Daur Ulang

Daur Ulang
Langit-Langit Atap Cahaya


__ADS_3

Kakek menghampiri menepuk-nepuk pundakku seperti biasa. Aku menatapnya dengan santai. “Dari mana saja kau ini?” tanyanya semringah, suara serak kadang batuk-batuk masih menjadi ciri khasnya.


“Biasa, tadi jalan-jalan di taman.” Aku memandang tumpukan barang, meletakan ranselku, lalu membantu merapikan barang yang semula ditumpuk sembarangan.


Kakek memulai basa-basi seperti biasa, menanyakan berbagai hal lainnya. Aku mengenyir sambil menjelaskan sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan.


Kubilang saat itu, aku berada di taman, berduduk menatap sekumpulan anak bercengkrama hingga muncul portal di depanku, aku masuk dan menjelajah hingga ke alam bawah sadar. Di sana, berdiri bangunan megah.


Aku berangkat menaiki kuda terbang, pergi ke negeri dongeng yang tidak pernah dikunjungi orang-orang. Kakek mangut-mangut tertawa. Alur ceritanya masih panjang hingga aku menghadapi seekor monster bertubuh raksasa. Ukuran besarnya lebih dari toko milik Kakek.


Ada-ada saja, kakek puas tertawa, sepertinya dia tahu itu adalah kebohongan yang sengaja kubuat dan jelas sekali ketahuan bohongnya, tetapi Kakek tak pernah bosan mendengarkan. Nenek juga tampak menyimak. Entahlah, apakah dia mengerti atau tidak, tetapi kulihat dia juga ikut tertawa bersama kami.


Hanya kami berdua yang berdialog menggunakan bahasa yang terdengar asing baginya. Kami berdua sering bergurau satu sama lain. Itulah kakek dengan gagah mengangkat barang, ingin kubantu katanya tidak usah, bisa sendiri.


Hebat memang, perkasa. Jangan pernah memandang usia, tua-tua begini Kakek masih kuat, otot kekar katanya. Aku tertawa mendengarnya. Kakek mengencangkan otot, menatapku mantap. Hahaha. Kakek, masih saja berlagak kuat.


Selesai membantu Kakek. Aku mempunyai suatu keinginan yang ingin kutuliskan. Aku masuk kamar, membuka layar komputer, kulihat lembaran kertas digital sebelumnya. Dari dulu, entah mengapa aku tidak bisa menuliskan panjang lebar kejadian satu per satu dengan detail, juga ditambah sedikit taburan perasaan, itu sulit sekali.


Walaupun, kujelaskan hasilnya tetaplah kacau, bahkan hambar, terdengar pun aneh. Tidak selaras antara ucapan dan sudut pandang satu sama lain.


Aku berusaha sekian lama belajar menulis dari ujung kertas ke ujung. Otodidak. Dari awal waktu pagi sampai berganti malam, volume paling terkecil yang pernah kucoba, sedikit kata pun berhela napas mengetiknya.


Baru beberapa waktu lalu, tidak lama itu terjadi. Di batas keraguan yang tak pernah kusimpan satu nada lagu mendayu, sebagian nada yang tak pernah kusimpan malah keluar nada sumbang tak nyaman didengar.


Di setiap hari selesai membantu kakek. Kadang-kadang aku sering menatap burung merpati yang berada di jalan mematuk roti yang dihamburkan, juga keseharian orang-orang berlalu-lalang. Sampai sekarang, aku tidak tahu perasaan orang lain, sudut pandang mereka yang dari hitungan waktu senggang hingga menemukan teman tertawa.


Terbanglah sudah pikiran ini, sudah jauh meninggalkan ruang imaji, tetapi selama itu tidak pernah kutemukan sudut pandang yang sesuai atau hanya aku yang belum pernah pergi jauh, masih saja terdiam dengan catatan hampa tanpa peduli kasih, tanpa menatap ke sesama.

__ADS_1


Bahkan waktu itu di saat dosen di sana berdiri, mengajar melambai-lambai menjelaskan, aku mendengarkan, tetapi aku tidak pernah bisa merasakan sudut pandang yang dialaminya.


Berulang kali kucatat. Di setiap jeda kalimat yang disampaikannya dengan gesit tanpa berpikir hal lain. Benar saja, tidak ada hal lain, kosong melompong. Sudah nasib! Aku memilih untuk melupakannya.


***


Malam hari, tiada atap menerima terik matahari, aku membuka tulisan lama. Lihatlah, betapa berantakannya. Aku perlahan merevisi tanda baca, juga berbagai hal lainnya dari kata-kata yang terbaca aneh.


Aku cukup mengernyit kala menemukan judul tulisan Langit Langit Atap Cahaya. Aku baru mengingatnya, kala itu saat bertemu Lita Aksima, wanita yang sulit kugambarkan kecantikan dan kelembutan sikapnya.


Beberapa kali aku menepuk wajah, membenam diri dalam selimut. Astaga? Itu narasi paling lebay yang pernah kutulis.


Tidak mengapa, aku harus benar-benar menghela napas, membaca kembali dengan saksama, lalu merevisi bagian yang tidak sesuai tanda baca.


Lita Aksima, kau adalah langit yang terang-benderang bergelayut matahari. Dalam perasaan lunglai, aku tak sengaja jatuh ke dalam telaga cinta. Tidak sedalam memikirkanmu, aku hilang dari dunia. Kecantikan dan kelembutanmu meleburkan rasa yang tidak pernah sanggup kujelaskan, bahkan sekarang kutetapkan segala angan untuk kesekian kali memuji kecantikan dan kelembutan sikap yang kau miliki.


Di dekat bagian akhir, aku menemukan jawabannya. Itulah dia Langit Langit Atap Cahaya yang dimaksud.


Aku menyadari diriku ini bagai hamparan tanah yang tampak sebagai lantai. Kau langit langit keindahan, segampang itu atap yang sering kutatap. Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, bahkan tak bisa kuraih, kau adalah Langit Langit Atap Cahaya, bercahaya dan terus bercahaya.


Tulisan itu telah direvisi. Hampir setengah jam gigit jari, memaksa diri. Aku selesai revisi tanda baca. Walaupun, aku tidak tahu benar atau tidaknya. Bagiku yang penting sekarang tulisan itu lebih rapi dari sebelumnya.


Aku tidak bisa menyanggah ada dua wanita yang dulu menghiasi hidupku. Lita Aksima bagai memantulkan cahaya cermin, bening ternampak di kala bertemu pada saat jatuhnya air terjun di pegunungan.


Perpisahan itu memang ada. Nyata dan terasa sangat tidak perlu kurasa, tetapi apa daya seakan takdir digariskan semenjak lahir. Aku menghela napas, keluar kamar, membuka pintu—keluar rumah.


Udara di malam hari itu sedikit pun tidak ada terik matahari, jelas tampak pun bergurau. Semua orang tahu malam hari tidak ada matahari. Diri ini tidak pandai berdialog. Buku tua lagi, lagi dan lagi menemaniku.

__ADS_1


Aku memandang langit langit atap malam. Masih sama, malam hari bercahaya. Aku tahu dalam lingkungan kehidupan, teman dan lainnya masih bisa ditemukan. Berkenalan dari satu orang ke orang lainnya.


Renungan dalam diam sudahlah, tidak usah diterangkan. Jika dalam minggu kedua ini, aku masih belum bisa menemukan teman, mungkin saja aku akan berakhir tenggelam di alam renungku sendiri.


Ternyata benar saja, terkadang di dalam lembaran terdapat kertas sobek, celaka diri membacanya di saat pidato. Teks dalam bacaan hilang separuh, apa yang akan diperbuat? Melayanglah jurus andalan, mengucapkannya ngasal hingga orang pun mendengarnya aneh.


Sudah lazim orang lain akan tertawa. Malam hari ini, aku berharap apa yang dulu terjadi, tidak pernah terjadi lagi di masa depanku.


“Sedang apa di keluar sana? Ayo, masuklah, jangan pernah bergadang itu tidak baik untuk kesehatan.” Kudengar suara Kakek berseru. Aku menoleh, menatapnya yang berada di ambang pintu melambai-lambai, menyuruh masuk rumah.


Aku tidak pernah menjelaskan. Pun menceritakannya tidak pernah kepadanya, lucu sekali. Kakek menepuk pundukku lagi seperti biasa. “Lain kali, kau tutuplah layar komputer. Aku tadi membacanya. Ajib sekali tulisan kau itu.” Kakek tertawa, walaupun batuk-batuk mencoba kuat tertawa. Dia menjauh, membiarkan aku terpaku kaget.


Aku baru mengingat. Astaga? Bagaimana mungkin, tadi aku lupa mematikan layar komputer.


Dengan gerak cepat, aku bergegas masuk kamar. Ternyata benar, komputer itu lupa kumatikan, lihatlah berkas tulisan itu masih terpampang di depan layar. Bahkan, siapa pun selain Kakek bisa membacanya.


Perasaan terpendam? Aku menghela napas kecewa, apanya yang terpendam, semua itu tidak terpendam, bahkan bisa dibaca semuanya, aku benar tak bisa menyanggah, tetapi syukurlah kakek tidak membahas, juga tidak menanyakan perihal Lita Aksima. Bahkan setelahnya dia berdiam mulut, menyisakan tawa yang jelas kudengar.


Kemungkinan kakek merasakan pernah mengalami masa muda sepertiku sehingga tidak membahasnya. Semua itu hanya prasangka yang tidak tentu kebenarannya. Aku seorang cucu yang berprasangka aneh terhadap kakeknya sendiri.


Lita Aksima, tetaplah tersimpan di dalam lembaran kertas, aku tetap akan mengingatmu, hanya saja apa yang berkesan lebih diutamakan. Itulah Wapta, aku memilihnya, ingin terus bersamanya.


Aku mematikan layar komputer, menghampiri tempat tidur, mematikan lampu. Di malam hari itu aku terjaga dengan perasaan yang sama bimbangnya seperti dulu, tetapi aku sadar itu hanya kata-kata usang yang siapa pun bisa merangkainya.


Jika tulisan itu kukirim ke tempat Lita Aksima, kemungkinan dia akan tertawa karena dia tidak suka puisi atau suatu kata yang ditulis berlebihan. Bagi seorang Lita Aksima. Dia menganggap narasi cinta itu menjijikkan, tidak logis dan lain sebagainya.


Syukurlah, bahkan tempat tinggalnya saja aku tidak mengetahuinya, aku dengannya memang tidak cocok. Hari itu, kami sekadar bertemu di pegunungan.

__ADS_1


Aku punya banyak alasan untuk tidak mengingat seseorang, melupakannya pun sangat mudah. Aku juga punya banyak alasan untuk kembali mengingatnya.


__ADS_2