
Aku terjaga malam ini, tidak bisa tidur. Sebenarnya apa ini derita orang yang dilanda masalah hati, masalah yang tidak bisa didamaikan dengan coretan.
Kala aku mencoret kertas, rasa kesal bertumpuk, rasa rindu yang berkecamuk. Kadang dengan begitu semua yang kurasakan akan menghilang, tetapi kali ini, di malam hari itu aku benar-benar sudah mencoret banyak kertas.
Banyak sekali. Aku teringat Kakek yang sudah mengatakan begadang itu tidak baik untuk kesehatan. Hanya saja, teramat sulit bagiku, mataku tak bisa berpejam untuk terlelap tidur. Sanubari ini seakan melayang terbang ke pelosok negeri antah berantah.
Ditambah malam hari itu, aku seakan benar-benar berkelana, bercakap dengan seorang wanita yang mengisahkan sudut pandang miliknya. Dia berada di dalam keputusasaan, di dalam derita berderai air mata. Lebih-lebih mengenai sawang langit yang sulit kujelaskan.
Sawang yang terpampang netra itu membentang luasnya di tengah-tengah antara langit dan bumi. Aku tahu cukup berdiam. Menatapnya pun bergeming tak sanggup melontarkan ucapan.
Hampir lama waktu berlalu, bersulam nuansa sendu. Wanita yang kini kutatap di alam benak itu menjelaskan sosok pria yang terkasih pergi ke negeri nan jauh dan menghilang tanpa kabar. Keputusasaan pun di kala itu memenuhi malam-malam sang wanita dengan isak tangis teramat perih.
Aku terhenti menyeka air mata, kadang kala diri ini membaca cerita yang melukiskan kesakitan perasaan seseorang rasanya perih menyentuh sanubari.
Cerita itu tertera di lembaran buku yang telah kubaca, semula buku itu kudapatkan saat memasuki gudang tempat kakek menyimpan barang-barang miliknya.
Aku jelas menatap kosong, buku itu sudah berusia tua, bahkan sampulnya pun tampak usang dan berdebu. Kala tiba di akhir cerita, wanita itu mengeluarkan bait-bait terbaik miliknya, syair yang terdengar merdu, semerdu tiupan angin meniup bambu.
Aku berhenti tepat di akhir-akhir bait syair. Sejenak merenung, memikirkan cerita yang dibaca pun sedih, bagaimana kala seseorang mengalaminya? Jelas terasa pedihnya. Aku tidak mengelak banyak soal itu, nyatanya kehidupan akan terasa kala seseorang mengalaminya.
Aku tidak perlu banyak bercerita karena cerita itu seakan menggambarkan dengan jelas antara aku dan Wapta, walaupun berbeda sangat jauh dipandang mata, aku bahkan dengan bodohnya masih mencintai seorang wanita yang bernama Lita Aksima.
Akan tetapi, sekarang sedikit pun ada rasa bergelantung yang tak tentu antara aku dan dirinya. Walaupun, aku tahu semua ini adalah cinta palsu yang bertepuk sebelah tangan. Lita Aksima, seorang wanita yang jelas-jelas tidak menyukai kata cinta, segala macam bentuk kalimat yang katanya berasal dari hati, tetapi kenyataan sesungguhnya dusta di depan mata.
Pada waktu itu di saat aku bertemu dengannya, setetes bening dari percikan air terjun gugur ke sela-sela bebatuan, tempat itu menjadi saksi bisu pertemuanku dan dirinya. Aku mengakui diri sebagai orang yang telah bersalah meninggalkannya, melupakan segala perasaan, cinta dan kasih sayang yang terpendam.
Di saat itu, aku pergi tanpa bersalah dengan mengabaikan perasaan rentan yang dinamakan hati. Kala teringat akan hal itu, kata maaf pun kuucap dengan bertingkat kuat menjulang ke langit.
Aku bukan orang yang selama ini kuat melangkah, bukan orang yang selama ini tegap berdiri menempuh tiupan angin, melainkan aku adalah orang yang sadar dari waktu ke waktu. Aku menyadari bukan hanya sekadar satu, melainkan banyak hal.
Salah satu kesadaranku di dunia ini, terkadang ada banyak hal yang tidak bisa aku pikirkan sendiri. Di malam hari itu, aku kembali memekik di dalam batin sehabis-habis rasa yang terpendam. Aku lantas membayangkan kesedihan yang dulu datang menyiksa diriku dan goresan yang menyisakan perasaan perih, menusuk sanubari dengan buluh sembilu, berderaian tangis di malam-malam tahun kabisat, bersenandung ayat-ayat.
Jujur, aku sangat membutuhkan seorang teman yang bisa diajak berdiskusi mengenai masalah ini. Tutuplah sudah mata, terlelaplah. Aku butuh istirahat agar bisa menjalani hari besok.
Kendatipun demikian, semuanya sudah terlambat, semuanya sudah terlambat! Hari telah subuh. Menyisakan helaan napas bergantung perasaan tak nyaman.
__ADS_1
Kala diri berdiam di kampung, ayam berkokok menjadi ciri khas yang sering didengar, tetapi di sini sunyi, bahkan tanpa suara adzan berkumandang.
Sebelumnya aku menyetel alarm. Dari dulu alarm adalah sahabat bagiku. Kini alarm itu berbunyi, mengingatkan diriku telah tibanya waktu sholat. Tibalah sudah masanya yang bagiku kewajiban saat itu pun dilaksanakan.
Cuaca dingin sudah menjadi ciri khas setiap subuh. Sebelum matahari muncul di ufuk timur memancarkan cahaya hangat. Aku menghadap dengan jiwa lapang, selesai dari itu lantas berdoa, menengadahkan tangan dengan segenap keinginan.
Aku bersiap diri melaju dengan kegiatan rutin seperti anak-anak mahasiswa lainnya. Mandiri adalah sikapku dari dulu, aku tidak mengharapkan banyak hal. Di dunia ini, aku cukup tahu. Aku cukup mengerti, semua peristiwa yang kulalui seperti bentuk cerita yang malam hari itu aku baca semuanya.
Aku sama sekali tidak mengeluh karena kedua mata masih bisa bersitatap dengan orang-orang, napas berembus tenang dengan pikiran lapang melayang terbang.
Pagi hari yang mulai muncul matahari, aku melihat orang-orang tampak sibuk dengan keperluan mereka, sibuk berbenah menyusun barang-barang di toko mereka.
Kakek salah satunya. Aku ingin membantu, bahkan sudah bersiap mengencangkan otot, tetapi dengan senyuman kakek menegah.
“Mahasiswa. Di pagi hari ini, nikmatilah masa mudamu, sebelum datang masa senja. Berangkatlah ke sana lebih awal, lebih dari siapa pun.” Pukul 06.43 pagi. Masih terlalu pagi untuk berangkat. Dia menunjukkan jam tangan keemasan miliknya. Padahal, aku juga punya jam, walaupun hitam logam, tidak keemasan seperti yang ada di tangannya.
Saat itu, aku menatap jam keemasan miliknya, fokus ke jarum pendek menunjuk angka enam. Di situlah tertera, pukul enam pagi, setengah tujuh lewat tiga belas menit.
“Kau sudah melihatnya, jam berapa sekarang? Sibukkan dirimu sebagai seorang mahasiswa dengan sikap totalitas. Belajar dan belajar. Membantu kakek, nanti lepas kau ada waktu selain belajar!” Kakek menghamburkan ucapan, menahan diriku dari bicara.
Dia menunjukkan gaya macho yang bisa kulihat seperti anak muda biasanya, tepisan tangan, wajah cemberutnya terlihat mantap.
Bahkan, di setiap pagi aku selalu membantunya. Apa semua ini karena malam hari itu kakek membaca tulisanku atau ucapannya saja yang tidak bisa aku mengerti dalam jangka pendek, dalam hitungan jam? Entahlah, lebih-lebih dan lebih dalam lagi, aku tidak suka memikirkan hal rumit seperti itu, selain kata pujangga yang ingin aku kuasai dan teliti lebih dalam.
Inti dari ucapan Kakek adalah aku disuruh belajar. Kemungkinan kakek mengetahui selama ini aku sibuk memikirkan kata cinta yang kalau dipikirkan lebih ringan itu tak ada ujungnya, sampai kapan pun dibahas.
Kemungkinan kakek juga mengetahui selama ini aku sibuk memikirkan wanita yang jelas tidak berada di dekatku, sama sekali membuang waktu.
Entah pemikiranku benar atau tidaknya, tetapi itulah yang bisa aku mengerti dalam hitungan menit. Kala membahas kata sindiran, kadang otak ini lebih lancar, lebih cepat tersambung.
Kata-kata yang sebelumnya diucapkan kakek itu seperti menyindir diriku. Aku tahu selama ini aku sibuk menulis kata cinta yang tidak ada faedahnya, kata cinta yang mungkin sudah basi. Banyak di luar sana orang yang bisa menulis kata, bahkan lebih indah dari kata punyaku.
Akan tetapi, aku menulis bukan untuk itu, melainkan untuk apa yang kurasakan. Perasaan yang muncul berupa ketulusan hati saat menulisnya, itulah yang aku sukai, bukan gombalan atau sekadar kata manis yang diucapkan, melainkan ketenangan di saat melukiskan banyak hal, menjelaskan lebih banyak, lebih panjang mengenai kejadian dan perasaan yang tertuang dalam bentuk tulisan.
Kakek benar. Aku harus fokus belajar dan belajar, terus belajar. Ketahuilah, di depan dunia sana, itu kata kakek sebelum aku menjauh lalu menoleh. Ketahuilah, di sana ternampak hamparan banyak gedung menjulang, di setiap ruangan ber-AC terdapat orang handal mengetik komputer, mengerjakan proposal-proposal, dokumen-dokumen penting dan lain sebagainya. Mereka semua mendapatkan pekerjaan itu tidak semudah membalik telapak tangan.
__ADS_1
“Anak muda. Jangan pikirkan soal cinta. Kala kau berhasil meraih mimpimu, akan banyak cinta yang datang menemuimu.” Kali ini, aku benar-benar teringat kata-katanya persis wajahnya terpampang bagai hologram di dalam benakku. Itu kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya, tepat saat aku beranjak lumayan jauh. Dia berseru dengan telapak tangan mendadah.
Kakek. Aku tahu maksudmu. Maksud semua kata-kata yang kau katakan. Demi matahari yang bergelayut menyinari bumi, aku masih berada di sini, masih dengan perasaan bimbang yang sulit diterjemahkan, sulit dijelaskan.
Anak bumi selain aku, mungkin nasibnya tidak sepertiku, tidak memikirkan satu wanita, mereka terbang bebas di langit. Tanpa beban, itu mereka bukan aku yang sejatinya selalu bimbang melangkah, bimbang dengan semuanya.
Aku masih saja mengingat namanya, nama yang menjulang ke langit, nama yang masih teringat kuat bagai tali yang menjerat. Apa mungkin semua ini karena tulisan hari itu, tulisan yang sebelumnya kurevisi. Saat itu, aku membaca ulang dengan perasaan dan gumaman hati.
Seketika aku lerai semangat lesu. Inikah penghabisan rindu, kebohongan yang tega membohongi diri sendiri dengan segala kata yang menipu. Di balik layar drama terselubung asmara palsu, mengeluarkan bunyi beririma, lagu-lagu bernada mendayu-dayu.
Nada yang mengikis batin. Pun mengiris dada tanpa penyesalan berlalu. Dalam menjalani kehidupan, menempuh arah pijakan, mungkin beginilah, sesuatu yang cukup membingungkan bagiku. Sesuatu yang sungguh aku tidak mengerti, sedalam mana aku bisa memaknai kehidupan, mencari hakikat tawa dan air mata.
Semua itu membutuhkan perjuangan lebih panjang, tak sedikit waktu yang harus aku telaah, bahkan kalau perlu aku harus berkelana mengelilingi dunia, bertanya dan bertanya kepada para ahli untuk mendapatkan hakikatnya.
Aku bagaikan orang yang berada di sawang langit, berada di tengah-tengah antara langit dan bumi. Akan tetapi, sudahi saja semua renungan ini, tidak selalu kehidupan direnungi terus-terusan, tidak selalu perasaan dijadikan alasan. Itulah yang kurasakan. Aku harus kuat, lebih kuat mental dalam menghadapi semuanya.
Di sepanjang jalan menuju tempat kuliah, aku melamun untuk kesekian kalinya. Itulah kebiasaan buruk yang sering entah mengapa sadar tak sadar selalu begitu.
“Narak, aran sawat.” Salah seorang berseru memanggil namaku, mengucapkan selamat pagi.
Dia menghampiriku tersenyum seperti biasa. Lamunanku tersentak, pikiran yang tadinya melayang terbang kini jatuh dan berakhir ke muara sungai.
Aku berenang, jujur lelah. Sejenak menghela napas. Dia adalah Martin. Jangan tertipu namanya. Selayang pandang terdengar seperti nama lelaki, tetapi dia itu wanita.
Warga asli yang tinggal di negaranya sendiri. Negara yang banyak dikenal dengan sebutan Gajah Putih. Bahkan, nama Narak di sini dipakai untuk nama wanita. Aku baru tahu soal itu. Saat mengetahuinya aku merasa linglung sendiri, pantas saja kakek memanggilku Roman mengingatkannya pada ayah sekaligus agar membedakan ke tetangga, tetapi hari itu saat masuk universitas namaku tetaplah Narak.
Nama itu adalah pemberian ibuku. Aku menyukainya apa pun yang dia berikan kepadaku. Mungkin saja ibu memberi namaku Narak bukan diambil dari pandangan orang-orang, melainkan dari arti nama itu sendiri. Bayi yang imut dipandang, saat itulah inspirasi nama datang, itulah cerita kakek yang kudengar langsung.
Sementara, wanita yang tadi mengucapkan selamat pagi masih kutatap. Bagaimana menyebutkannya ya. Dia itu bukan pacar, teman apalagi bukan juga. Terkadang aku merasa tidak percaya diri, juga merasa tidak memiliki teman, kami sekadar mengobrol, sebatas basa-basi membahas soal-soal materi yang sebelumnya diberikan dosen.
Aku menatap semringah. Dia pun sama semringahnya. “Sabai di mai kha?” Bagaimana kabarmu? Dia bertanya padaku.
Aku menjawab Iya, baik. sederhana saja tanpa panjang. Dia juga mengerti, aku sudah banyak sekali menjelaskan padanya, berulang kali kuucapkan. Jangan dekat-dekat, aku tidak ingin.
Entah mengapa saat mendengar bahasa thai, aku paham maksudnya, tetapi saat mengucapkannya jelas aku masih kurang stabil dalam segi pengucapan, bahkan jauh sekali alias tidak bisa.
__ADS_1
Anehnya lagi, saat dosen berceramah. Jelas terpampang di telingaku suara-suara yang dapat kupahami. Itulah keanehannya.
Wanita itu menyuruhku melakukan senam wajah, dia mengatakan wajahku kaku seperti orang yang baru keluar dari dalam kulkas. Aku tertawa mendengarnya. Martin Sirikanjana, itulah nama panjangnya.