
Terima kasih teruntuk orang yang pernah singgah dalam sanubari ini. Terima kasih teruntuk orang yang selama ini membaca tulisan yang berantakan ini dan tidak meninggalkan secoret tinta hinaan dan lain sebagainya, terima kasih untuk segalanya.
Saat itu di ruangan kamar aku kembali sejenak menghela napas untuk sekian kalinya aku bagai orang yang tak mempunyai pendirian. Seorang mahasiswa ber-IQ tinggi seharusnya bisa mengatasi perihal hati.
Mahasiswa yang selama ini berkutat dengan buku-buku tebal, tetapi itu bukan diriku, aku menyadari kemampuan yang kumiliki tidak seperti mereka.
Aku bahkan kesulitan menulis surat yang kalau dipikirkan hanya semudah menuangkan air ke dalam gelas, tinggal tulis lantas kirim, tinggal tuang lantas minum. Selesai. Mudah sekali.
Aku bukanlah orang yang seperti itu, sekarang diri ini bahkan tertegun, menatap berlama senyap, bergeming beku di depan layar komputer, menatap keyboard sambil menimbang rasa yang tak akan pernah bisa kujelaskan.
Sementara pikiran dan perasaan ini keduanya kompak mengerjapkan mata seakan-akan mengajak diri berkutat perihal surat, aku jujur tidak ingin banyak ucap, saat itu lebih baik aku memilih beranjak dari meja komputer, berlalu pergi ke dapur.
Aku lantas membuka kulkas. Mengambil minuman, syukurlah di sana terpampang jus favoritku. Kala meneguknya apa yang kurasa adalah menyegarkan, minuman dingin itu seakan masuk ke kerongkongan dengan rasa yang sangat nyaman, tentulah rasa jus ini selalu nikmat, jus jambu biji ini kesukaan kakek. Bukan hanya kakek, aku juga menyukainya.
Di waktu itu semenjak pertama kali meminumnya ada hal yang langsung membuatku menjadikannya sebagai minuman favorit. Aku suka rasanya yang seakan pecah di dalam mulut alias menyegarkan.
Kala aku meneguknya kakek persis lewat di depanku. “Itu jus punya kakek, kau minum?” Dia menatapku kuat-kuat. Aku serba salah mencoba mencari alasan.
Aku menyengir, garuk kepala. “Tapi, di kemasannya tidak ada tulisannya bahwa ini punya kakek.” Jus jambu biji itu buatan pabrik yang dijual bebas di toko-toko, alasan kenapa tidak disebutkan namanya. Bagiku tidak perlu menyebutkan nama, nanti malah dikira iklan.
“Pandai saja kau buat alasan. Masih banyak stoknya, tak perlu khawatir kehabisan. Ah, ya bagaimana soal cintamu itu, sudah kau temukan penggantinya?” Seperti biasa dia menepuk pundakku. Dia lanjut tertawa membuka kulkas, mengambil jus jambu biji sama sepertiku.
Aku terdiam lesu, sebenarnya ada banyak hal di dunia ini, mengapa malah membahas cinta, Kakek ada-ada saja bukankah sebelumnya menyuruhku belajar, terus belajar. Aku bingung menjawabnya.
Sungguh, aku takut menjawab dengan asal ucap, jauh di dalam pemikiranku, kakek seperti sengaja menanyakannya. Aku harus lebih berhati-hati.
“Nah, kenapa kau diam begitu, kau sulit menemukan jawaban?”
Aku masih diam, lanjut meneguk minuman jus. Pikiranku sedang loading mencari jawabannya. Aku telah lesu bahkan tak ada semangat lagi, seseorang siapa pun tolong. Kasih aku semangat. Jujur, merindukan itu tidak semudah yang diucapkan, diungkapkan bagaimanapun hanya orang yang pernah menjalaninya saja yang tahu betul perasaan tersebut.
“Kakek, cinta itu apa?” Astaga? Aku refleks malah balik bertanya. Pandanganku kosong menatap ke lantai, lebih tepatnya menunduk tak ada semangat lagi rasanya.
“Kakekmu ini pasti sudah salah mendengarnya, bagaimana dengan catatanmu hari itu, Lita Aksima yang kau tuliskan di komputermu itu.”
“Lita Aksima? Dia sekadar kata yang terus melambung di dalam lembaran kertas, dia hanyalah karakter wanita dalam khayalan novel fiksi yang telah kubuat.” Aku jujur apa adanya. Lita Aksima, petani daun teh beserta desa pertambangan emas itu hanyalah fiksi. Bentuk dalam penggambaran yang tiada ujungnya.
__ADS_1
Aku tidak menyanggahnya cerita itu tidak selesai aku tulis karena keterlambatan jadwal yang tidak bisa aku pisahkan antara kehidupan nyata dan halusinasi. Menahan catatan, membuang angan.
“Novel Fiksi?” Kakek tampak heran mendengarnya, kemungkinan dia kaget atau kenapa jelas aku tidak tahu alasannya.
“Kakek, itulah yang dinamakan amsal buatanku. Lita Aksima bagaikan cerita fiksi percintaan. Biarkanlah dia berada di dalam lembaran kertas, selalu begitu. Jangan ganggu lagi, dia sudah bahagia menikah dengan orang lain.” Begitulah, fiksi dalam cerita, kenyataannya lebih menyakitkan.
Kalau ingin tahu, Lita Aksima telah mengikis sanubari yang paling terdalam. Sejatinya, cinta pertamaku tetaplah Wapta. Dialah orang yang pertama kali memperkenalkanku dengan rindu, membuat diriku bercerita kepada seorang teman yang dulu memberikan warna, penjelasan akurat memendam rasa.
Aku telah memendam sekian lama. Tidak pernah sedikit pun terucap kata yang memancing-mancing perasaan, tidak pernah sedikit pun mengeluarkan nada-nada yang kukirimkan langsung kepadanya.
“Jadi, maksudmu bagaimana?” Kakek bertanya lagi. Aku sudah tidak minat bicara, rasanya hati ini terasa mengkal. Jiwaku telah melelehkan bongkahan es yang terbesar di dalam kelipatan sanubari berbagi cinta, kasih sayang yang terlupakan.
Aku menghela napas enggan membicarakannya lebih lanjut. Kakek tertawa dengan suara parau. Dia kembali menepuk pundakku. “Atau wanita hari itu yang menemanimu kemari?” Kakek benar-benar telah membuatku tak berdaya lagi, rasanya aku tak kuasa berucap.
Aku mengangguk diam, menunduk.
“Anak muda, wajahmu berubah murung seperti itu, apa ini amat derita bagimu?”
Aku sedikit mendongak, menahan linangan air mata panas yang hendak menampakkan wujudnya.
“Tiga kata. I love you?” Kakek bergurau, dia tertawa menepuk pundakku lagi.
Aku kehabisan logika dan diam, tidak tertawa. “Tiga kata. Wapta, apa kabar?” Aku berkata ringkas tanpa panjang. Mengatakannya tanpa menjelaskan sekadar menyebut apa yang kutulis saat tanganku letih menulis sebelumnya, lantas hapus, berulang terus hingga sudah selesai dan menatapnya berjam-jam merenung, lalu aku memutuskan tidak jadi mengirimnya.
“Hanya itu?”
Aku balas anggukan. “Hanya itu.”
“Kalian pernah berkelahi?”
“Tidak ada, kakek. Kami tidak pernah berkelahi, masalah pun tidak ada.”
“Kakek paham sedikit soal tentangmu, Man. Ini masalahnya ada di dalam dirimu sendiri, kau ragu dalam bertindak. Saat kau mengiriminya surat, jangan pikirkan dulu dia menyukai suratmu atau tidak, percayalah kau itu hanya sekadar bertanya kabar tentang dirinya, tidak perlu serumit itu.”
“Itu rumit. Bagaimana kalau surat itu malah membuatnya semakin jauh dariku?”
__ADS_1
“Kau tulis seperti biasa. Bakatmu itu yang menulis kata berantakan, buktikan padanya kau sudah bisa menulis lebih baik sekarang, maka wanita itu akan senang mendengarnya.”
“Aku tidak yakin.”
“Itu terserahmu. Kakek mau pergi ke toko lagi, tadi niatnya ke sini ingin mengambil pisau buat belah semangka. Kau ingin ikut ke sana? Makan semangka.” Kakek beranjak dariku. Aku menggeleng, tidak menyukai semangka, sama seperti kopi hari itu, kopi yang kini aku sudah berdamai dan menyukainya.
Dulu aku punya trauma sama semangka, salah seorang di acara ulang tahun menimpuk kepalaku dengan semangka. Sebenarnya apa salahku saat itu, tidak ada. Kenangan itu selalu menjadi memori buruk dalam kehidupan yang hendak kulupakan.
“Jangan melamun begitu, kau tahu ayahmu, Man. Dia menyukai semangka, saat kakek bilang semangka. Dialah orang pertama yang antusias membelahnya. Ayo, kau ikut kakek!” Kakek balik menghampiri, memaksa aku yang tengah tidak bersemangat, apalagi membahas semangka.
“Aku tidak suka semangka.”
“Kabar baik. Ayahmu dulu juga tidak suka semangka. Kau tahu alasannya, waktu itu dia beranggapan semangka adalah makanan vampire. Nah, itu ayahmu. Kau sama dengannya, cobalah kau jelaskan alasanmu kepada kakek.”
“Kalau aku jelaskan kepada kakek, apa yakin kakek bisa mengerti apa yang kukatakan?” tanyaku memulai gaya seperti biasa, memulai menarik napas mencari kata berantakan di dalam benak pikiran.
Sejenak aku melupakan kesedihan yang melanda hatiku, mencari kata absurd dalam menjelaskannya.
“Coba saja kau jelaskan.” Kakek meminta kepadaku.
Aku menatap dengan senyum mantap, menghela napas perlahan. “Dulu, alkisah di sebuah kenduri besar antar serangga, seekor semut kecil merangkak di depan para belalang. Ia melihat segumpalan gula merah, betapa sangat ingin ia cicip, bahkan saat itu tampak para belalang seakan ingin mengulurkan bantuan, saat semut kecil berada di dekat para belalang. Mereka semua bersorak menyampaikan samsam, mereka kompak melempari semut kecil hingga ia menderita berhari-hari tidak bisa berjalan, lantas berhari-hari tidak makan.”
Kakek diam tidak bersuara, kemungkinan memikirkan artinya, sudahlah kakek itu kata-kata berantakan, tidak usah dipikirkan.
“Rumit sekali. Kenapa belalang melakukan hal itu kepada semut kecil? Pasti ada sebabnya bukan?”
“Semut kecil tidak punya siapa pun.”
“Apa maksudmu?”
“Sudah, kakek jangan bahas lagi. Ngomong-ngomong, kakek saja yang memakannya. Aku tidak suka semangka.”
“Anak muda, suka atau tidaknya dirimu cobalah memakannya sedikit, kau akan tahu rasanya.” Kakek memandang sebentar, lalu beranjak pergi dari hadapanku. Eh. Tak jauh dariku dia menghampiri lagi. “Ayo, kau ikutlah kakek. Paling tidak kau harus ikut, titik.” Kali ini, kakek menarik tanganku, aku tak banyak ucap mangut-mangut saja mengikuti arahannya.
Aku terpaksa mengikuti kakek. Tidak apa-apa, aku suka dengan ini, kakek seperti ingin terus bersamaku, mengajari hal baru.
__ADS_1
Selalu dan selalu mengaitkan aku dengan ayah. Sebenarnya aku tidak mengenal sosok ayahku itu bagaimana orangnya, jelasnya aku yatim piatu sejak usia tujuh tahun.