Daur Ulang

Daur Ulang
Kutatap angan yang bertubi-tubi guncangan


__ADS_3

Lagu klasik yang bergema. Lagu lama yang membuatku terpana, sekian lamanya menemani seseorang melewati waktu ke waktu hingga pergantian zaman di mana saat ini aku hidup menatap dunia. Di dalam batinku sejenak mengukirkan nada.


Mendengar saksama bagai petikan getar yang membahana dan orang yang sedang menari tanpa senyuman. Diriku berada di ambang bimbang yang melayang di langit-langit pikiran, membuatku terjebak diri dalam lamunan yang tak berujung rasanya lebih lama.


Bahkan, lamanya lamunanku tak terasa dan tak pernah kukira lamunan itu akan membentang jutaan hektar luasnya.


Aku bagai patung yang bersikukuh diam dengan berlama-lama senyap menatap kosong. Hamparan hijau, pemandangan yang bagai kutatap dengan desir angin melambai.


Inilah harapan dulu yang kuukir seakan menghilang dihapus pikir. Diriku membisu, bela membela diri yang tak bisa berdiri. Pun, tak bisa kukuh berlari dengan pacuan cepat ingin membelah waktu, melewatinya.


Setelah kupikirkan perkataan kakek ada benarnya. Semua itu memang benar, tetapi aku percaya. Kuat bertekad untuk tetap mencintai dan merindukan Wapta. Bagaimanapun nantinya apa yang selanjutnya terjadi? Aku hanya bisa pasrah.


Kalaupun tidak berjodoh dengannya hati ini akan kuajak berlibur agar tenang tentram menatap, walaupun mengiris perasaan sesal yang teramat pilu didekap jiwa.


Diri yang hanya mampu melantunkan nada gumam yang tak bisa didengar olehnya. Bersimpuh tangis di dalam kesekian kalinya rasa sesal rintih merintih.


“Man, kau masih melamun?” Kakek berucap. Sementara aku mendengarnya sedikit samar.


Walaupun mungkin saat itu apa yang diucapkannya itu jelas. Penglihatanku perlahan membaik, menatap tenang dengan helaan napas, sedikit bergumam tidak ingin memikirkannya. Harus dengan apakah kiranya agar hati ini bersemi kembali.


Aku mengangguk. “Kakek memang benar, aku sedang melamun.”


Sejenak menatap tawa. Lanjut berniat tidak ingin membahasnya. Dalam batinku lelah mengatakan perkara yang tiada artinya.


Kakek menatapku serius. “Man, kakek ada saran lebih baik kau ambillah masa cuti dan temuilah wanita yang kau cintai itu supaya rasa rindu dan lamunanmu sirna.”


Aku diam mendengarkan. Apa yang diucapkan kakek ada benarnya. Lebih baik bagiku mengambil masa cuti dan bertemu Wapta agar rasa rindu dan lamunanku ini sirna.

__ADS_1


“Buktikanlah, Man. Kau benar-benar mencintainya. Pesan kakek jangan kau sibuk mengatakan hal yang tidak ada gunanya. Apalagi kau sibuk melamun, memikirkan wanita yang belum tentu memikirkanmu, Man.”


Lagi-lagi aku diam membiarkan kakek berbicara sesukanya. Mendengarkan saksama, walau bagaimanapun semua itu benar.


Diriku saat ini bagaikan sebatang pohon tegak tak bersuara, kukuh diam tanpa apa pun.


Sesosok lelaki lemah yang berlindung dibalik kata diam, hanya mampu berdiam, bersembunyi di semak-semak.


Menutupi perasaan yang selama ini kutahu banyak terbebani olehnya. Bersabar. Iya, selama ini aku terus bersabar menjalani hari, menghela napas panjang mengingat peristiwa lalu yang telah kulewati bersamanya.


“Ingatlah, pesan kakek, Man. Kau seorang pemuda dan masa depanmu masih panjang. Di masa depan nanti, mungkin saja kau akan bertemu wanita yang lebih cantik dari sekadar kecantikannya. Kau akan bertemu wanita yang lebih indah dari sekadar tutur katanya. Kau akan bertemu wanita yang lebih mulia dari sekadar akhlaknya. Kau akan bertemu wanita yang lebih bertahta dari sekadar hartanya.”


Aku tersenyum mendengarnya, enggan menjawab tidak setuju. “Kakek sepertinya berlebihan mengatakannya. Bagiku sekarang bagaimanapun dia orangnya, entah mengapa Wapta memang telah melekat kuat dalam ingatanku. Bukankah kakek sendiri pernah bilang dulu, sama seperti kakek yang selama ini bersama nenek dan selama itu kakek tidak pernah menatap ke wanita lain.”


Aku menjelaskan alasanku sebisa yang kuingat. Dulu, kakek pernah bilang begitu saat di mana aku sibuk belajar merangkai Aksara Thai yang memberatkan tanganku saat merangkai aksaranya.


Kakek kembali menggeleng. “Selama ini kau kuliah ternyata masih sibuk memikirkan perkara cinta, Man. Ingat selalu, hidup itu singkat.”


Aku hilang koneksi saat di mana telingaku menangkap suara, mendengar ucapan kakek 'hidup itu singkat' katanya. Perasaanku seketika saat itu bergetar mengingat kematian. Astaga? Mati adalah perkara yang memutuskan kehidupan.


“Kenapa, Man?” tanya Kakek bersuara parau. Kemungkinan menatap raut wajahku yang mungkin tegang atau apa?


Karena di sisiku tidak ada cermin, aku tidak tahu raut wajahku sendiri. Hanya mampu berusaha tersenyum menatap kakek sekarang.


“Tak apa, kek. Aku hanya sebatas merenungi apa yang kakek ucapkan sebelumnya mengenai hidup itu singkat. Rasanya apa yang kubayangkan saat ini hanyalah tentang kematian yang memutuskan kehidupan.”


Aku mengatakannya serius, tetapi entah mengapa kakek justeru tertawa. Aku sedikit dibuat bingung, bahkan membuatku bertambah heran sendiri bertanya dalam batin apa alasannya? Mengapa dia tertawa leluasa begitu? Aku tidak tahu.

__ADS_1


Kakek sejenak mendeham. “Man. Kau itu lagi, lagi dan lagi kau salah memahami ucapan kakek.” Suaranya terdengar cepat.


Saat mendengar ucapan kakek, aku terpengarah bagai terpental ke planet yang entah berantah. Pikiranku berubah ambyar. Senyum sendiri menggaruk kepala.


“Eh? Salah?” kataku. Dengan gaya polos tidak tahu apa pun saat itu kutunjukkan wajah yang benar-benar polos.


Beribu imajinasi di dalam kepalaku berusaha kuat membayangkan maksud ucapan kakek sebelumnya dan sebelumnya mengenai maksud hidup itu singkat.


Kakek menghela napas. “Kakek akan menjelaskannya kepadamu, Man.”


Aku diam mengangguk. Kakek bersiap menjelaskan dan entahlah apa yang akan dia jelaskan kepadaku. Lulusan astronomi nyatanya jelas berbeda denganku.


“Man, kau tahu Matahari, benda langit yang bersinar mengelilingi bumi. Juga bulan, grativasi dan oksigen yang diberikan Tuhan mampu membuat kita hidup di dalam planet ini. Di planet ini dengan luasnya 510,1 juta km². Seluas itu bumi dan kita hidup di dalamnya. Milyaran jiwa dan rumah atau bahkan tak terhitung banyaknya. Bagaimanapun orang beraktivitas, waktu akan terus berlalu dari hari ke hari dan terus berlalu berganti bulan hingga tahun. Kehidupan ini laksana bintang yang bercahaya di langit sana, suatu saat ia akan redup dan tiada ada lagi di tempatnya. Diganti dengan bintang baru yang bercahaya memenuhi malam.”


“Hidup itu singkat. Man, pernah kau rasakan satu hari berlalu, besok kau bangun di pagi hari kemudian berlalu lagi? Kau akan tahu kelak saat usiamu sama dengan kakek. Hanya mampu duduk membayangkan masa muda dulu. Berandai-andai bisa kembali ke masa itu, membayangkan masa di mana seharusnya begini dan begini. Hanya mampu menatap diam kadang bergumam-gumam mengingat segala hal dalam kehidupan yang telah berlalu. Man, selagi jiwamu masih muda, otot kuat dan pikiranmu bekerja dengan cerdas, maka usahakan jangan sibuk memikirkan perkara cinta yang tidak ada gunanya. Pergunakanlah waktumu saat ini untuk belajar dan belajar, kelak di suatu masa kau akan mengerti hidup memang kadang terasa singkat. Ini bukan perkara kakek bersyukur ataupun mengeluh menatap masa lalu dulu, melainkan agar kau tahu semua ini, Man. Apa yang kakek rasakan hidup itu memang singkat.”


“Di mana dulu kakek masih muda bersepeda, melewati jalanan tertawa bersama teman-teman yang sekarang mereka telah sukses meraih cita-citanya. Kakek diam di sini menatap masa itu. Masa dulu yang tak terasa berlalu begitu cepat meninggalkan semuanya. Di usia kakek yang tak lagi muda ini kakek sadar hidup itu singkat. Sebaiknya bagimu, Man. Kau habiskan waktumu untuk belajar dan belajar sebelum masa di mana kau hanya mampu membayangkan seharusnya begini dan begitu. Saat di mana kau hanya terdiam membayangkan betapa dulu seandainya masa mudaku begini dan begitu, semuanya telah berlalu. Nasi yang menjadi bubur tak akan bisa kau kembalikan, walaupun kau menangis darah hingga tetes terakhir.”


“Masa itu tak akan bisa terulang kembali. Saat ini kau mendengar ucapan kakek jangan menganggapnya sebagai ceramah. Ini sebatas penjelasan untukmu, Man.”


“Kalaupun sekarang kau masih mengingat wanita itu dan masih mencintainya, maka perjuangkanlah dengan berani melamarnya. Kalaupun kau belum siap dan tidak berani, berusahalah supaya cintamu itu tidak tumbuh terlalu tinggi dan besar. Karena cinta seperti itu hanya membahayakan dirimu. Dan jangan sampai cintamu itu menjadi pedang yang akan membunuhmu, Man. Ketahuilah, dulu ada salah seorang teman kakek yang merasa putus asa karena cintanya pergi bersama orang lain hingga dia nekat melakukan hal yang mencelakai dirinya. Bayangkan itu, masa muda adalah masa di mana kadang seseorang bimbang dan mudah sekali terbawa arus perasaan. Maka, saat ini perbanyaklah bagimu belajar, bentengi diri dengan perkara yang berguna agar kau semakin cerdas, semakin tahu lebih banyak mengenai hidup ini, Man.”


Itulah kakek yang suka menjelaskan perkara kadang-kadang panjang lebar. Kupikir dia sendiri tidak bosan menjelaskannya. Raut wajah yang biasa kutatap tenang.


Aku sebatas menyangka. Pikiran dan prasangka yang membuatku menatapnya lebih lama berdiam tanpa sedikit ingin tahu apa pun, memikirkan apa yang dia ucapkan.


Saat ini kutatap angan yang bertubi-tubi guncangan. Mengguncangkan ruangan sanubariku yang entah mengapa kurasakan hal berbeda. Dari ucapan kakek terdengar tentram, tetapi dibalik itu semua aku merasakan sesuatu yang aneh.

__ADS_1


Berusaha tegar melangkah apa pun yang nanti akan terjadi. Aku harus kuat menjalani hari walaupun nanti kenyataan pahit akan kuterima. Saat ini pun aku berusaha menerima ucapan kakek yang memang benar adanya.


__ADS_2