
Seberapa banyak kesedihan di dalam kehidupan saat dihabiskan waktu bersama teman rasanya seakan muncul warna yang menunjukkan keindahan.
Saat ini. Aku berkendara masih melanglangkan pikiran, entah ke mana akhir dari renunganku, entah sampai kapan aku bisa menghilangkan kenangan yang meninggalkan bekas, berserakan kata ucapan yang masih kuat terbayang.
“Narak. Jangan lari!” Suara wanita berlari di lorong sekolah terdengar semerbak.
Saat itu aku sekolah SMP di hari pertama, Wapta berteriak mengejarku. Aku lari tertawa puas. “Kejar, kau takkan bisa mengejarku.” Sejenak menoleh, kakiku terus berlari, Wapta berusaha mengejar.
Derap langkah kami bergema menyusuri kelas-kelas tanpa canggung. Tanpa kupikirkan sebelumnya malah membuat heboh semua murid yang jelas saat itu terjadi di hari pertama.
Semua murid tidak mengenal kami berdua, sebaliknya juga sama kami tidak mengenal mereka. Kemungkinan itulah yang menjadi penyebabnya. Aku tidak tahu persis bagaimana kehebohan itu terjadi.
Aku lari ke luar gerbang sekolah, berhenti di paman bakso. Jelas, saat itu aku lelah berlari. Dari tempatku sekarang, aku menatap Wapta tampak kehilangan jejak.
Saat itu aku ingin tertawa melihat ke arahnya. Yes. Aku berhasil menghilangkan jejak bagai penjahat kelas kakap, tetapi aku bukan penjahat, melainkan selama ini aku sering berkhayal menjadi superhero.
Salah satu pahlawan super yang kukagumi adalah superman. Dia bisa terbang, hebat sekali rasanya, tetapi jangan pernah membayangkannya lebih dalam, nanti yang ada sakit kepala atau lebih ngeri lagi tidak bisa berak seharian.
Aku melambai. “Kemari, makan bakso!”
Wapta menatapku bersekedap, cemberut. Dia berlalu menghampiriku. Kalau ingin tahu jantungku berdebar dahsyat. Eh, tidak juga, saat itu jantungku seperti biasa, tidak berdebar. Lebih tepatnya lupakan saja, nanti akan dibilang lebay dan tidak ada kesan maskulinnya. Aku pernah mendengar ucapan dari salah seorang yang jelas tidak mengerti seperti apa bentuk perasaan.
Salah seorang editor naskah dulu membungkam mulut menatap tulisanku, katanya agar terkesan maskulin hindari mendeskripsikan perasaan. Ucapan dari seorang editor naskah menampar sanubariku yang nyata terasa.
Benar juga apa yang dikatakannya, ucapan yang cukup membuatku ingin merevisi bagian yang tentu kebanyakan tulisanku mendeskripsikan perasaan.
Salah seorang pembantunya menertawakanku bilang karakter fiksi yang kubuat bagai seorang wanita lebih kasar dia ucap panci dalam bentuk huruf p terbalik menggembung ke depan, tetapi kujelaskan di sini cukup tamsil bagai seorang wanita.
Sekilas irama nada lagu sumbang bergema di dekat telingaku. Seakan gelas gugur ke lantai keramik, berhamburan pecahannya yang tak sengaja terinjak kaki. Sakit dan perih memenuhi rasa yang bertumpuk.
Aku menerima semuanya. Lagi pula berenang di sungai sesekali aku harus beristiharat karena lelah. Saat membuat novel itu aku tidak serius mengembangkan karakternya sekadar tulisan tanpa tujuan.
Mungkin di lain waktu, aku bisa mengembangkan tulisan untuk seterusnya. Bersiap berenang dengan peralatan lengkap. Menyelami kehidupan dari sungai sampai ke lautan berakhir samudra saat aku mampu bersabar, berlatih dari hari ke hari.
Itulah kehidupan yang sejatinya telah lama berlalu. Banyak perkara aneh yang bisa kupelajari dalam hidup. Aku telah banyak belajar dari sekadar derai air mata karena kecewa, sedih karena tidak dihargai. Bahkan saat ini berkendara ingin menuju ke tempat pengiriman surat, rasanya ada sesuatu yang terus membuat pikiranku terbang jauh meninggalkan bumi.
Kesedihan yang datang tanpa diundang. Lantas, pamit tanpa permisi, hanya meninggalkan bekas jejak yang disentuh sedikit pun terasa sakit. Genangan lumpur yang bertampak hitam pekat.
Sekilas pikiranku kembali teringat saat hari pertama masuk SMP. Aku dan Wapta sebenarnya baru berjumpa tiga hari sebelum masuk sekolah, tetapi kami akrab dengan cepat. Aku suka dirinya yang saat membahas cerita selalu nyambung, tidak melebar ke mana-mana.
Walaupun kebiasaanku yang kalau bercerita akan melebar ke segala penjuru dunia. Wapta sering tertawa mendengar ceritaku, begitulah dirinya yang jelas tidak kusukai dalam perihal menertawakanku. Itulah awalnya ketidaksukaan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kuduga.
Wapta, sejak dari dulu kau tidak pernah tahu perasaanku yang bagiku kau termasuk antik. Kala aku berada di dekatmu, kita selalu bertengkar mengenai sesuatu yang sepele. Namun, di belakangmu di balik perasaanku mengucapkan sederet kata pujangga, walaupun aku tahu semuanya berlalu, kita tetap sebatas berbicara, bersama selalu sebagai seorang sahabat. Lebih tepatnya saat itu hingga sekarang aku ragu mengatakannya. Lebih dalam lagi lebih baik tidak usah kukatakan, cukuplah bagiku kita saling tertawa, berbagi rasa senang dari sekadar pertengkaran yang sekejap berubah saling menertawakan.
__ADS_1
Perasaanku lengang di jalanan. Peputaran ban dari pengendera lainnya jelas kutatap seperti itulah roda kehidupan. Aku menyadarinya jauh sebelum tahu makna api dan air, menghela napas dalam-dalam. Tidak seberapa banyak kata bahagia yang pernah aku rasakan hingga saat ini.
Dentuman meriam di dalam otakku seakan menjadi bukti yang membuatku hilang kesadaran.
Tanganku memegang kuat stang, melaju di jalanan dengan mata fokus ke depan, sedangkan pikiran dan sanubari ini telah melanglang jauh meninggalkan bekas kenangan. Kesemuaan cerita hambar yang disebut kebanyakan orang masa lalu.
Aku telah menjalani kehidupan ini dengan berbagai macam tiupan angin yang membuatku terus merasakan kesedihan.
Aku tahu perihnya saat dikritik, bahkan dihina mengenai tulisan, aku pernah merasakannya. Di saat hari itu editor naskah menghempas semua lembaran yang kutulis. Menatap dengan raut wajah mengerikan.
Saat itulah aku berhenti menulis dalam jangka waktu sebulan lamanya.
Tertawalah, itu hak setiap orang tertawa, editor naskah punya wibawanya sendiri yang dapat kupahami itulah jati dirinya, terlebih orang sepertiku bukanlah siapa-siapa, hanyalah debu jalanan yang mudah tertiup angin, hilang dilupakan.
Pemandangan yang indah, sekali ditatap pun buyar pemikiran. Editor naskah bersikap tegas menyuruhku berhenti menulis cerita yang membingungkan. Dia menyerupakanku bagaikan seekor lalat yang menganggu ketenangannya.
Kendatipun demikian, aku bukanlah orang yang pantang menyerah, melainkan hanya berkeluh kesah mengeluarkan semua rasa yang tidak nyaman, mengganggu pikiranku.
Tepat di malam hari yang sunyi, aku terdiam duduk di atas sajadah melambungkan banyak kata mengenai apa pun yang sebelumnya membuat pikiranku menjadi kacau. Sekarang curhatan malam kulantunkan dalam bentuk alunan syair, saat itulah kurasakan tentram dan damai.
Saat itu, aku telah mengambil keputusan bulat untuk berhenti menulis, mencoba melapangkan dada, juga berusaha memberikan suatu kata terbaik untuk diriku sendiri dengan harapan yang kutitipkan kepada sekumpulan lampu terang, berharap dengan catatan yang bertumpuk mampu menjauhkanku dari berbagai macam pikiran negatif.
Sabar dan terus bersabar. Ditambah usaha dan terus berusaha supaya menjadi lebih baik untuk seterusnya, bagaimanapun perasaan yang kini kurasakan dengan yang dulu kurasakan. Semuanya entah mengapa sama saja, bagaimanapun nanti akhirnya, satu hal aku harus tetap percaya bahwa kesemuaan yang kualami sebelumnya pasti akan berakhir bahagia.
Lihatlah lalu lalang kendaraan, besi yang bergerak maju dilengkapi mesin yang membantu manusia mencapai tujuannya.
Saat ini. Aku berkendara masih jelas mengingat wajah editor naskah yang kala itu menghempas tulisanku. Itu terjadi saat aku bekerja di tempat jasa tukang angkot barang. Telah lulus sekolah.
Sebenarnya aku telah mengirim banyak naskah, tetapi tidak pernah kusangka kesemuaannya ternyata sama saja, tidak ada perkembangan mungkin itulah alasan mengapa editor naskah marah padaku.
Sejenak aku berhenti menulis cerita, untuk sekian kalinya menghela napas, menatap kosong ke arah kertas. Mungkin menulis cerita bukanlah takdirku, juga bukan bakat yang kumiliki.
Catatan harianku dan lembaran buku dipenuhi sesak akan coretan. Huruf ke huruf kutulis dengan genggaman tangan, banyak kata yang termuat di dalamnya, membentuk kalimat panjang melebihi seribu kilometer jaraknya, mengeluarkan semua rasa keluh kesah yang menyesak di dalam dadaku.
Saat di kedai kopi mengobrol bersama temanku dulu. Dia memberitahuku bahwa bakatku bukan menulis, melainkan sekadar tulisan yang tidak ada faedahnya.
Bahkan kalimat di dalam naskah yang kutulis katanya berantakan. Saat itu aku menerimanya, menganggap ucapannya sekadar lawakan. Teman, waktu kini telah memelesat dua tahun berganti musim panas ke musim dingin, semuanya telah berlalu meninggalkan setiap bait kata di dalam lembaran kertas.
Aku di sini masih menulis kata di buku diary yang bahkan membingungkan. Kalimat yang tersusun menjadi paragraf.
Sekarang aku tidak yakin seratus persen atau dua puluh lima persen memberikan tulisanku ke salah seorang editor naskah untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.
Biarkanlah cita-cita menjadi seorang penulis terkubur dalam sedalam-dalamnya sama seperti perasaanku kepada Wapta yang hingga kini tak mampu kukatakan.
__ADS_1
Sebenarnya aku ragu bertemu editor naskah. Walaupun di dunia ini aku tahu sikap setiap orang itu berbeda, hanya saja muncul perasaan takut memulainya.
Terbayang salah seorang editor dulu yang memperilakukanku buruk, menghempas naskah yang sungguh rasanya begitu mengecewakan seakan pecahan bara api terkena ke wajahku.
Saat kupikirkan dan renungkan lebih dalam mengenai perkataan editor naskah yang saat itu memang benar.
Karakter fiksi yang kubuat seperti terkesan seorang wanita alay. Dia mengajukan kepadaku untuk mengubah nama dan tentunya tidak boleh lelaki, harus wanita.
Aku menolak tegas. Itu cerita fiksi, tetapi akulah peran utama yang menulisnya. Jauh di dalam pikiranku mempertanyakan apakah aku telah salah membuat karakter lelaki yang dengan santainya mendeskripsikan perasaan? Mengatakan berbagai kelebayan yang tentu tidak mencerminkan sosok seorang lelaki.
Mungkin, aku memang salah.
Kendatipun demikian, aku tidak ingin mengubahnya karena karakter fiksi yang kutulis itu bukan orang lain, melainkan diriku sendiri. Tentulah aku mengenal diriku lebih dari orang lain mengenalku.
Editor naskah dulu yang kutatap tidak tahu mengenai itu, bahkan karakter wanita di dalamnya adalah wanita yang kucintai.
Aku mendeskripsikan perasaan sesuai apa yang dulu kualami. Saat kujelaskan panjang lebar, editor naskah itu menatapku geleng kepala, lantas mengangkat tangan, mengatakan tidak akan menerima lagi apa pun naskah yang kukirimkan.
Berpejam diri saja saat itu rasanya berat, menelan ludah juga sama. Begitulah rasa kecewa yang kurasakan dalam bentuk ucapan keras dari mulut seorang editor naskah, sebenarnya ada banyak penerbit di dunia ini. Pun sama, ada banyak editor naskah yang hidup dengan senyuman ramah, tetapi aku harus menyadari kesalahan fatal yang kulakukan.
Saat itulah aku memilih hiatus untuk berbenah diri, mungkin apa yang dia katakan memang benar. Memang benar aku tidak cocok menjadi seorang penulis.
***
Setelah sekian lama berlalu, aku tahu ada sebagian orang yang hanya sebatas menatap. Itulah mungkin sikap profesional dalam bekerja atau apalah aku tidak tahu.
Selama itu juga aku akan terus berusaha dalam hal apa pun yang ingin kulakukan.
Untuk sesaat. Aku berhenti berkendara. Lebih jelasnya menepi, menghela napas. Kenangan masa lalu hari itu membuatku mual, masuk angin. Rasa ingin muntah, tidak nyaman pikiran saat mengingatnya.
Entahlah aku seperti berada di dalam kandang, terkurung bersama puluhan hewan ternak yang membuatku terdiam menutup hidung, juga berpejam mengharapkan ada keajaiban yang membawaku ke sebuah tempat tanpa kekesalan.
Aku melepaskan helm, mendongak menatap sekumpulan awan yang menggeremet di permukaan langit.
Baru beberapa saat melamun, mengingat soal editor naskah dulu yang menghempas lembaran tulisanku. Kini aku berusaha melupakannya. Syukurlah, tidak berlangsung lama ingatan itu memudar.
Aku malah kembali teringat mengenai perkataan pak polisi sebelumnya yang mengatakan soal cinta jarak jauh.
Sekarang, aku baru mengingatnya saat kuberikan kertas. Kubilang “Ini surat untuk wanita yang kucintai dari Indonesia.” Pantas saja pak polisi itu mengatakan dengan ucapan pasti, walaupun di ujung kalimat aku tidak percaya dia bisa berbahasa indonesia karena aku tidak pernah memuat kata cinta di dalamnya. Itu semua karena ucapanku sebelumnya yang mengatakannya secara langsung tanpa pertimbangan alias refleks.
Aku menutup mulut, memukul-mukul kepala. Betapa aku tidak sadar telah mengucapkan sesuatu yang membuatku malu sendiri. Aku harus berpikir positif, tenang dan tenang. Lagi pula aku tidak mengenal pak polisi tersebut.
Aku kembali memasang helm, membuang semua benak pikiran kacau yang bersemayam kuat menghantuiku. Kali ini aku melaju di jalanan dengan helaan napas keluh kesah, mengumpatkan kekesalan pada diriku sendiri.
__ADS_1