Daur Ulang

Daur Ulang
Aksara cinta dalam kobaran api yang menghanguskan


__ADS_3

Percakapan antara aku dan Kakek sudah berlangsung selama hampir satu jam.


Setelah Kakek berhenti menangis, kami menghabiskan waktu bercanda gurau dengan senang.


Tidak lama setelah itu, datang wanita tua menenteng bahan masakan serta barang-barang yang tampak memenuhi kantong plastik kemudian menghampiri kami.


Kakek menjelaskan bahwa wanita tua yang di depanku adalah Nenek, aku cukup senang mendengarnya.


Nenek bertanya kepada Kakek. Namun, dalam bahasa thai yang tidak aku mengerti, berharap Kakek menjelaskannya.


Sepertinya Kakek tampak serius, dia mengatakan dan tersenyum menatap ke arahku, berlalu beberapa saat kemudian.


Seketika Nenek memelukku dengan lembut, meraba wajahku yang katanya memiliki kemiripan dengan Ibu, itu kata Kakek yang menerjemahkan bahasa Nenek.


Ternyata aku terlahir di Bumi ini, dalam perpaduan antara Thailand dan Indonesia.


Aku baru tahu. Keduanya menyatu dalam satu raga. Pada saat Nenek meraba wajahku, benar-benar itu membuat aku merasakan seperti kasih sayang orang tua.


Nenek kembali mengatakan sesuatu dalam bahasa thai. Namun, aku tidak mengetahui artinya dan juga tidak memahami apa maksud dari perkataan Nenek sehingga aku hanya diam, membisu tidak bisa menjawabnya.


Tampak di wajah Nenek menunjukkan sebuah senyuman disertai tatapan hangat yang menenangkan.


Kakek menjelaskan kepadaku bahwa Nenek mengatakan, "Aku bahagia bisa bertemu dengan cucuku, bagaimana kabar kedua orang tuamu?" Itu katanya, Kakek sang penerjemah.


Kulihat Kakek kembali berbicara dengan Nenek, aku mendengarnya jelas sekali.


Kemudian, Nenek menatapku tersenyum, bahkan kembali memelukku, dia meneteskan air mata.


Aku juga merindukan kalian. Kakek, Nenek.


Kita sudah lama tak bertemu, bahkan saat kecil, aku tak tahu bagaimana wajah kalian.


Dulu saat aku masih berusia genap setahun, kata Kakek, aku sudah meninggalkan mereka pergi ke negera yang jauh, betapa perasaan rindu itu tertanam dengan begitu lama. Aku sedikit memaklumi.


Sebatas tentang perasaan ingin bertemu membawa rindu yang teramat dalam menusuk kalbu, ini bukan rasa cinta biasa, melainkan ini rasa cinta yang luar biasa.


Keluarga kecil kami yang dulunya bersama dalam satu atap kemudian pada suatu waktu berpisah tempat tinggal, kini kabar kematian kedua orang tuaku telah sampai di telinga Nenek.


Melalui Kakek yang tadi katanya sudah menjelaskan. Pantas saja, Nenek kembali memelukku dan meneteskan air mata.


Sekilas Kabar yang begitu memilukan membawa air mata kesedihan, kabar yang begitu tajam menusuk dan melukai perasaan seolah-olah kobaran api yang menghanguskan.


Melukis aksara dalam derita penuh dengan air mata, aku menghela napas dan memegang tangan Nenek.


Berbicara menggunakan bahasa indonesia mengenai kedua orang tuaku, semua itu adalah hal yang sudah terjadi dan tak usah disesali.


Kakek juga melakukan hal yang sama, dia menerjemahkan bahasaku ke bahasa yang dipahami oleh Nenek.


Pada akhirnya, sejenak tangisan Nenek berhenti menetes, mereda. Perlahan ia mengusap air matanya dan perlahan senyuman itu mulai menghiasi wajahnya kembali.


Syukurlah, kobaran api itu telah padam.


Api yang tercipta karena sebuah perasaan yang bergejolak, seperti dua batu yang saling digosokan kedua ujungnya, memercikan api ke kayu kering kemudian menyebar cepat, begitu dahsyat muncul dari kekesalan dan ratapan tangis yang berderaian. Aku lengang.


***


Nenek kembali ke dapur untuk meletakkan bahan makanan. Kata Kakek ingin memasak, aku tersenyum menatap Nenek.


Aku pun juga meminta izin kepada Kakek untuk beristirahat, rasanya aku cukup lelah dan bermaksud ingin menghilangkan rasa lelah ini.


Kakek setuju, dia menghantarkan aku ke kamar, sampai di kamar tersebut Kakek menceritakan, "Dulu kamar ini adalah kamar ibumu, dari kecil sampai dia dewasa, pada saat aku memasuki kamar ini, masih membekas ingatan tentang ibumu."

__ADS_1


"Benarkah? Jadi ini adalah kamar ibu, kamar yang indah berwarna biru," kataku seraya lirikan mata melihat-lihat sekitar.


"Karena ibumu sangat menyukai warna biru. Oh, ya bagaimana denganmu?"


"Aku menyukai saat matahari berwarna jingga membayang pada senja hari."


"Penikmat senja? Seperti ayahmu," kata Kakek, kedua tangannya sibuk merapikan tempat tidur.


"Ayahku!? ..." jawabku heran.


"Iya, Ayahmu. Dulu kami berdua sering menghabiskan waktu dan bercerita dengan menatap langit senja, berlarut dalam suka, Ibumu juga ada, Nenekmu juga, kami semua menikmati cahaya jingga membayang, Ayahmu tersenyum menatapku, dia banyak bercerita pada senja hari itu."


"Ayah dan ibu sangat berbeda, ya? Mustahil 'kan senja berwarna biru?" tanyaku bagai polos. Kakek, sontak tertawa mendengarnya.


"Hahaha."


"Itu pertanyaan yang mengajak orang tertawa, kau begitu polos mengingatkanku pada ibumu."


Kala itu, aku heran mendengarnya. "Ibuku? Dia sama sepertiku?"


"Ya, sepertinya kami tak kehilangan mereka karena mereka hidup dalam dirimu," jawab Kakek, tersenyum senang.


Aku mengiakan saja, tepatnya tidak bisa menjawab lagi, Kakek betul-betul mengherankan, tetapi aku merasa senang akan hal itu, baru kali ini aku merasakan berada dalam lingkungan keluarga.


***


Tiba saat itu. Pada saat perpisahan aku dan Wapta karena aku memutuskan untuk tetap tinggal bersama Kakek dan Nenek.


Wapta berpamitan denganku, Kakek, dan juga Nenek kemudian supir pribadi Kakek menghantarkan Wapta ke bandara bersama aku yang juga ikut menghantarkannya.


Selamat berpisah Wapta ....


Kami berdua saling bertatapan satu sama lain. Lengang, tidak ada lagi yang bisa kukatakan, ingin lebih tahu tentang dirinya. Tidak, itu tidak perlu, aku tahu.


Di Bandara, ada banyak orang. Aku tertegun dengan sebuah buku yang masih erat kupegang.


"Buku apa itu, Nar?"


Wapta menegurku, sepertinya dia melihatku memegang sebuah buku.


Aku kaget. "Eeh, ini buku pemberianmu waktu itu," kataku sambil menunjukkan buku tersebut.


Wapta terdiam menatapku, dia tampak tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku sering membacanya, terima kasih. Buku itu ingin aku kembalikan kepadamu," lanjutku memberikan buku itu kepadanya.


Wapta kaget. "Eeh, kenapa? Apakah kamu tidak menyukai buku ini?" tanya Wapta seperti orang yang penasaran.


Aku menggeleng. "Bukan begitu, aku menyukainya, tapi anggap saja ini pemberian dariku sebagai tanda perpisahan."


"Oh."


"Baiklah, aku menerimanya. Aku juga akan memberikanmu hadiah perpisahan."


"Hadiah apa?"


Wapta membuka tasnya dan memberikan hadiah kepadaku sebuah buku diary.


"Aku tahu kamu suka menulis, ini buku diary untukmu, Nar."


Sontak saja, aku mengambilnya karena memang itulah kesukaanku, jangan katakan aku seorang wanita, itu salah.

__ADS_1


Apa buku diary, hanya untuk wanita? Tidak, semua orang bisa menggunakan.


Aku tak ingin buku ini hanya akan menjadi buku tanpa ada kesannya. Pada saat itu, aku meminta Wapta untuk menandatangani buku tersebut.


"Kenapa? Kenapa kamu ingin aku menandatangani buku ini?"


"Aku ingin terus mengingatmu, kamu tahu rasanya buku ini tak akan lengkap tanpa tanda tangan darimu."


Wapta tertawa. "Kamu, Nar. Ada-ada saja, gak usah aneh gitu!"


"Aneh? Biarlah. Ayo, cepat berikan tanda tanganmu!"


Pada akhirnya Wapta menandatanginya, dia tersenyum.


"Sini, ulurkan tanganmu."


"Eeh? Untuk apa?"


"Salaman," kataku, kini kami berdua bersalaman.


"Semoga kamu baik-baik saja di sini, Nar. aku pamit pergi," kata Wapta, di matanya terdapat genangan.


Dengan senyuman, aku mencoba menghibur. "Jaga kesehatan, jangan lupa mandi nanti bau."


Mendengar akan hal itu, sontak Wapta tertawa kecil.


"Bau? Kamu tuh Nar yang bau, bukan aku!" Dia membela diri, tak mau kalah.


"Gak ngaku, dasar keras kepala!" ketusku memasang wajah konyol.


"Kamu yang keras kepala!" balas Wapta sama ketusnya, juga memperlihatkan wajah konyol, kami sama-sama tidak mau mengalah. Begitulah, Wapta.


Akan tetapi, aku tak ingin berdebat panjang lebar dengannya, nanti berkepanjangan waktu dan membosankan.


"Dasar tidak mau ngaku!"


"Iya, aku ngalah. Jaga diri baik-baik, ya," kataku menunjukkan senyuman.


Kata itu mengakhiri pembicaraan kami, Wapta berjalan memasuki pesawat, sedangkan aku masih menunggu.


Menunggu pesawat itu terbang, Dari dulu ada rasa yang tidak bisa aku katakan sampai saat ini, Wapta bagaikan kelereng yang jatuh ke sungai, aku tak bisa mendapatkannya.


Sampai saat ini, aku masih memendam rasa, tak ingin mengungkapnya, Entah bagaimana? Perasaan menerimanya .... sulit menjelaskannya, biarkanlah itu berlalu.


"Selamat tinggal Wapta, tak menyangka, aku akan berpisah denganmu, dan andai kamu tau bahwa aku mencintaimu ... semoga pada lain waktu kita bisa bertemu lagi," batinku sambil memejamkan mata, menatap pesawat itu berlari kencang.


Sekarang, Pesawat itu take-off, aku melambaikan tangan, pesawat itu telah pergi dengan cepat.


"Selamat tinggal Wapta ... terima kasih telah menemaniku bertemu dengan kakek, semoga pada lain waktu kita bisa bertemu kembali," batinku lagi bersamaan dengan lambaian tangan.


Pesawat itu sudah terbang jauh, tetapi aku masih terdiam, menempel di depan kaca, menatap ke arah lapangan pesawat yang tampak lengang.


***


Berlalu waktu, sekarang aku sudah bahagia, perasaan bimbang itu sudah musnah dari kehidupanku, sekarang aku hidup dikelilingi kasih sayang Kakek dan Nenek.


Di samping itu, aku juga perlahan belajar bahasa thai dengan Kakek, dia memberi pelajaran layaknya seorang guru hingga aku benar-benar bisa menuturkannya.


Sekarang, aku bersekolah di salah satu universitas untuk melanjutkan sekolah yang sempat terputus. Kata Kakek pendidikan itu nomor satu, jangan pernah ditinggalkan.


....•°–T H E E N D–°•....

__ADS_1


__ADS_2