
Cahaya cahaya meredup di langit barat. Aku diam dalam kenangan dan Impian lama yang hilang ditiup angin. Bagaimana desir lambaian tangan dan mulut yang mengucapkan kalimat norak itu ditangkap otak lantas dibawa olehnya dan pergi?
Masa lalu usai menggambarnya. Aku duduk diam meringankan sejenak kepala.
Menggenggam batu kecil di tanganku, menggumamkan hal yang kupikir adalah satu tujuan utama dalam hidup ini.
Gedung bertingkat dan aku orang yang norak datang pertama kali ke kota bagai orang pribumi di zaman kuno yang baru pindah dan tinggal di zaman modern. Terkejut, kikuk dan canggung atau sebagainya. Menatap gedung menjulang hingga ke batas ketinggian awan dengan ketinggian menawan. Indah, cahaya itu membias di sela kaca, saat pagi tiba wajah itu tersenyum berseri menyambut hari.
Aku meringkuk sendirian di kegelapan malam. Bertanya pada diri untuk memahami sebongkah kata kejutan.
Pukulan hati menjerit daksa mengambil kamera. Inikah foto foto selfie itu? Dalam batinku melontarkan kata wah merasa sejenak bergembira syahdu dengan irama monza. Diiringi rumput yang bergoyang.
Cinta kasih nan putus atau sayang kasih itu telah tidak ada di wilayah ini. Batata Oraina Masu, itulah nama wilayahnya. Oh, tidak. Bukan itu yang ingin kumaksud. Dan tentang ini bukanlah tentang pamer, jelas ini bukanlah tentang pamer, kawan.
Kau tahu musikalisasi puisi yang lama itu dalam jutaan angka ke angka. Mendebarkan jantung orang yang mendengarnya, tidak mengapa aku pun sebenarnya tidak tahu bagaimana cara merangkai bait ini agar terbaca seperti intonasi yang mendebarkan. Ini bukanlah tentang soal apa apa, bukan pula soal gandum dibakar. Pun bukan tentang sapi yang beranak. Melainkan inilah tentang sederetan ucuan kata untuk terus bisa maju ataupun mengundurkan waktu.
Sesukaku namanya koran. Mengingat ucapan editor naskah hari itu, aku tidak banyak menanggapi semuanya.
Melainkan inilah cerita lama yang melanglang jauh tentang perasaan cinta yang terpendam, tentang perjuangan dan kisah lama yang telah lama usai. Kalau kata mereka bicara itu mudah, kata siapa itu mudah? Cukuplah jangan pernah bicara asal mengenai semua ini. Persis kegiatan menimpaku di ruangan bar yang tidak jauh berbeda. Di zaman kuno yang tidak modern seperti sekarang, padang pasir dengan suhu panas seakan membakar jiwa.
Koboi bertopi coklat dengan jas kerennya tengah berduduk seperti biasa sambil menikmati minumannya. Beberapa orang yang menatapnya berbisik mengejek. Aku duduk mendengarkan bisikan mereka.
“Koboi itu tidak tahu diri. Lihatlah rambutnya yang ikal itu, topinya yang lusuh dan bajunya itu, sudah sejak lama tidak pernah diganti. Koboi miskin.”
“Ya, dia tidak sadar diri jatuh cinta dengan salah seorang putri raja. Itu tidak sesuai kadarnya, koboi itu tidak sadar diri.”
Satu temannya lagi menanggapi. “Iya, tidak tahu diri. Sudah miskin, tidak punya sopan santun, mencintai putri seorang raja.”
Koboi itu menatap mereka. “Kalian sekelompok orang yang senang berkumpul dan berbicara jelek tentang orang lain.”
Koboi itu menghampiri. Aku bergumam heran, jarak di antara mereka cukup jauh, kok bisa dia mendengarnya? Hmm.. aku cukup berpikir keras memikirkannya.
Mungkinkah koboi itu punya telinga super yang bisa mendengar hingga jarak kesekian ribu kilometer jauhnya? Aku terlalu mendramatisir tentang semua ini.
__ADS_1
Mereka diam. Satunya lagi kulihat tampak menelan ludah, aku menatap mereka berdua dengan koboi itu aku sambil mengusap dada pelan, gugup dan takut menjadi bercampur aduk. Mengapa koboi itu galak, kupikir saat itu aku menulisnya biasa saja, kok sifatnya sekarang berubah? Astaga, apa mungkin karakter fiksi itu punya perasaan pribadi? Baiklah, aku harus banyak berkutat dengan hal ini, tentu memikirkan majaz dan menggumam tidak akan banyak meminta pertanyaan tentang semua ini yang kuharap semua ini akan bisa berakhir dengan ending ditebak mudah dan nyaman tentunya. Ending yang menyenangkan bagi orang lain.
“Kenapa kalian tidak bicara sedikit pun. Jawablah ucapanku.” Koboi itu mendesak dengan tatapan menyenangkan.
Menyenangkan? Kok bisa—Aku mengusap kepala, tidak mengerti. Bermenit menit cukup lama diam memikirkannya.
Menyeramkan. Ah, seharusnya itulah maksudku. Biar kuulang, koboi itu mendesak dengan tatapan menyeramkan. Satu dua di antara mereka tampak gemetar, tidak kuat menatap sorotan mata si koboi.
Mereka bergelutup takut. Wajah mereka berkeringat, koboi itu sejenak tertawa.
Aku terperangah menatap lembaran kertas bukan main. Koboi itu berubah lagi sifatnya? Kok bisa? Dia tertawa, loh ini?
Aku menggulung kertas itu lantas membuangnya ke tong sampah. “Kenapa? Kenapa dari sekian banyaknya ide cerita dalam kepalaku, semua itu tak satu pun bisa kutulis dengan bernas.”
Mengacak rambut dan mengembuskan napas kesal. Aku tidak bisa mengerti tentangku dalam menulis cerita koboi itu, kepalaku seakan diajak berkelana dengan sesuatu yang sukar kumengerti.
Sang petualang kata dengan topi dan duduk di atas pelana. Kuda seorang koboi itu tengah bersingahak di depannya ternyata ada jurang dengan dasar curam yang fantastis menajam ke bawah, bukan ke atas. Uppss, aku salah lagi dalam menulis dan kembali kertas itu kubuang.
***
Putus asaku malam ini diitemani terangnya rembulan. Hidup ini terasa lekang akan satu dua kalimat yang mengeluarkan deretan per angka, deretan makna kehidupan yang belum bisa kupecahkan.
Lihatlah ke sekeliling mengapa aku menangis saat gagal, mengapa aku merasa sendirian dan kesepian dalam hidup ini? Hingga akhirnya merasa hampa. Deretan yang pernah kutulis di buku diary. Jangka per jangka paksa. Angka per angka derita.
Bintang jatuh di langit, aku menatapnya. Memejamkan mata dengan harapan.
Lita Aksima. Setulus nama muncul di kepalaku dan membuatku seperti merasa ada butiran air terjun yang berjatuhan.
Nama itu.. aku mengingat kembali nama itu yang pernah kutulis dalam cerita fiksi yang melontarkan bait nada sumbang, tak elak derita angsa yang memulai hidupnya.
Bukan cerita koboi yang kutulis, melainkan dialah Lita Aksima, tokoh karakter fiksi yang sering membantuku menyelesaikan masalah. Bagaimana mungkin aku melupakannya usai sekian lama? Aku kembali bergegas masuk kamar dan menghampiri meja tempatku menulis.
Kertas itu kuambil dan pena kuukir. Di sana, aku kembali berimajinasi dan menulis beberapa kali untai kalimat.
__ADS_1
Mengumpulkan segenap kekuatan dan nada nada yang kupikir indah di waktu ini. Perasaan sunyi dengan kesiur angin di jendala, tirai yang disentuh olehnya. Aku menikmati suasana malam ini, bertatap kertas dan pena di tanganku.
Menulis catatan yang pernah hilang dan berdekatan dengan pengujung leraian yang membanting ingatan lama, ingatan masa lalu yang terulang kuingat dan kukenang.
Aku terjengkang dalam kondisi diam. Beralih ke tempat dimensi. Berada di alam nan sepi tanpa cahaya di sekitarku, hendak bertanya, namun dengan siapa? Di sini jelas kulihat tanpa ada seorang pun yang kutatap, hanya aku berdiri sendirian.
Bertanya pada diriku ada di mana sekarang? Hei, aku tidak sedang mati karena sebelumnya merasa putus asa, bukan? Atau ini hanya sebuah mimpiku. Sesaat kuyakini bahwa ini hanya mimpi, nanti aku akan kembali terbangun dengan mimpi yang kutahu akan menjadi usai. Pagi akan datang sebentar lagi, aku tidak boleh berputus asa menderitakan kalimat.
Aku tidak tahu harus bagaimana? Lagi lagi gigi gerahamku saling bergesekan. Gertakkannya jelas kudengar dan itu tidak sengaja dalam pengakuan diri bersalah atas segala apa yang telah kulakukan.
Pada editor naskah yang berlaku tega. Pun pada orang yang mengisi setiap hariku dan orang yang berada di dekatku dan sekitarku. Mereka benar-benar telah memberikan suatu pelajaran hidup yang berharga bagi masa ini. Masa mudaku yang terlebih hanyalah sekumpulan rasa diselimuti, tidak penting dan memakan banyak lembaran kertas dalam menjelaskan keheningannya, tanpa senyuman manis yang bisa kutatap iba.
“Narak!” Suara wanita terdengar memanggil. Siapa? Siapa yang bicara?
“Lihat ke sini, kau ingat denganku?”
Aku menoleh, menatap sekumpulan cahaya bernampak di sana dengan seorang wanita berdiri menggenggam tangan di dadanya. Rambutnya hitam terurai, berdiri anggun tersenyum menyebut namaku.
“Kau ingat denganku?” Wanita itu lanjut bicara dengan tuturan kata lembut, bagaimana mungkin aku melupakannya?
“Lita? Lita Aksima?” Aku terkejut usai telah lama tidak bertemu.
Pada akhirnya aku mengucapkan kalimat syukur kembali bisa bertemu dengannya.
“Iya, ini aku.. syukurlah, kau masih mengingat tentangku.” Lita Aksima juga sama bersyukurnya denganku.
Aku menghampirinya. “Di mana ini? Lita, apa kau tahu ini ada di mana?” Aku bertanya heran menatap ke arahnya.
“Tidak usah kau bertanya, ini jauh lebih baik, bukan? Kita sedang berada di dalam menara. Lihatlah ke sana, itu pintu keluarnya.” Lita Aksima menunjuk.
Dia tersenyum, lalu menarik tanganku.
Aku merasa bahagia bisa kembali bertemu dengan Lita Aksima. Dialah satu wanita penyemangat yang sampai saat ini kuingat.
__ADS_1
Aku dan dirinya sekarang berjalan hingga keluar dari dalam menara. Di sana tidak pernah kusangka ternampak pemandangan hijau bagai hamparan permadani yang lumayan. Berkesiur angin menerpa rambutku dan Lita Aksima tersenyum.
Padi sepanjang mata memandang, menara ini berada di tengah persawahan. Istana megah di sana bisa kulihat dengan jelas.