
Aku kembali seperti biasa, menuntun hati untuk menghormati tamu yang kini aku jumpai. Tamu itu adalah rindu, rindu yang sangat menguraikan batasan api kesabaran.
Mengelus-elus lembut jiwa yang tenang dengan senyuman yang terpampang sederhana, mampu menghancurkan kegelisahan yang kini kurasakan, memberi satu warna dalam kehidupan yang penuh pertanyaan.
Aku menghela napas, mengeluarkannya secara perlahan-lahan, menghirupnya, lalu mengembuskannya.
Aku mulai membungkam mulut yang kian hari semakin ingin mengucapkannya. Mengucapkan kata yang tidak ingin didengar oleh kedua pasang telinga yang entah bagaimana aku tak ingin mendengarnya. Mengucapkan kata yang menyebabkan kebocoran perasaan kepada wanita yang kucintai.
Aku mematikan ponsel yang berada di dekatku, Aku tak ingin menyentuh ponsel yang menambah kerinduan. Setiap memegang ponsel, aku selalu memandang foto wanita yang kucintai.
Aku beranggapan lebih baik, aku menulis hal yang ada dipikiran, siapa tau itu menghilangkan beban pikiran.
Begitu saja, catatan itu ditulis olehku, sebuah catatan perasaan yang menyakitkan. Bahkan, aku memikul semua hal yang menyakitkan itu dengan tulisan, walaupun begitu tetap saja aku merasa tak sanggup memikulnya.
Aku sering bahkan pergi berlibur agar bisa menghilangkan semua perasaan tersebut. Pergi ke tempat-tempat wisata alam yang menyenangkan. Menghindari kontak langsung dengan wanita yang kucintai itu.
“Aku tidak mengerti setelah timbul perasaan ini, aku tak ingin mendekatinya bahkan aku menjauhinya,” gumamku menatap pemandangan sekitar.
Tak lama setelah itu, aku memutuskan berhenti dari pekerjaan yang selama ini membebani perasaan, memulai kehidupan baru yang jauh lebih seru daripada mendekati cinta yang menghancurkan pikiran tenang.
Teman-teman dekat, bahkan rekan kerjaku sangat menyesali akan keputusan yang di ambil olehku. Mereka tampak merasa sedih di saat mendengar bahwa aku akan berhenti bekerja.
“Teman, kenapa kau pergi, kumohon tetap disini.”
“Aku tidak bisa lagi berada di sini teman.”
“Lantas apa alasanmu memilih untuk meninggalkan pekerjaan ini?”
“Bukan apa-apa aku hanya ingin merasakan suasana baru.”
Pekerjaanku yang baru tetaplah sama, menjadi tukang antar barang namun di tempat yang berbeda.
“Aku beruntung bisa pergi sebelum Wapta melihatku,” gumamku dalam hati sambil mengusap dada dan menghela napas.
Aku benar-benar menghindar dan tak ingin bertemu dengan Wapta lagi, aku memilih mengubur perasaan yang baku itu, dan berharap tanah mengisap perasaan itu hingga tak seorang pun bisa menggalinya dan mengetahuinya.
__ADS_1
Ponsel berdering, tertera nama wanita yang kucintai itu sedang memanggil ponselku, tetapi aku tak ingin menjawabnya, malah memilih mematikan ponsel, membuangnya ke sungai.
“Aku tidak membutuhkan ponsel lagi.” Aku membentak pada diriku sendiri.
Namun, perbuatanku itu tanpa pikir panjang, aku malah membuangnya.
“Astaga ... Aku begitu naif!” kataku memegang jidat.
Lantas, aku mencarinya lagi dan memungutnya seperti sampah kemudian bergegas pulang dan meletakkan ponsel tersebut ke dalam beras, karena itu sudah menjadi cara jitu yang banyak orang gunakan untuk menyelamatkan ponsel yang sekarat karena air yang mematikan.
Setelah putaran waktu 24 jam kemudian aku mengecek ponsel tersebut, dan ponsel itu menyala, disertai dengan history panggilan yang terhitung 120 kali.
Banyak sekali ... aku tak ingin menghiraukannya. Lalu aku menghapus semua history panggilan. Barusan yang terjadi kemarin, aku begitu naif, langsung membuang ponsel tanpa pikiran, sekarang pikiran ini sudah jernih, aku lebih memilih membuang kartu yang kugunakan. Bagiku itu adalah cara yang lebih efektif, mengganti kartu baru, memulai kehidupan baru.
“Aku perlu menemui temanku untuk membagikan cerita yang kualami ini. Kemungkinan dia punya solusi untuk mengatasi semua beban yang kurasakan,” pikirku menyelimuti hawa dingin yang melanda suasana hati, seolah-olah hawa dingin itu membekukan hati dalam mencintai sosok wanita yang telah kubuang jauh-jauh dari pikiranku.
Temanku yang sebelumnya bertemu denganku di kedai kopi, kali ini aku mengudang temanku itu ke rumah yang baru saja aku pindah kemarin siang.
***
Tak lama setelah itu, temanku itu datang mengetuk pintu, lantas aku pun membuka pintu tersebut.
“Bukan apa-apa teman, aku hanya sedang memikul beban pikiran, dan karena itu aku merasa melayang-layang di angan.” Dengan muka yang tampak sendu, seperti kata temanku. Aku mempersilahkannya masuk, ketika masuk ke dalam rumah, dia langsung terkejut melihat keadaan rumah yang tampak berantakan.
“Apa ini masalah cinta? yang sebelumnya pernah kau bilang kepadaku saat di kedai kopi, teman.”
"Ya, memang ini adalah masalah yang tempo hari aku bilang.”
“Ada apa dengan semua ini? rumahmu tampak seperti kandang yang kemarin aku liat di perternakan sapi teman, maafkan aku teman mengatakannya secara berlebihan.”
“Aku sedang tidak ada semangat, aku terus memikirkannya, hingga lupa membereskan rumah dan membiarkan barang berserakan di mana-mana.” kataku dengan sedikit senyum yang menghiasi wajah supaya dia tak menganggapku sedang bersedih, tetapi raut wajah itu tetap terlihat walaupun aku berusaha menimbulkan senyuman.
“Tenangkan dirimu teman, aku datang untuk membantu masalah yang kini kau rasakan.” katanya sambil menepuk punggungku.
“Terima kasih teman, kau memang selalu membantuku dalam kesusahan.”
__ADS_1
“Tidak perlu berterima kasih kepadaku teman, Lantas ceritakan saja masalahmu teman, aku akan mendengarkannya.”
Aku menceritakan semua hal yang sudah terjadi, dia adalah pendengar yang baik, juga mengerti bagaimana menghilangkan dan mencari jalan solusi ke arah yang bijak.
***
“Setelah aku mendengar ceritamu teman, aku mengerti keadaanmu sekarang, namun kau aneh, teman. Kau pergi dari pekerjaan yang selama ini kau sukai dan meninggalkan dia tanpa kabar sama sekali, Apakah ini caramu menggoreskan luka kepadanya? Bagaimana jika dia mencintaimu? dan kau malah meninggalkannya tanpa permisi terlebih dahulu.”
“Teman, kenapa kau malah membelanya? Namun apa yang kau katakan, tidak seperti yang kubayangkan, aku mengira ini adalah yang terbaik buatku dan aku menganggap dia tidak menyukaiku.”
“Itulah dirimu, teman. Kau selalu saja tak mengerti keadaan. Jika kau berada di posisi wanita itu yang kau tak beri kabar dan menghilang bagaimana dirimu menanggapinya, bahkan dia menghubungimu sebanyak 120 kali dan sekarang kau membuang kartu itu dan juga pindah rumah tanpa sepengatahuan nya. Di mana akal pikiran yang dulu kau kembangkan, teman.”
“Kau terlalu menggerutu teman,” kataku dengan menghentikan ucapannya.
“Aku tidak menggerutu, kau minta kepadaku sebuah saran dan masukan, tapi ini murni kesalahanmu. Aku tidak bisa membantumu, aku pergi dari sini karena takut mengganggu pikiranmu, teman.”
“Baiklah, aku akan mengikuti saran yang kau berikan kepadaku dan aku akan menemuinya untuk memastikan perkataan yang kau lontarkan kepadaku barusan.”
Mendengar itu, dia tersenyum, “Bagus kalau begitu, kuharap dia tidak membencimu, teman.”
“Terima kasih atas saran yang kau berikan, bagaimana kalau kita meminum kopi dulu sebentar.”
“Ah ... Tidak usah aku ingin pergi sekarang.” kata dia mulai berdiri dan hendak pergi.
Aku merasa bersalah. Lantas, aku pun bertanya, “Kenapa kau memilih pergi, apa engkau marah padaku karena aku begini?”
“Tidak! Bukan begitu, temanku, aku hanya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.”
“Baiklah, semoga lain hari kita bisa mengobrol lebih banyak lagi, dan menikmati kopi bersama-sama.”
Dia malah tertawa dan berkata, “Haha ... Mungkin di lain pertemuan, kau akan menemuiku bersama dengan isteriku.”
“Apa!? apa kau bercanda, teman.”
“Tidak, Aku tidak bercanda, aku serius teman, urusan yang tadi kubilang adalah persiapan pernikahan yang akan segera dilakukan dalam beberapa hari kedepan, Tunggu saja. Undangan akan datang kepadamu teman.”
__ADS_1
“Aku sangat tidak sabar menanti undangan itu datang, teman. Kau begitu cepat mendahuluiku.”
“Tenang saja, aku doakan kau dan Wapta akan sama sepertiku. Jangan bersedih teman, jika memang kau berjodoh dengan nya, kau akan sama sepertiku bertemu wanita itu di acara pernikahan, Bukan sebagai tamu undangan tetapi menjadi suami isteri yang saling mencintai, Tapi kau harus berusaha teman dan caramu ini dengan menghilang sama saja kau menyerah pada keadaan yang memaksamu berjalan dan kau lambat laun akan kehilangan cinta yang kau rasakan.”