
Jantung yang terasa bergejolak, aku menatap ke ruangan yang sempit. Kala itu benar-benar sedikit merepotkan rasanya, entahlah mengapa aku tidak bisa menjelaskan lebih panjang, sederhananya aku hanya meninggalkan rutinitas harian, tetapi mengapa terasa sangat berbeda?
Terlebih barang ini jauh berbeda dari apa yang aku lihat sebelumnya, bagiku membuang sampah itu terlalu mudah, sekarang angin bertiup membawa kata yang berantakan ini, tetapi begitu cacat oleh ketidaksamaan alur yang ada.
Kata-kata yang ditulis entah mengapa tidak selalu indah, kata itu ditulis dengan hati-hati, hasilnya tetap jelek. Ya, sudahlah untuk apa membahas sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali.
Aku sudah cukup merasa menjadi seorang penulis dengan menulis banyak kata per hari, hal itu cukup membuat diri ini tahu tentang rasa lelah saat mengetiknya, tetapi menulis adalah hobiku, walaupun lelah aku tidak akan mengeluhkan semua itu, malah waktu terasa cepat berlalu, pikiran tenang dan lepas tanpa beban apa pun.
Aku sudah lama memikirkan ada hal yang tidak perlu selalu dikatakan, kadang sesuai apa yang tertera di dalam suatu himpunan kata membuat rasa keingintahuan bertambah, kadang begitulah hari berlalu.
***
Senja telah datang meninggalkan siang. Hujan itu mulai turun membasahi seluruh lapisan kekesalan diri, terlihat satu pemandangan yang tampak berbeda dari semula berjalan. Senja datang menyapa bersama hujan lebat yang anehnya beriringan dengan kabut tebal, menyelimuti dataran dan hamparan ilusi duniawi.
Aku melamun duduk di halaman rumah sambil memegang buku yang selama ini tetap diriku bawa ke mana pun aku pergi. Entah apa yang telah terjadi pada diriku yang sekarang seakan-akan aku berusaha menghilangkan semua jejak yang sudah kuinjak.
Aku sering melakukan block kade terhadap jejak-jejak diriku, jejak yang semula berjalan bersama orang-orang dekat denganku. Aku tahu semua orang punya kehidupan masing-masing, aku tahu tidak sepantasnya aku ada di sisi mereka.
Akan tetapi, aku tidak boleh mengeluh, walaupun seisi bumi tidak pernah menganggap diriku ada. Entah mengapa saat itu perasaan aneh datang menghampiriku, aku merasa sedang terbuang ke sebuah pulau kosong atau aku dianggap batu yang tak bisa bercakap apa pun. Dianggap tidak ada oleh orang di sekelilingku.
Aku tidak punya orang tua yang bisa leluasa mencurahkan isi hati pada mereka. Ingin selalu rasanya dekat, menggenggam erat tangan ibu, juga memeluk ayah. Lihatlah, selama ini aku hidup cukup tahu derita yang membuat air mataku mengalir karena alasan itu, alasan yang menjadikan seseorang menjadi lemah, tidak bisa menentukan arah pijakan.
Berdekatan dengan cahaya kuning itu, aku memandang ke arah sebelah timur laut, seketika itu aku berlari sekencang yang kubisa, berlari dengan tenaga penuh tanpa peduli kepayahan yang kurasakan.
Kala berlari rasanya aku ingin tahu seberapa kuat aku bisa terus melangkah, seberapa lama kaki ini bisa terus memelesat tanpa mengeluh.
Aku menghela napas, menatap ke arah langit, bersama waktu itu perasaan seolah-olah muncul tidak bertuan, aku menghentikan langkah kaki, mencoba memahami arti dari kata berlari.
“Untuk apa aku berlari, apakah aku tertarik oleh sesuatu yang tidak ada hubungannya denganku?” Aku bertanya pelan di dalam hati, berdebat dengan keinginan berlari.
Aku bingung dengan semua yang kurasakan, bingung dengan semua yang telah terjadi. Aku ingin menunjukkan satu hal yang berharga di kehidupanku, tetapi sejujurnya apa yang berharga, tidak ada sama sekali.
Tidak, kemungkinan semua ini hanyalah sekadar ilusi yang tak pasti, ilusi yang datang mengusik perasaan. Aku harus benar-benar sadar untuk saat ini, tidak ingin berkutat lebih lama, tidak ingin menyampaikan sesuatu yang entahlah aku sendiri tidak mengerti.
__ADS_1
Aku seakan mendengar suara burung gagak memekik di permukaan cakrawala, terbang melintasi alam semesta. Burung elang itu terbang bebas, bukan seperti diriku yang tidak bisa terbang, diri ini masih saja terlelap, tak bisa bangun dari mimpi-mimpi seram dan suram. Bahkan, aku tak bisa menjawab mengapa aku bermimpi buruk, diri ini masih saja menangis dan bersedih, padahal sudah tahu beginilah kehidupan. Aku kembali dalam sekian kalinya pudar tanpa kenyataan.
Diri ini seakan bertemu dengan hari yang tampak bagai seekor naga memuntahkan petir dahsyat, bagai-bagai yang membuatku semakin bingung, dan ini cukup buatku untuk mempelajari arti tentang kata yang menolak pikiran. Kata yang tidak bisa dicerna dan dipikirkan. Apakah itu yang membebankan pikiranku saat ini? Mungkin tidak, aku tidak punya alasan untuk menggerutu kesal.
Aku menikmati hari bagai hujan yang turun beriringan kabut tebal menyelimuti pandangan, semakin nyata rasanya aku bingung, seperti tidak punya makna dalam mengartikan kehidupan. Anak muda yang selama ini jauh berbeda dari orang-orang.
Aku kembali memutuskan masuk ke dalam rumah, membuang semua berkas yang telah kutemukan.
Berkas kata yang terlihat tak beraturan, menghampur di mana-mana, tulisan yang semula kutulis dengan perasaan. Namun, terkendala oleh ketidakmampuan diriku untuk menuliskan banyak hal, banyak hal yang sangat tidak aku mengerti.
***
Telepon rumah berdering ....
Saat itu, aku sedang berberes rumah, menyapu ruangan. Kini aku pun mengangkat telepon tersebut.
“Hallo, siapa ini?”
“Ini istri dari temanmu yang baru menikah empat hari yang lalu.” Aku mendengar suara itu jelas seorang wanita. Mengingat empat hari lalu, itu adalah pernikahan temanku.
Aku sudah kebingungan dengan hari yang kulewati, bertambah bingung lagi mendengar ada seorang wanita yang berserak suara basah menelponku. Astaga? ada apa sebenarnya, kenapa wanita itu menelpon dengan suara seperti itu?
“Ada apa ini, mbak? kenapa suara mbak seperti sedang menangis?” tanyaku spontan. Aku tidak minat bertele-tele rasanya ingin kubanting saja telepon ini karena menganggu hari-hariku yang semula bingung bertambah bingung, juga penasaran ada apa wahai gerangan.
“Suamiku sekarang berada di rumah sakit dan sedang dalam masa kritis, dia mengucapkan sesuatu kepadaku, dia ingin bertemu denganmu.”
Astaga? Aku kaget mendengar kabar seperti itu, aku lantas bertanya kepadanya di mana alamat tempat rumah sakit tersebut berada dan aku pun harus bergegas pergi ke sana.
Wanita di dalam telepon dengan suara serak basah menjawab, mengatakan detail alamat. Saat itu pun aku melaju dengan vespa punyaku. Melintasi jalanan dengan kecepatan sehabis-habisnya.
Namun, aku tidak pernah menyangka, tidak pernah aku kehendaki, sesampainya aku di rumah sakit tersebut, aku terlambat satu langkah, temanku sudah kehabisan napas, monitor jantung menunjukkan garis lurus yang berarti putusnya kehidupan duniawi.
Kemungkinan terbesar yang kupunya saat itu terjadi, di saat detik-detik aku berlari menuju ruangan, membuka pintu masuk dengan keras, saat itu aku berharap bisa bertemu saling tatap dan bicara untuk terakhir kali dengannya, tetapi maafkan aku teman, aku sudah terlambat menemuimu.
__ADS_1
Aku tidak tahu lagi sekarang, mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Apa penyebabnya? Kala itu di dalam benakku mempertanyakan banyak hal, aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi, aku jatuh memeluk erat temanku yang tampak bibirnya tersenyum, kini kesedihan di dalam hatiku menyelimuti ruangan. Teman yang selama ini selalu ada untukku, selalu menemaniku di kala aku butuh nasehat.
Teman yang selama ini selalu berbagi cerita suka dan duka bersama.
Isteri temanku yang berada di dekatku juga tampak ikut bersedih, aku menatapnya yang berlinang air mata bening seperti mutiara yang berjatuhan.
Saat itu juga, aku menanyakan kenapa hal ini terjadi? kenapa temanku memasuki masa kritis dan aku tidak tahu sama sekali soal masalah ini, tidak ada kabar sedikit pun tidak ada apa pun.
Istri temanku menatap lamat-lamat ke arahku, lalu menjelaskan dengan detail kejadian yang sebenarnya, ternyata temanku sudah lama menderita penyakit jantung, masa masa terakhir sudah diberikan oleh dokter, mengingat hasil kesembuhan yang tidak dapat dipastikan.
Istrinya juga tidak tahu mengenai ini, tetapi kejadian satu hari yang lalu, katanya temanku itu tiba-tiba pingsan dan terjatuh, dia selaku orang yang melihat akan hal itu kaget, langsung dibawa ke rumah sakit.
Ketika sampai di rumah sakit, saat dokter menjelaskan pada saat itulah istrinya tahu tentang penyakit temanku.
Saat-saat terakhir pun katanya temanku meminta maaf karena menyembunyikan akan hal ini, berharap istrinya menerima dengan lapang dada.
Aku kembali mengingat perkataan temanku tempo hari, saat dia bilang, “Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu.”
“Teman, ternyata inilah maksud perkataanmu empat hari lalu, maafkan aku karena tidak tahu, andai aku tahu, maka hari itu juga akan kuhabiskan hari hari terakhir bersamamu,” ucapku di dalam hati sambil menggenggam tangan. Perasaanku saat ini begitu sedih, sangat sedih atas kehilangan seorang teman yang selama ini ada menemaniku.
Maut ada di dalam genggaman sang illahi yang dengannya makhluk seperti manusia tidak bisa berbuat apa apa, hanya menunggu masa itu tiba. Aku membenam wajah, menyembunyikan kesedihan yang kurasakan. Beginilah kehidupan, kala aku merasa terpuruk, ada hal lain yang membuatku semakin terpuruk.
Satu hal, aku harus tetap sabar, walau bagaimanapun hari ini berlalu, aku harus tetap sabar.
***
Suasana pemakaman penuh dengan bunga-bunga dan doa, aku hanya bisa sebatas mengirimkan doa agar temanku berbahagia di alam sana. Di saat semua orang sudah pergi dari tempat pemakaman.
Aku terdiam menatap lesu, tetap berada setia dengan buku risalah di tanganku. Aku lanjut membaca surah-surah yang akan kukirimkan kepadanya, selama aku belum selesai membacanya, aku tak akan beranjak pergi meninggalkannya. Temanku, masih membutuhkan bantuanku untuk berhadapan dengan malaikat.
Selama surah-surah itu kubaca. Temanku akan aman dan baik-baik saja, semoga dia mendapatkan surga-Nya, aku tidak mengeluarkan ratapan, sekadar tangis air mata perpisahan. Karena bagaimanapun sekali lagi inilah kehidupan, maka aku harus kuat sejauh mana aku bisa melangkah.
Tepat pukul empat sore, aku pun pamit pergi, sebelum jauh dari tempat itu aku menoleh ke arah belakang, menatap batu nisan dengan sendu, menyisakan istrinya yang tampak memeluk nisan temanku.
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak ingin menganggu istrinya, biarkanlah dia bercengkrama dengan suaminya. Aku berlalu pergi dari tempat pemakaman dengan deraian air mata yang berjatuhan. Sejenak menyekanya pelan dan berharap temanku akan senantiasa berbahagia di alam sana.