
Aku lupa temanku. Dia punya banyak cara dalam mendamaikan suasana hati. Iya, dia namanya Sajak. Salah satu teman yang kulupakan sejenak. Upps, lama. Seberapa lama rasanya waktu SMA.
Apa kabarnya? Apa mungkin dia sekarang telah sukses meraih mimpinya menjadi seorang duta besar di Amerika sana. Entahlah, aku hanya menduga tentangnya.
Aku membutuhkan dia sekarang untuk menghilangkan kalimat cinta, tetapi tidak. Kuputuskan tidak ingin menghubunginya.
Aku seakan datang saat membutuhkannya saja, sepertinya tidak mungkin aku menghubunginya. Nanti dia akan bilang kepadaku lantang mengenai kacang yang lupa kulitnya. Iya, lupa kulit. Melupakan teman itu sangat tidak baik.
***
Hari kamis. Iya, kamis tepat saat matahari condong ke barat. Hawa-hawa tentram menatap buku berjilid tebal. Aku termenung senyap tanpa suara, membaca dari satu halaman ke halaman lainnya.
Kakek tersenyum. “Kakek suka melihat kau sibuk membaca.” Dia menghampiriku, memulai lawakan yang membuatku tertawa.
Aku bersiap mencari tebakan. “Kakek tahu bedanya angsa sama bebek?” Akhirnya kutemukan juga tebakan yang tepat.
Kakek tampak berpikir sejenak. Aku mencoba menahan tawa. Bukan karena apa? Melainkan entah mengapa senang rasanya. Tawa itu murni berasal dari kesenanganku duduk bersama kakek di halaman rumah, menatap lalu lalang kendaraan. Toko sudah tutup satu jam lalu, katanya kakek ingin menghabiskan waktu bersamaku.
Matahari sudah condong ke barat. Kebiasaan kakek dan ayah dulu, katanya begitu, sering kali dia mengulangi ucapannya. Pertanyaanku sebelumnya belum dijawab. Kemungkinan kakek masih berpikir mencari jawabannya.
“Apakah kakek menyerah tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi?” tanyaku memastikan. Kakek tertawa sedikit lebih nyaring dari biasanya.
Sejenak dia mendehem. Habis tertawa dia batuk-batuk, kebiasaan dirinya. Aku sudah lama terbiasa melihat kakek yang tertawa lalu batuk-batuk, biasa setelah batuk suaranya akan berubah parau.
Itulah yang kukenal dari kakek. Dialah yang selalu ada di kala aku sendirian. Apakah itu mengganggu buatku? Tidak, buatku dia tidak mengganggu, justeru kehadirannya membuat perasaanku menjadi tenang.
__ADS_1
“Kau bertanya perbedaan angsa dan bebek, jawabannya tentulah berbeda.” Kakek tersenyum. Menatapku seakan penuh percaya dengan ucapannya.
Aku mengangguk. “Iya, tentulah berbeda. Lalu, apa perbedaannya?” Pertanyaanku sebelumnya terulang kembali.
Kakek berdiri. “Hah, sebelum kau bertanya lagi, kakek ingin bertanya. Apa kau pernah menatap kedua hewan itu?”
“Pernah.” Kujawab mantap, menatap kakek yang sekarang kembali duduk di sampingku.
Kendaraan berlalu lalang masih segar kutatap, juga kudengar suara khasnya. Di halaman rumah itu kami duduk santai sambil menatap matahari yang terlihat lain dari biasanya, tentulah mungkin karena aura wibawa kakek yang sekarang menemaniku.
Kakek tertawa. “Itulah, Man. Kau itu menanyakan sesuatu yang jelas kau sendiri tahu jawabannya. Kakek tidak pernah tahu mengenai angsa, tetapi pernah mendengar ada hewan yang namanya seperti itu dan bebek itu dulu setiap usai musim panen di Nakhon Pathom. Saat itu kakek hadir menyaksikan ratusan atau berapa jumlahnya. Kakek tidak ingin menghitungnya. Semua bebek itu dilepaskan begitu saja. Bebek-bebek itu langsung berjalan. Satu per satu menuju sawah, melahap hama siput yang bersembunyi di tunggul padi.”
Dia menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang menjadi pengalaman hidupnya.
Kalau ingin tahu masyarakat di negeri Gajah Putih menyebutnya; “Ped lai thoong” yang berarti “Bebek mengejar lapangan.”
“Man, mengenai perbedaan angsa dan bebek. Ada apa dengan pertanyaanmu itu? Apa kau sengaja mempertanyakannya ingin membuat kakek tidak bisa menjawabnya?” Kakek telah selesai bercerita panjang lebar tentang pengalamannya, sekarang menatapku dengan sebuah pertanyaan ringan yang hampir membuat kepalaku loading cepat mencari jawaban.
Aku menyeringai. “Ini sekadar pertanyaan ringan, kakek tahu dinding dan lantai. Itulah maksudku.”
Kakek menatapku serius. “Jangan membahasnya lagi. Lebih baik kau pikirkan saja mengenai belalang yang akan mengganggu hasil panenmu nanti.”
“Belalang?” Aku jelas heran mendengarnya. Sejenak garuk kepala. Ada apa dengan belalang? Kakek seperti ingin bermain kata-kata denganku. Sejenak cepat berpikir, otakku berkelana mencari dan terus mencari. Sayangnya, tidak kutemukan maksud dari ucapan kakek.
“Kau tahu belalang ulangan semester?” Kakek bertanya, membuatku tambah bingung. Saat itu menggelengkan kepala, mengatakan tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
“Itulah istilah yang kakek ciptakan semasa kuliah dulu. Bahkan, teman kakek menggunakan istilah itu kala menasehati mahasiswa yang hendak memasuki tahap terberat di dalam hidupnya.” Kakek kembali menjelaskan. Tahap terberat, ya aku tahu itu, sekarang aku juga baru tahu rupanya apa yang disebutkan kakek sebelumnya hanyalah istilah buatan dia sendiri, pantas saja aku tidak tahu apa pun mengenai belalang ulangan semester.
“Bisa kakek menjelaskannya kepadaku?” Kali ini aku benar-benar penasaran. Apa yang dimaksud belalang ulangan semester? Aku tidak tahu, sekarang ingin tahu jawabannya langsung dari mulut kakek.
“Kau yakin ingin tahu jawabannya?” Kakek bertanya, seperti orang yang ingin memastikan. Kuduga kakek ragu ingin mengatakannya atau tidak kepadaku.
“Kakek tidak ingin membuatmu kurang nyaman saat mendengarnya.” Kakek menatapku kuat-kuat. Rasa penasaranku kian bertambah. Dalam batin aku berkata ayolah, kakek katakan kepadaku.
Apa kakek sengaja mengucapkannya setengah-setengah? Ucapannya itu malah membuatku semakin bertambah penasaran.
“Aku yakin seribu persen ingin tahu jawabannya langsung mengenai maksud perkataan kakek sebelumnya.” Aku benar yakin bukan hanya seratus, melainkan seribu kalau perlu semilyar persen aku yakin seyakin-yakinnya tanpa terkecuali.
Sebenarnya apa jawaban mengenai maksud belalang ulangan semester. Benar, aku tidak tahu jawaban pengertiannya. Mumpung sekarang hari belum berubah malam, berulang kali aku mendesak kakek untuk menjawab pertanyaanku. Apa maksudnya? Tolong jelaskan.
Bagai seorang anak kecil. Seakan aku merengek, meminta permen. Astaga? Memang terlalu, tetapi biarkanlah, aku harus tahu jawabannya. Sore hari mulai remang, lampu jalanan menyala, beberapa kendaraan mulai sepi dari pandanganku saat ini.
Kakek mendehem. “Lihatlah, sebentar lagi hari ini akan berubah malam, lupakan saja. Kakek ada hal lain yang hendak diurus. Masalah pesanan orang dengan catatan yang bertumpuk-tumpuk.”
Kakek beranjak pergi, meninggalkanku dengan rasa penasaran yang kucoba hilangkan. Belum jauh kakek berseru. “Man, nanti kau akan tahu sendiri. Kakek tidak perlu memberitahukannya kepadamu.”
Aku menoleh sejenak, menatap kakek yang berada di dalam rumah. Dia tertawa mengeluarkan suara parau, ciri khasnya yang sering kudengar. Sekarang matahari telah tenggelam di sana, aku hanya terdiam menunduk, menghabiskan semua kalimat demi kalimat ingin mencurahkannya.
Daripada memikirkannya. Aku memutuskan untuk mengambil air wudhu. Beranjak dari tempat dudukku sekarang. Maghrib telah tiba dengan keindahan, seruan untukku melaksanakan perintah agama dan sebagai kewajiban seorang muslim.
Begitulah. Ada banyak hal yang memang tidak kuketahui. Mungkin, apa yang dikatakan kakek benar, suatu saat nanti aku akan paham maksud pengertian Belalang Ulangan Semester. Entahlah, saat ini percaya saja tidak akan membuatku rugi, tersenyum menatapnya suka dan syukur dalam embusan napas tenang.
__ADS_1