
Kamu tahu rasa apa yang dirasakan orang di saat gugup? Maka aku tidak perlu menjelaskannya.
Lebih tepatnya aku tidak bisa menjelaskan semua itu. Memang kuakui ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kujelaskan lebih detail mengenai ini, tidak melulu soal cinta.
Saat ini aku berjalan gugup dengan erat memegang tas ransel yang kukenakan sebelah tangan dan satunya dibiarkan terlepas. Yeah, aku tidak bisa mendeskripsikannya lebih lanjut. Hanya mampu sedikit memberi penjelasan.
Kakiku berjalan seperti biasa kemudian sejenak memalingkan pandangan ke arah kakek sepintas dengan kondisi jantung yang berdetak cepat. Kuharap kakek tidak tertawa.
Semoga dia tidak menertawakannya.
Dalam batinku berkata berbagai macam hal mengenai raut wajahku, seperti apa sekarang? Bisaku getir berusaha tersenyum dengan guncangan dahsyat dan gejolak batin yang membuatku terpental ke planet nun jauh di sana, antah berantah. Terhempas lagi di lautan ombak mengenai ketidakmampuanku menatap orang lain lebih lama.
Mengalihkan sejenak pandangan ke arah kendaraanku sekilas. Itu kendaraan lama, pemberian kakek saat pertama kali aku tiba di negeri Gajah Putih ini, negeri yang mengajakku keliling tempat. Ke sana kemari menjelajah.
Dengan kendaraan itu dulu. Melewati ladang persawahan. Menatap langit biru dan berseru kegirangan. Moment itu teringat kembali seperti berada jelas di tengah lapangan sepak bola dan aku sibuk menggiring bola yang diperebutkan tim lawan, aku menendangnya hingga mencetak angka.
Sorak sorai penonton kala itu terasa dramatis. Tanaman padi bergoyang diiringi irama monza. Aku mendadah beserta tatapan hangat dan tangan teracung.
Berkendara sambil leluasa bergembira, sepertinya itulah kesenangan, tanpa ingin kukatakan lebih banyak tentang kesedihan. Ini bukan kenyataan yang sebenarnya, melainkan aku suka menulis dengan banyak hal kejadian yang kadang tidak nyambung.
Namun, semua itu benar adanya dan itulah masa lalu, kawan. Masa lalu yang dihiasi rentetan imajinasi.
Imajinasi yang hadir. Membayangkan diriku adalah pemain sepak bola. Yeah, cerita itu cukup panjang, kawan. Cerita awal mula aku menyukai sepak bola.
Tepat di hari ini, hari senin. Aku akan menceritakan kembali dengan ringkas dan tidak sepanjang jembatan yang terpanjang di dunia. Bang Na Expressway. Itulah nama jembatan itu berada di kota ini, di negera ini yang berjuluk Negeri Gajah Putih.
Sejatinya aku selalu merindu dengan ketidaknyambungan itu, dengan imajinasi yang tidak melulu diam di tempat. Pemain sepak bola tidak akan diam di tempat.
Pemain sepak bola lebih leluasa menggiring bola yang mereka kuasai mencetak angka lebih cepat. Adapula yang lambat, adapula yang tidak mencetak sama sekali. Pemain sepak bola mengingatkanku dengan salah seorang bernama Sajak.
Telah lama. Desir angin yang seru-seru di aula lapangan, peluh keringat berceceran dan itu mengingatkanku kembali riuhnya kelas. Bingung apa yang kulakukan.
Sajak bersiul. “Aku suka begini.”
Aku tertawa menatapnya. “Apa yang kau sukai memang berbeda denganku.”
“Iya.”
“Oh, ya. Setahun lagi kita lulus dari SD ini, selama ini aku tidak tahu. Apa cita-citamu, kawan?” tanyaku padanya.
Di bangku kelas enam SD. Sayup-sayup suara guru di kelas sebelah terdengar. Di kelas kami kosong dari jam pelajaran.
__ADS_1
“Cita-citaku?” Dia berdiam sejenak. Mendongak, menatap langit-langit ruangan kelas yang di atas sana ada kipas angin.
Tak lama dia menunjuk. “Kamu lihat kipas angin itu, itulah cita-citaku.”
“Eh. Apa maksudmu?” Aku berpikir heran mendengar ucapannya. “Aku tidak mengerti maksudmu dan apa hubungannya antara kipas angin itu dan cita-citamu?” tanyaku penasaran.
Sajak tertawa pelan. “Jangan fokus ke arah kipas anginnya, tapi kamu harus fokus ke arah bentuknya. Bayangkan kipas angin itu adalah lampu pertandingan di lapangan sepak dan ruang kelas ini adalah lapangannya. Sejak dulu aku ingin menjadi pemain sepak bola, itulah cita-citaku.”
“Usai itu aku ingin menjadi duta besar di Amerika sana, kamu bisa melihatnya kembali seperti kipas angin di atas itu. Mengenai bentuknya yang punya celah dan kemiripan yang sama dengan kantor duta besar di Amerika.” Sajak menjelaskan dengan raut wajahnya yang superfantastis.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa punya gambaran dalam benak pikirannya mengenai lampu pertandingan sepak bola dan membayangkan ruangan kelas adalah lapangannya. Membayangkan kantor duta besar di Amerika sana yang semuanya hanya dengan menatap kipas angin.
Aku sama sekali tidak paham dengan ucapannya. Usiaku saat itu tidak seperti dirinya yang suka ulet. Bisa kuperhatikan dia sering bermain bola dan menghafal kosa kata bahasa inggris.
Di mana sekarang Sajak berada? Entahlah, aku tidak tahu semenjak lulus dari SD. Dia sudah menghilang tanpa kabar dan tidak memberitahuku kemana tujuan dia selanjutnya melangkah dengan harapan untuk terus belajar hingga mencapai cita-cita yang hari itu dia jelaskan dengan hanya menunjuk kipas angin. Dia pindah rumah dan meninggalkan semuanya, lalu pertanyaan ringkas entah kemana? Bahkan tetangga di dekat rumahnya tidak tahu menahu kemana pindahnya, seperti hilang ditiup angin. Kabarnya tidak terdengar lagi.
Sampai sekarang, aku hanya bisa menghela napas untuk kesekian detiknya. Terpaan semenjak hari itu seakan satu per satu orang di dekatku pergi tanpa alasan.
Yeah, aku selalu rindu masa itu, masa di mana lebih leluasa berbicara lancar seperti jalan tol bebas dari lubang dan hambatan lainnya. Tancap gas full dengan perasaanku yang kala itu masih mengutamakan keselamatan.
Masa itu kurasakan hingga SMA. Itulah akhir dari semuanya yang kini membuatku menjadi pembaca buku dan pendiam. Tidak lupa, aku penyuka sepak bola.
Sajaklah yang membuat aku tahu sepak bola tidak sekadar menang atau kalah, tetapi itu soal pertemanan dan perjuangan.
Itulah masa lalu, kawan
Dan itulah masa lalu
Masa lalu di mana dulu aku berkendara. Berteriak dengan tangan teracung. Padi yang hijau sepanjang mata memandang
Masa lalu di mana dulu aku dan Wapta bertemu sejak lama, mendapatkan pekerjaan sementara di tukang angkot barang
Aku menghela napas. Getir berjalan dengan perasaan gugup bagai ada duri di kaki hingga membuatku tidak kuasa berpijak lebih kuat. Bersabar? Iya, aku pasti bisa bersabar, kuatlah wahai hati.
Mobil hitam di sana. Uupps ... di depanku tengah ternampak masih setia menunggu. Benda besi tidak bisa berjalan sendiri, semua orang tahu itu. Orang berjas hitam yang sebelumnya berjalan mendahuluiku telah memasuki mobilnya.
Ini yang sekarang kurasakan, tanganku mati rasa. Kalau disuruh memilih. Aku akan memilih berangkat sendiri dengan kendaraanku, tanpa harus repot berhadapan dengan perasaan gugup.
Namun, aku harus bisa menerima semua apa pun yang sekarang terjadi seperti pemain sepak bola yang penuh percaya diri dan penuh semangat menendang benda bulat yang berusaha direbut tim lawan.
Sepak bola itu, juga partikel tekanan udara di sana, sorak sorai hingga tendangan yang memelesat hingga mencetak angka untuk kesekian harapan dan doa yang dipanjatkan. Sorak sorai penonton ikut meramaikan.
__ADS_1
Tepuk tangan. Yeah, aku pemain sepak bola, Sajak. Kamu tahu ingatan tentangmu masih kuingat sampai sekarang mengenai bola dan sekilas cita-cita dan semangat yang kamu miliki. Kamulah sang pembual kata dengan cipratan omong kosong.
Semoga di antara helaan napas dan perjuangan selama itu bisa membuat kita bertemu kembali, Sajak.
Pertemuan dan perpisahan itu ternyata adalah dua hal yang kutahu selalu ada di antara kehidupan ini. Antara aku dan sahabatku. Baik Sajak yang telah hilang dalam pandanganku maupun Jazu dulu yang bersamaku di kedai kopi telah menertawakan naskah yang kubuat.
Yeah, itu moment kedua yang berkesan seakan memberi suatu tanggapan mengenai tujuanku selama ini. Jazu berbeda. Dia telah berpindah alam dari dunia saat ini ke alam yang tak bisa kujelajah. Aku hanya mampu mendoakannya semoga dia di sana mendapatkan kedudukan di tempat yang mulia.
Dan bagiku yang paling menyakitkan adalah perpisahan di antara aku dan orang yang kucintai. Siapakah dia?
Wapta adalah orang yang kucintai. Di antara kami sekarang tak saling tanya kabar dan aku enggan menanyakannya melalui surat.
Hanya di hari itu kata dan kalimat maafku telah menjulang ke langit beserta terkirimnya surat yang bagiku teramat susah menulisnya. Dia berhak bahagia bersama orang lain dan itu bukan aku yang sejatinya tidak bisa apa apa, hanya bisa merindukannya dengan paragraf yang bisa bilang hanyalah coretan dusta.
Karena ada beberapa orang yang beranggapan di dunia ini mengenai kata yang ditulis seseorang, semua itu hanya dijadikan sebagai pemanis lidah diucap katanya, sedangkan perbuatan adalah cinta yang sebenarnya.
Yeah, itu tidak salah. Tapi, berbeda denganku dan mengenai kata-kataku ini tidak dusta. Hanya aku yang tidak mampu membuktikannya. Tunggu, tunggulah saat tulisan ini mampu membuatmu percaya bahwa selama ini apa yang ada di dalam lubuk perasaanku hanyalah dirimu, Wapta.
Bahkan pernah kutulis beberapa bait di dalam buku harian pemberianmu waktu itu. Tahukah kamu, beberapa bait itu kutulis dengan letih seraya membayangkan wajahmu yang laksana rembulan terang di langit malam.
Inilah bait itu;
Rindu seberkas kenangan dan cinta
Cinta ini hanya untuknya
Untuknya
Yang berada jauh di sana
Hanya dirinya ....
Hanyalah tentangnya ....
Selalu dan selalu ....
Walaupun keadaan tak lagi sama. Di antara aku dan Wapta telah berpisah lama, berdamai satu sama lain dan mungkin dia telah memilih jalan hidupnya. Jalan hidup yang terbaik.
Dengan tatapan senang aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang macam-macam, menghela napas dalam. Mengenai rindu ini selamanya akan tetap berada di dalam lubuk perasaanku. Lubuk terdalam dari semua apa yang telah kurasakan dan yang kualami dari dulu sampai sekarang.
Terima kasih atas semuanya. Mengenai kenangan, harapan, cinta dan rindu yang selama ini mengisi hari-hariku.
__ADS_1
Salam, Pemain Sepak Bola.