak tumpah, aku cepat mendongak sedikit, menahan air mata itu agar tidak keluar.
Semoga Aiban melihatku tidak menduga hal lain, semoga dia tidak tahu bahwa aku daritadi menahan air mata, menyembunyikan perasaan sedih yang amat dalam. Syukurlah, kulihat dia berdiam sepertinya tidak akan bertanya perihal itu.
“Apa tujuanmu ke Thailand?” tanya Aiban dan syukurlah sepertinya dia tidak memperdulikan ucapanku sebelumnya.
Aku menjawabnya mantap, menjelaskan tujuanku ke Thailand sekadar jalan-jalan, secara pemahaman dalam benakku, aku tidak berbohong karena nantinya saat mencari alamat kakek, tentulah aku berjalan kaki, dapat kupahami itu sama saja dengan jalan-jalan. Begitulah, sekiranya akal mencari solusi jalan keluar dari aku yang tidak ingin jujur mengucapkannya.
Aku sekadar menjawab pertanyaannya, tidak balik bertanya mengenai tujuan Aiban ke Thailand. Aku menimbang ucapan, sebenarnya untuk keperluan apa aku bertanya? Bagiku itu tidak penting.
Aiban menatapku mangut-mangut. Dia sepertinya memaklumi libur musiman, sekolah libur, kerjaan juga libur. Anak muda sepertiku sudah jelas memerlukan liburan.
Aku sekadar menebak ekspresinya. Dia sejenak membuka tasnya. “Tujuanku pergi ingin bertemu teman lamaku di sana.” Dia memberitahu tujuannya sendiri, padahal aku tidak bertanya. Dia mengeluarkan fotonya bersama seorang teman.
Aku menatap sebentar. “Sudah sejak lama kami tidak berjumpa, ada banyak cerita yang sudah terlewati bersamanya, kenangan bersamanya tak pernah lekang oleh waktu,” lanjut Aiban menjelaskan kepadaku.
“Oh, begitu. Bolehkah aku memanggilmu paman?” pintaku kepada Aiban. Karena aku merasa kurang sopan kalau saat berbicara menyebut nama atau lain sebagainya.
“Baiklah, silakan. aku lebih senang begitu, menunjukkan sopan santun seorang pemuda,” ucap Aiban lanjut memujiku. Aku tidak hirau akan pujiannya dan tidak perlu kutambahkan bagaimana dia memujiku.
“Oh, ya. Teman paman itu bertempat tinggal di mana?” tanyaku penasaran.
“Dia tinggal di Bangkok. Ibukota Thailand, dia bekerja di sana, sebelumnya dia mengajakku bekerja di sana tapi aku tetap memilih bekerja di negeri sendiri,” ucap Aiban menjelaskan kepadaku.
“Karena aku cinta negeri ini, rasanya terlalu berat kalau berpisah dengan tanah air tempat kelahiranku,” ucap Aiban menjelaskan kepadaku lagi.
Mendengarnya aku sedikit kagum dengan sosok Aiban, kekaguman itu membuatku tak kuasa menahan diri hingga menatap sambil melebarkan senyuman, “Paman, aku kagum denganmu yang mencintai negeri ini.”
“Tidak usah kagum kepadaku anak muda, aku tak punya prestasi apa-apa, sosok sepertiku tidak usah kau kagumi.” Aku bisa menatap sosok Aiban yang semacam sadar dirinya tidak pantas dikagumi, bahkan dia merendahkan dirinya di depanku. Di lain hal, aku tidak tahu prestasi orang lain.
“Jangan bicara seperti itu, paman harus semangat.” Aku tersenyum, sebenarnya aku hanya bisa sekadar itu yang kulakukan.
Kulihat Aiban tampak menipiskan bibirnya seraya berkata; “Apakah kau bisa memberikan semangat pada dirimu sendiri, anak muda?”
Aku terdiam, tak dapat menjawabnya. Jauh sebelumnya, aku memang selalu hancur oleh kesedihan. Lihatlah, hari kemarin. Mandris yang memberikanku semangat, aku hampir selalu terkuras semangat.
Perkataan Aiban yang kudengar seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke dalam sanubari, kemungkinan itulah tujuan sebenarnya kenapa Aiban merendahkan dirinya dan berkata tidak mempunyai prestasi sedikit pun, semacam satire yang telah dia ucapkan.
Aiban tertawa menatapku yang berdiam, tak menjawabnya. “Kau terlalu memikirkan kata-kataku, sudahlah, lupakan itu, kau mengagumiku karena mencintai negeri ini, itu bagus. Semoga kau juga mencintai negeri ini setulus-tulusnya,” kata Aiban menepuk pundakku.
Perlahan-lahan aku tersenyum kembali, secercah harapan itu seakan mulai muncul dan mengalir seperti air, tampak setitik terang seperti cahaya memancar di tengah kegelapan malam yang mencekam.
Aku menyadari sebagian di dunia ini memang ada beberapa kategori yang tak bisa diartikan melalui penyampaian.
Andai aku bisa menahannya dengan jutaan keindahan, tetapi keindahan itu telah lenyap dalam kehidupanku. Bahkan, hari berlalu selalu menyertai malam-malam keheningan itu dengan kesendirian yang tak bisa kujelaskan.
__ADS_1
Percakapan kami terus berlanjut sampai Aiban memberikan satu kalimat yang tidak panjang, tetapi kalimat itu membuat pikiranku menjadi tenang, perasaan sendu itu mulai menghilang dari diriku.
Bagaimanapun itu terjadi, aku tak bisa melawan perasaan sendu di kala ada hal yang menghantui seolah-olah halangan itu terbentang luas di hadapanku. Hubungan dengan kenyataan yang tak sanggup diri ini mengerti keadaan, memaksa diriku bertahan lebih panjang dalam keinginan yang tak mempunyai pendirian.
Aku sering tersentak angan yang kalau dipikirkan sadar tak sadar muncul ketidakpedulian seolah-olah menampakkan kepalsuan yang kini melanda ikatan batin dan perasaanku.
Saat itu Aiban menceritakan padaku tentang seorang sosok pemuda, Bung Tomo di Surabaya yang mempunyai tekad dan semangat membara, bahkan melalui takbir dia membangkitkan semangat arek-arek surobayo melawan tentara sekutu. Saat itu, kobaran api semangat mencuat tajam dari pidato Bung Tomo.
Aku pernah membaca kisah itu di dalam buku Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November karya Abdul Waid. Rasanya sekarang tiba-tiba aku rindu membaca teks pidato Bung Tomo.
Aku adalah salah seorang yang mengagumi sosok Bung Tomo. Bahkan, diri ini seakan kembali bersemangat saat membaca kisah beliau. Pun hari ini, Aiban menceritakannya kepadaku, sungguh seakan aku disirami rasa kebangsaan dan semangat membara pun bangkit kembali.
Usai bercerita panjang lebar, Aiban tersenyum melihat keadaanku, saat itu aku juga balas menatapnya tersenyum. Kami berdua saling tersenyum. Cerita dalam pesawat ini benar-benar membuatku merasakan getaran yang menghancurkan istina kesedihan.
Istina yang mengurung diriku dalam penjara keputusasaan yang sangat mengerikan.
Aiban datang seperti pahlawan yang menolong diriku. Lebih-lebih aku bagaikan seekor burung elang yang terjepak di ranting pohon. Aiban datang membebaskan diriku. Saat itu pun aku terbang bebas di langit, memekik senang di udara, lantas mengepakkan sayap terima kasihku kepadanya.
***
Beberapa jam berlalu cepat. Aiban bercerita panjang dapat mengisi waktu kami selama dalam penerbangan menuju ke Thailand.
Aku menghela napas sebentar. “Paman, apakah paman punya istri?” Aku bertanya ringkas, entah mengapa aku tiba-tiba penasaran. Kata-kataku keluar begitu saja. Astaga, apakah aku sudah salah menanyakannya? Saat itu kutatap Aiban tersedak mendengar kalimat ucapanku, apa mungkin Aiban belum menikah sama sekali.
Apa mungkin dia tidak menikah, selalu berkutat dan fokus untuk hal yang ingin dia raih sampai tidak kepikiran untuk menikah.
Aduh, sepertinya aku terlalu lancang menanyakannya, Aiban tampak diam. Dia tidak berbicara, jangan-jangan dia marah padaku. Semoga dia memahami diriku, sejak dulu aku sering melontarkan ucapan tanpa berpikir terlebih dahulu, maksudnya dari berpikir adalah menimbang ucapan itu sendiri, apakah itu pantas kuucap atau tidak.
Mungkin, itulah yang harus kukurangi, aku harus mempelajari lebih lanjut ke depannya agar berbicara tanpa pikiran itu bisa kuatasi. Sungguh, maafkan aku.
“Isteriku di penghujung kegelapan malam.”
Eh? Aiban menjawabnya. Jelas sekali, saat mendengarnya, aku kebingungan apa maksud ucapannya. Saat itu, aku cukup mengiakan, sontak Aiban tertawa, aku juga ikut tertawa sebagai pengalihan perhatian.
Percakapan kami berakhir hingga pesawat melakukan landing, hampir sepanjang penerbangan kami membicarakan sesuatu yang tak mempunyai maksud apa-apa.
Mungkin begitulah yang dinamakan perkenalan, hanya sebatas kata ucapan, tetapi Aiban menceritakan suatu cerita yang sekarang begitu kuingat, sosok Bung Tomo akan selalu menjadi pahlawan yang terus kusukai. Beliau adalah pahlawan yang telah membakar semangat para pejuang di Surabaya melawan tentara sekutu.
Kala di pesawat, Aiban menceritakan lebih detail dan seru sampai sekarang aku masih mengingatnya. Kemudian, kami berdua berpisah sama-sama saat itu menjadikan tujuan sebagai alasan.
Aiban menepuk pundakku, menitip satu pesan kepadaku; “Jadilah pemuda yang berguna. Paling tidak kau berguna bagi dirimu sendiri, contoh sederhana kau mempunyai semangat juang bangsa dan tanah air kelahiranmu.”
Itulah pesan Aiban sebelum kami berdua berpisah. Wapta di sampingku hanya diam mendengarkan, dia tampak tidak mengerti bagaimana kami bertemu seakan benar-benar akrab sekali, bahkan sangat tidak bisa dibayangkan bahwa kami baru bertemu, berbicara hanya di dalam pesawat.
Syukurlah, aku bertemu orang seperti Aiban yang mampu membangkitkan semangatku kembali, perasaan murungku telah hilang, sekarang terasa lebih menyegarkan.
__ADS_1