
Aku ingin memberikan gambaran sekilas tentangku, mengenai hati yang telah patah. Renungan hampa yang melebar ke seluruh penjuru. Di dimensi ingatan dan detak sang waktu yang terus memberikanku cara agar terus berdiam senyap dalam keremangan, kepahitan dunia yang tengah kuhadapi.
Kepakkan sayap. Aku ingin terbang lebih leluasa di udara tanpa menengok ke bawah, sesekali ingin terbang bebas.
Menghilang dan menjauhlah ....
Aku mengusirmu wahai pikiran yang tak bertuan. Wahai hati yang tak memihak.
Aku mengusirmu wahai cinta yang dusta. Wahai kasih sayang yang tak memberi banyak makna dalam hidupku.
Semuanya ingin kulupakan.
Persis saat ini anganku kembali melayang dengan kalimat tersebut, seakan sesak bernapas dan penuh isi kepala. Anganku seakan terbang jauh meninggalkan badan dan entah kemana arah yang akan dituju olehnya. Aku tidak tahu!
Kata ini ingin sekali kuakhiri, tetapi selalu entah mengapa tidak bisa atau hanya aku yang enggan mengakhirinya seakan anganku terus mengajak diri ini agar terus menulis, walaupun dengan coretan kata yang tak memberi makna dan berantakan seluruh isinya. Seperti biasa.
Itulah sejatinya tulisan ini yang sering entah mengapa bolak balik direvisi untuk mendapatkan hasil tulisan yang kupikir susah susah gampang memahaminya.
Aku pernah berharap banyak pada diriku sendiri. Pun hari ini, masih terus berharap dalam satu, dua, tiga tetes air hujan yang turun dari langit menyentuh tanah. Semoga di sekian waktu, sekian detik berganti menit, lalu jam pada suatu keinginan yang ingin kucapai.
Tepat saatnya nanti, tulisan yang memang berantakan ini kuharap bisa untukku agar terus menulis. Mempertahankannya dengan hati-hati dan perlahan memperbaikinya. Lambat laun, semua itu akan jadi kenyataan yang indah dan sekarang aku hanya perlu percaya. Harus terus bisa mempercayainya.
Mengenai kepakkan burung elang yang terbang tinggi di permukaan langit. Berkicauan burung mengejek. Kata-kata hinaan, terpaan di saat terbang, tawa yang terdengar di dekat telinga, tawa yang bagaikan angin dapat mematikan obor yang selama ini kujadikan sebagai penerang jalan agar terus melangkah.
Itulah yang kurasakan. Patah hati. Sesederhana itu, sesederhana mengenai apa yang selama ini tergambar dalam benakku? Apa yang selama ini membuat isi kepalaku berdengung dengan banyaknya kata hinaan? Aku memilih diam, tidak menghiraukannya.
Kata yang entah bagaimana membuat suatu kejadian aneh, sebenarnya tidak ada satu pun orang yang menghinaku, hanya saja seringkali saat aku menyendiri menulisnya.
Menulis tentang kejelekan ataupun hinaan orang terhadapku, tentang semua apa yang kualami. Bukan karena apa, melainkan bagiku itulah seni yang bisa untukku merenungi apa yang harus kuperbaiki. Kalau boleh aku katakan seperti mengolah kue lapis bertingkat.
Mengolahnya sendiri. Lelah, kadang pun merasa putus asa, tetapi diriku berusaha dan terus berusaha hingga akhirnya jadi, lantas makan. Maka, akan tahu rasanya.
Tidak semanis apa yang kukira. Kebalikan dari diriku yang kadang memang aneh. Lama waktunya berlalu selama ini telah banyak kucicipi. Berlalu hari ke hari hingga sekarang yang selama itu kurasakan hanya mampu terdiam senyap menatap pemandangan, hanya mampu terdiam menatap kesekian kalinya wajah orang-orang yang berlalu lalang, tanpa mengenal mereka. Aku pernah merasa seakan hidup sendirian.
Aku tidak perlu menceritakan kisah sedih itu karena merangkai kata untuk mendapatkan kejadian sedih bagiku itu susah. Justeru akan membuat orang tertawa. Bukan karena lucu, melainkan memang karena tidak ada rasa yang dapat dirasakan di dalamnya.
Di tengah keramaian selama ini dengan banyaknya lalu lalang kendaraan. Kenangan yang masih tertinggal. Hari ini. Di pusat kota Bangkok. Ini masih pagi, cahaya memancar indah ditatap hangat. Hilir mudik mulai ramai, suara derum-derum yang memelesat, membelah jalanan kota. Rumah kami ini berdekatan dengan toko milik sendiri, plus lagi dekat dengan jalanan yang mulai ramai. Di seberangnya taman kota.
Aku dan kakek tengah berdiri di halaman rumah. Mobil hitam itu parkir anggun.
Seseorang yang berada di dalam mobil hitam itu keluar. Yeah, tidak salah. Sebelumnya aku tidak salah menebak. Itu memanglah ayahnya Martin Sirikanjana. Sepertinya ini akan menjadi rumit.
Aku merasa terjebak pada tatanan kata ke kata, terdiam dalam dinamika sastra yang membingungkan seluruh baitnya. Baik kupahami dengan isi tengkorak maupun sekuntum relung yang menganga lebar.
Saat ini aku ingin terbang tinggi. Merasakan udara segar yang bertiup kencang di langit sana. Dengan sayapku mengepak seperti kata pujangga terbanglah ke langit tinggi atau ke angkasa lepas, tanpa peduli apakah ada orang yang menghina. Terserah diri ini hendak bagaimana? Aku tidak ingin ribut ribut sendirian mengenai patah hati.
Hei, ayolah. Tidak cukupkah bagi seseorang membuat kalimat sederhana mengenai ini, tertawa? Membanding-bandingkan satu hal keadaan dengan keadaan hal lainnya. Aku pernah mengerti satu hal, apa yang sebelumnya kakek bicarakan tentangku. Apa yang tebersit di sana. Apa yang kulihat dan kucerna dengan pikiran tidak menerima.
Diri yang selama ini bersikukuh rindu selalu percaya pada satu keadaan mengenai ketidakmampuan angan dalam memberikan tanggapan. Memberi warna sederhana dalam napas dari hari keseharian.
__ADS_1
Rintangan hidupku ini terasa berliku dan tidak tajam seperti kata ke kata yang kutulis saat ini, tumpul berbelok. Kurasakan semua ini memang tidaklah mudah, tetapi sulitnya diriku beradaptasi. Kalau ditanya seseorang apa ini sekadar kata-kata?
Yeah. Aku tidak perlu menjawab. Cukup kembali mengingatnya mengenai kehidupan yang akan terus berjalan. Dan satu pilihan ini tertancap kuat dalam ruangan hati, membentuk kalimat yang masih segar kuingat dan masih kuat terbayang seakan menghantui.
Kakek yang mengatakannya dulu hiduplah sebagaimana mestinya, aku mengerti kalimat itu dan mengenai apa yang sebelumnya dan sebelumnya dibahas seorang pengetik handal. Memikirkan logika kadang bisa berbalik arah haluan.
Itu rumit. Bahkan kata ini mungkin akan menjadi panjang lebar, semakin panjang. Ini akan menjadi semakin tidak relevan dengan sebelumnya dan sebelumnya.
“Narak!” Orang berjas hitam itu turun. Suara serak kebiasan orang yang kalau boleh kutebak sering begadang.
Dia memanggil Narak. Selama ini memang kalau ada orang bertanya perihal nama, selalu kujawab dengan menyesuaikan nama pemberian Ibu, ketimbang nama pemberian kakek yang mengubah namaku.
Yeah, orang berjas hitam itu cukup tahu alasan sebenarnya dalam hidupku. Dia yang baru beberapa waktu lalu kutemui hari itu, berbincang mengenai hal yang kadang membuatku merasa aneh.
Orang yang ramah. Senyuman hangat dan terasa atmosfer kasih sayang seorang ayah idaman yang menyayangi putrinya.
Dari mobil yang mengilat hitam, menyapaku dengan senyuman. Acungan tangan ramah itu menyentuh udara. Menghampiri.
Aku senyum. Kakek di sebelahku juga sama. Kami saling balas senyum. Sepertinya Martin Sirikanjana berada di dalam mobil. Memperhatikan kami berdua di balik jendela. Mungkin dia enggan turun dari mobilnya yang bisa kutebak juga ayahnya sekadar mampir tidak lama. Kaca jendela mobil hitam itu menampakkan sosok dirinya. Lebih tepat kuingin bilang kaca jendala itu terbuka sedikit, aku saat itu melirik senyum ke arahnya.
Rambut hitam lurus. Mata jeli dan kecantikan yang jelas ditatap siapa pun kala ada orang lewat di depannya.
Aku menghela napas. Rencananya ingin berangkat kuliah, sebenarnya apa alasan ayahnya Martin Sirikanjana? Tetapi kutatap di sana juga ada Martin sendiri.
Kuharap ini tidak lama, seperti prasangka yang kulangitkan dalam benak. Kata ini mengukirkan sesederhana ucapan, semoga ini hanyalah sekadar pertemuaan biasa, sekadar ingin bertatap muka sebentar. Ayahnya Martin Sirikanjana, lebih nyaman kusebut orang berjas hitam biar cool.
Dia fasih berbahasa Indonesia. Hurufnya serasi dengan lidah kebanyakan orang. Kupikir kakek pasti akan tertarik apabila mengetahui fakta ini. Benarlah, kakek mengulurkan tangan dengan semringah.
“Saya kakeknya.”
Orang berjas hitam itu menyambut. Memperkenalkan dirinya. “Senang bertemu Anda, ternyata Anda bisa berbahasa indonesia.”
Reaksinya dapat kugambarkan seperti mendapatkan laporan keuangan. Bisnis lancar dan mendapatkan keuntungan. Itulah reaksi ayahnya Martin Sirikanjana. Orang berjas hitam itu tidak henti-hentinya bicara.
Basa basinya lumayan. Aku terdiam di antara mereka yang saling pandang tersenyum. Menyimak dan tak ingin menyela di antara mereka, sepertinya mereka akrab lebih cepat dengan hitungan waktu baru beberapa saat tatap muka bertemu. Tidak sampai sepuluh menit.
“Sebenarnya saya lebih terkejut. Anda juga ternyata bisa berbahasa Indonesia.” Kakek baru menyahut ucapan sebelumnya usai berbasa-basi panjang lebar.
Orang berjas hitam itu menghela napas dengan gayanya. “Ah, panjang ceritanya sampai saya bisa berbahasa indonesia.”
“Omong-omong. Kamu belum menjawab ucapanku, Narak. Bagaimana kabarmu?” Dia bertanya. Mengalihkan topik ke arahku.
Aku menjawab, “Seperti yang Anda lihat, saya baik. Badan ini berisi dan segar.”
“Ah, ya. Bisa dilihat dengan jelas, kau pandai melawak.” Orang berjas hitam itu tertawa.
Mungkin bukan karena lucu, melainkan memang kupikir itulah kebiasannya. Gaya yang memang ternampak cool. Tertawa dengan suara yang seakan sengaja diatur. Aku hanya balas tersenyum.
“Oh, ya. Saya kemari ingin mengajak Narak berangkat ke tempat kuliah bareng. Apakah Anda mengizinkannya?” Orang berjas hitam itu menatap kakek.
__ADS_1
Bertanya dengan tatapan yang membuatku takut dengan tangan kanan yang mungkin sengaja dia masukkan ke kantong celana panjangnya.
Aku teringat bait puisi yang kuletakkan di meja tempo lalu. Tetapi, tak ingin membahasnya, mungkin akan kubahas dengan sekilas bahasan. Puisi yang pernah kutulis dengan nada kesal melangit.
Sekadar teringat mengenai kebanyakan gaya yang kutampilkan dalam struktur kata dan pencampuran abstrak yang tak ingin kujelaskan lebih lanjut. Itu puisi tentang seorang mafia yang memulai celotehnya dengan gaya sombong. Di perempatan jalanan, berlagak paling mulia. Berdiri di atas punggung orang lain. Itulah bait pertama yang terngiang dalam benakku.
Tidak mungkin dia seorang mafia? Dengan satu dugaan saja kupikir bisa melebarkan masalah novel ini menjadi kacau balau, ringkasnya itulah cerita tempo lalu saat diri ini selalu bersikukuh merindukan Wapta, mencari kegiatan di internet. Salah satu blog website tidak kusangka mengajakku ke alam tulisan baru, alam tulisan yang belum pernah kumulai sebelumnya. Membaca cerita mafia yang lumayan menantang.
Hingga kubaca sampai akhir dengan kesan cerita yang memukau. Cerita itu mampu membuat inspirasi dalam kepalaku untuk menulis puisi yang memang kala itu aku kesal dengan tokoh mafia tersebut. Peran tokoh utama bekerja lihai dengan segala kecerdikan dan cara jitu dalam menangkap mafia tersebut. Lumayan, aku hampir menangis terharu di ujung ceritanya.
Galau. Merasa ingin ada lagi cerita yang seperti itu, aku ingin mengarang. Tebersit saat ketika selesai membacanya, tetapi sayang beribu sayang aku tidak punya bakat. Kertas itu kugumpal, lempar ke tong sampah.
Aku mengetahui perkara sederhana dalam dunia ini mengenai orang yang tidak suka denganku pasti akan bilang aku seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen. Tidak juga sejatinya, boleh sekarang aku tertawa?
Sebenarnya aku hanya ingin membahas novel yang tempo lalu kubaca. Penulis novel itu berasal dari Zamrud Khatulistiwa. Dia membuat cerita yang bagiku begitu memukau.
Aku masih melamun. Membayangkannya. Hingga tak sadar sosok berjas hitam dan kakek masih berada di dekatku.
Kurasakan kakek menepuk pundakku. Hingga membuatku tersadar dari lamunan yang selama itu membuat ragaku terdiam menginjak bumi dengan pikiran yang melayang terbang, menembus awan.
“Anak muda, kemana saja pikiranmu?” Kakek berbisik. Aku balas ngenyir.
“Ke Hongkong,” balasku. Berbisik.
Itulah cerita mafia tempo lalu. Kutemukan di website blog seorang penulis dan buku itu yang ternyata tidak kusangka ada diletakkan di tempat koleksi milik kakek. Hanya melirik sebentar. Sepertinya kakek mendengar ucapanku saat ini paham mengenai tempo lalu. Dia sendiri yang menyarankan dan memberikan novel itu, tetapi tidak kubaca karena sudah membacanya terlebih dulu. Setting tempatnya Hongkong dan Makau, juga kota di negara yang berjuluk Zamrud Khatulistiwa.
Orang berjas hitam itu menatap, tetapi tidak hirau apa yang kami bicarakan. Tidak pula menegur. Dia mungkin bisa membedakan mana pribadi, mana juga yang memang dibahas dan dibincangkan dengannya. Sekadar menyahut ucapan, membalas atau menjawab. Sama saja.
Kakek kembali menatap orang berjas hitam tersebut. “Saya pikir semua itu terserah dia saja, kaum anak muda biasanya punya keinginan. Biasanya juga akan langsung mengatakannya, tanpa keraguan. Anda pun tahu, saya ini sudah berusia tua, susah memahami pola pikirnya dan rasanya saya sekarang tidak ingin ikut campur.”
Aku mendengarnya terkikuk sendirian. Rasa tidak percaya seperti diterpa ombak. Tertiup angin hingga terpental jauh ke pulau antah berantah. Astaga? Sepertinya Kakek ingin bergurau denganku di saat seperti ini?
Sementara kakek sendiri tahu mengenai diriku yang berbeda dari kebanyakan anak muda di luar sana. Kakek sendiri pun tahu, aku terdiam serba salah saat ini menatap kakek berisyarat gugup. Dengan tatapan seperti biasa dia mengelus punggungku.
Orang berjas hitam itu menatapku. “Kalau begitu kita akan berangkat sekarang.”
“Waktu tidak memberi banyak untuk kita terus berbincang, tidak pula memandang kita. Sebagaimana biasa waktu itu terus berlalu.” Orang berjas hitam itu memulai celotehnya.
Aku sangat ingin menolaknya, tetapi orang berjas hitam itu seakan tahu apa yang tebersit dalam pikiranku dan dia menawarkannya lebih dulu, sebelum aku berkata. Perasaan kurang enak kenapa muncul di dalam jantungku? Dan berdegup gugup. Baiklah, aku harus berani dan mengangguk tanpa menjawab ucapannya.
Kakek berulangkali menepuk ke arah pundakku. Orang berjas hitam itu berjalan lebih dulu kemudian aku menyusul.
Kakek mendadah. Dalam jantungku berkata ribuan kilometer menempuh perjalanan di ujung kota yang ramai. Mengenai itu, kawan tidak mampu kujelaskan lebih lanjut.
Bagiku ini adalah moment pertama kalinya yang kurasakan. Selama ini kuakui aku sering mengabiskan waktu sendirian. Terdiam menatap lalu lalang dengan buku dan bertahun-tahun mengabiskan hidup tanpa banyak berkomunikasi dengan orang lain. Sedikit banyak dengan para dosen yang mengajariku banyak hal.
Bersama Martin Sirikanjana sejak pertama kali masuk kuliah, tetapi baru tahun ini aku mengenal lebih akrab dengannya. Kicauan burung seakan berdegung di telingaku.
Aku menghela napas. Getir berjalan dengan perasaan gugup bagai ada duri di kaki hingga membuatku tidak kuasa berpijak lebih kuat. Bersabar? Iya, aku pasti bisa bersabar, kuatlah wahai hati.
__ADS_1