
Irama musik seakan menyambut hari. Lihatlah kota Bangkok di pagi ini, suasana tenang dan damai. Aku terbangun dari mimpi indah kemarin malam. Mimpiku bertemu sang kekasih hati yang telah lama kucintai, mimpi yang terasa begitu nyata.
“Man, Man, bangun! Kau ingin telur dadar atau telur bulat, Man?” Kakek berseru-seru.
Desing alat pendingin atau apalah berbunyi jelas di telingaku. Masih pukul 05.46. Bagiku inilah waktu yang pas untuk berolahraga. Sejenak push up, meringankan tubuh, hampir lupa menyahut seruan kakek.
“Man, ooy, Man. Apa yang kau lakukan tadi malam hingga sekarang telat bangun, kau tahu ayam tetangga sudah berkokok sejak pukul empat tadi.” Kakek berseru lagi.
Aku menyeringai, menghentikan latihan otot. Siap berteriak. “Iya, ini sudah bangun.”
Langkah ini memacu lari. Bergegas ingin menghampiri kakek yang sepertinya sedang berada di dapur, memasak telur. Aku sekilas menduga dari seruannya memberi pilihan.
Tiba di dapur. “Nyenyak tidur? Tadi kakek sudah memanggilmu dan kau tidak menyahut sama sekali.”
“Kurang nyenyak.” Kujawab sambil menggaruk kepala ingin berlagak jujur.
“Nenek mana?” tanyaku memandang arah sekitar, hanya ada kakek sendiri yang sibuk berurusan dengan telur.
“Dia ke pasar.” Kakek berbicara.
“Oh, pasar. Sendirian?”
“Iya, sama siapa lagi?” Kakek balik bertanya.
“Kenapa tidak bilang?” balikku lagi.
“Kau sibuk tidur. Mengganggu saja nenekmu tidak ingin—” Kakek menjelaskan seperti terpotong. Dia lanjut memasak telur.
“Eh. Kek, aku telur dadar. Jangan bulat.” Aku cepat menghentikannya. Sayang, telur itu telah menyemplung ke dalam panci rebus.
“Kenapa tidak bilang daritadi, ini sudah telanjur masuk ke panci, siap dimasak.”
“Tapi—”
“Udah, udah, kau tidak usah banyak protes, nikmati saja!” jawab kakek memantapkan nada bicara.
“Baiklah. Untuk kali ini tidak apa. Besok-besok lebih baik dadar, Kek.”
Aku sedikit protes, tentunya telur bulat alias rebus rasanya kurang kusukai. Aku lebih suka telur dadar, hanya mengenai rasa.
“Besok-besok kalau kau telat bangun lagi, kakek akan membuatkan telur bulat lagi. Sudah pukul berapa sekarang?” tanya kakek.
“Pukul enam kurang sepuluh menit.” Kujawab sambil menatap jam tangan.
Kakek mengernyit. “Ribet sekali apa yang kau sebutkan itu. Sebut saja jam lima lewat lima puluh menit, apa susahnya? Itulah lebih mudah dipahami, lebih nyaman didengar.”
Aku tertawa kecil, garuk kepala. “Eh, bukankah kakek tahu itulah kebiasaanku tiap kakek bertanya soal jam?”
Aku bertanya memastikan. Sebenarnya itulah kebiasaanku yang tentunya kakek sering mendengarnya, tetapi baru sekarang dia menegurku. Kemungkinan ada hal lain yang menganggu pikirannya, aku tidak ingin menduga lebih banyak.
__ADS_1
“Kakek tahu itu hanya alasanmu saja ingin membela diri.” Kakek cepat menyahut.
“Nah, malam tadi kau kemana? Lepas sholat maghrib pergi tidak bilang-bilang sama kakek.” Dia lanjut bicara.
“Oh, itu ... kemarin maghrib, aku pergi menemui editor naskah.” Kujawab jujur, tidak ingin berbohong.
“Yang benar saja, apa kau tidak salah? Menemui editor naskah sampai selarut itu?” Kakek bertanya membuatku mengernyit.
Memang saat itu aku tiba di rumah larut malam, kupikir kakek tidak tahu dan sudah terlelap tidur. Saat aku tiba, masuk rumah. Keadaan sudah sunyi senyap.
Aku tidak tahu bahwa ternyata kakek tahu kedatanganku. Kakek sepertinya malam hari itu terjaga atau kenapa? Saat ini aku enggan menanyakannya, terlebih kakek bertanya seperti memastikan, mana mungkin kutanya balik, nanti timbul prasangka lainnya.
Sebenarnya larut malam hari itu kulalui tanpa percakapan. Pertemuan apa yang dibahas waktu itu sehingga membuatku tiba selarut itu? Kujawab tidak ada apa pun yang kubahas hingga larut malam. Lebih tepatnya aku pulang dari tempat pertemuan antara aku dan editor naskah, aku tidak membahas apa pun. Hanya terdiam merenungi semuanya.
Aku tidak ingin jujur menjelaskan lebih rinci yang sebenarnya. “Kakek tidak perlu tahu, ini adalah rahasia hanya aku yang tahu.” Aku mengatakan alasan sederhana dengan sedikit lawakan.
Saat itu aku berkendara. Di malam hari yang dipenuhi bintang gemintang. Alam sekitar kurasakan sejenak sunyi senyap. Menatap cahaya-cahaya di kota Bangkok.
Riuh tentram. Tiupan angin malam yang menggema, meniup pelan terasa segar masuk ke celah pakaian. Memberikan suatu ketentraman batin. Hawa yang bisa membantuku untuk menghilangkan penderitaan ingatan.
Aku menatap termangu. Pikiranku saat itu berserakan, banyak bentuk kalimat kekesalan tergambar begitu saja sehingga membuatku menghentikan laju kendaraan. Melamun berjam-jam di jalanan.
Itulah yang sebenarnya terjadi. Banyak waktu kuhabiskan terdiam diri dalam lamunan, aku tidak ingin menjelaskan lebih detail, lebih rinci nanti dibilang lebay karena bagiku juga tidak penting. Kegalauan yang sesaat melanda, bahkan aku sendiri merasa tidak ingin membahasnya.
Kebingungan mencari alasan, kakek malah tertawa, sejenak menepuk-nepuk pundakku.
“Kau tahu sebelumnya kakek hanya bergurau. Bagaimana pertemuanmu dengan editor naskah itu?”
Sejenak garuk kepala. “Sekadar tatap muka biasa. Kakek tahu ternyata editor naskah yang kutemui itu sikapnya macam singa. Ia ganas dan ingin memakanku hidup-hidup.”
Sejenak bercanda. Memulainya dengan drama klasik yang pernah kutonton. Kisah sang pengembara yang memiliki jiwa pemberani melawan singa. Blursh.. blursh.. irama musik dari tiupan mulut kuciptakan sendiri untuk mendramatisir suasana. Syukurlah, kakek kini tertawa menatapku.
“Kau serius?” Kakek bertanya seperti ragu mendengar ucapanku.
Tawanya terhenti. Ceritaku tentang pengembara itu pun juga sama terhentinya. Sejenak berpikir hingga kubalas anggukkan cepat dan iya yang pada akhirnya kupecahkan suasana dengan satu jurus andalan yaitu tertawa.
Sepertinya kakek terpaksa ikut tertawa atau memang tulus. Entahlah, yang pasti suara tawa itu katanya semacam virus yang cepat menular. Kami berdua kini saling tertawa lepas. Kakek menampakkan raut wajah cerah ceria. Aku juga sama dengannya.
Tahukah mengenai itu semacam langit biru yang ditatap orang indah katanya.
Tidak terasa, semua ini memang tidak terasa. Aku merasa bahagia telah berhasil melewati banyak hal dalam kehidupan lalu. Mengenai apa yang tertera di dalam lembaran kertas, kalimat balasan dari surat Wapta hari itu, juga bertemu dengan salah seorang editor naskah yang sangat menguraikan batasan api kesabaran.
Setelah puas tertawa. Kakek tidak hirau lagi sekarang. Kakek malah sibuk sendiri berhadapan dengan dapur masakan.
Jangan pernah diganggu. Kalau soal masak, kakek ingin sendiri, bahkan nenek saja dilarang memasak. Kakek ini agak lain dari kebanyakan orang-orang yang kukenal.
Aku berjalan. Duduk di meja, mengambil buah apel yang terletak di sana. Buah merah di salah satu dongeng. Iya, dongeng yang mengisahkan tentang putri salju.
Kalau ingin tahu semenjak kecil, aku sangat menyukai dongeng mengenai putri salju. Apalagi soal kurcaci.
__ADS_1
Baiklah, aku tidak ingin melebarkan ceritaku ini ke segala penjuru. Sepertinya kalau editor naskah menatap tulisanku, mungkin dia akan geleng kepala lagi. Sebenarnya dari dulu aku ingin mencoba hal baru, tetapi diri ini seakan tak mampu hingga itulah yang kubisa, susah untuk kuubah.
“Apel apa ini, kek?” tanyaku berlagak polos.
Kakek masih sibuk sendiri. Pagi hari, sepertinya kakek begitu bersemangat memasak, sibuk sehingga tidak menyahut ucapanku seperti biasanya. Selalu begitu.
“Kau tanya apa tadi?” Kakek menoleh.
Aku cukup tersenyum. Memperlihatkan apel di tanganku dengan sedikit mengulangi ucapan yang sebelumnya.
Kakek menggeleng. “Man, Man. Kau itu tidak pernah berubah rupanya, selama kakek mengenalmu. Selama ini, kelakuanmu tetap saja tidak ada perubahan. Kakek ingin tanya berapa usiamu kini? Tidak usah kau jawab, Man. Semua orang pun tahu usiamu itu sudah jauh bertahun-tahun, sudah punya rambut ketiak, sudah kuliah lagi. Sebenarnya, Man. Apa yang kau tanyakan itu adalah pertanyaan anak usia enam tahun, kau masih ingin seperti itu?”
Dengan suara cepat dan cukup terdengar parau kakek menatapku kuat-kuat. Aku yang ditatapnya seketika menyeringai, juga garuk kepala terasa bingung menjawabnya. Sudah pernah kubilang, aku sering refleks dalam hal ini, tanpa sengaja. Itu muncul sendiri seakan murni kebiasaanku.
Aku tertawa kecil. “Aku hanya bergurau, kakek tidak tahu gurauan?”
Yes, aku punya alasan. Kali ini aku pasti menang. Huhuyy, kakek pasti langsung mengaku kalah karena mendengarnya. Eh, tunggu dulu? Ini sepertinya ada yang salah dari ucapanku. Astaga.
“Itulah kebiasaan anehmu yang harus kau kurangi, Man. Ayo, cepatlah kau tuangkan nasi ke piring, sebentar lagi telur rebus ini akan matang. Sedia payung sebelum hujan, paham maksud kakek apa?”
Aku mengangguk tawa. “Paham sekali.”
Itulah kebersamaanku dengan kakek yang terasa bagiku istimewa. Menenangkan, rasa kegembiraan yang murni hadir bagaikan sebening air di pegunungan.
Aku tidak perlu sedih atas kehidupanku sebelumnya, bagaimanapun sekarang, sejatinya hidupku di kelilingi orang yang selalu membuatku merasa bahagia.
Baru saja aku hendak menuangkan nasi ke piring. Kakek tiba-tiba menegah. “Eh, nanti dulu, Man!”
“Ada apa, kek?” tanyaku penasaran.
“Kakek baru ingat kau itu baru bangun tidur langsung ke dapur. Mandi dulu sana, Man. Eh, bagaimana mungkin kau sendiri bisa lupa mandi?” kata kakek seakan menyentil kuping membuatku garuk kepala.
“Iya, aku belum mandi sebenarnya memang tidak lupa. Tadi kakek yang memanggilku kemari.” Alasan ini bagiku masuk akal, sebelumnya dia memanggilku.
“Benar juga yang kau katakan, Man. Ayo, cepatlah mandi dulu nanti makan lepas itu berangkat.” Kakek mengatakannya.
Baiklah, aku mengangguk cepat melaksanakan apa yang diucapkan olehnya.
“Nah, jangan lama-lama mandinya!” Kakek berseru-seru memperingatiku.
Aku menoleh sepintas, “Iya, jamin mandinya cuma sepuluh menit selesai.”
Kakek yang mendengar tertawa. Sepuluh menit? Woow, rekor mandi terlama sepertinya yang kakek tahu. Aku jawab ngasal sesuai kebiasaan saja, bagiku mandi mana bisa cepat.
Lupakan saja mengenai hal itu. Seberapa jauh kaki ini terus melangkah ke tempat mandi. Iya, tidak jauh aku tiba, saat itu terdiam sekitar satu menit menatap air yang berada di bak.
Di sanalah airnya disentuh terasa dingin. Menjalar ke tulang rasanya. Aku sejenak pikir-pikir dalam batin. Menghela napas saja sambil mengguyur air ke badan.
Beuh, dingin. Guyuran air pelan jelas kurasakan meresap dan menyebar ke seluruh tubuh. Aku mengusap wajah berulang kali, mengeluarkan suara khas kedinginan berusaha kuat terus mandi.
__ADS_1
Terlalu sekali, ya. Lebaynya itu astaga. Inilah rangkaian yang ketujuh, sekadar kata menjadi kalimat hingga ke paragraf.
Sebenarnya ini cerita telah lama kurangkai menjadi susunan acak. Dan maaf, sekali lagi maaf karena cerita ini tidak memberikan banyak kesan keindahan dalam kehidupan, apalagi yang dikatakan editor naskah tempo hari itu mengenai kekurangan dari segi kaidah penulisan dan lain sebagainya.