Daur Ulang

Daur Ulang
Dengung-dengung Kesamaran


__ADS_3

Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar mengenai pertemuanku dengan orang tua Martin Sirikanjana. Ringkas saja setelah pembicaraan panjang, aku membantu putrinya mengerjakan tugas.


Saat ada yang bertanya. Obrolan apa yang kubahas dengan ayahnya. Itu bagiku bukan sesuatu yang mengarahkan pembicaraan novel ini, kubuat standar mengingat sang kekasih bukan pembicaraan seperti itu.


Seperti biasa. Obrolan yang membuatku berpikir keras menjawab satu per satu ucapannya. Lebih-lebih dia menganggapku orang pintar yang mengerti tiga bahasa, membahas matematika kelas SMP hingga SMA, keuangan-keuangan hingga kasus kriminal. Ada satu yang menarik, saat berbicara mengenai matematika jelaslah sosok guru yang melajariku dulu di SD teringat kembali membuatku mengkal sendirian, rasa ingin bertemu mengucapkan rasa terima kasihku padanya.


Tibalah ayahnya memintaku agar bersedia membantu mengerjakan tugas Martin Sirikanjana. Dia memantau bagai satpam yang seakan menganggapku sebagai seorang penjahat.


Namun, tatapannya hangat penuh ketentraman. Kemungkinan bukan seperti itu maksudku, entahlah kadang aku bingung sendiri, hanya risih diperlakukan seperti itu.


Aku mempunyai amsal lain. Dia bagaikan seorang pengamat bakteri, akulah bakterinya apakah benar tergolong bakteri baik atau jahat. Bukan juga sepertinya. Maaf, kalau ayahnya Martin Sirikanjana membaca tulisan ini.


Setelah itu aku pulang. Berkendara di jalanan dengan melanglangkan pikiranku. Dengan genggaman tangan bertumpu kuat pada stang. Jiwaku masih membubungkan rasa penasaran terhadap sosok Wapta yang tidak membalas suratku hingga detik ini, telah tiga hari berlalu. Dia tidak membalasnya.


Apakah sebenarnya yang terjadi? Apa mungkin di dalam suratku itu terdapat kesalahan ucap yang membuatnya marah padaku. Entahlah, pikiranku masih memikirkannya, terlebih jarak jauh menjadi penghalang buatku mengetahui jawaban.


Ditambah aku lupa menaruh nomor ponsel di dalam suratku. Kala itu tergesa-gesa hingga tak memikirkan menaruh nomor ponsel di dalamnya. Aku lupa, alangkah buruk apa yang kualami. Kemungkinan Wapta masih menunggu moment yang tepat atau dia memang tidak berniat membalasnya.


***


Sampai di rumah. Kakek berseru di toko, melambai-lambai, memanggilku. Baiklah, aku penasaran memutuskan menghampiri. Berlari dengan langkah pasti.


“Kakek, ada apa?” Kami berdekatan sekarang, saling tatap sebentar.


“Ada surat untukmu.” Kakek memberikan selembaran kertas dibungkus amplop. Aku menelan ludah. Saat memegangnya udara terasa dingin, surat yang selama ini yang kutunggu akhirnya tiba di depan mataku.


Seperti dugaanku. Kuat melebihi apa pun memang benar. Setelah kulihat dengan jelas, surat itu dari Wapta. Tiga hari lamanya aku menunggu, kemungkinan dia sibuk sehingga tidak dapat membalas cepat.


Dengungan rinduku bergema di sekitar udara. Berkembang melalui getaran dunia. Melalui sungai-sungai muara. Kemana arah kaki berpijak, alunan nada cintaku berakhir dalam nyanyian sederhana lagu-lagu eropa.

__ADS_1


“Bacalah dengan hati lapang, jangan pikirkan hal lain.” Kakek seperti memberikan gambaran isi surat yang tengah kupegang.


Prasangka di dalam benakku ada perasaan yang tak menentu. Aku bimbang serba salah ingin membuka suratnya atau tidak.


Saat kuberanikan diri membukanya, membaca. Benarlah, aku menemukan satu paragraf yang membuatku seketika menghela napas kecewa.


Wapta, aku benar-benar jujur mengatakan semuanya kepadamu. Kalau kau ingin tahu. Aku menulis suratku kala itu dengan perasaan tulus, itulah kenyataannya.


Aku berkata di dalam batin seakan tidak terima membaca isi surat dari Wapta yang membuatku kecewa, memegang kepala. Kakek sepertinya sudah membaca isi suratku. Dia menatapku menepuk-nepuk pundak menyuruhku agar beristiharat sebentar, melupakan kalimat cinta yang jelas hanya akan membebankan pikiran.


Baiklah, aku menurut—pergi beristiharat. Di dalam ruangan kamar, tertutup senyap. Aku berbaring menatap surat Wapta.


Bukan sedang galau atau bersedih, melainkan itulah kebiasaanku yang sering merenungkan sesuatu yang ada di dalam kehidupanku, sesuatu yang membuatku tahu kesalahan ucap dan lain sebagainya.


Kembali. Aku membaca surat. Tentunya dengan hati lapang dan pikiran tenang.


Bagiku Wapta berbaik hati menulis surat dengan menggunakan bahasa indonesia, tetapi isi suratnya sukses membuatku tidak bersemangat. Luntur warna pakaian. Bias kesamaran yang tiada artinya atau lebih dari itu. Gambaran sesuatu derita perasaan yang seakan runtuh bangunan megah yang selama ini kubangun dengan harapan.


Maaf. Jangan tersinggung aku hanya sekadar memberi tahumu saja.


Aku yakin kamu berbohong, Nar.


Itulah kalimat terakhir yang membuatku tak nyaman pikiran. Aku tidak berbohong. Astaga? Biarkanlah, kalau saja jarak kita dekat, aku akan menemuimu untuk menjelaskan semuanya.


Akan tetapi, di negeri Gajah Putih ini akan kubuktikan sendiri kepadamu bahwa aku tidak berbohong. (Jujur) Itulah kata sial yang sekarang kumaki habis-habisan.


Bahkan bertanya pada diriku sendiri mengapa saat itu kutuliskan kata jujur di dalamnya, sebenarnya itulah kebiasaanku yang kulakukan saat menulis buku diary.


Dengan perasaaan yang sama kesalnya saat pertama kali membacanya. Aku berusaha tenang. Mengangkat surat tinggi-tinggi, mengarahkannya ke lampu ruangan yang ingin kupecahkan. Sejenak merenung dengan pikiran kosong. Mengibas-ngibas surat yang ingin segera kubakar agar hangus—tidak meninggalkan bekas.

__ADS_1


Aku kesal, teramat kesal. Kata jujur itulah yang saat ini kukesalkan dalam-dalam. Kenapa aku menuliskannya? Kenapaaaaa?


Kuterbangkan surat itu. Lebih tepatnya kulempar ke atas, kertasnya berhamburan jatuh melayang ke permukaan wajahku.


Tidak kusangka jatuh lipatan kertas asing yang belum kubuka. Aku bersegera bangun, membuka pelan lipatan kertas yang belum kutahu. Ternyata ada surat lagi:


Narak, aku tetap percaya padamu. Tadi hanya bergurau. Aku tahu kebiasaanmu yang sering kulihat dulu. Ternyata kamu tidak berubah, ya tetap sama seperti dulu.


Sekarang, aku juga sibuk kuliah jurusan psikologi. Sebenarnya aku ingin memberitahumu. Hahaha. Kamu pasti kaget membaca surat sebelumnya.


Jangan kaget. Ini kejutan. Kamu harus tahu ada penelitian yang mengatakan kata jujur itu digunakan sebagian orang untuk berbohong.


Aku mengenalmu. Kamu tidak mungkin berbohong bukan? Jaga kesehatan, Nar. Semoga kita bisa bertemu.


Aku menghela napas lega. Terima kasih, Wapta. Aku baru mengetahui soal itu. Di lain hal aku tidak ingin mengatakannya lagi, bahkan menuliskannya.


Apalagi yang bisa kulakukan? Itulah kebiasaanku dari dulu. Jujur, jujur, jujur. Kalau dipikirkan lagi sebenarnya untuk apa aku menuliskan kata jujur yang justeru kala dipakai atau tidak, ya sepertinya persepsinya sama saja. Orang yang kukenal akan tetap percaya, walaupun aku tidak menyebutkan bahwa aku sedang jujur.


Ada banyak hal yang tidak kuketahui di dalam dunia ini. Beberapa dari orang terdekatku syukurlah mereka memberitahuku sedikit demi sedikit.


Aku juga bukan seorang penyair yang mampu merangkai kalimat demi kalimat mengucapkan syair-syair terima kasih menjadi alunan gema terbaik, melainkan aku hanya sekadar tahu batas kataku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang biasa.


Di kesempatan kali kedua. Di tanggal sekarang aku menatap kalender, bergumam menghitung hari. Melulu risih yang selama ini membuatku sering berselayar dalam helaan napas diam. Keremangan cahaya di ufuk barat menjadikan waktu kenangan.


Di bawah naungan senja. Dulu di salah satu pantai bergema ombak damai, bergulir waktu hingga matahari tenggelam di lautan.


Beberapa kali aku merasakan tiupan angin malam, meneriakan satu kesatuan makna dalam sejumlah kata yang enggan kuceritakan bagaimana rasanya. Lebih, lebih indah, lebih leluasa dan lain sebagainya.


Dengung-dengung kesamaran yang kudengar, bentuk suara tanpa ada orang di sekelilingku. Merasakan ketentraman sederhana yang dapat kulukiskan di sela-sela pasir, mampu meredam amarah yang seakan memuncak ke batas angan.

__ADS_1


Melebarkan masalah sepertinya adalah hal yang mudah. Hanya dibutuhkan keberanian dalam bertindak, berusaha demi hal yang tidak perlu ditatap sempurna. Itulah kenyataan palsu, sekilas dengar saja timbul rasa tak ingin tahu atau tidak ingin melulu mengingatnya. Tenang dan tenanglah.


Aku pernah berharap semoga hari besok tidak sama seperti sebelumnya, semoga ada perubahan dari pikiran yang melanglang tak tentu arah tujuan. Dari dulu, semenjak usia kecil hingga usia sekarang yang orang sebut seorang pemuda. Itulah sesuatu yang kuketahui dari diriku sendiri.


__ADS_2