Daur Ulang

Daur Ulang
Titik Koma


__ADS_3

Aku merasa tidak bisa memungkiri ini, satu perasaan yang seakan datang menghampiri tanpa bisa kupikirkan lebih lanjut dalam arti yang sempit. Kalimat ke kalimat dalam benak dan batinku mengukirkan lukisan. Dalam jumlah banyak.


Warna warni kehidupan yang selama ini kutatap damai. Hening, semilir angin hari itu kini membawaku kembali ke dalam ingatan.


Ingatan masa lalu. Ingatan yang telah lama terbuang dalam keremangan penglihatan. Desir angin terdengar, sepi. Sunyi seakan tak ada orang di dekatku.


Aku sempit berpikir dalam memecahkan perkara yang bagiku sulit dan dalam waktu sesingkat mungkin yang kubisa, ingin terus rasanya bisa berusaha agar diri yang selama ini hanya mampu bersikukuh rindu bisa menghadapi semua perasaan yang datangnya silih berganti.


Antara musim panas dan hujan. Keduanya bagiku adalah terpaan cuaca yang membuatku susah beradaptasi.


Bersabar? Iya, aku sudah bersabar menjalani hari, tersenyum. Berusaha tegar agar terus bisa melangkah dalam kesekian kalinya rasa yang selama ini ada.


Kakek telah memberikan doa kepadaku, bahkan memberikan nasihatnya mengenai sabar agar aku mampu untuk terus bersabar. Itulah sebelummya alasan mengapa kuucap dengan kata pasti kemudian diakhir menyebut Insya Allah.


Karena tidak selalu diri yang selama ini menulis banyak artikel tentang patah hati mampu mengobati patah hatinya sendiri. Semenjak menulis hari itu di sebuah blog, rasanya aku seakan menjadi diriku yang tak bisa apa-apa. Apa yang kutulis berupa tips sederhana mengenai patah hati.


Tak pernah kusangka kalimat hari itu yang kutulis di blog pribadi seakan menjadi bumerang yang kulempar terbang di udara, lalu kembali menimpa wajahku.


Pun menulis karya fiksi tanpa sedikit pun warna yang dapat kutatap semuanya. Inilah yang sangat mengherankan bagiku dan ini terasa lebih dari sekadar pengetahuan tanpa berlandaskan pola pikir yang cemerlang.


Di dunia ini aku tidak begitu mengenal banyak orang. Hidup ini sebenarnya apa? Itu pertanyaan singkat yang pernah kutulis.


Selama ini aku sadar hanya menghirup napas. Makan minum lalu tidur dan tak terasa berlalu dari waktu ke waktu. Sekarang perasaan bercampur dalam benak pikiranku mengatakan berbagai macam terpaan.


Hujan yang turun dengan rintiknya. Satu tetes, dua, tiga. Hingga kesekian kalinya perlahan menetes.


Kata orang perlahan tapi pasti. Itu kata orang dan seperti yang kualami amat jauh berbeda. Tersebutlah satu kerajaan dulu tanpa seorang raja. Bimbang, resah. Mungkin akan mudah dihancurkan.


Dan dalam mencintai Wapta. Aku tidak pernah berpikir apa yang dipikirkan Wapta tentangku. Meminta maaf pun rasanya tak akan bisa menebus kesalahan. Kalau aku menjadi dirinya apa yang kurasakan?


Aku tidak bisa membayangkannya. Hanya mampu berharap. Pun berdoa di sini mendongak. Menatap langit, semoga rindu ini hanyalah diriku saja yang merasakannya. Terlebih dalam menghadapi perkara ini, satu napasku berembus rasanya seperti ada perasaan yang berujung pada titik.


Koma. Titik dan koma. Entah bagaimana menerangkan lebih lanjut. Aku tak begitu pandai mendeskripsikan sesuatu, tetapi diri ini selalu berusaha agar selalu bisa.


Baru saja itu terjadi, kakek mengingatkanku pada satu hal yang lebih penting daripada sekadar mengingat cinta.

__ADS_1


Belajar? Iya, itu katanya lebih penting dari sekadar mengingat cinta. Kalau ingin tahu buku berjilid tebal yang selama ini kubaca berulang. Aku enggan menyebutkannya atau menerangkannya, kakek juga tidak mengetahuinya. Di setiap malam sebelum tidur. Bangun lebih awal di setiap waktu dan setiap hari. Kesemuaannya sama.


Banyak kulalui hari dengan bacaan buku berjilid tebal. Tidak sibuk memikirkan Wapta yang sejatinya bukan siapa-siapa. Hanya wanita yang kucintai, kurindukan.


Pada kenyataannya. Dia bukan siapa-siapa, hanya wanita yang kutatap entah nanti akan kumiliki atau tidak. Ketidakberanianku seakan menghalangi diri yang selama ini kukuh percaya. Merindukannya selalu.


Ketidakberanianku ini melebar ke segala penjuru ruangan hati. Membentuk hal perihal ketakutan yang sulit untukku mengungkapkan rasa kepadanya. Kesulitan yang aneh, bahkan ini seperti memberikan satu moment yang ganjal di dalam perasaan dan perjalanan hidup yang kulalui.


Maaf! Aku salah. Selalu salah dalam hal ini, ketika rasa yang selama ini kupunya ada dan tak mampu kuungkapkan.


Maaf. Lagi, lagi dan lagi maaf.


Mengenai rindu yang tak bisa bertemu di titik temu. Mengenai hati yang tak kunjung mampu kuungkapkan. Dan terakhir mengenai perasaan yang kurasakan tak mampu kutelan betapa pahitnya derita lama, terlampau masa dari hari ke hari.


Aku berusaha melupakan pikiran yang kacau, tertawa menatap kakek dengan batin yang melanglang lagi entah kemana? Seringkali kenapa membuatku melamun.


“Man, kakek punya solusi daripada kau susah move on. Lebih baik untukmu ikut kakek nanti memancing.” Kakek berbisik.


Aku bertanya pada diriku sendiri. Sebenarnya untuk apa berbisik? Jelas sekali, Nenek tidak akan paham bahasa Indonesia, nenek yang hanya bisa bahasa thai. Atau mungkin kakek sengaja?


Aku balas mengangguk. “Baiklah, kapan?”


“Tahun depan.”


Kakek seperti serius, wajahnya tidak tampak bergurau. Tahun depan itu masih lama, saat itu aku membayang, sedikit tersenyum.


“Haduuuh—ya, sekarang, dong. Man, kau itu bagaimana?” Bicara kakek mencerocos keluar, deras.


Bagai air hujan. Mungkin amsal buatanku itu salah, mungkin juga seperti mie tumpah dan kuakui cukup sukses membuatku kaget.


“Eh? Sekarang? Sekarang aku ingin berangkat kuliah, Kek.” Kujawab antusias.


Kulihat kakek menepuk jidat. Mungkin tidak percaya membayangkan ucapanku. Kuliah ini sudah memasuki semester dua, beginilah pemahamanku yang suka dangkal. Bertanya sesuatu yang bahkan kadang membuat dosen geleng kepala.


Kakek berbeda. Dia orangnya cukup sabar, sedikit menyinggung keras. Seorang pemuda sama sepertiku sedang menjemur pakaiannya di lantai dua. Jendela di ruangan makan itu memuat pemandangan.

__ADS_1


Kakek menunjuk. “Lihatlah anak tetangga di sebelah kita itu. Dia tidak kuliah seperti kau, Man. Tapi, otaknya cerdas. Tidak butuh waktu lama loadingnya, bahkan tidak selalu terpaku pada satu wanita yang membuatmu bisa galau berjam-jam.”


Begitulah singgungan kerasnya. Saat ini, aku juga punya argumen. “Kakek tahu definisi sekarang itu apa?” tanyaku tajam.


Tentulah raut wajahku seperti bercanda. Kakek juga tertawa. Diam dari jawaban.


Akulah yang maju menjawabnya dengan suara mantap. “Sekarang itu bisa dipahami adalah masa saat ini yang berarti kalau sekarang aku ikut bersama kakek memancing, itu berarti aku harus bolos. Hmm, sepertinya kurang lebih begitu, Kek?”


Seperti memastikan. Kakek berjalan sebentar. Tangannya dilipat ke belakang. Sambil menatapku, mengangguk-angguk.


“Yaps, kau tidak salah, Man. Masa saat ini itulah point pertama yang berarti kau tidak menyimak betul point kedua yang telah kakek katakan sebelumnya.”


“Poin kedua?” kataku heran.


“Apa kau telah lupa, Man? Baiklah, kau tidak perlu menjawabnya. Di sini kakek akan mengatakannya sekali lagi. Nanti, itulah point keduanya setelah kata sekarang.”


Sedikit tidak ingin banyak tanya, aku diam mendengarkan. Aku yakin kakek punya penjelasan panjang lebar tentang semua itu.


Walaupun sebelumnya dia tidak menyebutkan point. Baru sekarang, aku merasa tidak ingin memperpanjang, mangut-mangut mendengarkan.


“Simaklah dua point itu, Man—sekarang dan nanti. Maka gabungkan keduanya agar menjadi kalimat utuh. Sekarang kau berangkat kuliah, Man. Nanti saat kau pulang kuliah, kau bisa ikut mancing bersama kakek di sungai. Itu kegiatan seru yang bisa menumbuhkan rasa sabar di dalam diri seseorang, semoga dengan kegiatan memancing itu bisa membuatmu lupa terhadap wanita yang saat ini terus terngiang dalam kepalamu.”


Kakek seakan tidak lelah mengatakannya lagi, lagi dan lagi. Aku paham, tidak ingin banyak bicara, sebenarnya itu bagiku tidak rumit. Kupikir sepertinya Kakek yang seakan ingin membuatnya rumit.


Pertanyaanku sebelumnya—kapan? Dan sekarang, aku ingat saat kakek mengatakannya nanti? Nanti kapan? Seharusnya aku tanya begitu. Dan semua itu telah terjawablah sudah yang katanya nanti setelah pulang kuliah.


Kupikirkan lagi dan ketemu. Syukurlah, aku tidak berprasangka buruk, sepertinya dalam hal ini akulah yang salah karena bertanya tidak lengkap. Hanya menyebut—kapan?


Seringkas itu kalimat yang kutanyakan kepada kakek. Tidak kusangka itu bisa mengarah kepemahaman yang tiada sedikit pun kubayangkan sebelumnya.


Hari ini. Kakek tahu aku selalu mencintai Wapta, wanita itu yang juga kurindukan selalu seperti sinar matahari yang menyinari planet bumi. Sosok wanita itu akan terus berada dalam ruangan hati tanpa sedikit pun rasa terikat dengan yang lainnya.


Inilah titik perasaan. Dan komanya kondisi hati dari segala cinta selain dirinya. Koma. Keadaanku seperti tidak sadar sama sekali. Terbaring menatap bohlam. Hanya mampu menatap dan mengingat tentang dirinya. Entah sampai kapan? Sampai bertemu kembali dengannya? Mungkin.


Kuharap di suatu saat nanti aku bisa mengatakan perasaan ini kepadanya dan kembali bersatu selamanya.

__ADS_1


__ADS_2