Daur Ulang

Daur Ulang
Bukan Itu Jawabannya


__ADS_3

Aku menatap polisi yang kini tampak mengernyit. Kuperhatikan lebih saksama sepertinya dia sedang berusaha membaca suratku yang jelas tertulis menggunakan bahasa indonesia.


Surat itu telah melayang tinggi di dalam sanubariku. Telah terpahat oleh jutaan kata yang ingin kupersembahkan dalam bentuk tulisan teruntuk Wapta.


Aku tidak mampu menerangkan lebih rinci. Begitulah perasaan yang memang aku tidak tahu seberapa dalamnya. Bahkan diri ini menganggap satu kalimat tanya saja hampir berkutat lebih lama dalam menjawabnya.


Bibir kelu atau apalah yang jelas tidak ada kaitannya dalam masalah kelipatan dua dikali dua berubah menjadi dua ratus dua. Pikiran yang tersendat error berpikir. Ayolah!


Apakah matematika serumit itu? Tidakkah dalam hidupku sebelumnya ilmu berhitung itu mudah, bahkan salah seorang teman dulu di kedai kopi. Saat kami berdua saling mengobrol empat mata. Dia berucap tamsil ingin membelah kepalaku, mengambil isinya yang memuat ilmu matematika.


Temanku yang telah berpulang ke hadirat Sang Maha Kuasa. Dialah teman mengobrol dalam perihal cintaku kepada Wapta. Sejak kepergiannya tidak ada apa pun lagi yang berarti rasanya. Gundah gulana, merenung adalah keseharian yang sering kulewati.


Peputaran waktu yang terus berlalu, berganti cuaca dan lain sebagainya. Melewati siang berganti malam dan terus begitu, selalu dan selalu.


Kehidupanku ini terus berlalu sebagaimana mestinya sama seperti orang-orang lainnya yang dalam sehari memuat angka waktu dua puluh empat jam. Dapat kuketahui waktu peputaran dunia, hari pun berganti.


Sudah berapa usiaku kini? Mendekati dua puluh tahun kurang satu tahun. Tepat dua tahun lalu aku tiba di Thailand, belajar bahasa dalam waktu sesingkat yang kubisa, lantas kakek memberikanku tempat pendidikan di sebuah universitas.


Jauh semakin jauh mengenai perasaan cintaku kepada Wapta seakan terus berkembang biak dari hari ke hari.


Nama yang tidak pernah kuingat selain dirinya. Perasaan tulus dalam bentuk cinta yang terlerai dalam bait kata setulus-tulusnya selama aku bisa.


Tiada wanita lain yang bisa kutatap selain dirinya, tiada wanita lain yang bisa kucinta lebih dari apa pun selain dirinya. Rasa cintaku takkan pernah berkurang.


Rasa cinta yang melebarkan sayap-sayap dalam bentuk alunan syair. Butirannya berjatuhan di setiap penghujung malam.


Dalam berbagai judul, berbagai jilid buku yang berusaha kukarang hanya untuk dirinya. Tidak pernah kubilang apa pun kepadanya, rasa cintaku telah terpendam jauh semakin jauh.


Bisa diamsalkan terpendamnya perasaanku bagai sekumpulan berlian berharga yang berada di dalam tanah. Terkubur dalam, tidak mampu kugali. Ayolah, perasaan ini seakan melebur di dalam ke dalaman tanah, menembus ke inti bumi.


Jiwa yang bertumpuk keresahan dalam setiap waktu bergulir. Dalam bidang yang menghancurkan bangunan-bangunan keindahan antara kata dan makna yang terdapat di dalam sebuah hubungan.


Sedih. Perih atau apalah? Sesak dada ini terasa teramat pilu rasanya, menggores luka dengan sayatan bertubi. Tangisan lirih di malam hari memuncakkan kerinduan kepada dia yang bahkan tidak pernah aku tahu mencintaiku atau tidak?


Ayolah, hati. Sampai kapan engkau akan terus mencintainya, sampai kapan engkau akan terus merindukannya, sampai kapan?


Berikanlah sebuah kejelasan dari semua perasaan yang bertumpuk banyak, membentuk tingkatan mencapai atmosfer bumi, memanas di permukaan matahari.


Lihatlah, sudah dua tahun lamanya kami berpisah, sejak hari itu di mana pesawat terbang memelesat di udara memuat di dalamnya seorang wanita yang kucintai terbang ke negara yang berjuluk Zamrud Khatulistiwa.


Perpisahan yang baru meninggalkan waktu dalam waktu dua tahun, tetapi rinduku seakan tumbuh mekar bagai tanaman yang berumur panjang lebih dari seribu tahun.


Berapa banyak kata yang mampu kutuliskan kepadanya. Semua itu tidak akan terhitung jumlahnya dari perasaan rindu dan cinta mendalam. Tidak pernah terbayang satu coretan yang bisa memakan banyak kertas.


Ini tulisanku. Ketulusan yang berasal dari kedalaman hati yang tak seorang pun bisa menggalinya. Aku sendiri yang mengeluarkannya dalam bentuk kalimat, membuat sebuah paragraf-paragraf.


Pikiranku telah melanglang, memusatkan ingatan kepada seorang wanita yang amat kucintai, amat ingin aku bertemu, bertatap muka dengan segaris senyuman.


Wahai Zat yang maha sempurna. Tiada dua selain engkau, engkaulah penguasa alam semesta sampaikanlah perasaan rindu ini kepadanya.


Diri ini telah menuliskan banyak kata yang ditulis tulus hanya untuknya, diri ini telah menghabiskan banyak waktu demi hanya kalimat rindu ini tersampaikan ke dalam lubuk sanubari yang sejatinya tak mampu untuk diucapkan.


Bagaimana cinta itu bersemi. Entahlah, aku tidak tahu. Rindu pun sama. Aku tidak pernah tahu bagaimana kedua rasa itu bersemayam kuat di dalam jiwa dan ragaku.


Tidak pernah bisa kupikirkan. Aku hanya terdiam dengan catatan, terdiam dalam suatu kata yang jelas membingungkan.


Dibaca atau tidak. Itu tetap sama. Diri ini merasakannya sendiri, lelah letih kerinduan yang kutahu tak segampang kata ucapan.


Bagi orang yang tidak pernah mengalaminya, tentulah mereka akan menghina, mengatakan argumen tentang dirinya yang tidak selebay sikapku.


Atau memang aku terlalu lebay dalam masalah ini, masalah hati yang tak akan bisa dimengerti kecuali diriku sendiri.


Atau aku sendiri yang tidak dapat mengerti bagaimana memaksimalkan cinta dan rindu. Keseluruhan kata yang memakan waktu kala membacanya, bahkan mengingatnya pun aku merasa tak akan sanggup.


Harapan satu kata. Bertemu. Satu kata yang akan terus melekat kuat di dalam ingatanku, susah menghilangkannya.


Jika masalah hati ini terus dibahas jutaan lembar kertas akan penuh. Tidak terhitung banyaknya kata yang tertuang ke dalam lembaran kertas.


Tetes air mata jatuh. Menulis kata yang menerangkan rasa rindu, hati ini terasa tersayat perih. Telingaku berdegung entahlah apa yang akan kudengarkan atau bualan-bualan tak nyata.


Butiran air yang jatuh dari langit di bulan agustus tempo lalu seakan memberiku suatu gambaran sederhana antara kata yang selama ini kueja.


Aku terus berlatih menulis, lebih panjang tentunya, lebih dari apa pun dalam kehidupanku. Aku rela menghabiskan waktu harian yang saat ini kugunakan untuk menulisnya lebih panjang, lebih leluasa.


Wapta, selama ini aku tidak mampu mengatakan perasaanku kepadamu, diri ini hanya mampu memendamnya. Kemungkinan kau akan tahu pada saatnya nanti atau tidak tahu selama-lamanya.


Aku sempat berpikir mengenai perasaanku biarkanlah terpendam, aku tidak memungkirinya. Rasa ini biarkanlah terpendam.


Itulah kalimat yang juga ingin kutuliskan dalam lembaran surat, tetapi aku mengurungkannya, memikirkan lebih dalam sebenarnya untuk apa aku mengatakannya.


Wal hal kami berdua berjarak. Mengatakan cinta dalam jarak sejauh sekarang rasanya seperti adonan kue yang dilempar ke dalam wajan. Begitulah singkatnya.


***


Saat ini aku masih menatap polisi yang tampak membaca isi suratku.


Kupikir saat itu, mana mungkin dia mengerti isi suratku. Astaga? Aku hendak tertawa, tetapi aku berusaha menahannya. Tidak mengapa pak baca saja.


Kalau ingin tahu, aku di sini berdiri menatapmu sedang berperang melawan diriku sendiri, menahan tawa lebih tepatnya begitulah.

__ADS_1


Aku harus kuat menahannya bisa-bisa kepalaku terkena ketuk atau disuruh push up karena menertawakannya.


Entah mengapa saat ini aku malah teringat dongeng dulu, kelas enam SD. Saat guru berceramah panjang lebar menasihatiku tentang betapa pentingnya belajar.


Padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan para polisi yang sekarang kutatap, bahkan sangat berbeda, sangat jauh dipandang mata.


Kala itu terjadi di usia yang masih terbilang polos, bahkan anehnya sampai sekarang aku masih saja bersikap polos. Entah mengapa sikapku sampai sekarang belum berubah. Apa ini takdir dari Sang Maha Kuasa? Jelas, aku tidak tahu.


“Hei, Narak. Bagaimana kabarmu?” tanya temanku saat di waktu SD dulu.


Aku menatapnya mantap. “Baik. Seperti yang kau lihat sendiri, aku bisa loncat memanjat pohon dan tertawa di depanmu.”


Temanku tertawa. Aku juga sama ikut tertawa bersamanya. Di waktu itu rasanya nada bicaraku lancar selancar jalan tol yang bebas dari kemacetan.


Kami berjalan menyusuri lorong sekolah. Sejenak menatapnya. “Eh, aku ingin memberitahumu, kemarin aku lihat ada kuda terbang membelah awan,” kataku absurd ingin mencoba ngelawak.


“Iya, benar begitu. Di mana kau melihatnya?” Temanku tampak seperti heran, juga percaya. Entahlah atau memang dia sedang berpura-pura.


Aku tertawa. “Iya. Di dalam TV.”


Temanku menepuk-nepuk pundakku. Dia ikut tertawa. Kami terus berjalan.


Tempat favoritku adalah kantin ibu Salamah. Kupikir itu adalah kantin yang antik. Dia menjual mie pakai saus manis. Tidak pakai nasi, kalau makan bisa kenyang.


Bukan mie rebus buatan pabrik yang mempunyai nama di setiap kemasan, melainkan hanya mie yang berwarna putih. Bihun dengan cita rasa saus manis.


Aku bersama temanku sering nongkrong di sana, berbagi cerita tentang kelereng dan benda bermain lainnya. Paling seram bercerita tentang siluman buaya putih, juga mitos tentang keberadaan kuburan yang ada di bawah lantai sekolah. Masih banyak lainnya mengenai penghuni penuh mistis.


Ah, ya maaf. Semua ini adalah kilas balik dari masa laluku. Sepertinya bagian itu tidak perlu disebutkan, kembali tentang guru yang membuatku mengingatnya.


Angka hitungan matematika dulu. Jelas, aku mengenal diriku sendiri, lebih dari orang lain mengenalku mengenai matematika.


Dulu, aku mengira matematika itu sebuah bakat seseorang dan itu bukanlah bakat yang kumiliki, bahkan kala itu disuruh menghitung satu hingga seratus dikalikan angka yang ada di dalam benakku. Kalau soal kecepatan aku mengangkat tangan tidak bisa cepat menjawabnya.


Bisaku termenung lama. Dengan kesepuluh jari yang sibuk ikut menghitung, juga bibirku yang berkomat-kamit mengucapkan angka.


Kalau ingin tahu angka yang terbayang saat itu di dalam benakku adalah dua puluh delapan. Tepat di hari sumpah pemuda, aku mengingat tanggal 28 Oktober, maka jatuh kalimat guru di ujung lidah, tujuh puluh tiga.


28×73\=


Aku disuruh menulis di papan tulis. Menghitung hasilnya. Lalu ditambahkan soal lagi dengan rumus super debur rumit bagiku, rumus menentukan FPB dan KPK.


Tidak butuh waktu lama, angkat tangan menyerah. Dengan helaan napas sedikit lelah menghitung. Sebenarnya 28×73 sudah kutemukan jawabannya 2044 dengan cara persilangan menurun.


Di lain keadaan, aku tidak paham rumus menentukan FPB dan KPK. Itulah kenapa aku berdiri di depan kelas. Ditertawakan seluruh murid yang terduduk rapi di meja.


Aku juga ikut tertawa. Itulah teman-temanku yang kuanggap mereka seperti keluarga karena dalam hidupku tidak pernah tahu bagaimana kasih sayang orang tua. Mereka berdua telah meninggalkanku di usia tujuh tahun. Aku selalu mandiri dan kuat berusaha tegar melangkah.


Dengan suara tegas guru menyuruhku keluar kelas, aku dihukum berdiri di bawah terik matahari supaya menyesali kenapa tidak bisa matematika.


Kalau ingin tahu jauh di dalam perasaanku saat itu mengalami kekesalan, mengapa hanya aku bukankah masih banyak muridnya yang mungkin sama sepertiku.


“Apa guru sengaja menghukumku atau dia memang selama ini tidak ingin memberikanku pelajaran?” Aku mengucapkan apa yang membuatku tidak keruan di dalam batin.


Aku keluar kelas dengan perasaan yang berkecamuk tidak tentu pikiran, mengingat ucapannya yang kudengar hanya satu kata. Keluar!


Aku tahu guru orangnya tegas. Entahlah rasanya walaupun aku tahu sikapnya tetap saja saat mendengarnya terasa perih.


Aku menerima semua apa pun yang telah menjadi hukuman buatku. Mungkin saja memang benar aku harus rajin belajar mengenai matematika yang tidak kubisa.


Di kelas enam SD itulah pengalaman pertamaku dihukum bukan karena melanggar aturan sekolah, melainkan memang akulah yang otaknya setengah.


Aku berdiri di bawah tiang bendera. Mendongak hormat, menatap kibaran bendera yang bergerak disentuh angin.


Tubuhku hanya bisa mematung, menyesali kesalahanku sendiri, membuat sebuah janji erat pada alunan nada-nada yang mengajak diriku ke tempat yang kubayangkan adalah salju. Lebih ringannya aku membutuhkan hawa dingin sekarang.


Syukurlah, perasaanku lengang hingga membuat waktu terasa bergulir lebih cepat hingga sekarang menunjukkan tengah hari, sekilas menduga dari suara bel sekolah dan rasanya hawa di sekeliling terasa menyengat, matahari membulat terang jelas kutatap dengan sebuah harapan meminta doa agar hukuman itu selesai kulakukan.


Jangan pernah bertanya peluh keringatku yang berceceran, bahkan pakaian seragamku bagai diguyur air hujan, tenggorakanku terasa kering.


Semua ini lebih sulit dari apa yang kubayangkan mudah. Perasaanku diajak berkeliling ke tempat kekesalan, ingin berteriak marah, tetapi bagaimana bisa aku melakukannya.


Sekilas kulihat dari kejauhan guru menatapku, lantas menghampiri dengan memegang buku di tangannya. Aku sigap berpura-pura tidak melihatnya, memejamkan mata dengan dongakan kepala ke arah bendera nan berkibar pelan.


Tiada lagi yang bisa kubayangkan. Diam beribu bahasa lebih baik daripada menatap guru yang membuatku kesal.


Dia menyebut namaku. Suara yang terdengar dekat, wal hal aku sedang berpejam. Saat itu kubuka mata, menatap guru yang kini berdiri di sampingku.


“Narak, apakah kamu baik-baik saja?” Dia mengusap pelan wajahku, memberikan senyuman yang jelas membuatku heran.


“Mengapa?” tanyaku sedikit pelan.


Biasanya aku lincah dalam hal ucapan, tetapi saat itu guru menatapku dengan cahaya iba yang seakan membuat air mataku mau tumpah.


Aku jelas mengingatnya wajah guru yang terpancar seperti menyesali perbuatannya. Dia telah menghukumku berdiri di bawah terik matahari.


Pakaianku telah basah oleh keringat yang terus berkeluaran dari celah pori-pori tubuh, bahkan aku tak mampu lagi mengucapkan lebih banyak kata dalam hitungan menit.


Dia menjawab tidak panjang penuh kelembutan yang tentu berbeda dari sikap sebelumnya. Dia menyuruhku ikut bersamanya menuju ke ruangan khusus katanya aku akan mendapatkan pelajaran tambahan.

__ADS_1


Aku tidak banyak ucap, mangut-mangut langsung menurut. Rasanya aku tidak bisa lebih mengerti maksudnya.


Entah aku akan diberikan ceramah panjang lebar lagi, jelaslah aku tidak tahu. Berharap saja diberikan keringanan atas semuanya.


***


Tiba di ruangannya. Hawa dingin yang keluar dari AC seakan menentramkan jiwaku. Saat itulah guru memberikan pelajaran soal menentukan FPB dan KPK yang tidak bisa kukerjakan.


“Narak. Bapak akan memberikanmu soal-soal. Kau jawablah, nanti akan bapak jelaskan lebih detail kepadamu.” Guru menuliskan soalnya di lembaran kertas punyaku. Sebelumnya dialah yang memintanya agar aku mengeluarkan buku.


Alangkah baiknya dia sendiri yang menulisnya. Sementara aku hanya tertegun, menatap gerakan tangannya menulis soal-soal dengan rapi. Jam tengah hari, tidak terasa panas, AC terus mendinginkan ruangan rasanya senang begini.


Daripada aku di rumah sendirian. Biaya sekolahku juga termasuk dari peninggalan ayahku. Sejak usia tujuh tahun itu aku sudah tahu caranya menggunakan uang, entah mengapa mungkin aku dilahirkan di golongan darah keluarga yang menyukai berhitung angka.


Bahkan ayahku adalah seorang manajemen di salah satu perusahaan. Aku tahu itu kala melihat berkas yang tersimpan rapi di dalam lemari juga beberapa catatan.


Walaupun sebenarnya memang aku tidak begitu mengenal dirinya. Saat kakek membahas semangka, bahkan aku tidak pernah tahu bahwa sosok ayahku dulunya juga tidak suka semangka hingga dia menyukainya yang kini sama denganku.


Kami mempunyai banyak kesamaan dalam hal menyukai. Di saat hari itu di dalam kamar. Aku baru tiba di Thailand kakek menanyakan padaku apa yang kusukai.


Aku menjawab menyukai langit senja. Kakek bilang lagi bahwa ayah juga menyukainya. Dan ibu menyukai warna biru.


Saat itu aku memasuki kamar ibu yang jelas sekelilingnya berwarna biru hingga refleks mengucapkan dengan polosnya mustahil langit senja berwarna biru. Kakek tertawa mendengarnya, mengatakan dia tidak kehilangan sosok ayah dan ibuku karena mereka bersemayam di dalam diriku.


Aku mengingat kembali seakan lebih leluasa semuanya. Lebih dari apa pun di dalam kehidupanku. Bentuk perasaan yang seakan tertuang ke dalam cawan yang dipenuhi kelembutan, lantas kuminum meluncur masuk ke dalam tenggorakan.


Dan di dalam lambung air itu seakan melukis warna keindahan yang membuat jantungku berdebar tak sekira jumlah denyutan yang bisa kuhitung.


Guru bersedekap, bersitatap denganku penuh manik mata perhatian. Dia memberikan aku sebuah pelajaran yang tidak bisa kupahami.


Kala itu keluar dari mulut mulutnya bentuk suara dongeng. Dia menceritakan kepadaku tentang betapa pentingnya belajar.


Dongeng-dongeng lama bergema memenuhi ruangan yang jelas hanya ada kami berdua di dalam ruangan tersebut.


Aku memasang telinga, juga mata terfokus jelas. Lebih sederhananya menyimak hingga cerita itu selesai diucapkan olehnya.


Tidak mengapa. Kali ini aku kembali disuruh belajar terus belajar. Katanya lagi semua itu demi apa yang penting di dalam hidupku.


Kendatipun demikian. Jauh di dalam benakku sudah tergambar perasaan di dalam hidupku. Kesan yang menandakan tidak ada yang penting di dalam hidupku.


Semuanya berlalu begitu saja tanpa aku tahu seberapa banyak waktu yang telah berlalu dalam kehidupanku.


Inilah sebuah rasa yang menganggu pikiranku saat ini. Dulu di usia yang belum tahu apa pun, aku bebas tertawa dan mengucapkan berbagai hal dengan warna kemilau yang tiada sanggup kuterjemahkan dalam bentuk alunan musik.


Jelasnya suaraku tak sebagus para penyanyi yang didengar sedap dan merdu. Suaraku tidak begitu.


Aku kembali mengingat di mana guru SD dulu menceritakan panjang lebar motivasi kepadaku. Bentuk kesungguhan dari belajar.


Tidak jauh-jauh. Dia menceritakan ceritanya sendiri, menjelaskan kepadaku point-point sederhana antara keluh dan penatnya belajar. Sejak saat itulah matematika menjadi pelajaran favoritku, lambat laun apa yang selama ini kukira susah ternyata tidak.


Tentunya di setiap kesusahan ada proses yang harus dijalani. Seberapa sulit prosesnya maka hasilnya akan terasa luar biasa. Perasaan harus mampu berkorban.


Matematika bagiku sekarang tidak sulit. Semua itu berkat guru hari itu memberikanku suatu perkataan penuh kelembutan. Dia menerangkan lebih rinci, ternyata apa yang sebelumnya kusangka itu bisa saja salah sangka.


Kalau ingin tahu pertemuaanku dengan Wapta, seseorang wanita yang kucintai sampai sekarang. Itu terjadi sejak lama di salah satu sekolah SMP dulu. Di sanalah tempatnya awal-awal diriku menyukainya.


Wanita berkerudung merah dengan sebuah senyuman yang merekah indah. Aku berusaha terus mendekatinya dengan hitungan rumus matematika sederhana, tetapi sayangnya selalu gagal.


Bahkan sampai sekarang perasaanku masih terpendam. Kami hanya sekadar bersahabat hingga lulus SMA memutuskan untuk saling bekerja di jasa tukang angkot barang.


Saat itu aku tidak tahu ternyata atasan kami sangat galak orangnya. Big Boss, seorang wanita jomlo dengan harta yang melimpah ruah. Siapa yang suka wanita pemarah? Di dunia ini siapa yang suka?


Bahkan rekan kerjaku dulu tidak kuasa menahan kemarahannya ingin menggampar, tetapi dialah atasan kami. Big boss. Luar biasa, wujud tampangnya terlihat cantik, tetapi sikapnya menakutkan.


Bagiku dia adalah seorang wanita yang termasuk di dalam golongan pekerja keras, terlihat dari cara dan fokusnya dia di dalam bidang yang tengah dia kerjakan.


Aku cukup mengenal seseorang dari memperhatikan gerak geriknya, tetapi aku tidak pernah menanyakannya secara langsung. Sekadar persepsiku yang bisa benar, juga bisa salah.


Bukan itu jawabannya. Kalimat lembut dari guru masih segar kuingat kala berada di ruangan khusus buatku belajar matematika.


Jasa seorang guru yang akan selalu kuingat bagaimanapun waktu berlalu. Pada suatu saat nanti kala aku tumbuh menjadi seseorang yang sukses. Satu hal yang ingin kusampaikan dan beri sambutan adalah kepada para guru yang selama itu telah sudi memberikanku pelajaran.


Mereka adalah sosok yang bagiku telah memberikan apa yang terbaik untuk murid-muridnya, bahkan sampai sekarang aku masih saja mengingat wajah guru, mengingat semua kenangan bersamanya.


Dia seperti berubah menjadi sosok seorang ayah yang melajariku dengan kelembutan. Dia pun tahu aku seorang yatim piatu, kala sendirian di rumah.


Dia menghampiri ke rumahku dengan sejumlah makanan banyak yang dia tenteng di tangannya. Menatap ke arahku tersenyum. Sebenarnya di dalam hidupku tidak pernah kehilangan kasih sayang.


Akan tetapi, di saat tiba di pengujung malam-malam sunyi. Di saat itulah perasaan menghantui datang seakan berbisik menakuti-nakuti perasaanku yang langsung kuhabiskan waktu untuk menulis catatan.


Itu terjadi saat usia masih SD berlanjut sampai sekarang. Entah mengapa sekarang aku malah merindukan sosok seorang guru yang setelah lulus dari SD dia tak lagi datang ke rumahku, entahlah mungkin kesibukan dalam mengajar membuatnya tidak bisa mengunjungi rumahku.


Kesemuaan itu telah berlalu melewati siang berganti malam, sudahlah aku tidak perlu lebih merasa khawatir, terdiam saja sambil menghela napas juga tidak mengapa.


Segalanya akan terasa indah kala aku tahu kenangan pahit yang selama itu dapat kupeluk erat, menerima semua apa pun dari kejadian masa lalu, memberikan senyuman terbaikku yang saat ini kubisa.


Lebih dari sekadar itu. Aku harus percaya dan terus berusaha demi apa yang terpenting di dalam hidupku. Saat ini orang penting di dalam hidupku adalah kakek.


Dia sama seperti sosok guru yang hari itu memberiku nasihat agar terus belajar. Demi itulah yang saat ini harus kuperjuangan.

__ADS_1


Mengenai cintaku terhadap dirinya. Itulah satu rasa yang akan terus kuingat. Semoga nanti aku dan dirinya bisa bertemu kembali.


Kala aku sudah benar-benar siap atas semuanya, mudah saja bagiku mengatakan seluruh perasaan yang selama ini terpendam kepadanya. Mungkin, aku tidak pernah tahu.


__ADS_2