
Aku akan menceritakan detailnya di sini, yang tadi anggaplah sebuah cuplikan sama dari sekilas sudut pandang diri yang berada di alam kebimbangan, sudut pandang diri yang terlebih tidak penting untuk dibahas.
Agar semuanya menjadi jelas dalam perkara yang pelik ini.
Sebelumnya di ruangan dosen itu. Ya, udara di ruangan ini kalau ingin tahu terasa kaku membeku di kepalaku bagai beremuk dengan tanda tanya kenapa dan ada apa sebabnya? Ini kurang bisa kumengerti dan kurang bisa kuterima dengan mudah.
“Saya ingin menjelaskan beberapa perkara.”
Aku menatap dosen itu yang kurang lebih memainkan pena di tangannya. Kadang menulis sesuatu untuk dia perlihatkan padaku, grafik angka disiplin dan angka komunitas per hari, kemajuan dalam hal menantang hidup agar selalu bahagia.
“Tidak perlu, Narak. Aku tidak meminta penjelasan darimu.” Dosen menghentikan.
Meletakkan pena di sisi kertas. Melipat grafik itu lalu menempelkannya ke dinding, embusan napasnya masih terdengar.
“Bukankah Anda sebelumnya bilang ingin meminta penjelasan dari saya?” Aku bertanya heran menatap wajahnya.
Getir tetap kupaksa pandangan mataku berkuat diri menatap ke arahnya. Dalam batinku menuturkan kata malu yang teramat kusesali. Entahlah dari segi mana?
Aku bukan para normal, bukan pula ahli bahasa. Tata letak kataku pun sering salah.
“Saya ingin menjelaskannya,” lanjutku mendesak lebih kuat dari sebelumnya.
Tetap. Dosen itu menghentikanku dengan beberapa kalimat. “Duduklah dengan tenang, kau perlu ketenangan. Dalam masalah ini, kau telah ketahuan berpacaran di lingkungan kuliah, itu adalah satu contoh yang tidak bagus bagi generasi masa kini.”
“Ma—masa kini?” Aku terkikuk. Astaga? Ingin rasanya aku menepuk jidat. Ruangan dosen ini penuh atmosfer yang membuat kepalaku memerintah mulut ingin tertawa.
Kembali aku menghela napas. Baiklah, aku hanya akan menjelaskannya bahwa Martin Sirikanjana bukan pacarku, melainkan dia hanyalah seorang teman. Bahkan saat mendengarnya aku merasa tidak nyaman. Kalimat itu maksudnya yang membuatku geli, tidak cocok buatku dan itu bukan gayaku selama ini yang terlebih pendiam.
Itu juga adalah satu kekonyolan hidup yang pernah kudengar untuk saat ini. Pacaran? Astaga? Konyolnya.
“Saya bisa menerima Anda bicara tentang masalah disiplin sebelumnya, tetapi berbeda dengan masalah mahasiswi itu saya tidak bisa menerimanya. Saya ingin menjelaskan bahwa dia hanyalah seorang teman, tidak lebih dari sebutan itu.”
Aku mengembuskan napas, lanjut bertutur pelan. “Mengenai alasan itu—”
“Narak, sudah kau tidak perlu menjelaskan lebih banyak padaku.” Dosen menyergah, inilah semakin membuatku bingung dengan apa yang saat ini di depan mataku.
__ADS_1
“Kenapa saya tidak perlu menjelaskannya?”
Dalam batinku berteriak meminta tolong! Aku ingin melantangkan suara, berteriak keras dan dengan siapa? Tolong! Siapa yang akan bisa menolongku? Ini sepertinya terkesan adegan lebay yang disengaja. Aku harus ingat pesan kakek, katanya lelaki itu diciptakan untuk menjadi sosok pemimpin, tidak boleh lemah. Aku harus kuat dan siap bertanggung jawab dengan segala apa pun kesalahan yang telah kulakukan.
Di hadapan dosen yang sungguh amat mulia posisi dan jabatannya, aku mengakui diri bersalah karena tidak disiplin masuk dan berusaha menjelaskan bahwa Martin Sirikanjana hanya sebatas seorang teman.
Aku mengingat baru saja mendengar dosen itu katanya ingin meminta penjelasan dariku mengenai sikap, beberapa alasan dan sebagainya, tetapi saat aku izin diri untuk menjelaskannya. Dia malah berdalih terus menghentikanku, sekarang aku berusaha memahami maksud ucapannya.
Pada akhirnya kuputuskan untuk tidak menjelaskan. “Baiklah, saya tidak akan menjelaskannya karena Anda meminta hal demikian. Sekali lagi saya hanya menegaskan bahwa mahasiswi itu hanyalah teman saya.” Semakin ke sini, semakin membuatku merasa terkikuk.
“Baiklah, aku mengerti.” Dosen itu tersenyum ramah, lalu tertawa.
“Mengenai sebelumnya itu, aku hanya bercanda, Narak. Mahasiswi itu entah pacarmu atau bukan itu adalah hakmu dalam berhubungan antar sesama. Aku tidak berhak mencampurinya, bisa jadi kau berkata benar bahwa dia adalah memang temanmu, aku bisa menerima semuanya, bahkan saat kau mengatakan kebohongan sekali pun aku tetap menerimanya.”
Dosen itu akhirnya mengucapkan hal yang bisa kuterima. Menerimanya dengan lapang, memikirkan lebih banyak tentang kesabaran dan mengakui kesalahan.
Dia ternyata hanya mengetes kejujuran itu padaku. Tidak mungkin, bukan? Seorang dosen berkata hal yang tidak penting, dia mencoba memberi nasihat padaku.
“Selama ini aku selalu berdedikasi atas hidupku untuk tempat kuliah ini, Narak. Kau tahu ada berapa banyak mahasiswa yang kupanggil ke ruanganku, berapa banyak mahasiswa yang kutampar dengan ucapan keras. Maka sejatinya aku bukan sedang memarahi mereka ataupun menceramahi dan berlagak paling bijak di antara ribuan mahasiswa. Sesekali aku bukan orang yang seperti itu, justeru aku menyayangi mereka seperti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.”
“Kadang aku tidak menginginkan sebuah penjelasan, hanya ingin memberitahumu bahwa kau harus punya sopan santun.”
“Perlu kau tahu aku tidak menuduhmu yang macam-macam, aku tidak sedang ingin menceramahimu dengan berbagai kalimat yang kuutarakan.”
“Tapi, apa yang kutegaskan di sini adalah kau seorang pelajar yang berpendidikan. Bertindaklah sebagaimana seorang pelajar. Salah satunya adalah disiplin. Datang tepat waktu dan kau harus bisa berakhlak dengan baik. Gelar sarjana yang kau dapatkan itu tiada artinya tanpa akhlak yang baik dalam dirimu. Kau tahu seberapa pun tinggi pendidikanmu dan seberapa pun banyak ilmu yang kau miliki hingga luasnya bagai lautan dan kau bisa menyelesaikan masalah persoalan hidup ini dengan mudah ataupun bahkan dinamika yang menggemparkan umat manusia, kau bisa menyelesaikannya. Ingatlah selalu akhlak yang baik itu berada di atas ilmu, lebih utama dan lebih mulia dari hanya keilmuan yang kau miliki. Sebab akhlak yang baik membawa keberkahan dalam hidup.”
“Seseorang yang berilmu tanpa adanya akhlak yang baik dalam dirinya itu bagai binatang tanpa adanya otak. Sebelumnya kau harus ingat menjadi mahasiswa, seharusnya inilah yang kau pikirkan, Narak. Tentang adab, disiplin dan sebagainya. Kau tidak perlu menatapku seperti itu.”
Tuturan demi tuturan, aku hanya bisa termangu mendengar setiap kata yang dia keluarkan. Dalam batinku merasa terguncang dengan berbagai kosa kata miliknya. Mahasiswa? Gelar sarjana? Inilah yang orang cari selama ini.
“Seberapa sering kau mendengar mereka berkutat lebih lelah, bahkan mencurangi diri mereka sendiri hanya untuk mendapatkan apa yang mereka ingin dapatkan. Di dunia ini tidak seharusnya bagi seseorang terus berkelana dalam kemunafikan yang sejatinya talenta dalam diri mereka kosong melompong. Mereka sukses menipu dengan cara halus, tetapi beberapa nama mereka langsung kucoret dari daftar mahasiswa. Para orang tua mereka protes, mereka hanya mementingkan gelar, tidak mementingkan satu hal yang penting dalam kuliah ini yaitu ilmu pengetahuan dan pembelajaran.”
“Di dalam diri kita ini, Narak. Terdapat satu tempat yang di sana namanya adalah hati. Itulah yang membuat kita mempunyai rasa iba terhadap orang lain dan dalam menatapnya kita bisa berperilaku jujur, baik dan dengan apa adanya tanpa topeng kemunafikan. Itulah yang sejatinya ingin kujelaskan padamu, semoga kau bisa menjadi mahasiswa yang disiplin dan berakhlak dengan baik. Itu harapan bagi seorang pengajar sepertiku, kau tahu telah lama aku menuntun diri dalam pendidikan ini, tidak lain tidak bukan hanya untuk memberikan kualitas pembelajaran yang maksimal dan berdedikasi yang tinggi.”
Aku tidak betul mengingat bagaimana tuturan katanya kala itu, hanya terbayang sedikit lebih indah, lebih nyaman kudengarkan. Dosen itu kurasakan lumayan baik dengan perangai nasihat yang berguguran membuat perasaanku tidak kacau, malah tenang dibuat olehnya.
__ADS_1
“Usai panjang kujelaskan, apa kau mengerti semua itu?” Dosen bertanya.
“Saya mengerti.” Kujawab pendek. Mengangguk, tidak ada protes.
Beberapa kalimatnya kusimpan dalam benak pikiran dan nanti berniat ingin mencatatnya ke dalam buku catatan. Dosen itu melanjutkan ucapan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Dia berucap dengan fasih berbahasa thai menyebut salah seorang editor naskah yang ingin bertemu denganku dan ternyata dia menyiapkan semua ini sebagai kejutan.
Akan tetapi, bagiku ini bukanlah kejutan. Melainkan bala bencana. Lebih-lebih entahlah kepada hal yang tak ingin kubahas, ingin kulempar. Dosen itu benar, akulah yang salah, tidak ada mahasiswa yang dipanggil hanya karena berjalan bersama mahasiswi dan ditanyai seperti diintrogasi oleh polisi.
Aku dapat memahaminya usai menatap editor naskah yang berdiri di samping dosen itu dengan gaya sombong.
Dosen menatapku tersenyum. “Mengenai masalah disiplin, itu memang satu fakta yang ingin juga kusampaikan padamu, Narak. Editor naskah ini punya keinginan bertemu denganmu dan aku sudah mendengar banyak cerita darinya tentang naskah yang hari itu kau berikan padanya. Aku berharap kau bisa senang saat bertemu dengannya. Tapi, masalah memberimu nasihat sebelumnya itu juga bukan rekayasa, kau harus ingat masalah disiplin itu mutlak harus kau terapkan dalam hidup dan kau harus bisa berakhlak dengan baik terhadap orang lain.”
Dosen itu menjelaskan perkara miliknya. Buruk sangka kala itu seakan merasuk dalam benak pikiranku. Seseorang berjas putih telah menampakkan dirinya di balik tirai itu, saat ini aku hanya bisa termangu, menatap diam dan dalam batin melontarkan kekesalan yang teramat panjang dengan kosa kata tidak terima.
Berjas putih dengan dasi merah. Itu penampilan konyol yang pernah kulihat. Aku memang tidak pernah melihat orang berpenampilan seperti itu. Mungkin beberapa orang menyebutnya itu pakaian yang mewah dan bagus, tetapi pakaian itu dipakai oleh orang yang tidak kusukai, jelas saja aku tidak menyukainya.
Aku berdiri dengan tegak memberi hormat, tentunya kepada dosen. Bukan kepada editor naskah itu seraya mengatakan sesuatu yang maksudnya aku datang ke tempat ini hanya untuk kuliah, bukan ingin bertemu dengannya. Editor naskah itu terlebih kaku wajahnya, aku tidak menyukai seringai wajah yang menyebalkan.
Dosen tidak bicara menjelaskan apa maksud keinginan editor naskah itu bertemu denganku. Bisaku hanya menurut apa yang dikatakan dosen tersebut.
“Ada apa, Narak?” Editor naskah itu menatapku persis kejadian dua tahun lalu.
“Sepertinya kau masih mengingat kejadian lama yang telah usang, apa yang kudengar tadi sudah membuktikan semuanya. Katamu kau tidak ingin bertemu denganku? Itu satu bukti yang nyata.”
“Kau belum bisa melupakannya.”
“Sejak awal mula kita bertemu hanya kau yang tidak tahu namaku. Perkenalkan, namaku Gulali Batuk Suryanata.”
Aku cukup terkejut saat mendengarnya. Dia memperkenalkan namanya. Ini kesan pertama dalam hidupku bisa mengetahui nama orang yang kala itu menghempas naskahku dan menertawakannya dengan sebutan Novel Sampah. Kalau ingin tahu tentang perasaanku saat ini terasa kebas akan menahan leraian panas yang menggelegar suara tajam menuju atmosfer langit, tanganku saat ini mengepal, amarahku memuncak dan berkobar-kobar
Aku harus ingat pesan kakek. “Man, saat kau berada dalam situasi yang bisa menggemparkan dada dan dalam kondisi yang tidak memihak dan apa pun yang terjadi dan itu sepele jangan pernah marah atas hidup ini. Sesuaikan tempat kemarahan pada tempatnya, ada sesuatu yang lebih bisa kau lakukan, marah atas diri dalam hal kesia-siaan adalah hal yang tidak berguna. Ketahuilah sabar lebih manis dan lebih indah. Hatimu akan tentram saat kau berhadapan dengan kepala dingin, ingatlah pesan kakek ini.”
Kakek, aku selalu mengingat ucapanmu. Marah ini kupikir adalah hal kesia-siaan yang tidak berguna. Marah untuk apa?
Aku menghela napas, melepaskan kepalan tangan itu dengan kondisi jantung yang mulai stabil dan otakku dingin dengan pikiran yang melanglang lagi untuk sejenak menenangkan diri dan merenungi kesalahan yang ada di dalam hidupku.
__ADS_1
Gulali Batuk Suryanata. Nama itu akan selalu kuingat persis dua tahun lalu.