
Ya, begitulah apa yang terjadi padaku, aku tahu semuanya kadang ternampak aneh, tetapi aku tidak seharusnya mengeluh karena memang untuk apa? Untuk melepaskan rasa yang terpendam ini ke orang-orang. Aku tidak ingin seperti itu, nyatanya inilah kehidupan.
Kehidupan diriku bukan hanya tentang cinta semata, melainkan ada banyak macam lapisan seperti kue lapis bertingkat, punya banyak rasa yang kau perlu tahu dengan lapisan karamel yang seperti pegunungan es di kutub utara.
Mungkin ini hanya sebuah cerita yang telah lampau. Itu dia musuhku, bernama Riya. Dari namanya kau sudah tahu karakternya yang suka pamer dan lupa diri, membanggakan kelebihan dan mengungkit-ungkit kelebihan tersebut. Pamer itu sesuatu yang tidak boleh.
Sebenarnya aku tidak suka dengan karakter orang yang seperti itu, Riya itu dulu bertangga denganku, tetapi semenjak pindah rumah. Syukurlah, sekarang aku tahu keputusanku untuk pindah itu memang bagus.
“Aku benar-benar tidak suka dengan itu,” gerutu diriku menyelimuti tubuh di suasana malam hari yang terkesan menyebalkan. Lagi-lagi aku teringat sosok yang tidak ingin aku ingat.
Kilas balik yang terjadi mengingat kejadian yang telah lama berlalu, aku dan Riya adalah teman akrab dulu semasa sekolah dasar. Ketika sekolah menengah atas di situlah kulihat dia mulai berubah menjadi orang yang sombong, pamer dan lain sebagainya.
Kendatipun demikian, aku sangat ingin dia kembali menjadi orang biasa tanpa sombong dan pamer. Aku menghela napas, entah bagaimana kabarnya? Aku tidak tahu dan tak ingin mengetahuinya.
***
Keesokan pagi, ayam tetangga berisik. Aku terbangun pukul tiga pagi, sungguh bagiku sangat menyebalkan.
Aku mengumpatkan kesal sehabis-habisnya, tidak terima begitu saja. Bukan sama orangnya, melainkan di depan cermin.
Hidup di perkotaan, siapa sangka ada yang punya ayam, ribut-ribut di suasana malam yang masih gelap mencekam, tanpa sinar matahari yang menyinari kehidupan. “Oh, tetangga ... punya ayam tuh disumpal kek mulutnya,” gumamku dalam hati sambil menggerutu kesal.
Aku harus sabar, bagaimanapun dan apa pun, tidak perlu lagi mengumpatkan kesal, sejatinya aku tidak ingin berkurang tenaga karena berkoko kesal lebih lama.
Ya, walaupun pukul tiga itu memang sudah pagi. Eh, dini hari maksudnya begitu yang aku tahu, tetapi bagiku pukul tiga itu terkesan seperti malam. Biasanya aku bangun pukul empat, kurang satu jam.
__ADS_1
Begitulah, hidup sendirian itu harus bangun pagi-pagi. Ada banyak kegiatan yang menunggu diriku.
Kegiatanku selama bangun pada saat itu mandi, mencuci pakaian, beres-beres rumah, menyiapkan sarapan, mencuci piring, kemudian makan lalu pergi berangkat kerja.
Kecuali hari libur. Aku lebih suka menonton televisi ditemani cemilan khas kesukaanku yang selalu menemani setiap menonton televisi, itulah kegiatan yang hampir rutin setiap hari aku lakukan.
Namun, karena masih pukul tiga pagi, aku tak ingin beranjak pergi dari kasur yang empuk ini, suasana pagi ini terasa dingin membuat tubuhku menggigil.
Sejenak aku mengambil seutas tali handset untuk menghilangkan suara ayam yang berisik, lalu menarik selimut agar menghangatkan badan yang sedang kedinginan.
“Ah ... nyaman sekali rasanya,” gumamku di dalam batin sambil berpejam. Lagu yang kudengar juga enak, terasa cocok didengarkan di suasana sekarang.
Kehidupan seorang yatim piatu sepertiku tak jauh seperti orang jomlo, tetapi kehidupan diriku bukan jomlo ngenes, seperti nasib beberapa cowok di luar sana. Ah ... kasihan sekali para jomloan di jagat dunia ini.
Melainkan aku adalah orang yang mandiri dengan semua kekuatan yang ada, bagiku selama ada napas untuk bekerja, hari-hari yang dijalani olehku itu tidak sia-sia, uang lima ratus ribu sudah cukup buatku menjamin kelangsungan hidup, bahkan selama sebulan dengan tagihan listrik, juga kouta internet.
Sisanya selalu kutabung dalam rekening bank, kalau ada perlu nanti akan kugunakan, terlebih untuk biaya menikah nanti. Itulah singkatnya teruntuk masa depan yang diharap indah.
Bagi orang yang hidup sendirian sepertiku tanpa seorang ayah dan ibu, rasanya aku mengerti bagaimana pentingnya menabung, terlebih ada banyak hal di dunia ini yang kadang datangnya tiba-tiba seperti kejutan.
Apa yang semula diinginkan malah digunakan untuk hal lain, tetapi jika ada uang yang tersimpan, itu mudah saja saat ada keperluan bisa digunakan.
Aku juga mempunyai pot bunga yang kuletakan di halaman. Sekuntum bunga yang tampak indah itu kusirami setiap pagi.
Aku suka mawar merah karena merah adalah warna kesukaanku.
__ADS_1
Di sela-sela hari libur, kadang-kadang aku pergi ke gym untuk berolahraga atau ke taman untuk melakukan jogging pagi dengan tujuan membakar kalori. Mumpung hari ini adalah hari libur, aku mempunyai keinginan untuk pergi ke taman dan melakukan jogging pagi yang menyehatkan.
Setelah tugas rutinitas harian selesai kukerjakan, aku pun beranjak pergi ke taman berjalan kaki. Sebenarnya, aku merasa enak begini, merasakan betapa sejuknya udara pagi. Benar-benar suasana pagi yang nyaman, udara yang segar, juga sepi dari keramaian.
***
Setelah pukul tujuh pagi. Aku menghentikan jogging, lalu memutuskan kembali ke rumah, menonton televisi dan duduk santai dengan wajah berseri. Nyamannya kehidupan begini, bebas dan tentram.
Tak lama setelah itu aku malah ketiduran, ketika bangun ternyata hari sudah malam, cepat sekali waktu berlalu seolah baru satu jam lalu aku pergi ke taman.
Lagi-lagi aku mengumpatkan kesal karena tak bisa tidur malam itu. Kemungkinan karena sebelumnya aku ketiduran tadi siang, tidak ada rasa ngantuk sama sekali.
Di kasur itu. Aku bolak-balik kanan kiri. Akhirnya memutuskan biarlah tidak usah kupikirkan, untuk apa memikirkannya? Tidak penting. Lebih baik aku membuka laptop buat browsing kesana kemari, mencari informasi, niatnya hanya ingin mengabiskan waktu sambil belajar materi pelajaran, tetapi malah ....
Aku tertuju pada sebuah artikel yang membahas tentang kuntilanak. Malam yang sepi, ada rasa merinding yang membuat bulu kuduk berdiri. Aku membaca tulisan itu dengan pelan, perasaan pun muncul seakan kuntilanak itu ada di dekatku, lantas aku bersegara menutup laptop, melarikan diriku ke kasur, lalu membenam diriku dengan selimut.
“Menyeramkan, jangan-jangan kuntilanak itu ada di sampingku,” gumamku sambil menengok kiri kanan. Setelah aku tengok dan kupandangi arah sekeliling, hawa merinding kian terasa.
“Astaga, aku menyesal kenapa tadi memilih membuka laptop, mendingan aku nonton televisi,” ucapku beranjak dari kasur berusaha melawan rasa takut yang kurasakan, sambil membawa sebuah bantal yang kubenam di wajah agar kuntilanak itu tidak mengenaliku, aku menghampiri televisi. Menonton di jam tengah malam itu syukurlah ada talkshow lawak yang menghibur.
Pukul dinihari, malam memang terasa singkat. Aku tidak pernah menyadari malah ketiduran lagi karena televisi. Ketika pagi hari tiba, aku terbangun dengan rasa lelah seperti orang yang habis maraton lari, tetapi tak apa lihatlah pagi ini seakan menyapa diriku dengan senyuman hangat.
“Hoammm ... sudah pagi,” kataku sambil mengerjap-ngerjap, mengusap-usap mata.
Saat itu betapa terkejutnya aku saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku harus bergegas, tetapi aku tidak perlu repot santai saja. Aku hanya perlu terbiasa dengan kehidupan yang baru.
__ADS_1
Sementara, entah mengapa pagi ini denyut jantungku terasa terus bergejolak ....