
Hari indah terasa berbeda, aku sejenak merasakan sesuatu. Diri yang melewati jalur berliku, bercabang hingga tiba di pengujung kata. Menemukan arti kualifikasi penghargaan tanpa tandingan. Sederhana di pandanganku, tidak panjang.
Diri ini seakan mendapatkan berita gembira, seolah berita yang menyenangkan sanubari tentunya. Berita tentang apa? Terserahlah, aku tidak ingin direpotkan dengan pertanyaan berlipat lipat, membuatku tidak suka lebih lama mengeja dan menjawabnya.
Ini hanyalah sebatas ingatan lampau yang telah lama hilang di pandanganku, lalu sirna di dalam suatu kata pengharapan.
Kesemuaan kata pengharapan yang selama ini kutulis, tersusun di lembaran kertas biru itu telah sobek, berhamburan di lantai, lantas kupungut sebentar kemudian bakar hingga tak bersisa apa pun.
BOOM!
BOOM!
BOOM!
Itulah bunyi ledakan di kertas yang hari itu kutulis, menatap remang-remang ke arah jendala. Haha, iya inilah bagiku yang sedikit mengherankan, apa mungkin suara ledakan bisa didengar? Aku hanya ingin bertanya, katanya tulisan punya nyawa. Bisa, asal sesuai topik, aku benar-benar asal tulis. Eh, tunggu? Apa bunyi ledakan punya nyawa? Woow, salah logika sepertinya. Maaf, besok tidak akan lagi, khusus hari ini.
Selama ini aku tidak tahu apakah ada orang yang marah atau kesal karena membaca tulisan ini? Iya, mungkin ada. Dari beberapa klik favorit, banyak juga yang unfavorit. Semula mereka klik favorit, seakan bergeser timur ke barat. Bagiku Atmosfer tetap berada di puncak langit, masih setia menahan pancaran ultraviolet matahari.
Hawa yang panas. Lebih panas dari tungku api, saat benda langit jatuh ke bumi. Menembus atmosfer dari satu jarak ke jarak lainnya.
Perlahan terbakar hingga ternampak di depan mata mengenai bintang jatuh yang belum sempat mencapai tanah, ia telah musnah lebih dulu di permukaan langit.
Di bawah langit. Tanah tandus menampakkan jejak langkah diri yang semula terdiam lama menanti waktu berlalu, tiada maknanya. Semua ini unfaedah. Satu hal mengenai hikmah yang bisa datang dari berbagai sebab dan keinginan diri merenunginya.
Dari sekilas kata atau kalimat atau harus dulu paragraf lengkap, panjang lebar pengertian hingga memuat buku dalam jilid tebal dan berakhir menyenangkan.
Memang itulah yang saat ini kurasakan, buku yang tidak terlalu tebal. Namun, buku itu memberikan suatu makna di akhir cerita.
Bunyi gemerencing koin logam yang hari itu kujatuhkan, lalu lempar kudengar sebentar.
__ADS_1
Aku mengerti lelah letih selama ini berusaha menghilangkan kerinduan, kadang diri ini berusaha memperjuangkan perasaan agar selalu tetap mencintai dirinya, menetap pada satu wanita yang kini entah bagaimana kabarnya. Adakah di hatinya diriku? Atau mungkin tidak ada sama sekali.
Aku lanang yang tidak tahu makna cinta dalam keseluruhan bait-bait keindahan. Apa yang kutahu hanyalah sejenis ucapan tanpa ujung-ujung yang jelas, berakhir dalam hitungan menit. Dibaca saja rasanya membosankan, tidak seru seperti menonton sinetron. Kemungkinan apa yang dikatakan editor naskah hari itu memang benar, katanya lebih baik tulisan ini dibakar.
Tulisan aneh, tidak ada arti di dalamnya. Seakan tong kosong melompong, seolah lautan tanpa garam. Hambar, tidak ada rasanya, mengantuk dan ingin tidur.
Sebelum itu, tampak ada sekilas senyuman yang kutatap dulu melengkung sedikit rapi dengan susunan gigi putih berseri bagai pancaran bulan sabit terbalik. Haduuh, sepertinya tulisanku ini salah pengertian.
Cacat logika, sulit dibayangkan dan rasanya tidak mungkin. Bahkan, rasanya tidak sinkron, tidak ada gunanya sama sekali, entah dipikirkan atau dihilangkan.
Tahukah di padang pasir sana? Gurun sahara tanpa kenaungan, panas yang mendidih seakan membakar kulit. Diriku berdiri, diam melamun di hamparan pasir. Memanjang luasnya, pikiranku saat itu mengharapkan suatu kata yang mampu menyelamatkanku.
Nahas, tidak ada yang mampu kuselamatkan, semuanya seakan telah ditinggalkan, seolah telah dilupakan dan musnah dalam kepingan.
Melulu tentang kata yang membingungkan, lebih baik diriku berdiam tanpa suara dan tulisan. Lebih nyaman begini, tenang, suka dan lepas dalam hal menerangkan.
Itulah salah satu bentuk kebodohan. Aku masih saja merindukan sosok yang entah bagaimana, mencintai dirinya tanpa diketahui olehnya, rasa ini telah terpendam. Lama, telah sekian lamanya.
Andaikata kerinduan dan rasa yang terpendam ini bagai bijih jagung yang kutanam, mungkin sekarang telah menunjukkan tanda. Siap panen, sayangnya belum sempat, lapuk jatuh ke tanah. Beberapa rusak dimakan belalang dan hewan hama lainnya.
Amsal buatanku tidak melulu benar. Bisa salah atau cacat logika, saat ini aku sekadar berusaha ingin menggambarkan isi perasaan. Jelas, teramat jelas di benak pikiranku.
Kata yang kutulis untuk melewati bab ini telah mencapai 600 kata lebih. Lagi, aku ingin menambahkan lagi hingga seribu. Entah apa yang akan kubahas agar bisa sampai target jumlah kata tersebut.
Mungkin hari itu, saat aku pergi ke sawah bersama kakek. Menatap hamparan hijau dan penuh tiupan angin damai. Negeri Gajah Putih memang terasa berbeda karena ada kakek dan nenek di sini.
Kakek menatapku. “Man, kau tahu berapa luasnya alam semesta?”
“Luasnya alam semesta?” Aku memastikan yang sebenarnya tidak tahu jawabannya.
__ADS_1
“Iya, Man. Kau tahu berapa luasnya alam semesta ini, jawab saja tidak tahu. Kakek pun sama seperti kau, Man. Tidak tahu jawabannya.” Kakek tertawa.
Aku menatap kuat-kuat. “Bukankah kakek dulu kuliah, sibuk membahas tentang alam semesta dan seluruh perbintangan di langit. Apakah tidak ada satu pun yang bisa kakek tahu dari luasnya semesta.”
“Man, kau harus tahu kakek tidak pernah berpikir sempit, tentunya dalam hal ini. Luasnya bumi 510,1 juta km² keluar dari planet ini, kita berada di tata surya. Di penuhi planet lainnya terus menerus menjelajah melalui perjalanan cahaya, bahkan ke luar galaxy. Man, kakek tidak bisa membayangkan, hanya mampu menelan ludah. Kita manusia penghuni bumi adalah sosok terkecil di alam semesta ini, apa yang kau lihat gedung menjulang tinggi, mobil dan rumah megah. Semua itu tidak ada apa-apanya dibanding luasnya alam semesta, semuanya kecil.”
Kakek menjelaskannya panjang lebar, menatapku serius. “Man, seberapa kencang badai yang akan menerpa kehidupanmu nantinya, satu hal yang kau ingat. Alam semesta terlalu luas, tak sepantasnya kau menggema keluh kesah. Yakini dan cukup jalani kehidupan sebagaimana mestinya.”
Saat itu di persawahan. Kakek cukup menjelaskan panjang lebar berbagai macam pengalamannya yang tentu tidak ingin kutuliskan. Sebagaimana mestinya kehidupan memang akan terus berjalan.
Entah bagaimana aku melewatinya, merindukan sesosok Wapta dan terus berada dalam kebodohan yang sering orang lain tertawa kala membahasnya.
Akan tetapi. Ayolah, ini bagiku adalah perihal hati yang kujelaskan mungkin tak akan mampu membuat mereka mengerti. Kalau dibahas panjang lebar pun tetap sama. Mudah saja, bagi orang yang tidak merasakannya mengatakan lantang sekali mengenai kerinduan dan memendam rasa adalah bentuk kebodohan katanya.
Sementara orang yang mengalaminya sama sepertiku akan mengerti bagaimana kerinduan itu ada dan nyata, rasa yang datang dan terus berdatangan kata di dalam benak pikiran.
Jika kupahami lebih dalam itu semua memang benar. Mengenai kebodohan yang saat ini jelas kualami. Aku sekarang harus bisa berubah menjadi pribadi yang bisa mengontrol perasaan dalam hal merindukan dirinya. Bagaimanapun aku harus bisa bertahan di dalam satu kesatuan kata yang membuatku sering hanyut dalam melamun.
Melamun dalam hal merindukan sesosok tentangnya. Rindu yang berbekas atau bahkan berkarat. Ingin sesegera mungkin kuhilangkan, mencoba melapangkan dada sedikit mendongak.
Aku sudah banyak menulis. Beberapa bab sudah terlewati dalam hal perihal yang selama ini membuatku larut dalam lamunan, yang selama ini membuatku terdiam dengan banyaknya kata yang berhamburan.
Keterangan ini hampa belaka yang seakan tidak mempunyai makna, kosong melompong. Bahkan, bisa saja kata-kata ini tidak dapat dipahami, lebih dalam lagi karena bagaimanapun selama ini aku ingin melantunkan syair dalam gumaman, ternyata aku memang tidak bisa bersyair.
Bagaimanapun diri yang selama ini berselimut getir sudah berusaha mencoba sebisa angan menyampaikan kata-kata. Baru sekarang, aku sadar mengenai diriku yang tidak pandai dalam perkara syair.
Tidak pandai merangkai baitnya yang selama ini ingin kulantunkan. Dalam alunan nada lirih yang tak harap dibalas siapa pun. Mengenai perasaan terperih didekap diam menunggu belaian kasih.
Ragaku terdiam dalam kelunglaian putus asa tak bersemangat melangkah. Diri yang melulu merintih tertindih dipenuhi kekosongan pikiran dan tanpa arah tujuan.
__ADS_1