
Seperti rencana tanpa tindakan. Seperti itulah bentuk kerinduanku yang ternampak sia-sia, juga pengharapan tanpa ada sedikit pun yang dapat kulakukan.
“Ini masih pagi, Man. Kalau ingin jangan galau dulu, banyak senyum!”
Persis detik menit berlalu, ucapan kakek masih kuat terbayang dalam ingatanku dan mengenai sekilas suara berdegum-degum yang tak kukenal dari mana asalnya?
Aku terdiam menatap cermin dengan dugaan yang masih sama melantunkan hal yang tak perlu kubesar-besarkan.
Hal yang tak perlu kukatakan terus menerus. Cintaku akan terus mengakar kuat, tak akan kubiarkan hangus, selalu berusaha kukenang sampai kapan waktunya nanti hingga aku tak bisa menatap dengan raut wajah tersenyum.
Aku sejenak bergumam di depan cermin. Kebiasaan yang sering kulakukan.
Sebentar saja, tidak lama. Sibuk bercermin bukan juga gayaku, lebih-lebih aku bukan wanita yang suka berpenampilan lebih lama menatap cermin. Melainkan apa yang sekarang kulakukan sekadar memeriksa keadaan gigi setelah makan.
Di mana keseharian kebanyakan orang makan dulu baru bersiap. Aku justeru sebaliknya bersiap dulu baru makan.
Itulah alasan mengapa sekarang aku bercermin, menatap wajah yang terbilang tampan katanya. Itu berlebihan dan memang lebay, tidak perlu bangga dan cukup tersenyum untuk hari ini. Besok atau nanti walau bagaimanapun selama ini aku telah bersahabat dengan kesedihan.
Telah banyak melewati waktu dengan menggumamkan keluh kesah kehidupan. Semuanya menjadi bahan makanan yang sering kucicipi. Bahkan kakek pernah menegur dan bilang, “Man, kau harus tahu kakek tidak pernah berpikir sempit, tentunya dalam hal ini. Luasnya bumi 510,1 juta km² keluar dari planet ini, kita berada di tata surya. Di penuhi planet lainnya terus menerus menjelajah melalui perjalanan cahaya, bahkan ke luar galaxy. Man, kakek tidak bisa membayangkan, hanya mampu menelan ludah. Kita manusia penghuni bumi adalah sosok terkecil di alam semesta ini, apa yang kau lihat gedung menjulang tinggi, mobil dan rumah megah. Semua itu tidak ada apa-apanya dibanding luasnya alam semesta, semuanya kecil.”
Kakek menjelaskannya panjang lebar, menatapku serius. “Man, seberapa kencang badai yang akan menerpa kehidupanmu nantinya, satu hal yang kau ingat. Alam semesta terlalu luas, tak sepantasnya kau menggema keluh kesah. Yakini dan cukup jalani kehidupan sebagaimana mestinya.”
Saat itu di persawahan. Kakek cukup menjelaskan panjang lebar berbagai macam pengalamannya yang tentu tidak ingin kutuliskan. Sebagaimana mestinya kehidupan memang akan terus berjalan.
Bayangan pikiranku saat ini kembali melanglang. Rute perjalanan dengan kereta api yang melintas cepat menelusuri pemandangan. Semak belukar atau pepohonan, juga persawahan.
Panjangnya rel kereta yang membawa gerbong melintasi satu jarak ke jarak lainnya. Aku hanya pernah menatapnya di televisi, belum pernah menaikinya.
Pun sama perasaan, saat ada orang yang bertanya padaku mengenai cinta dan rasa sesungguhnya mencintai itu seperti apa? Aku hanya mampu berdiam atau menjawabnya berterus terang tidak tahu.
Selama ini aku tidak pernah mencintai dalam bentuk seperti itu, seperti berjuang habis habisan tenaga hanya untuk membahagiakan seseorang yang dianggap istimewa di dunia ini.
__ADS_1
Dentuman meriam. Iya, aku berbeda dengan mereka yang mencintai seorang wanita mampu dan berani mengungkapkannya.
Terlebih hidupku sebatang kara hingga bertemu kakek dan nenek. Aku sangat bersyukur kala itu tentunya bertemu sesosok wanita seperti Wapta. Dialah orang yang menemaniku terbang melintasi cakrawala bertamu ke negeri Gajah Putih ini. Sekarang, aku sudah resmi menjadi penduduk, tercatat dalam dokumen sebagai orang yang bermukim. Menetap di sini bersama kakek dan nenek.
Saat ini orang yang istimewa dalam hidupku adalah mereka berdua. Dengan segala apa pun yang selama ini aku lewati, aku telah percaya penuh dan bersungguh ingin membangkitkan kekuatan sabar yang belum ada di dalam jiwa dan perasaanku.
Dengan tekad kuat dan semangat bagai kobaran api yang menerangi saat malam hari di pegunungan. Api unggun yang menenangkan dengan nyanyian, juga beberapa cemilan yang dimakan.
Aku akan terus menjalani hidup dengan bersikukuh memendam rasa yang menggebu-gebu ingin kuungkapkan.
Menanamkan di dalam diri suatu keyakinan hidup bahwa aku yakin perasaanku yang terpendam saat ini akan menemukan titik kejelasannya di suatu saat nanti.
Saat di mana lidahku yang kaku dan beku berbicara bisa mengatakannya secara pasih, secara langsung tatap muka.
Kalaupun aku dan dirinya memang tidak berjodoh, belum sempat kukatakan. Itu pasti hal terbaik yang tersimpan di dalam catatan takdir Sang Maha Kuasa atas segalanya.
Cinta sekaligus mahligai megah yang membentuk asar-asar kebesaran makna dan buah pikiran dari segala macam ketidaknyamanan perasaan.
Berbicara mengenai hal yang belum pernah kulalui kadang memang terasa mudah. Bagaimana rasanya? Aku belum pernah menghadapi bagaimana kenyataan pahit saat wanita yang selama ini kucintai berakhir menikah bersama orang lain.
Itu jelas sepertinya menyakitkan. Sebentar bernapas, terdiam diri bagai ditikam ribuan anak patah yang menancap di punggung. Berjalan tertatih berusaha menguatkan pijakan, lalu merintih meminta tolong.
Aku berharap tidak seperti itu, apa yang kulakukan saat ini hanya mampu berdoa semoga aku dan dirinya suatu saat nanti akan menjadi pasangan yang berbahagia duduk di pelaminan.
Masa itulah masa yang hanya mampu kubayangkan untuk saat ini. Dan pertanyaan yang sering kupertanyakan kepada Sang Pemilik Alam Semesta adalah bagaimana caranya agar aku bisa kuat mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam.
Bertanya dan bertanya bercampur dengan jejeran angka tak pasti, bersatu dalam lompatan kata yang melambung hingga mencapai batas ketinggian. Gugur ke dalam kobaran api seakan gejolak perasaan dan batinku bergema seiring berjalannya waktu, memohon perkara tanpa tindakan.
Pada jendala yang saat ini kutatap termenung sambil melontarkan ucapan sejenak senyum dengannya di alam batin yang semoga dia mampu mendengarnya;
Wapta, aku pernah mempertanyakan pada diriku sendiri tidakkah ini percuma? Selama ini perasaanku selalu merindukanmu, tetapi aku tak mampu bertemu denganmu.
__ADS_1
Semuanya telah menjadi kenangan yang berharga buatku saat ini, tentunya mengenang Wapta yang akan terus berada di dalam lubuk sanubari di mana pun dan kapan pun waktunya.
Lambat laun kenangan itu bisa lindang pada waktunya, digantikan perkara baru dalam kehidupan yang ditatap indah. Semerbak bau wangi parfum di kamar dan tiupan angin di luar jendala.
Aku tak akan membiarkan kenangan itu lindang dari ingatanku, bahkan sinar lampu yang kutatap mulai lindap. Harapan yang memudar tak akan kubiarkan.
Selama aku masih bernapas di dunia ini, cinta dan ingatanku akan selalu berada di alam kenangan sampai kapan pun.
Sejenak aku menatap diam. Bergeming jasad dengan banyaknya kata yang kulontarkan di dalam batin, hanya mampu berpegang pada dinding di dekat jendela.
Mencengkramnya kuat-kuat. Rasa yang saat ini kurasakan begitu mengingatkanku pada lampu yang bersinar dulu, memancarkan ketidakpastian dalam hidup.
Menggemakan keluh kesah yang pada akhirnya lampu itu mulai lindap. Harapanku satu tujuan yang jelas menatap ke arah masa depan bersamanya.
Tak akan kubiarkan semua itu tersilap harap yang hanya sebentar tatap membuang waktu diriku kala membahas satu arah ke arah. Semuanya akan terus kuingat.
Namun, sekarang aku menyadari kenangan itu lindap sendiri tanpa kukehendaki. Entah mengapa kenangan itu seakan ditiup angin, perlahan hilang dari ingatanku.
Semua itu tanpa kuinginkan, bahkan beberapa kenangan berharga selama itu sudah banyak yang terlupa saat moment di mana aku dan dirinya bersama dulu.
Beberapa menit berlalu, aku masih bersikukuh diam di kamar. Sebelumnya hanya niat bercermin sejenak tanpa kusangka akan bermenit-menit.
Saat ini aku termenung berpegang kuat tangan pada dinding di jendela, bertatap kaca bening di depanku.
Di luar jendala kaca itu kutatap angin berembus melambaikan dedaunan. Sedikit mendongak, menatap awan yang menggeremet di permukaan langit. Merasakan hawa tentram yang sejenak mendamaikan perasaan dan sanubari ini.
Kuharap, Wapta. Kamu di sana baik-baik saja dan semoga selalu bahagia ....
Aku memberikan senyuman untuk hari ini. Semanis gula atau lebih dari madu, aku juga tidak tahu. Terpenting aku tersenyum.
Masih bersikukuh menatap diam keluar jendela. Sejenak berpejam kuhirup napas melepaskan semua beban perasaan yang sebelumnya melanda pikiranku dan kembali melangkahkan kaki keluar kamar.
__ADS_1